LOGINJika bisa memilih nasib, tentu hidup Nova saat ini bukanlah hidup yang Nova inginkan. Bayangan masa lalu masih seringkali menghantuinya. Entah sampai kapan perasaan takut dan bersalah itu akan mengisi hari-hari Nova, ia sudah pasrah dengan hidup yang harus dijalani.
"Kamu mau menguji kesabaranku berapa lama lagi?" Suara tinggi Angga menggema di seluruh penjuru kamar. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan dua tangannya bersedekap di depan dada.
“Aku sudah selesai,” jawab Nova lantas bangkut dari kursi meja rias yang ia tempati.
Dress putih polos dengan pita berukuran besar di bagian pundak Nova membuat penampilan wanita itu sangat memukau malam ini. Meski perutnya kian hari semakin besar, kehamilannya semakin memancarkan aura kecantikan Nova.
“Kamu selalu punya banyak hal untuk memancing emosiku. Jika ini bukan acara penting, tidak akan susah payah aku mengajakmu,” sahut Angga meninggalkan Nova di belakangnya.
Ucapan-ucapan pedas Angga sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Nova. Sebagai manusia biasa, tak mungkin hatinya tidak sakit ditempa dengan sikap dingin dan arogansi Angga.
“Aku harus melewati malam ini dengan sempurna, jangan sampai dia memakai tubuhku untuk pelampiasan kemarahannya lagi,” gumam Nova sambil terus melangkah.
Di usia kandungan yang sudah memasuki bulan persiapan untuk bersalin, semakin banyak kesulitan yang harus Nova lewati. Tentu saja, fase roller coaster sebagai ibu hamil harus Nova lalui sendiri. Bahkan di menit-menit terakhir sebelum topeng mereka berdua di pakai di depan banyak orang, Angga sama sekali tidak peduli.
Sebuah sedan hitam sudah menunggu pasangan dengan citra harmonis itu. Angga menuntun tangan Nova, membantu sang istri masuk ke dalam mobil seraya berbisik.
“Aku tahu ini terlalu awal untuk memulai akting, jangan berpikir aku memang berniat melayanimu.”
Posisi kosong di sebelah Nova sudah ditempati sosok pria tampan dengan model rambut terkini. Sama halnya dengan Nova, penampilan Angga mampu menarik perhatian banyak tamu undangan di acara itu. Tubuh tegapnya dibalut jas hitam dari bahan kashmir asli seharga satu buah mobil.
"Akan banyak media yang meliput acara ini. Jangan sampai kamu mempermalukan aku di sana. Pastikan kamu tahu apa hukumannya jika kamu melanggar,” tegas Angga tanpa sedikitpun menoleh. Pandangannya lurus ke depan, bahu bidangnya yang kokoh kerap kali Nova rindukan sebagai tempat bersandar namun, tiap kali menginginkannya, Nova sadar, ia tidak akan mendapatkan figur suami idamannya dalam diri Angga.
Entah sampai kapan Nova harus bertahan dengan rumah tangga bak dasar neraka ini. Hatinya pilu, seringkali ia bertanya pada diri sendiri, apakah Nova tak berhak untuk mendapatkan cinta yang tulus?
Tak terasa perjalanan selama dua puluh menit sudah berlalu, dua orang pengawal sudah berdiri di sisi pintu mobil mempersilahkan pasangan itu memulai akting mereka.
Sejak pembicaraan mereka di mobil tadi, Nova sama sekali tidak menyela peringatan Angga. Tanpa perlu diingatkan, setiap luka yang tertoreh di batin Nova akan selalu teringat jelas.
Kilatan lampu kamera silih berganti menyorot kehadiran sang pengusaha muda dan istrinya. Nova sedikit kesulitan melangkah karena gaun panjangnya. Sebuah hal tak terduga tiba-tiba dilakukan oleh Angga.
“Hati-hati melangkah, sayang. Peganglah tanganku,” ucapnya dengan sorot mata teduh penuh cinta. Untuk sepersekian detik Nova mengernyitkan dahi bingung. Sorot mata itu bukan hal yang biasanya pria itu lakukan.
‘Aku yakin dia hanya sedang memainkan perannya. Sorot mata itu bukan sorot cinta, Nova. Sadarlah!’ batin Nova mempertegas sebuah bisikan setan kecil dalam dirinya.
Mana mungkin Angga akan mencintainya seperti sorot mata yang ditunjukkan olehnya barusan.
“Ayo, sayang. Mereka sudah menunggu kita di dalam.”
“Ayo,” jawab Nova sambil berusaha keras mengulas senyum terbaiknya di depan kamera.
Para wartawan beriringan mengikuti langkah mereka berdua. Namun Angga memilih untuk menolak secara halus ajakan untuk wawancara.
