MasukTak lama kemudian, Arjuna lebih dulu menaiki mobil SUV mewahnya. Di belakangnya, Jingga mengekorinya dengan langkah gontai.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam penthouse mewah milik Arjuna. Sebuah hunian di lantai teratas dengan harga fantastis dan kualitas materialnya yang jelas tidak kaleng-kaleng.
Dinding kaca raksasanya langsung menyuguhkan pemandangan lanskap ibu kota dari ketinggian yang sanggup membuat lutut orang miskin sepertinya gemetar.
Jingga seketika ternganga, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut interior yang didominasi warna monokrom maskulin.
‘Gilakk, tempat ini luasnya mirip lapangan futsal.’
“Di sana kamar tamu. Kamu bisa menggunakannya,” kata Arjuna dengan suara datar. Ia menunjuk sebuah pintu kayu kokoh yang terletak di sisi ruang tengah yang sangat lapang.
Pria dingin itu kemudian mengeluarkan botol kecil dari sakunya, menyemprot sepatu pantofel mahalnya dengan cairan disinfektan, lalu melepasnya perlahan dan menaruhnya di rak dengan tingkat yang presisi dan hati-hati seperti menaruh porselen dari dinasti Ming.
Tak lama kemudian, ia mengupas jasnya dan menggantungnya di gantungan besi yang berada tak jauh dari pintu. Semua gerak-geriknya tidak luput dari rasa ingin tahu seorang Jingga. Anak seni rupa seperti dirinya terbiasa mengamati anatomi objek. Harus ia akui, gesture Arjuna yang menunjukan kelas atas yang serba higienis, visualnya merusak matanya.
Arjuna sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar utama yang berada di dalam.
Sementara itu, Jingga menyusuri setiap sudut apartemen mewah tersebut dengan perasaan campur aduk. Sumpah demi apapun, ruangan itu jauh lebih indah lima kali lipat ketimbang hotel yang pernah ia sambangi meski agak monoton karena didominasi warna monokrom.
Ketika ia masuk ke dalam kamar tamu, mata gadis itu langsung melebar dan mulutnya sampai menganga. Beruntungnya, ia masih punya urat malu untuk tidak meneteskan air liur di atas lantai berkilat itu.
“Gilak bener! Aku menikahi CEO asli nih. Nasibku mirip kayak cerita novel romansa di platform sebelah nih. Tapi—”
Namun, sedetik kemudian, Jingga menggetok kepalanya sendiri dengan keras. “Eh, tapi tunggu dulu! Aku kan punya kekasih yang baik hati dan sangat tampan. Masa mau dibuang begitu saja Sayang Abi,”
Tepat saat monolog jenakanya selesai, ponsel di dalam tasnya bergetar heboh. Dengan tergesa-gesa, Jingga merogohnya dan matanya langsung berbinar tatkala membaca nama yang tertera di layarnya.
“Panjang umur nih si Abi. Baru diomongin udah telepon. Kayaknya dia mulai khawatir sama Umi.” Pekik Jingga kegirangan, langsung menggulir tombol hijau.
[Honey, kemarin telepon ya?]
Suara lembut Abimana terdengar.
Jingga terdiam sejenak, lalu mengangguk-angguk sendiri mirip boneka dashboard.
[Iya, aku telepon kamu, Bi. Sampe puluhan kali tau.]
[Ada apa? Kamu gak kenapa-kenapa, kan? Kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan Ibu?]
Nada suara Abimana terdengar panik.
Ibu Jingga memang sudah lama mengidap penyakit kronis dan beberapa kali keluar-masuk rumah sakit. Namun, Abimana sama sekali tidak tahu bahwa kali ini kondisinya sempat memburuk hingga harus dirawat di ICU.
Jingga menarik napas sedalam mungkin sebelum menjawab. Ingin rasanya, ia menumpahkan segala perasaannya saat ini padanya, menangis hingga berbagi cerita dengannya tentang kondisi ibunya yang sempat kritis di ICU.
