Share

Suami Idaman

Author: JolaSky
last update Petsa ng paglalathala: 2023-10-24 20:40:09

Nova menyeret Angga ke sisi ruang yang lebih sepi dengan langkah hati-hati. Gaun panjangnya ternyata cukup membatasi pergerakannya di tengah orang-orang yang menghadiri pesta.Di belakangnya Angga sama sekali tidak memberontak. 

“Sejak kapan kamu merencanakan hal gila itu?” Seloroh Nova tanpa basa-basi. 

“Rencana apa maksudmu?”

“Pesta kelahiran anak kita? Kamu bahkan tidak memberitahuku untuk hal itu, Angga.” 

Nova frustasi. Ia pikir, setelah kelahiran anak mereka nantinya, Angga akan memberikan sedikit ruang untuk membiarkan Nova menjadi dirinya sendiri. Memulai hidup sebagai seorang ibu baru untuk bayi dalam kandungannya. Nova tidak peduli apakah Angga akan memperdulikan keinginannya atau tidak, tetapi, ia sudah menyusun banyak rencana dalam proses membesarkan anak mereka.

Angga terkekeh, “aku tidak mungkin menyanggah suatu hal yang bisa menaikkan pamorku di mata publik. Kamu hanya perlu mengikuti aturan mainnya.”

Nova menahan amarahnya di dalam dada. Seperti biasa, Angga hanya akan mementingkan nama baiknya di hadapan banyak orang. Ia sama sekali tidak tertarik dengan istilah “privacy is pricey” yang dijunjung tinggi oleh Nova saat ini. 

“Aku hanya tidak ingin hal itu mengganggu kenyamanan anak kita,” gumam Nova lirih. Itu ucapan paling jujur yang pernah ia utarakan di depan Angga. Pria itu pun mematung beberapa saat. Seolah tertampar dengan kalimat yang diucapkan oleh Nova.

“Pikirkan saja dirimu sendiri. Aku akan memberikannya kehidupan yang layak yang tak pernah dimiliki anak manapun di dunia ini.” Setelah mengatakan itu, Angga pergi meninggalkan Nova sendiri. Sepertinya ia lupa saat ini mereka masih dikelilingi oleh orang-orang yang penasaran dengan kehidupan pribadi mereka.

‘Kamu pikir, semua hal bisa dibeli dengan uang?’ Batin Nova nelangsa. 

Selama acara berlangsung, Nova tak henti menebarkan senyum pada tamu lain yang datang. Di sampingnya, Angga sibuk menanggapi pujian-pujian yang dilontarkan padanya. Mendengar itu terus-menerus lama-lama membut Nova mual.

“Ya, aku baru saja menanamkan modal di beberapa perusahaan rintisan. Aku melihat potensi besar dalam model bisnis yang mereka eksekusi.” 

“Pak Angga memang pengusaha hebat. Belasan tahun berkiprah di dunia bisnis, tidak ada satupun berita yang mencoreng nama bapak di mata khalayak. Kalau boleh, ajarkan aku untuk menjadi sepertimu,” ucap seorang pemuda asing. Nova mengernyitkan dahi menatap pria dalam balutan jas serba hitam itu. Sorot matanya memancarkan banyak harapan yang ia gantungkan terhadap reaksi Angga nantinya. 

Angga beralih pada pria itu, seraya menepuk pelan pundaknya. “Tentu aku akan membimbingmu. Aku rasa ini kali pertama aku melihatmu. Siapa namamu?” 

“Chris, Pak Angga. Saat ini aku sedang merintis usahaku. Aku banyak membaca tentangmu di media. Pak Angga adalah pengusaha dermawan yang tidak pelit ilmu, maka dari itu aku ingin belajar banyak darimu.” 

Nova hanya diam memperhatikan tingkah orang-orang yang gemar memuji suaminya. Ingin rasanya ia enyah dari perkumpulan orang-orang tak tulus seperti ini. Namun, berbeda dengan Nova, Angga justru sangat menikmati pujian-pujian yang diberikan padanya. 

Angga akan merasa bak seorang dewa yang tengah dipuja rakyatnya tiap kali berada dalam lingkarang elit seperti saat ini. 

“Sayang, kenalkan ini Chris. Aku pikir, aku akan mendukung bisnis yang baru dia rintis. Bagaimana menurutmu?” Angga menatap Nova meminta persetujuan. Namun Nova tahu betul suaminya hanya sedang membangun citra baik untuk dirinya sendiri, bukan benar-benar meminta izin pdanya. 

Bisik-bisik tamu lain di sekitar Nova menelusup ke telinga, “dia romantis sekali. Bahkan untuk mengambil sebuah keputusan saja, dia meminta saran istrinya. Wanita itu sangat beruntung menikah dengan Pak Angga.” 

