LOGINRuangan itu serba putih. Memancarkan ketenangan sekaligus aroma yang mencekam dari obat-obatan di lemari belakang Dokter Henry. “Silahkan duduk, Nova. Pastikan kau menemukan posisi nyaman selama sesi ini.” Suara derit kursi yang Nova tarik, memecah hening di sana. Pandangan Nova menyebar ke segala arah. Memastikan dia aman berada di sana dalam kurun waktu satu jam ke depan. Dokter Henry masih diam, tapi Nova tahu pria itu memastikan setiap gestur yang Nova tunjukkan menghasilkan catatan pemeriksaan yang akurat. Hingga hening berlalu tepat ketika Dokter Henry kembali berucap, “Jadi, apa yang bisa kamu ingat, Nova?” Keliman bibir Nova semakin dalam, pikirannya mulai dipenuhi kekacauan yang tak beraturan. “Aku tidak tahu harus memulai dari mana,” katanya dengan suara pelan dan tak yakin.Dokter Henry tersenyum lembut. “Aku tahu ini bukan hal mudah. Menarik kembali benang ingatan masa lalu yang sudah lama dipaksa redam seperti kembali mengorek luka yang nyaris mengering,” ucapnya ten
Sebuah mobil hitam pekat berlogo kuda berhenti tepat di lobi sebuah rumah sakit. Satu ajudan sudah berjaga untuk kedatangan Sang Tuan dan Nyonya besar yang baru saja kembali ke tahtanya. Dres putih polos dari salah satu desainer ternama dunia membalut tubuh Nova dengan elegan. Memeluk tubuh ramping Nova dalam kehangatan diantara syaraf-syarafnya yang menegang. Setiap langkah Nova adalah sebuah pertaruhan masa depan. Begitu juga dengan setiap kata yang akan dia sampaikan di hadapan psikiater profesional. “Kau sudah siap?” tanya Angga dan langsung mendapat anggukan mantap dari istrinya.Langkah Angga terhenti sejenak di sisi mobil. Memastikan setiap gestur tubuh Nova menegaskan sebuah pernyataan tentang kesetaraan level di antara keduanya. Sorot mata penasaran dari pasien rumah sakit menghujani kedatangan mereka, mengiringi langkah pasangan suami istri itu hingga pintu kaca lobi tertutup. Ruang praktik Dr. Henry berada di paling ujung lorong lantai dua rumah sakit ini, tetapi, salah
Fajar menyelinap di antara celah gorden beludru abu-abu yang menjulang tinggi, membawa seberkas cahaya pucat yang membelah kegelapan kamar bernuansa hitam-putih itu. Angga sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam. Matanya yang memerah menatap lurus ke arah langit-langit, sementara lengannya masih setia menjadi bantalan bagi kepala Nova. Wanita itu masih tertidur lelap, wajahnya tampak begitu damai—sebuah ironi besar jika mengingat badai darah dan air mata yang sedang mengintai di luar dinding kamar kedap suara ini.Angga perlahan menarik lengannya dengan sangat hati-hati, tidak ingin mengusik ketenangan semu yang sedang dinikmati istrinya. Ia bangkit, memungut jubah mandi sutra hitamnya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah menuju jendela besar. Di luar sana, kota tampak begitu sibuk, bergerak tanpa peduli pada satu jiwa yang sedang berada di ambang kehancuran.Pikiran Angga melayang kembali pada tumpukan berkas yang sengaja ia kunci rapat di dalam laci meja kerjanya. Lap
Lampu kamar yang temaram melukis bayangan tubuh Angga dan Nova di dinding polos berwarna putih yang mengelilingi mereka.“Ahh.. Angga… Kau… sialan!” Nova melenguh nikmat. Dagunya terangkat tinggi dengan rahang jenjangnya yang semakin tegas karena sentuhan bibir Angga di sana.“Kau … Candu, Sayang.” Angga menimpali. Suaranya berderak di telinga Nova.Di dalam kamar yang didominasi oleh perpaduan warna hitam dan putih yang tegas—mencerminkan karakter pemiliknya—Angga tidak membiarkan satu jengkal pun dari waktu yang bergulir terbuang sia-sia. Pria itu memacu gairahnya dengan kelembutan yang justru terasa begitu mematikan bagi pertahanan Nova. Setiap sentuhan, kecupan, hingga bagaimana jemari kokoh Angga menelusuri lekuk tubuhnya, terasa begitu mahir. Angga tahu persis di mana titik-titik yang bisa membuat Nova bertekuk lutut, melupakan segala batasan yang sengaja ia bangun selama ini.Sentuhan Angga malam ini bukan sekadar pemuas dahaga biologis, melainkan sebuah serangan yang perlahan