Namun, mengingat pertolongan dana yang ia dapatkan dari om-nya Arjuna, Jingga memilih menelan kembali ceritanya. Lagipula, ia tidak mau membebani Abimana yang sedang sibuk KOAS.
[Oh, anu, itu, aku kangen aja. He …. Soalnya kamu seharian kemarin gak ada kabar. Kamu pasti sibuk banget di rumah sakit?]
Jawab Jingga mencari alasan paling aman sekarang.
Di seberang sana, Abimana terkekeh pelan. [Oh, begitu ya. Aku pikir kamu jatuh lagi ke got kayak waktu itu, Yang.]
Jingga mengerucutkan bibirnya spontan mirip kerang.
[Ah, enggak kok! Aman sekarang mah! Aku sudah berhati-hati kalau jalan. Lagian, jalanan menuju rumah juga sudah diperbaiki sama pemkot.]
[Ya udah kalau kamu baik-baik saja. Oh, ya, gimana kalau nanti malam kita dinner bareng? Kebetulan Mama lagi di Jakarta, dan beliau katanya mau ketemu sama kamu.}
Jingga seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya, menatap layar dengan mata membulat. “Oh, my Goat! Aku bakalan ketemu calon mama mertua? Waduh, ternyata hari ini aku dapat hoki berlipat ganda.” Bisiknya histeris pada dinding kamar.
Ia buru-buru menempelkan kembali ponselnya.
[Baik, nanti aku datang ya Bi! Tapi aku mau jenguk Ibu dulu. Jam berapa emang?]
[Jam delapan malam aja ya, Yang. Di restoran Seafood langganan kita yang biasa.]
[Siap, Bos!]
Jingga menutup sambungan telepon dengan tergesa-gesa. Adrenalinnya mendadak meningkat. Ia harus segera merapikan barang bawaannya di kamar tamu yang mirip fasilitas hotel bintang lima ini.
Setelah merapikan pakaiannya ke dalam lemari, Jingga pun bersiap-siap pergi ke Rumah sakit. Namun, sebelumnya, dia pun meminta ijin pada Arjuna. Bagaimanapun, dia menghargai pria itu sebagai suaminya meski di atas kertas.
“Pak, saya mau ijin keluar.” Ucap Jingga bernada hati-hati.
Arjuna memutar kursi ergonomis miliknya hingga menghadap Jingga meski tidak benar-benar menatapnya. Di tangannya tablet berisi kurva saham digenggamnya dengan erat. “Kamu tidak membaca surat kontrak?”
“Euh?” Jingga mengangkat mata.
Arjuna menatap gadis itu dengan tatapan dingin. “Kita tidak saling mencampuri urusan pribadi. Tapi, bukan berarti kamu melakukan sesuatu semaunya, ada batasan karena statusmu menantu di keluarga Widjayakusuma.”
Jingga menghela pelan. “Ah, saya paham Pak. Meskipun saya mahasiswa, saya tahu batasan kok. Kalau saya pergi ke club malam gak sampe teler.”
Arjuna mengerutkan keningnya mendengar jawaban asal-asalan itu. Anak ini suka dugem? Bukankah dari berkasnya dia mahasiswa berprestasi?
Namun, Arjuna lekas mengontrol ekspresi wajahnya. “Baca halaman terakhir. Di sana tertulis poin dilarang melakukan kegiatan yang berpotensi merusak reputasi.”
“Siap, Pak!” Jingga menaruh telapak tangannya di jidatnya. Lalu ia mengangsurkan tangannya untuk mencium tangan ‘suami kontraknya’.
Arjuna tersentak pelan. Kedua alisnya bertaut di tengah. “Mau ngapain?”
“Mau salim. Sekarang kan Pak Arjuna suami saya. Jadi, saya harus menghormati Pak Arjuna sebagaimana mestinya.” Tukas Jingga dengan cengiran tipis tanpa dosa.
“Tidak perlu! Sana! Kamu mengganggu pekerjaan saya,” katanya setengah mengusir istri yang belum sehari dinikahinya itu.