Lewat ekor matanya Nova bisa melihat senyum puas Angga saat mendengar pujian mereka. Tidak ada yang tahu apa yang sedang Angga lakukan hanyalah sebuah sandiwara. Tidak ada jaminan Angga benar-benar membantu sebuah perusahaan rintisan ketika pria itu justru menganggapnya sebagai sampah yang harus dimusnahkan.

“Bagaimana, menurutmu sayang?” Angga bertanya lagi.

“Um, ya. Aku pikir itu ide yang bagus, sayang. Kamu harus mendukung pengusaha-pengusaha muda seperti Chris,” jawab Nova dengan berat hati. Diam-diam Niva memanjatkan ribuan maaf pada sang pencipta atas kesalahannya kali ini. Dengan menyetujui keputusan Angga, sama saja ia menjerumuskan banyak pengusaha pemula menjadi korban keserakahan Angga selanjutnya. 

Nova hanya bisa berharap, apa yang Angga lakukan tidak berbuah karma menyakitkan untuk keluarga mereka. 

“Sayang, kamu baik-baik saja?” 

“Ah? Ya. Aku baik-baik saja,” Nova gelagapan. Terlalu lama melamun dengan pikiran yang mengawang membuatnya tak fokus. Tatapan Angga yang berubah marah seolah menampakkan sinyal bahwa dirinya dalam bahaya.

“Sepertinya kamu kelelahan. Maafkan aku sudah membuatmu berdiri terlalu lama. Kalau begitu semuanya, aku izin pamit lebih awal. Kandungan istriku semakin besar dan sebentar lagi anak kami akan seger lahir. Mereka perlu banyak istirahat. Kita bertemu lain kali,” kata Angga, menyalami satu per satu kolega bisnisnya. 

“Kami tunggu berita baik kelahiran penerusmu Bapak Angga!” Salah satu pria dari sekumpulan orang itu memekik saat Angga sudah melangkah menjauh. 

“Kita pulang lebih awal? Kamu sedang mengigau ya?” 

“Jangan bercanda. Aku sudah muak berada di kumpulan itu. Mereka hanya menyanjungku satu sama lain. Khalayak tidak akan tahu rencana-rencana terbaruku jika aku tidak membicarakannya di media. Bersiaplah,” ujar Angga. 

Mereka keluar dari lobi disambut oleh sekumpulan wartawan yang sudah menunggu. Kilatan lampu kamera membuat pandangan Nova memburam hingga harus mengaitkan tangannya lebih erat pada bisep Angga yang kokoh. 

“Pak Angga, mohon berikan waktu sebentar saja.”

“Pak Angga, bagaimana bisnis anda saat ini. Kami dengar sekarang anda berfokus untuk mendukung perusahan-perusahan rintisan dengan modal hingga miliyaran rupiah, apa itu benar pak?” 

Deretan pertanyaan menyerbu pasangan suami istri itu. Sadar tubuhnya tak cukup mampu untuk menerima tekanan situasi, Nova memilih bersembunyi di balik tubub tegap Angga. 

“Biar aku yang bicara,” titah Angga.

“Benar. Bahkan beberapa saat lalu aku baru saja memutuskan untuk menanamkan modalku lagi untuk salah satu bisnis baru. Kita sebagai pelaku bisnis harus saling mendukung satu sama lain untuk kemajuan bersama,” kata Angga opstimis. 

Nova heran, seberapa banyak stamina yang dimiliki suaminya untuk meladeni bualan-bualan orang lain tentang dirinya. Hidup di atas sebuah kebohongan bukanlah hidup yang ingin Niva miliki. Tetapi sekarang dirinya malah terkurung dengan kerlap kerlip sosialita yang penuh dengan ambisi dan keserakahan. 

Dalam hati Nova mengasihani diri sendiri. Di sini ia hanya menjadi boneka Angga yang bisa diatur kapan dirinya harus bicara. Di depan banyak orang, Angga mengelu-elukan kepiwaiannya dalam berbisnis. Kehidupan  pribadinya yang mewah, dan kisah rumah tangganya yang romantis bak cerita novel.

Angga bangga akan hal itu namun tidak dengan Nova. Setiap helaan napas Nova bahkan diatur sedemikian rupa oleh Angga dengan mengikuti les kepribadian sampai ia bisa dikatakan layak untuk mendampingi suaminya di depan khalayak. 

