LOGINLangit sudah berubah menjadi keabuan saat Angga membuka matanya perlahan. Dinding kamar serba biru, dan detak jarum jam mendominasi keheningan di ruangan itu mengajarkan ketenangan dalam diam. Bulu mata lentik Angga bergetar kecil, dadanya masih nyeri sesekali, dan kepalanya masih berdenyut. Sebelah tangan terangkat pelan, nyaris tak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar memijat pelipis. “Angga? Kamu sudah bangun?” Seseorang di samping Angga berdiri, disusul derit kursi yang memekak telinga. Pandangan Angga teralih padanya. Wajah cantik pemilik sorot mata indah itu kini berdiri setengah menunduk demi mensejajari sudut pandang. Kulit pucat wanita itu dan rahang yang menirus, seakan memberitahu Angga banyak hal yang dititipkan di pundaknya. “Sayang…” Angga berucap lirih di balik masker oksigen yang menutupi hidungnya. Mata sesekali mengerjap mengoreksi fokus penglihatan. “Aku… kenapa?” Senyum lega di wajah Nova lepas setelah berjam-jam dikekang rasa khawatir. “Penyakit jantung kamu
Awan hitam menggantung rendah di langit pekat. Bintang-bintang yang biasanya bertabur menghias malam tak satupun menunjukkan dirinya. Gemuruh petir pelan menyambar. Bergantian dengan kilat keemasan yang muncul sepersekian detik di langit malam ini. Angga masih duduk di kursi yang sama, setelah kepergian Chris beberapa jam lalu. Dadanya nyeri tiap kali dia berusaha menyanggah kenyataan bahwa, dirinya adalah akar dari semua kekacauan yang ada. “Ini kopi hitamnya, Tuan.” Seorang pelayan menaruh cangkir kopi panas di sisi kanan meja kerjanya, lalu bergegas pamit karena tak cukup memiliki keberanian menghadapi Angga dengan segala suasana hatinya yang memburuk. Pandangan Angga bergeser pelan, pada cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis ke udara. Permukaannya nampak tenang, dalam dan keruh seolah sepakat menggambarkan isi pikiran Angga selama ini. Fakta bahwa Andre memilih mengirim video perselingkuhannya dulu dengan sengaja pada Nova, adalah hal yang tidak pernah Angga sangka seb
Ruang kerja itu terasa lebih hidup. Dinding yang semula dicat dengan warna gelap, mengalami perubahan drastis di setiap permukaannya. Warna hitam kelam berganti jadi warna putih bersih yang diselingi dengan warna biru langit di beberapa sisi tertentu. Meja besar yang terlihat gagah, berdiri tegak tak jauh dari jendela besar di belakangnya. Setiap sudutnya sempurna. Di atasnya, satu laptop berdiri dengan posisi terbuka. Sinar layarnya redup karena terlalu lama diabaikan oleh sang pemilik. Di belakang meja kerja itu, ada singgasana lain yang menjelaskan kembalinya sebuah kekuasaan yang sempat hilang dari tangan seorang pria bernama Savangga. Kursi dengan punggung tinggi itu berputar pelan kala pemandangan di luar jendela tidak lagi menarik perhatiannya. “Jadi, sebenarnya siapa dirimu?” Tatapan Angga kini memaku sosok pria tinggi kurus dengan kacamata yangs etia bertengger di hidungnya. Sebuah dokumen disodorkan padanya dengan satu jari. “Apa aku harus mencari tahu sendiri kebenaranny
Di luar sana, dua wanita yang Angga kenal dengan baik saling bertukar rasa. Pintu kaca pembatas ruang makan dengan teras belakang adalah sekat nyata menuju masa depan yang sedang di tata ulang. Semua kesalahpahaman, semua penolakan, buyar dalam semalam. Lewat pengertian dua wanita yang bergumul dengan perasaan yang sama. Dalam diam Angga memantau Rachel dan Nova dari jauh. Lekukan di wajahnya adalah tanda lega. Pencariannya telah berakhir. Kekecewaannya terhadap diri sendiri telah terbayar dengan harga yang tak ternilai. Angga masih mematung di tempat yang sama. Tidak peduli udara dingin menghujani kepalanya dari AC central yang berada tepat di atasnya. Dia membiarkan suhu dingin itu menyelimutinya. Sebab, bagaimanapun dinginnya saat ini, ada kehangatan yang menjalar saat melihat dua wanita saling memahami perasaan satu sama lain. Mata Angga tidak lepas dari setiap pergerakan Nova. Tepat ketika wanita itu berbalik, mengakhiri obrolan yang terasa semakin intens itu, Angga menarik dir