“Buset, galak amat, suami CEO,” gerutu Jingga yang memang tidak pandai menyembunyikan emosinya.
“Kamu bilang apa tadi?” beo Arjuna dengan wajah sedingin es batu.
“Enggak bilang apa-apa kok, Pak. Cuman sedikit heran ternyata di dunia nyata CEO ganteng itu rata-rata dingin dan judes.”
“Kamu—”
“Itu kata sepupu saya, Pak. Suaminya soalnya CEO juga.” Potong Jingga santai sambil nyengir lebar.
Arjuna memijit pangkal hidungnya mendengar jawaban Jingga yang menurutnya random.
“Pak, sudah ah, saya mau berangkat dulu.” Jingga membetulkan tali selempang tas miliknya lalu keluar dari pintu apartemen.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia baru saja keluar dari pintu. Ia membuka resleting tasnya, sekedar memastikan barang bawaannya tidak ada yang tertinggal.
Saat hendak mengecek dompet dan ponselnya, jemarinya tanpa sadar menyentuh sesuatu.
Buku nikah!
Perlahan ia menariknya keluar. Matanya berhenti pada dua nama yang tercetak berdampingan. Raden Arjuna Widjayakusuma dan Jingga Nareswari.
Dadanya mendadak sesak.
Sebentar lagi, dia akan bertemu dengan Abimana, kekasihnya.
Jingga memejamkan mata, menarik napas yang terasa begitu berat. Ia tidak takut menerima kebencian Abimana.
Yang paling ia takutkan adalah melihat hati Abimana hancur saat mengetahui perempuan yang dicintainya telah menjadi istri orang lain.
Beberapa menit lalu, raut wajah Arjuna sedikit melunak. Meskipun kepalanya ingin meledak karena melihat kekacauan yang diciptakan oleh istri kontraknya, amarahnya perlahan menguap tergantikan rasa simpatik melihat gadis itu terluka. Jingga diam seribu bahasa tatkala Arjuna mengobati lukanya. Tatapannya kosong hingga Arjuna lebih dulu memanggilnya. “Kenapa?” Jingga menunduk. Matanya berkaca-kaca. Setiap kali mengingat kelakuan ayah tirinya, dadanya terasa sesak. Pria itu problematik. Ia selalu mengulangi kesalahan yang sama. Naasnya ibunya selalu saja memaafkannya. Semoga saja, perkataan ibunya yang akan menceraikannya tempo hari bisa terlaksana. “Enggak apa-apa.” Jingga mengusap sudut matanya dengan tangan yang tidak terluka. Ia tidak berniat berbagi kesedihan dengan pria di depannya. Cukup, ia menelan kepahitan hidup sendiri. Ia tidak mau berhutang budi lagi pada siapapun. Karena ia tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis selain oksigen. Arjuna tidak bertanya lebih lanjut. Ia h
Setelah berbelanja, satu jam setengah kemudian, Jingga tiba di penthouse. Di belakangnya, ke dua tangan asisten Wira penuh dengan goodie bag berisi belanjaan.“Apa perlu bantuan menyusun barang?” tawar pria berkumis tipis itu ketika mereka sudah berada tepat di ambang pintu penthouse.Jingga menelengkan kepalanya kemudian menyambar belanjaannya dari tangan Wira. “Gak usah, Pak. Aku bisa.”“Yakin?” Salah satu alis Wira naik, ragu.“Yakin.” Balas Jingga enteng. Ia membuka pintu kemudian membawa masuk belanjaannya meski tampak rempong bagi orang yang melihatnya.“Ingat ya Pak Arjuna itu sangat rapi. Dan, jangan pernah memindahkan barang apapun tanpa seijinnya.&rdq