“Aku berada di posisi ini sekarang, bukan hanya karena usahaku sendiri. Ada sosok wanita tangguh yang sudah mendukungku sejak aku masih merintis. Dia selalu ada di sampingku setiap saat dan kini akan menemaniku sepanjang hayat. Wanita itu adalah Nova, istriku,” tutur Angga terdengar lihai memainkan intonasi bicaranya agar terkesan tulus. Semua sorot kamera mengarah pada Nova. Menjadikan Nova dan Angga sebagai bintang utama dalam laman utama berbagai media. 

‘Sampai kapan aku harus hidup dalam kepalsuan seperti ini?’ Batin Nova meringis.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Sudah waktunya

    Malam datang tanpa disadari oleh sepasang insan yang baru saja selesai memadu kasih. Pakaian mereka tercampakkan di lantai. Suhu pendingin turun, terasa semakin menggigit kulit. Punggung Angga bersandar di kepala ranjang. Dada kokoh itu menopang tubuh Nova di atasnya. Seperti bahu yang selalu siap menjadi tempat berlabuh. “Aku tidak suka kalau kamu terus menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah,” aku Nova jujur. “Aku akan terima hukuman apapun kalau memang aku melakukan kesalahan. Aku menganggap hukuman itu… sebagai hasil tabur tuai.” Hening. Kalimat yang diucapkan Nova barusan terdengar pasrah. Dari tempatnya yang lebih tinggi, Angga memperhatikan setiap pergerakan jari Nova yang dimainkan asal. Mengamati itu sebagai bentuk keraguan yang sengaja dipendam sendirian oleh istrinya. “Apa yang aku perbuat di masa lalu, sudah merenggut nyawa orang lain. Aku ini monster, Angga.”“Siapa yang mengizinkan kamu berkata demikian?” Angga menyela cepat. Kebencian terdengar jelas di ucapa

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Menuntut Penjelasan

    Ruangan itu serba putih. Memancarkan ketenangan sekaligus aroma yang mencekam dari obat-obatan di lemari belakang Dokter Henry. “Silahkan duduk, Nova. Pastikan kau menemukan posisi nyaman selama sesi ini.” Suara derit kursi yang Nova tarik, memecah hening di sana. Pandangan Nova menyebar ke segala arah. Memastikan dia aman berada di sana dalam kurun waktu satu jam ke depan. Dokter Henry masih diam, tapi Nova tahu pria itu memastikan setiap gestur yang Nova tunjukkan menghasilkan catatan pemeriksaan yang akurat. Hingga hening berlalu tepat ketika Dokter Henry kembali berucap, “Jadi, apa yang bisa kamu ingat, Nova?” Keliman bibir Nova semakin dalam, pikirannya mulai dipenuhi kekacauan yang tak beraturan. “Aku tidak tahu harus memulai dari mana,” katanya dengan suara pelan dan tak yakin.Dokter Henry tersenyum lembut. “Aku tahu ini bukan hal mudah. Menarik kembali benang ingatan masa lalu yang sudah lama dipaksa redam seperti kembali mengorek luka yang nyaris mengering,” ucapnya ten

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Sekutu

    Sebuah mobil hitam pekat berlogo kuda berhenti tepat di lobi sebuah rumah sakit. Satu ajudan sudah berjaga untuk kedatangan Sang Tuan dan Nyonya besar yang baru saja kembali ke tahtanya. Dres putih polos dari salah satu desainer ternama dunia membalut tubuh Nova dengan elegan. Memeluk tubuh ramping Nova dalam kehangatan diantara syaraf-syarafnya yang menegang. Setiap langkah Nova adalah sebuah pertaruhan masa depan. Begitu juga dengan setiap kata yang akan dia sampaikan di hadapan psikiater profesional. “Kau sudah siap?” tanya Angga dan langsung mendapat anggukan mantap dari istrinya.Langkah Angga terhenti sejenak di sisi mobil. Memastikan setiap gestur tubuh Nova menegaskan sebuah pernyataan tentang kesetaraan level di antara keduanya. Sorot mata penasaran dari pasien rumah sakit menghujani kedatangan mereka, mengiringi langkah pasangan suami istri itu hingga pintu kaca lobi tertutup. Ruang praktik Dr. Henry berada di paling ujung lorong lantai dua rumah sakit ini, tetapi, salah

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Hari Baru

    Fajar menyelinap di antara celah gorden beludru abu-abu yang menjulang tinggi, membawa seberkas cahaya pucat yang membelah kegelapan kamar bernuansa hitam-putih itu. Angga sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam. Matanya yang memerah menatap lurus ke arah langit-langit, sementara lengannya masih setia menjadi bantalan bagi kepala Nova. Wanita itu masih tertidur lelap, wajahnya tampak begitu damai—sebuah ironi besar jika mengingat badai darah dan air mata yang sedang mengintai di luar dinding kamar kedap suara ini.Angga perlahan menarik lengannya dengan sangat hati-hati, tidak ingin mengusik ketenangan semu yang sedang dinikmati istrinya. Ia bangkit, memungut jubah mandi sutra hitamnya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah menuju jendela besar. Di luar sana, kota tampak begitu sibuk, bergerak tanpa peduli pada satu jiwa yang sedang berada di ambang kehancuran.Pikiran Angga melayang kembali pada tumpukan berkas yang sengaja ia kunci rapat di dalam laci meja kerjanya. Lap

