MasukSatu jam kemudian, Jingga tiba tiba di rumah sakit. Langkah kakinya cepat menyusuri lorong untuk segera bertemu dengan dr Pandu, sebagai penanggung jawab ibunya selama ini.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Dr Pandu baru saja keluar dari ruang perawatan intensif.
“Dok! Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Jingga dengan tak sabaran. Napasnya masih memburu.
Dr Pandu tersenyum tipis. “Operasinya berjalan lancar, Jingga. Kondisi Ibu Diana jauh lebih stabil dan tentu saja sudah melewati masa kritisnya.”
Pundak Jingga langsung luruh. Cairan bening sudah menggenangi ke dua matanya. Namun tangisan itu bukan kesedihan, melainkan kebahagiaan. “Alhamdulillah,”
Tak membuang tempo, Jingga langsung melesak masuk ke dalam kamar rawat inap. Diana, sang ibu masih tertidur karena pengaruh bius. Namun, layar monitor jantung di samping ranjang berdetak dengan ritme yang teratur.
Jingga mendekat, menarik kursi lalu duduk di samping ibu tercinta. Digenggam tangannya dengan lembut kemudian dikecupnya dengan penuh kehangatan. “Ibu, maafin Jingga ya,” bisiknya dengan suara yang tercekat. Air matanya luruh seketika. “Jingga terpaksa ngelakuin ini. Yang penting Ibu sembuh. Jingga tak bisa hidup tanpa Ibu,”
Ia mengusap sudut matanya cepat-cepat dengan tisu. Tidak mau jika ibunya melihatnya dalam keadaan rapuh saat ibunya mendadak terbangun.
Drtt, drtt, drtt,
Ponsel Jingga tiba-tiba bergetar. Layar gawai itu menyala terang, menampilkan nama yang membuat jantung Jingga berpacu lebih kencang. Sebuah notifikasi pesan pop up muncul di layarnya.
Sebelum membuka pesan itu, Jingga menarik napas dalam-dalam.
[Honey, aku baru selesai visit pasien. Aku kepikiran kamu terus. Aku mampir ke rumah sakit sekarang sekalian jenguk Ibu. Aku sudah berada di parkiran gedung B. Lima menit lagi sampai.]
Tubuh Jingga membeku seketika.
“Apa? Lima menit lagi?”
Selama ini, Abimana hanya tahu ibu Jingga kembali dirawat karena penyakit kronisnya yang kambuh, seperti beberapa kali sebelumnya. Ia sama sekali belum tahu bahwa kondisi wanita itu sempat kritis, harus menjalani operasi darurat, bahkan dirawat di ICU lalu menjalani operasi besar.
Kalau Abimana datang sekarang, semua kenyataan itu pasti akan terbongkar.
Napas Jingga menjadi tak beraturan. Di dalam tasnya masih tersimpan buku nikah berkop Garuda yang baru saja resmi diterbitkan. Belum lagi cincin emas putih polos yang tadi disematkan Arjuna di jari manis tangan kanannya. Saking kacaunya pikiran, ia bahkan belum sempat melepaskannya.
Jingga menggenggam ponselnya erat. Otaknya berusaha mencari alasan agar Abimana mengurungkan niat datang, tetapi tak satu pun kebohongan terasa cukup meyakinkan. Lima menit terasa begitu singkat, sementara rahasia yang harus ia sembunyikan terlalu besar untuk dijelaskan.
Dengan gerakan menyentak, Jingga mencoba menarik cincin itu dari jarinya. Naasnya, karena jarinya agak berkeringat dan membengkak akibat gugup, cincin itu justru tersangkut erat di buku jarinya dan tidak bisa lepas!
“Sialan, lepas dong! Kenapa susah banget sih,” umpat Jingga sembari menarik cincin itu secara paksa dan brutal hingga kulit jarinya memerah.
Klik,
Suara gagang pintu kamar rawat sudah berputar. Seseorang akan masuk.
Dia pasti Abimana. Bagaimana bisa pria itu sudah tiba di sana?
Jingga reflek menyembunyikan tangannya ke balik punggung.
Pintu kamar rawat terbuka lebar. Sosok pria jangkung dan tampan dengan jas putih yang masih menggantung di lengannya melangkah masuk. Senyuman manis yang biasanya membuat Jingga merasa hangat kini justru membuat dadanya terasa sesak.
