LOGINPonsel di dalam tote bag perca milik Jingga mendadak bergetar heboh, memecah kesunyian kamar tamu bernuansa monokrom di penthouse lantai teratas itu. Layar menyala menampilkan satu nama yang biasanya selalu sanggup menghangatkan dadanya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Jingga menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Bi?”
[Jingga? Kamu kemarin telepon puluhan kali, ada apa sih?] suara Abimana terdengar dari seberang. Nadanya tergesa-gesa dan tidak sabaran, tanpa menyisakan sedikit pun rasa bersalah karena telah menghilang seharian.
Jingga terdiam sejenak. Ia mengikat erat tali tasnya, mencoba menahan getar di suaranya. “Kamu... baik-baik saja? Kemarin pesan dan teleponku sama sekali tidak ada yang dibalas.”
[Aku sibuk banget di rumah sakit, Yang. Kamu tahu sendiri jadwal KOAS-ku lagi padat-padatnya,]
Abimana menjawab cepat, terkesan defensive tanpa sedikit pun mengonfirmasi atau menanyakan alasan kepanikan Jingga kemarin.
[Kamu sendiri tidak kenapa-kenapa, kan? Ibu gimana?]
Jingga menarik napas dalam-dalam. Ingin rasanya ia tumpahkan segala kepanikan, ketakutan, dan tangis yang ia tahan sejak kemarin. Ingin ia ceritakan bagaimana jantungnya serasa berhenti saat melihat Ibu masuk ruang ICU, atau betapa hancurnya ia saat rumah satu-satunya yang mereka miliki nyaris disita balai lelang karena ulah ayah tirinya.
Namun, mendengar nada suara Abimana yang acuh tak acuh menggugurkan niat itu. Urat malu dan harga diri Jingga menolak untuk mengemis perhatian pada pria yang bahkan tidak berniat sungguh-sungguh mendengarkannya.
“Ibu... sudah ditangani dokter,” jawab Jingga pelan, memilih kalimat paling aman untuk menutupi kenyataan bahwa ia baru saja menjual kebebasannya demi biaya operasi tersebut. “Aku cuma kangen saja karena kamu tidak ada kabar.”
[Ya baguslah kalau Ibu aman,] balas Abimana santai, seolah beban hidup berat yang dipikul Jingga tak pernah ada.
[Oh ya, nanti malam kita dinner bareng jam delapan. Mamaku lagi di Jakarta dan beliau minta ketemu kamu di restoran seafood biasa. Kamu harus datang ya.]
Jingga terpaku. “Nanti malam? Tapi aku berniat menjaga Ibu di rumah sakit, Bi—”
[Sebentar saja, Jingga. Mama sudah menyempatkan waktu di tengah kesibukannya. Jangan bikin Mama kecewa.]
Abimana menyela, tegas, tak memberi ruang kompromi sedikit pun sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
Tut... tut... tut...
Jingga menatap layar ponsel yang perlahan meredup dengan dada sesak. Perhatian Abimana terasa kian menipis. Ia selalu menuntut kepatuhannya tanpa pernah benar-benar peduli pada apa yang sedang ia lalui.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Jingga mendatangi ruang kerja Arjuna untuk meminta izin. Bagaimanapun, ada kesepakatan tertulis yang harus ia hormati sebagai penghuni baru apartemen ini.
“Pak, saya mau izin keluar untuk ke rumah sakit,” ucap Jingga tenang dari ambang pintu.
Arjuna memutar kursi kerjanya perlahan, menatap Jingga dengan pandangan menilai yang tajam. “Kamu sudah membaca detail surat kontrak?”
“Sudah, Pak.”
“Kita tidak saling mencampuri urusan pribadi, tapi ingat batasannya. Posisimu saat melangkah melewati pintu apartemen ini adalah menantu keluarga Widjayakusuma. Jangan melakukan tindakan absurd yang berpotensi merusak reputasi,” ujar Arjuna tegas dan lugas.
Jingga mengangguk tegap, menunjukkan harga dirinya yang tak bisa dibeli dengan uang. “Saya paham batasannya, Pak Arjuna. Saya keluar hanya untuk menjaga Ibu saya dan ada urusan sebentar. Saya pastikan nama baik Anda tetap aman.”