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Takut yang Tenggelam

    Lampu kamar yang temaram melukis bayangan tubuh Angga dan Nova di dinding polos berwarna putih yang mengelilingi mereka.“Ahh.. Angga… Kau… sialan!” Nova melenguh nikmat. Dagunya terangkat tinggi dengan rahang jenjangnya yang semakin tegas karena sentuhan bibir Angga di sana.“Kau … Candu, Sayang.” Angga menimpali. Suaranya berderak di telinga Nova.Di dalam kamar yang didominasi oleh perpaduan warna hitam dan putih yang tegas—mencerminkan karakter pemiliknya—Angga tidak membiarkan satu jengkal pun dari waktu yang bergulir terbuang sia-sia. Pria itu memacu gairahnya dengan kelembutan yang justru terasa begitu mematikan bagi pertahanan Nova. Setiap sentuhan, kecupan, hingga bagaimana jemari kokoh Angga menelusuri lekuk tubuhnya, terasa begitu mahir. Angga tahu persis di mana titik-titik yang bisa membuat Nova bertekuk lutut, melupakan segala batasan yang sengaja ia bangun selama ini.Sentuhan Angga malam ini bukan sekadar pemuas dahaga biologis, melainkan sebuah serangan yang perlahan

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Kala Masa Depan Menjanjikan

    Denting alat masak saling beradu. Tanpa bantuan satupun asisten rumah tangga, Nova menaruh seluruh fokusnya pada kesepuluh jemari lentiknya dalam mengolah setiap bahan makanan di depan mata. Uap panas mengudara lalu menghilang ditelan cooker hood. Gerakan tangan Nova cekatan mengaduk kuah sup di dalam panci berukuran sedang. Aroma Umami menguar memenuhi setiap sudut dapur. Ditemani alunan musik jazz lembut nan samar dari pengeras suara yang tersambung dengan ponsel, Nova menggumam pelan mengikuti alunan musik. Suara mangkuk dan piring kini berdenting dengan keras saling beradu menandakan masakan yang nyaris satu jam lamanya dibuat, siap untuk disajikan. Namun, kebebasan Nova sejak tadi tak berlangsung lama. Udara yang semula hanya untuk dirinya, kini harus dibagi oleh seseorang yang melangkah mendekat ke arahnya. Sepasang tangan besar merengkuh pinggulnya erat dan posesif seakan seluruh tubuh Nova mutlak miliknya saja. “Aku menepati janjiku,” ucap sosok di balik tubuh ramping Nova

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Nova Merajuk

    "Astaga, Nova. Kamu benar-benar membuatku gila!" Angga mengusap wajahnya frustasi. "Kamu yang memulai lebih dulu. Setiap apa yang aku lakukan selalu salah di matamu. Apalagi kalau berhubungan dengan laki-laki. Aku penasaran, sebenarnya kamu memikirkan nama baikmu atau kamu cemburu?" kata Nova heran.

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Kejadian Traumatis

    Di dalam kamar mandi Nova menumpahkan semua perasaan sakit yang ia rasakan. Dari pagi tadi mentalnya dihancurkan. Ribuan kali Nova berusaha untuk tak menumpahkan emosinya langsung pada Angga. Ia masih punya empati pada orang yang sedang sakit.“Hiks..hiks..” dadanya terasa sesak. Nova harus merasakan

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Jawaban Misteri

    “Kamu mengenalnya luar dalam.” Nova tertawa hambar. Melihat pengabdian Aldo untuk Angga, baik sebagai sahabat maupun tangan kanan pria itu, terkadang membuat Nova iri. Meski hidupnya dipenuhi oleh kepura-puraan, setidaknya Angga masih memiliki tempat untuk berbagi. Loyalitas tanpa batas yang Aldo be

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Sisi Kelam

    BAB 26 Dor!!Suara lengkingan peluru menembus salah satu bagian dari rumah ini mengagetkan Nova yang sedang tertidur pulas. Kedua matanya langsung membelalak saat menyadari suara itu bukan suara yang lazim ia dengar. “Suara apa itu?” katanya bermonolog. Posisinya berubah duduk sembari mengedar pandan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status