“Jingga, maafin aku baru datang,” ucap Abimana lembut, melangkah mendekat sambil mengulurkan tangannya mengusap helaian rambut Jingga yang berantakan.
Kemudian tatapan pria itu tertuju pada Diana yang terbaring lemah di atas ranjang. “Kenapa kamu gak bilang Ibu kritis.” Ia menghela napas berat. “Aku baru ketemu sama dr Pandu barusan. Beliau bercerita kalau Ibu menjalani operasi.”
Jingga menunduk. Jemarinya masih berusaha memutar cincin kawin di jari manis, berharap benda itu bisa segera terlepas. “Um... aku nggak mau ngerepotin kamu, Abi. Lagian, kamu juga lagi sibuk koas,” jawabnya pelan.
Abimana membalikkan tubuh hingga menghadap Jingga sepenuhnya. Tatapannya penuh rasa bersalah sekaligus khawatir. “Kamu pasti ngelewatin semuanya sendirian, ya?” gumamnya. “Pantes wajahmu sembap.”
Suara Jingga tercekat di pangkal tenggorokan. Ia berdiri kaku mirip manekin di samping ibunya sementara tangan kanannya diam-diam disembunyikan di balik punggung.
Reflek, Jingga mundur selangkah. Gerakan kecil itu justru membuat tas selempangnya bergeser dari bahu.
Bruk
Tas itu jatuh ke lantai. Sial, resletingnya malah terbuka. Sebuah buku bersampul hijau keluar meluncur jatuh tepat di atas kaki Abimana.
Mata Abimana otomatis menunduk mengikuti benda yang jatuh ke arahnya!
“Maaf, Mas. Aku tidak tahu.” Jawab Jingga canggung setelah melihat reaksi Arjuna yang tidak seperti biasanya. Sorot manik obsidiannya berubah gelap setelah mendengar pertanyaannya tadi. Arjuna memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Ia mengatur napasnya yang terasa sesak dan berat setiap kali mendengar seseorang menanyakan tentang ibunya. “Kedua orang tuaku bercerai saat aku masih SMP. Setelah itu Ibu tinggal di luar negeri.” Lanjut Arjuna singkat. Jingga mengangguk halus. Ia paham ketika melihat reaksi Arjuna tentang ibunya. Ia pasti kehilangan sosok ibu sejak lama. Beberapa menit keheningan yang syahdu berlalu sebelum suara langkah kaki dan gema perbincangan lembut mulai terdengar mendekat dari arah jalan setapak.“Tuh kan, Saras, Arjuna sudah lebih dulu datang sama Jingga.” Suara Senopati memecah keheningan di area pemakaman yang asri. Jingga dan Arjuna serempak menoleh ke arah mereka. Di sana, Senopati melangkah bersisian dengan Saras yang tampil elegan dengan selendan
…“Siapa juga yang cemburu?” Jingga spontan memekik, lalu terkekeh sambil menepuk pahanya. “Enggaklah, Mas. Ngapain cemburu? Mas percaya diri banget, sih!”Tawanya perlahan mereda. Jingga mengembuskan napas, lalu menatap Arjuna lurus-lurus. “Lagian, ingat, kan, poin perjanjian kita? Kita enggak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.” Ia menunjuk Arjuna dengan telunjuknya. “Dan perasaan itu urusan pribadi.”Arjuna terdiam.Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru terasa mengusiknya.“Jadi...” Jingga menyipitkan mata, seolah baru menyadari sesuatu. “Kenapa Mas repot-repot nanya aku cemburu atau enggak?”Tatapan Arjuna seketika mengeras. “Aku hanya bertanya.”“Oh.” Jingga mengangguk-angguk sok paham. “Berarti cuma penasaran?”“Ya.”“Enggak ada alasan lain?”“Ada.” Jawaban Arjuna terlalu cepat.Jingga mengernyit. “Apa?”“Kamu diam setelah ketemu Amanda.” Lanjut Arjuna dengan raut datar.Jingga mendengus pelan. Pertanyaan pria ini ada-ada saja. Entah mau mengetesnya atau hanya se