Arjuna sempat menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan sikap Jingga yang lugas dan tidak berbelit-belit.
“Bagus.” pangkas Arjuna dingin, lalu kembali memfokuskan perhatian pada tablet di tangannya.
“Terima kasih, Pak.”
Jingga berbalik dan melangkah keluar menuju lorong privat lantai penthouse. Namun saat berdiri menunggu pintu lift terbuka, jemarinya di dalam tas tanpa sengaja menyenggol benda tebal berlapis kain keras.
Perlahan ia menariknya keluar, menatap dua nama yang kini resmi terpaut di lembaran negara. Raden Arjuna Widjayakusuma & Jingga Nareswari.
Jingga memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan rasa bersalah menghimpit dadanya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Jingga buru-buru memasukkan kembali buku nikah itu ke dalam tasnya, lalu masuk ke dalam lift.
Pintu baja bertaut rapat. Di dalam kubus lift yang lengang dan berkilat, bayangan dirinya terpantul jelas pada dinding kaca. Kini, ia seorang istri. Itulah status resminya detik ini. Bukan lagi sekadar kekasih Abimana atau gadis bebas yang bisa memilih jalan hidupnya sendiri tanpa beban.
Ponsel di genggamannya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari Abimana masuk.
[Jangan lupa dandan yang rapi nanti malam. Mama tidak suka melihat kamu kusam.]
Jingga meremas ponselnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tercekat saat menyadari takdir gila yang sedang memburu waktunya.
Jam delapan malam nanti, ia harus duduk di hadapan pria yang dicintainya dan wanita yang memanggilnya calon menantu dengan buku nikah bersama pria lain tersimpan rapat di dalam tasnya.
Jingga tergugu mendengar pertanyaan Arjuna yang terang-terangan. Tak habis pikir, pria itu yang telah mengatur pernikahan mereka dalam sebuah perjanjian kontrak dan ia pula yang melanggarnya terlebih dahulu.“Mas, sebaiknya kita kembali pada perjanjian awal kita sebelum menikah.” Jingga menjawab dengan tenang meski di dalam batinnya terjadi pergulatan hebat tentang bagaimana pernikahan itu akan mereka bawa. Ini adalah penolakan secara halus tetapi terang-terangan.Wajah Arjuna yang sempat melunak kembali mengeras. Ia merasa jawaban Jingga bukanlah jawaban yang sesungguhnya.Seandainya Jingga menolak setiap kali ia memeluk atau menciumnya, mungkin Arjuna bisa percaya bahwa gadis itu memang tidak memiliki perasaan yang sama. Namun, Jingga selalu menerima setiap sentu
Di sebuah pub di ibu kota, seorang pemuda tampak larut dalam alkohol. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Satu-satunya hal yang diinginkannya saat ini adalah menenggelamkan diri dalam minuman keras demi melupakan peliknya masalah hidup.“Udah cukup, Abi.” Zoey, teman koas Abimana, berusaha mengingatkan. “Kamu intoleran alkohol. Kalau terus dipaksakan, kamu bisa kolaps.”Zoey segera menyambar gelas berisi minuman berbusa dari tangan Abimana.Abimana menatap rekannya dengan tajam. “Kamu nggak usah ikut campur, Zoey. Ini bukan urusanmu.”“Urusanku, soalnya ibumu nyuruh aku mantau kamu.” Jawab Zoey dengan dengusan kasar. “Lagian cewek masih banyak. Hilang satu tumbuh seribu—”