Jingga tidak menyangka jika Arjuna bisa semarah itu padanya hanya karena ucapannya. Mungkin beberapa orang tidak suka membahas keluarga dengan orang asing. Sialnya, ia lupa posisinya juga yang merupakan orang asing yang tiba-tiba saja hidup serumah dengan Arjuna. Kemungkinan kedua, Arjuna tidak suka dengan topik yang dibahas oleh Jingga. Topik tersebut terlalu sensitif soalnya.Beberapa menit kemudian, perjalanan kembali hening. Hanya suara halus mesin AC yang terdengar. Namun, Jingga tiba-tiba teringat sesuatu.Gadis itu menoleh ke arah Arjuna yang masih terfokus pada jalannya. Ia mengamatinya agak lama, berusaha memahami apa sih yang sedang dipikirkan oleh pria dingin itu?Berduaan dengannya seperti berduaan dengan dosen killer yang sedang mengoreksi makalah yang ia buat. Atau, mengoreksi hasil k
“Kucing persia?” Suara Arjuna terdengar rendah tetapi berhasil membuat nyali Jingga menciut.Gadis bersurai panjang itu beringsut mundur, melihat wajah dingin si pria es batu. Perkara salah kata saja seperti kejatuhan bom.Namun, ketika bibir Arjuna terbuka hendak memuntahkan kata-kata amarah, suara Saraswati mengusik ketegangan tersebut. Wanita itu datang menghampiri mereka.Jingga mengelus dada berkali-kali akhirnya. Gadis itu memang agak sukar mengontrol sikap spontanitasnya.Wanita berparas teduh tersebut mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Mereka akan melihat Raden Widjayakusuma yang sudah bangun.Pria berusia delapan puluh tahunan itu mengalami penyakit komplikasi hingga stroke ringan yang meny
“Cukup,” suara Arjuna terdengar tegas. Semua kepala menoleh ke arahnya. Ke dua tangannya mengepal kuat di atas meja makan. Urat-urat hijau di punggung tangannya sampai terlihat. Sementara itu Jingga merasa aura tak sedap menguar dari suami kontraknya. ‘Please, kalian masa berantem sih gara-gara aku. Sebegitu berharganya diriku,’ batin Jingga, sibuk berhalusinasi di tengah situasi genting saat itu. Gadis berambut panjang hitam nan legam itu bergantian melihat suaminya lalu melihat wanita menor yang berada di seberangnya. Wanita bermulut pedas itu menatap Arjuna dengan tatapan yang diselimuti kebencian. “Kamu merasa kan?” sergah Fani dengan melayangkan tatapan tajam ke arah Arjuna. “Saya tahu, kamu memang cerdik. Tapi gak gini juga! Masa pernikahan dijadikan ajang main-main cuma demi—”Ia memang terus berusaha menyudutkan Arjuna dengan berbagai cara. Ambisinya satu yakni ia ingin harta warisan keluarga besar Widjayakusuma jatuh pada suaminya, Chandra. “Fani, cukup! Apapun yang Arjun
Tangan kekar Arjuna melingkar tegas melintasi pinggang Jingga, menarik tubuhnya makin merapat tanpa ampun hingga Jingga terkesiap kaget.Tatapan Jingga dan Arjuna bersirobok sesaat. Namun, Jingga berusaha sekuat tenaga mengendalikan keterkejutannya. Ia sadar, di sini ia berperan sebagai istri sah Arjuna. Alih-alih marah, Jingga justru semakin merapatkan tubuhnya pada pinggul Arjuna.Bagai buah simalakama, kini gantian Arjuna yang terkejut. Matanya mengerjap beberapa kali, tak menduga respon agresif itu.“Kenapa Sayang?”Glek Arjuna meringis mendengar sebutan Sayang dari istri kontraknya. Mendadak jantungnya berdegup kencang. Mengabaikan panggilan menggelikan itu, Arjuna menggamit tangan Jingga menuju meja makan. Di kursi ujung, Senopati menyambut keponakannya dengan senyum sumringah. Bibirnya hendak bersuara tetapi suara seorang wanita keburu menyelanya cepat. “Akhirnya kau datang juga, Arjuna,” seru wanita paruh baya berpenampilan ala sosialita. Gaun yang dipakainya modis dilengk