“Manda, kenalin, Jingga, istriku.” Suara Arjuna terdengar tenang dan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Deg,Senyum di wajah Amanda memudar. Matanya yang jernih melebar mendengar pengakuan Arjuna. Namun, karena Amanda seorang CEO yang memiliki emosi yang cukup stabil, dalam hitungan sepersekian detik, wanita ini pandai mengendalikan emosinya. Ia menarik napas pelan kemudian bersuara kembali. “Istri?” nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu udah nikah, Jun? Kenapa Papa dan Om Seno sama sekali gak cerita ke aku?”“Pernikahan kami diadakan secara tertutup.”Jawab Arjuna singkat. Tangannya yang kokoh melingkari tubuh Jingga, mengelus pinggangnya dengan lembut. Tatapan mereka sempat bersibrobok dalam sekejap. Jingga mengerjap. Ia berpikir kalau Arjuna tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya. Namun, jauh panggang dari api. Arjuna tidak segan memperkenalkannya. Tatapan Amanda langsung tertuju pada Jingga. Ia juga telah salah mengira kalau Jingga adalah salah satu sepupu
Tubuh Jingga mematung kaku tatkala melihat pemandangan di dekat rak bunga. Arjuna tengah berpelukan dengan seorang wanita cantik nan mempesona. Meski dari jarak jauh, ia bisa melihat siluet tubuh indah dan penampilan paripurna wanita itu.Setelan modis yang mencerminkan kelas sosial tinggi dan tampak sepadan dengan seorang CEO seperti Arjuna. “Mas,” gumam Jingga tanpa sadar. Entah kenapa, melihat pemandangan itu, ada gelenyar aneh yang mencubit dadanya. Ia buru-buru menunduk. Sementara itu Arjuna tengah mengobrol hangat dengan wanita itu. “Juna, aku kangen banget sama kamu.” Bisik wanita bernama Amanda lembut. Pelukannya yang tiba-tiba semakin erat secara spontan. Dia memang sangat merindukan Arjuna. Sewaktu kecil mereka sangat dekat. Mereka tumbuh di lingkaran keluarga yang sama. Mendapat pelukan itu, Arjuna sempat terdiam dengan wajah menegang. Ia tidak menepis pelukan itu sama sekali karena terkejut. Namun detik berikutnya, pria itu segera sadar dan mengurai pelukan itu dengan
Chandra menangkap kamera kecil yang dilemparkan Arjuna dengan gerakan refleks. Ia menatap benda mungil itu dengan senyum sinis. Namun, tak lama kemudian, ia melemparkan kamera itu ke lantai dengan sangat kasar lalu menginjaknya hingga serpihannya tak tersisa. “Kamu pikir Eyang akan percaya dengan rekaman ini?” Suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Siapapun bisa melakukannya, Arjuna. Jangan terlalu percaya diri!”Arjuna terdiam, wajahnya menegang. Namun, ia tetap berdiri tegak di depan pamannya. “Lakukan apapun yang kamu.” Jeda sesaat. “Tapi kali ini manipulasi murahanmu! Tapi ingat satu hal, saya tidak akan diam jika kamu mengusik istri saya!” ucapnya bernada tegas dan dingin. Chandra hanya mengisap cerutunya dalam. Tidak menyangka, permainan istrinya ini begitu mudah ditemukan oleh Arjuna. …Kini Jingga dan Arjuna sudah kembali pulang ke rumah. Arjuna tidak mau tinggal lama di rumah eyangnya sebab dia merasa tidak nyaman. Apalagi insiden kamera pengin
“Mbak Fani,” pekik Rina sembari menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya. “Aku gak nyangka, pria kulkas itu beneran gilak soal ranjang.” Wajah Fani menegang seketika. Harapannya untuk membongkar pernikahan palsu itu kandas sudah. Alih-alih mendapatkan sandiwara palsu pernikahan, ia justru mendapatkan tontonan pernikahan sesungguhnya. “Aku masih belum percaya,” gerutu Fani dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. “Percaya matamu, Mbak? Itu jelas-jelas mereka lagi melakukan itu.” Mata Rina sampai melebar tatkala melihat adegan ketika Arjuna bergerak di atas tubuh Jingga di balik selimut. “Melakukan apa?” suara wanita lain menginterupsi mereka. Seketika Fani dan Rina menoleh ke sumber suara dengan wajah panik seperti maling yang tertangkap basah. Alih-alih merasa terintimidasi atas kedatanganya, Fani justru membalikan pertanyaan untuk menutupi rasa malunya. “Saras? Ngapain kamu di sini?”“Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu di sini? Malam-malam lagi?” Wanita canti







