Share

Bab 6

Author: Piemar
last update publish date: 2026-07-17 23:11:53

Jingga buru-buru memasukkan kembali buku nikah berwarna hijau ke dalam tas selempangnya. Jemarinya sempat bergetar saat menarik resleting dengan rapat seolah ia sedang menyembunyikan barang haram yang takut ketahuan kena razia. 

Dadanya terasa sesak luar biasa. Sebentar lagi dalam hitungan jam, ia akan bertemu dengan Abimana untuk janji ketemu mereka. Yang paling ditakutinya bukanlah kemarahan pria itu, melainkan tatapan kecewa dari seseorang yang telah mencintainya dengan begitu tulus saat mengetahui bahwa Jingga kini telah menjadi istri orang lain. 

“Bi, maafin aku,” bisiknya lirik, memeluk tas miliknya dengan posesif. “Aku janji, setelah drama satu tahun ini, aku akan kembali padamu seutuhnya, Bi.”

Satu jam kemudian, Jingga tiba tiba di rumah sakit. Langkah kakinya cepat menyusuri lorong untuk segera bertemu dengan dr Pandu—sebagai penanggung jawab ibunya selama ini. 

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Dr Pandu baru saja keluar dari ruang perawatan intensif. 

“Dok! Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Jingga dengan tak sabaran. Napasnya masih memburu. 

Dr Pandu tersenyum tipis. “Operasinya  berjalan lancar, Jingga. Kondisi Ibu Diana jauh lebih stabil dan tentu saja sudah melewati masa kritisnya.”

Pundak Jingga langsung luruh. Cairan bening sudah menggenangi ke dua matanya. Namun tangisan itu bukan kesedihan, melainkan kebahagiaan. “Alhamdulillah,” 

Tak membuang tempo, Jingga langsung melesak masuk ke dalam kamar rawat inap. Diana, sang ibu masih tertidur karena pengaruh bius. Namun, layar monitor jantung di samping ranjang berdetak dengan ritme yang teratur. 

Jingga mendekat, menarik kursi lalu duduk di samping ibu tercinta. Digenggam tangannya dengan lembut kemudian dikecupnya dengan penuh kehangatan. “Ibu, maafin Jingga ya,” bisiknya dengan suara yang tercekat. Air matanya luruh seketika. “Jingga terpaksa ngelakuin ini. Yang penting Ibu sembuh. Jingga tak bisa hidup tanpa Ibu,”

Ia mengusap sudut matanya cepat-cepat dengan tisu. Tidak mau jika ibunya melihatnya dalam keadaan rapuh saat ibunya mendadak terbangun.

Drtt, drtt, drtt,

Ponsel Jingga tiba-tiba bergetar. Layar gawai itu menyala terang, menampilkan nama yang membuat jantung Jingga berdetak lebih kencang. Sebuah notifikasi pesan pop up muncul di layarnya. 

Sebelum membuka pesan itu, Jingga menarik napas dalam-dalam. 

[Honey, aku baru selesai visit pasien. Aku kepikiran kamu terus. Aku mampir ke rumah sakit sekarang sekalian jenguk Ibu. Aku sudah berada di parkiran gedung B. Lima menit lagi sampai.]

Tubuh Jingga membeku seketika. 

“Apa? Lima menit lagi?”

Selama ini, Abimana hanya tahu ibu Jingga kembali dirawat karena penyakit kronisnya yang kambuh, seperti beberapa kali sebelumnya. Ia sama sekali belum tahu bahwa kondisi wanita itu sempat kritis, harus menjalani operasi darurat, bahkan dirawat di ICU lalu menjalani operasi besar.

Kalau Abimana datang sekarang, semua kenyataan itu pasti akan terbongkar.

Napas Jingga menjadi tak beraturan. Di dalam tasnya masih tersimpan buku nikah berkop Garuda yang baru saja resmi diterbitkan. Belum lagi cincin emas putih polos yang tadi disematkan Arjuna di jari manis tangan kanannya. Saking kacaunya pikiran, ia bahkan belum sempat melepaskannya.

Jingga menggenggam ponselnya erat. Otaknya berusaha mencari alasan agar Abimana mengurungkan niat datang, tetapi tak satu pun kebohongan terasa cukup meyakinkan. Lima menit terasa begitu singkat, sementara rahasia yang harus ia sembunyikan terlalu besar untuk dijelaskan.

