Mag-log inSetelah menerima penghargaan, Darlene baru melepas helmnya. Kini, dia sudah tiba di depan pintu ruang ganti.Ruang ganti perempuan dan laki-laki terpisah. Di sini selain dirinya, tidak ada orang lain.Darlene masuk mengenakan baju balap. Ketika keluar, dia sudah berganti dengan pakaiannya sendiri.Selain bisa mendapatkan hadiah uang, balapan juga bisa membuat Darlene melepas stres. Sensasi menikung ekstrem di batas kemampuan, serta rasa pencapaian saat pertama kali menerobos garis akhir. Bahkan setelah balapan berakhir dan diingat kembali, masih membuatnya merasa ketagihan.Saat ini, malam sudah larut.Di luar sirkuit internasional, para penonton yang selesai menonton balapan berangsur-angsur keluar. Jumlah orang semakin berkurang, hingga akhirnya tak terlihat satu orang pun.Lamborghini kuning orion yang terparkir di pinggir jalan tak kunjung pergi. Adelio sudah duduk di dalamnya hampir setengah jam.Di benaknya terus terulang adegan di depan pintu ruang ganti, saat Giella melepas hel
Darlene sangat bersyukur saat itu membawa dua lembar uang kertas pecahan seratus.Pagi hari setelah mandi dan berganti pakaian, ketika Kenward keluar dari kamar mandi, dia sengaja mengeluarkan uang itu dan melemparkannya ke atas nakas tepat di depan Kenward.Pada satu momen singkat, Darlene merasa melihat amarah karena terhina di mata Kenward. Tak disangka, cara yang diajarkan Ella, melempar uang sebagai ongkos gigolo, ternyata cukup ampuh.Darlene memutuskan ke depannya akan lebih banyak membaca novel.Di meja makan, Harold menatap wajah Darlene dengan saksama. Hanya dari ekspresinya saja, dia sudah tahu Darlene dan Kenward belum berdamai."Darlene ...." Harold meletakkan sendok di tangannya, lalu bertanya dengan suara berat, "Kamu masih ingin cerai dari Kenward ya?"Tangan Darlene yang memegang sendok menegang. Dadanya pun ikut terasa sesak."Mm ...." Dia mengangguk ke arah Harold, lalu mendengar pria tua itu menghela napas. Kedatangannya hari ini sebenarnya memang untuk mencari tahu
Grup Bramantyo.Gianna berada di kantor presdir. Meskipun sekarang dia sudah mendirikan studio sendiri, setiap hari dia tetap seperti biasa datang ke perusahaan Kenward."Kenward, dua lembar uang ini ada istimewanya?"Gianna berdiri di samping Kenward. Tangan rampingnya bertumpu di bahu Kenward, sementara wajahnya penuh rasa ingin tahu. Sejak dia datang tadi, Kenward terus memainkan uang di tangannya.Dua lembar uang kertas biasa. Bukan uang baru, juga tidak terlalu tua, tidak dicoret-coret, dan tidak tampak seperti uang palsu. Gianna benar-benar tidak mengerti, dua lembar uang yang terlihat tak ada bedanya ini kenapa begitu menarik perhatian Kenward? Sampai dia membolak-balikkannya di tangan dan menatapnya sepanjang pagi."Nggak ada apa-apa." Nada suara Kenward datar, seperti biasanya.Namun, Gianna menyadari sudut bibir Kenward sedikit terangkat. Senyuman tipisnya mengandung makna yang sulit ditebak. Meskpun dia sudah bertanya dan tampak begitu penasaran, Kenward tetap tidak menjelas
Perilaku Kenward malam ini terasa seperti datang hanya untuk mencari gara-gara.Darlene juga tidak mengerti sebenarnya di mana dia telah menyinggung Kenward. Kalau dipikir-pikir, bukankah seharusnya justru sebaliknya?Dia mengincar batu rubi mentah dengan retakan berbentuk hati, Gianna juga mengincarnya. Alhasil, Kenward membantu Gianna merebut batu mentah yang sudah dia pesan.Hari ini dia mengadakan upacara pembukaan studio, Gianna juga mengadakannya. Kenward kembali membantu Gianna merebut klien-klien yang semula sudah dia jadwalkan.Jelas-jelas Kenward dan Gianna yang bersalah padanya. Dia bahkan tidak pernah mencari masalah dengan mereka, tetapi Kenward justru datang ke tempatnya untuk memprovokasinya."Kenward, sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Darlene dengan lugas.Kenward melangkah maju. Jarak di antara mereka semakin menyempit, menekan udara yang mulai mendingin. Dia adalah pria dengan aura menekan yang sangat kuat.Darlene tidak ingin terlihat lemah, jadi tidak mundur
Darlene terkejut saat melihat Adelio.Terlebih lagi, Adelio tampak berkeringat deras dan terengah-engah, bahkan dasinya pun miring. Jelas terlihat bahwa ia datang dengan terburu-buru."Kok kamu datang? Aku nggak mengundangmu ...."Sikap Darlene ini langsung membuat Adelio naik darah."Memangnya nggak boleh datang kalau nggak diundang? Aku juga nggak datang dengan tangan kosong kok ...." Sambil berkata begitu, dia menyelipkan kantong kertas di tangannya ke tangan Darlene.Darlene semula mengira Adelio memberinya hadiah peresmian usaha. Biasanya, hadiah peresmian usaha berkaitan dengan rezeki atau urusan bisnis. Misalnya pajangan emas yang dikirim Adnan, ditandatangani bersama tunangannya.Namun, isi kantong kertas Adelio ternyata adalah sebuah gaun. Gaun kemeja renda berwarna biru muda yang terlihat anggun, koleksi terbaru musim panas Valentino.Dibandingkan hadiah peresmian usaha, hadiah ini justru lebih terasa seperti hadiah pribadi untuknya.Melihat raut wajah Darlene yang kebingunga
Ucapan bercanda Peter tentang dirinya sendiri membuat Darlene tertawa.Meskipun tidak sampai berlebihan seperti yang dikatakan Peter, sosok Peter dalam ingatan Darlene memang tidak sefleksibel dan serileks ini."Makan dulu. Setelah itu aku mau bicara sesuatu denganmu." Tangan Peter diletakkan di bahu Darlene.Mereka berdua menyantap sarapan sederhana di kantor. Selesai makan, Peter memberi tahu Darlene bahwa daftar desainer dan merek yang akan berpartisipasi dalam LD Jewelry Fashion Week tahun ini sudah diumumkan.Ada nama Gianna, tidak ada nama Darlene.Darlene menyadari bahwa Peter pagi-pagi datang ke tempatnya, membelikannya sarapan, juga menghiburnya, mungkin memang karena hal ini. Peter takut dia akan sedih dan terluka.Namun soal ini, Darlene sudah lama mengetahuinya dan sudah berdamai dengan dirinya sendiri."Tenang saja, aku nggak selemah itu."Melihat masih ada senyuman di wajah Darlene, Peter akhirnya menghela napas lega. "Syukurlah kamu nggak sampai terpuruk."Tangan Peter m