Angin malam terasa menusuk kulit. Untuk Nova yang berdiri diantara hembusannya perlu memeluk tubuhnya sendiri demi sebuah perlindungan. Rachel menarik kursi, lalu mempersilahkannya duduk di sana. “Duduk dulu, Mbak. Supaya kita lebih nyaman ngobrolnya,” katanya sambil tersenyum hangat. “Terima kasih.” Nova mencari posisi duduk yang nyaman. Sambil sesekali memperhatikan setiap gerakan Rachel dalam diam. “Apa yang mau kamu bicarakan, Rachel?” Rachel tidak kunjung membalas, melainkan hanya menatap Nova dengan sorot yang dalam. Keheningan dibiarkan merajai cukup lama diantara dua orang wanita yang tinggal satu atap dengan Angga. “Aku ingin minta maaf, Mbak Nova,” kata Rachel pelan. Mata Nova yang cukup jeli dengan pencahayaan yang minim ini mampu melihat getar kecil di bibir Rachel. Gugup. Satu hal yang bisa Nova tangkap dari setiap gestur yang Rachel tunjukkan padanya. “Aku ingin minta maaf karena sudah membuat Mbak Nova salah paham. Sejujurnya, aku hanyalah pengasuh Celva. Bukan seor
Bola-bola berhamburan di udara. Riak tawa anak kecil saling bersahutan mengelilingi Nova yang berdiri di ujung arena bermain papan seluncur. Di atas sana, Angga melambaikan tangannya bersama dengan Celva dalam pelukan. “Mama, kami datang!” teriaknya dari kejauhan. Sebelah tangan Nova terangkat ke udara, membalas sapaan itu. Senyumnya semakin lebar seiring dengan waktu yang terus berputar. Dalam hitungan detik tubuh mereka luruh, menerobos angin hingga mereka berhenti tepat di depan Nova. Gelak tawa keduanya memenuhi telinga, senyum lebar dan kekehan khas anak kecil adalah momentum yang selalu Nova rindukan selama dua tahun ke belakang. “Happy, sayang?” tanya Nova saat Celva sudah lepas dari gendongan Angga. Untuk sesaat mereka masih canggung. Raut wajah gadis kecil itu melunak, ada senyum tipis yang perlahan dia perlihatkan untuk Nova. Senyuman yang tidak pernah Nova dapatkan sejak dia kembali ke rumah Angga membawa serta harapan untuk kembali. Anggukan kecil Celva adalah jawaban
Pagi itu terasa lebih sunyi bagi Nova. Rumah ini, pernah menjadi tempatnya mengukir bahagia dengan Angga tetapi sekarang rasanya untuk menarik napas saja dia kesulitan. Nova duduk di salah satu kursi di meja makan, berseberangan dengan Rachel dan Celva. Sedangkan Angga, setia dengan tahtanya di ku
Di bawah langit malam yang gelap, Nova berlindung menutupi air matanya yang jatuh satu per satu ke pipi. Tidak peduli seberapa nyeri angin malam.menghunus kulitnya, dia tetap berdiri di sana. Halaman belakang yang dia rindukan sejak lama. Tempat di mana dulu selalu menjadi peraduannya kala gundah.
Wanita itu, berjalan santai menghampiri Angga. Setiap gestur yang–tidak sengaja–dia tunjukkan, seakan memperjelas tahtanya di rumah ini. Jantung Nova nyaris mencelos kala matanya melihat keakraban yang melibatkan wanita itu dengan Angga. Kedekatan yang nyaris tak berjarak untuk sebuah pertemanan,
Empat jam sisa penerbangan sebelum mendarat di Jakarta dilalui Angga, Nova, bahkan Chris dalam keheningan. Namun, dibanding Chris yang tidak mendapatkan efek apapun dari tragedi tadi, ada Angga yang kini melangkah di sepanjang lounge bandara dengan segala pikiran berkecamuk. Meski begitu, perhatia