Dengan gerakan menyentak, Jingga mencoba menarik cincin itu dari jarinya. Naasnya,karena jarinya agak berkeringat dan membengkak akibat gugup, cincin itu justru tersangkut erat di buku jarinya dan tidak bisa lepas!

“Sialan, lepas dong! Kenapa susah banget sih,” umpat Jingga sembari menarik cincin itu secara paksa dan brutal hingga kulit jarinya memerah. 

Klik, 

Suara gagang pintu kamar rawat sudah berputar. Seseorang akan masuk. 

Dia pasti Abimana. Bagaimana bisa pria itu sudah tiba di sana?

Jingga reflek menyembunyikan tangannya ke balik punggung.

Pintu kamar rawat terbuka lebar. Sosok pria jangkung dan tampan dengan jas putih yang masih menggantung di lengannya melangkah masuk. Senyuman manis yang biasanya membuat Jingga merasa hangat kini justru membuat dadanya terasa sesak.

“Jingga, maafin aku baru datang,” ucap Abimana lembut, melangkah mendekat sambil mengulurkan tangannya mengusap helaian rambut Jingga yang berantakan. 

Kemudian tatapan pria itu tertuju pada Diana yang terbaring lemah di atas ranjang. “Kenapa kamu gak bilang Ibu kritis.” Ia menghela napas berat. “Aku baru ketemu sama dr Pandu barusan. Beliau bercerita kalau Ibu menjalani operasi.”

Jingga menunduk. Jemarinya masih berusaha memutar cincin kawin di jari manis, berharap benda itu bisa segera terlepas. “Um... aku nggak mau ngerepotin kamu, Abi. Lagian, kamu juga lagi sibuk koas,” jawabnya pelan.

Abimana membalikkan tubuh hingga menghadap Jingga sepenuhnya. Tatapannya penuh rasa bersalah sekaligus khawatir. “Kamu pasti ngelewatin semuanya sendirian, ya?” gumamnya. “Pantes wajahmu sembap.”

Suara Jingga tercekat di pangkal tenggorokan. Ia berdiri kaku mirip manekin di samping ibunya sementara tangan kanannya diam-diam disembunyikan di balik punggung. 

Reflek, Jingga mundur selangkah. Gerakan kecil itu justru membuat tas selempangnya bergeser dari bahu. 

Bruk

Tas itu jatuh ke lantai. Sial, resletingnya malah terbuka. Sebuah buku bersampul hijau keluar meluncur jatuh tepat di atas kaki Abimana. 

Mata Abimana otomatis menunduk mengikuti benda yang jatuh ke arahnya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 12

    Jingga mengembuskan napas pendek kemudian ia mengangguk lemah. “Karin, dia belum tahu.”Karina menepuk-nepuk punggung tangan Jingga. “Aku paham, Gia. Ini tidaklah mudah. Tapi … mungkin kamu sebaiknya segera membuat keputusan sebelum semua terlambat. Aku gak mau kamu terkena masalah. Apalagi, kita sekarang udah di tingkat akhir. Kita harus fokus untuk persiapan skripsi.”Jingga tersenyum pahit mendengar nasehat Karina yang sialnya benar adanya. Melihat raut wajah Jingga yang berubah sendu, Karina mencubit pipi Jingga gemas. “Jangan sedih! Aku gak bisa lihat sahabatku sedih. Jingga selalu ceria,” katanya sembari mengangkat kedua tangan Jingga ke udara, memberi semangat. Setelah melepas rindu, berbincang hangat dengan sahabatnya, Jingga memutuskan pergi menuju WK Gallery Space Art untuk melanjutkan proyeknya muralnya yang tertunda. Perlengkapan melukis mural masih berada di sana sehingga gadis itu tidak membawa barang banyak dari kampus. Hanya tas ransel berisi tablet, buku sketsa dan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 11