Denting alat masak saling beradu. Tanpa bantuan satupun asisten rumah tangga, Nova menaruh seluruh fokusnya pada kesepuluh jemari lentiknya dalam mengolah setiap bahan makanan di depan mata. Uap panas mengudara lalu menghilang ditelan cooker hood. Gerakan tangan Nova cekatan mengaduk kuah sup di dalam panci berukuran sedang. Aroma Umami menguar memenuhi setiap sudut dapur. Ditemani alunan musik jazz lembut nan samar dari pengeras suara yang tersambung dengan ponsel, Nova menggumam pelan mengikuti alunan musik. Suara mangkuk dan piring kini berdenting dengan keras saling beradu menandakan masakan yang nyaris satu jam lamanya dibuat, siap untuk disajikan. Namun, kebebasan Nova sejak tadi tak berlangsung lama. Udara yang semula hanya untuk dirinya, kini harus dibagi oleh seseorang yang melangkah mendekat ke arahnya. Sepasang tangan besar merengkuh pinggulnya erat dan posesif seakan seluruh tubuh Nova mutlak miliknya saja. “Aku menepati janjiku,” ucap sosok di balik tubuh ramping Nova
Di balik pintu ruang kerja Angga, tanpa orang-orang itu ketahui, Nova merekam setiap kata yang terucap dari mereka dalam diam. Tubuhnya mematung kaku. Tahu bahwa semua masalah ini akan segera usai meski dengan jalan yang rumit. Tepat setelah dia memastikan obrolan Angga dan dua orang lainnya tak lagi tentang hal yang membuatnya penasaran, Nova menarik dirinya. Beranjak dari sana dengan langkah pelan tapi pasti. Kedua tangannya saling berkaitan gelisah, kepalanya seketika berisik dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dan ketakutan. “Nyonya Nova?” panggilan itu menghentikan langkah Nova di ujung paling dasar tangga menuju kamarnya. Disusul langkah kaki segan mendekat. “Ada apa, Sus?” “Itu, Nyonya, Non Celva dari tadi nggak mau disuapi makan. Sudah saya bujuk, tapi Non Celva tetap tutup mulut,” ucap sang asisten rumah tangga. Sejak Rachel pamit dari rumah itu, Angga merekrut seorang pengasuh profesional untuk membantu Nova mengurus Celva dan Noah. Namun, sejak saat itu pula, segala dram
Angin malam terasa menusuk kulit. Untuk Nova yang berdiri diantara hembusannya perlu memeluk tubuhnya sendiri demi sebuah perlindungan. Rachel menarik kursi, lalu mempersilahkannya duduk di sana. “Duduk dulu, Mbak. Supaya kita lebih nyaman ngobrolnya,” katanya sambil tersenyum hangat. “Terima kas
Bola-bola berhamburan di udara. Riak tawa anak kecil saling bersahutan mengelilingi Nova yang berdiri di ujung arena bermain papan seluncur. Di atas sana, Angga melambaikan tangannya bersama dengan Celva dalam pelukan. “Mama, kami datang!” teriaknya dari kejauhan. Sebelah tangan Nova terangkat ke
Di bawah langit malam yang gelap, Nova berlindung menutupi air matanya yang jatuh satu per satu ke pipi. Tidak peduli seberapa nyeri angin malam.menghunus kulitnya, dia tetap berdiri di sana. Halaman belakang yang dia rindukan sejak lama. Tempat di mana dulu selalu menjadi peraduannya kala gundah.
Wanita itu, berjalan santai menghampiri Angga. Setiap gestur yang–tidak sengaja–dia tunjukkan, seakan memperjelas tahtanya di rumah ini. Jantung Nova nyaris mencelos kala matanya melihat keakraban yang melibatkan wanita itu dengan Angga. Kedekatan yang nyaris tak berjarak untuk sebuah pertemanan,