“A loving heart is the truest wisdom.” (Hati yang penuh kasih adalah kebijaksanaan sejati: Charles Dickens)…Wira menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan argumennya dengan kepala dingin. “Saya justru melihat ini sebagai sebuah peluang emas, Pak.”Arjuna mengernyitkan dahi, menatap tajam asistennya. “Peluang? Peluang apa yang dimaksud? Kau ingin aku menyerahkan diri pada singa yang sedang kelaparan?”“Bukan menyerahkan diri, Pak,” sanggah Wira cepat. “Justru dengan kembalinya Aldi Heriawan, Bapak punya kesempatan untuk membereskan kekusutan ini sampai ke akarnya. Bapak bisa berbicara langsung dengannya, meluruskan segala kesalahpahaman masa lalu yang dibuat oleh keluarga Widjaya, sekaligus membuktikan ketulusan cinta Bapak pada Bu Jingga.”Wira menjeda kalimatnya sejenak, lalu menambahkan dengan nada serius, “Dengan begitu, Bapak bisa meminta restu secara jantan padanya untuk memiliki Bu Jingga seutuhnya. Semoga saja rantai dendam dan kenangan buruk masa lalu itu bisa benar-bena
“I almost wish we were butterflies and lived but three summer days.” –John Keats(Aku hampir berharap kita menjadi kupu-kupu yang hanya hidup selama tiga hari musim panas.)…Hari itu, suasana hati Arjuna benar-benar hancur lebur, membuat aura di kantor mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. Sepanjang rapat pagi itu, seluruh ide dan laporan yang dipresentasikan oleh para staf bawahannya ditolak mentah-mentah tanpa ampun. Ruang rapat utama yang megah seketika berubah suasananya menjadi mirip ruang sidang militer, di mana setiap orang memilih menunduk kaku dan menahan napas rapat-rapat. Takut banget kena semprot sang presdir. Ketika pintu ruang rapat tertutup dan para staf keluar dengan lemas, bisik-bisik gosip langsung berhamburan di area pantry.“Pak Presdir kita kesambet apa, sih? Horor banget dari tadi pagi,” bisik salah satu staf pemasaran bergidik ngeri. “Jangan-jangan lagi tantrum?”“Hus! Sembarangan kalau ngomong,” sahut staf lain. “Mungkin dia lagi PMS.”“Pria Masa Sulit
Jingga menarik napas lega dalam-dalam, bersyukur dalam hati karena sang ayah berinisiatif mengalihkan pembicaraan. Ia belum siap jika harus menjelaskan duduk perkara kontrak pernikahan mereka, apalagi memicu amarah baru dari sosok ayah yang baru saja kembali ke dalam hidupnya.“Bapak bangga sama kamu,” lanjut Aldi dengan senyuman hangat, menuangkan teh hangat ke cangkir Jingga. “Gadis kecil Bapak sekarang sudah tumbuh jadi perempuan hebat dan mandiri.”Jingga tersenyum tipis, meski sisa-sisa rasa canggung masih menggelayut di benaknya. Sepanjang sisa jam makan siang itu, mereka menghabiskan waktu dengan obrolan ringan seputar keseharian Jingga di kampus dan kenangan masa kecil yang sempat terlewatkan.Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan pada sang ayah, pikiran Jingga tiba-tiba melayang pada sosok suami.Arjuna... batin Jingga mendadak gelisah. Sialnya, ia lupa kalau Arjuna pasti akan menjemputnya. Benar saja, ketika ia merogoh ponselnya. Ada banyak notifikasi mulai dari chat hin
Pagi itu, Diana dan Jingga menikmati sarapan bersama di meja makan. Suasana terasa sedikit lengang karena pelayan yang biasa bekerja di sana kebetulan sedang pulang kampung, memaksa mereka menyiapkan semuanya sendiri.Jingga mengaduk-aduk nasi gorengnya, lalu memberanikan diri menatap sang ibu yang sibuk mengunyah roti panggang.“Ibu... kenapa sih enggak mau nerima Bapak lagi?” Jingga memulai bujuk rayunya. “Bapak kan sudah jelaskan kalau beliau amnesia dan lumpuh bertahun-tahun, bukannya sengaja kabur. Seharusnya Ibu maafin Bapak. Kalau perlu, Ibu sama Bapak nikah lagi aja! Jingga ridho lahir batin. Lagian, Ibu sama Pak Arman kan sudah resmi cerai juga.”Diana mendengus kasar. Ia meletakkan roti panggangnya kembali ke piring dengan sentakan pelan, lalu menatap tajam putrinya.“Nikah lagi kepalamu!” semprot Diana tanpa ampun. “Kamu pikir nikah lagi kayak beli kerupuk di warung? Tinggal bayar terus sah?”Jingga cemberut, bibirnya maju beberapa senti seperti anak kecil yang merajuk. “Bu