    Seorang wanita muda berseragam housekeeping berwarna abu-abu charcoal dengan lis hitam membuka pintu dengan tenang. Name tag terpasang rapi di dada kirinya, sementara rambutnya disanggul tanpa sehelai pun yang terurai.Ketika pandangan mereka bertemu, baik Jingga maupun petugas housekeeping itu sama-sama terperanjat.“Anda siapa ya?” tanya wanita berseragam rapi tersebut membuka suara lebih dulu. “Pak Arjuna tidak pernah mengizinkan siapapun menginap di sini sebelumnya. Apalagi … perempuan,”Jingga membeku di tempat. Tangannya semakin mencengkram tali tas ranselnya. Ia dilanda bingung harus menjawab apa atau memperkenalkan dirinya sebagai siapa di sana. Masalahnya, ia dan Arjuna belum bicara serius perihal pernikahan mereka secara langsung. Pria dingin itu hanya memberikan salinan kontrak tanpa menjelaskan apakah pernikahan yang mereka jalani bersifat rahasia ataukah diketahui oleh keluarga dekat semacam itulah. Namun, sebelum Jingga membuka mulut untuk merangkai kembali karangan abs

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 10

    Suasana mendadak hening. Arjuna menatap syal berwarna gelap di tangannya. Tatapannya lantas beralih dari syal tersebut merambat naik ke wajah Jingga yang sudah memucat seperti maling yang tertangkap basah. “Kamu bawa barang lelaki lain ke apartemen ini?”Suara Arjuna terdengar datar, tidak ada emosi sama sekali. Namun, entah kenapa bagi Jingga yang mendengarnya, rasanya seperti ditegur oleh dosen killer yang bersungut-sungut. Gadis berwajah mungil itu dilanda bingung. Haruskah ia mengatakan dengan jujur kalau syal itu milik kekasihnya ataukah mencari alasan lain agar menghindari perdebatan di awal pernikahan mereka. Jika ia berterus terang, pasti pria kharismatik di depannya akan marah padanya. Ia juga tidak tahu bagaimana pria itu melampiaskan kemarahannya dalam bentuk apa. Jingga meneguk salivanya yang tiba-tiba terasa pahit. Ke dua bibir tipisnya hendak bergerak dan bersuara, tetapi suara deheman Arjuna membuatnya mengatupkan kembali bibirnya. Masih menggenggam syal gelap ters

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 9

    Setelah makan malam yang cukup menegangkan di restoran Thamrin, Abimana buru-buru pamit karena harus mengantar ibunya pergi ke rumah kerabat mereka di kawasan Pulo Mas. Ia mendekati Jingga dengan perasaan bersalah. “Sayang, maaf banget ya. Aku gak bisa anterin kamu balik ke rumah sakit lagi. Tapi tenang aja, aku pesankan taxi ya.”Jingga tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Sebentar... masa iya Tante Wida akan pulang naik motor besar seperti itu?Tatapannya tanpa sadar beralih ke rok yang dikenakan Wida. Naik motor sport dengan pakaian seperti itu jelas tidak akan mudah. Berbeda dengannya yang mengenakan celana jeans, sehingga bisa duduk dengan lebih leluasa.Melihat Jingga yang terdiam cukup lama, membuat Abimana merasa bersalah. Ia berpikir kalau Jingga pasti sedih karena ia tidak mengantarnya kembali. “Jingga, my sweety, kamu marah ya?”Jingga memaksakan senyum tipis. “Enggak, Bi. Tenang saja. Ibumu memang mau naik motor gitu—” “Enggak, aku cuman ngawal Mama aja. Mama naik taxi

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 8

    “Jingga, kamu tidak apa-apa, kan?” Suara Abimana memecah lamunan Jingga. Ia mendongak, mendapati pria tampan itu tengah menatapnya dengan raut khawatir. “Eh, tidak apa-apa, Abi.” Sahut Jingga dengan cengiran tipis khasnya, berusaha menormalkan perasaan yang tengah kalang kabut. Ingatannya masih tertinggal di ruang perawatan pasca operasi. Teringat percakapan singkat dengan ibunya yang membahas soal pinjaman jangka panjang yang merupakan hasil karangan bebas miliknya. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya. Demi menjaga rahasia pernikahan kontraknya dengan Arjuna, ia mengatakan pada ibunya bahwa biaya pengobatan ibunya termasuk bayar utang di Bank itu merupakan pinjaman jangka panjang. Jingga akan mencicilnya dengan penghasilannya sebagai seniman mural yang terlibat dalam proyek spesial di WK Art Space.“Kenapa malah melamun? Pakai helmmu!” seru Abimana sembari mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangkannya ke kepala kekasihnya. Namun, Abim

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 7

    Wajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.Srett!Resleting berhasil tertutup rapat. Aman! “Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian. Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status