“Kita bicara nanti, ya. Istri saya perlu istirahat sejenak. Terima kasih.” Angga menolak halus. Ia membimbing nova masuk ke area dalam hotel dikelilingi oleh lima orang pengawal.
Pesta malam ini digelar dengan begitu megah. Nova tahu siapa sosok yang mengadakan perhelatan akbar ini, tak lain adalah rekan bisnis Angga yang terkenal dengan kepiawaiannya dalam berbisnis. Jangan berpikir bahwa sosok itu tulus menjadikan Angga sebagai rekannya dalam mengolah uang. Puluhan kali Nova bertemu dengannya, sosok itu sama sekali tidak menunjukkan ketulusan.
“Aku harap kamu tidak termakan oleh bujukan investasi dari Pak Jhony lagi, Angga. Firasatku tidak enak jika kaku berbisnis lagi dengannya,” bisik Nova di telinga sang suami. Senyum lebar yang tak pernah lepas dari wajah Angga berubah menjadi kerutan amarah.
“Apa maksudmu? Jangan mencoba mengaturku. Aku jauh lebih tahu banyak tentang bisnis daripada kamu,” balas Angga tak terima.
Angga selalu menyangkal setiap nasihat yang diberikan Nova. Padahal, bagaimanapun perangainya terhadap Nova, sebagai seorang istri, Nova tidak ingin Angga tergelincir oleh lidah dan gengsinya sendiri.
“Di sini, aku adalah istri sahmu. Jadi kupikir tidak ada salahnya jika kamu menampung saran dari istrimu sendiri.”
Telak.
Nova cukup pintar memanfaatkan situasi. Momen-momen seperti ini, suaranya bisa di dengar oleh Angga. Sepuluh bulan menikahi pria itu, tak satupun saran Nova yang masuk ke telinga.
“Bersiaplah, Pak Jhony menghampiri kita. Kamu harus bisa menjaga nama baikku di depan dia dan kolegaku yang lain,” perintah Angga, disambut anggukan kecil Nova.
Seorang pria paruh baya berusia akhir empat puluhan datang menghampiri Angga dan Nova.
“Pak Angga, selamat datang ke acaraku. Aku sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi.”
“Selamat malam Pak Jhony, sudah cukup lama kita tidak bertemu. Aku lihat anda semakin sukses,” ucap Angga mulai
“Pak Angga bisa saja. Bagaimanapun, ini semua berkat investasi yang sudah bapak berikan ke perusahaan saya.”
Nova memperhatikan interaksi dua orang di hadapannya dengan pandangan menyelidik. Tatapannya tak sengaja bertemu dengan Pak Jhony yang juga tengah melirik ke arahnya. Lantas pria itupun kembali bersuara.
“Kau pandai memuji, Pak Jhony.”
“Sepertinya, sebentar lagi komisaris kita ini akan menyandang gelar seorang ayah. Aku tidak sabar ingin mengenal jagoan penerus penerus kejayaanmu, Pak Angga,” ucap Pak Jhony langsung membuat senyum Angga berubah kikuk.
Mulut pria paruh baya itu sangat licin dalam memuji. Pandai membuat Angga merasa superior hingga kini suami Nova itu semakin memperkikis jarak dengan Nova.
“Kemarilah,” bisik Angga sambil menyeret Nova mendekat.
Senyum palsu kembali dipamerkan oleh Angga, sungguh Nova muak melihat semua kepalsuan ini.
“Ah. Aku hampir saja lupa untuk mengundangmu ke acara pesta kelahiran calon anak kami nanti, Pak Jhony.” Kedua mata Nova terbelalak tak percaya. Sejak kapan Angga memiliki rencana untuk membuat pesta kelahiran anak mereka?
“Aku pasti akan datang, Pak Angga. Aku yakin, calon penerusmu adalah orang hebat sepertimu juga. Akan aku tunggu undangan darimu dan Nona Nova.” Jhony melirik sekilas ke arah Nova. Tanpa diketahui Angga, pria itu mengedipkan sebelah mata menggoda.
Benar saja firasat Nova selama ini, Pak Jhony bukanlah orang yang tulus. Diam-diam pria tua bangka ini menggodanya di hadapan sang suami, membuat Nova tak nyaman.
“Tentu kita akan mengabarimu secepatnya. Bukan begitu, sayang?” kata Angga beralih pada Nova yang menegang.
Di bawah langit malam yang gelap, Nova berlindung menutupi air matanya yang jatuh satu per satu ke pipi. Tidak peduli seberapa nyeri angin malam.menghunus kulitnya, dia tetap berdiri di sana. Halaman belakang yang dia rindukan sejak lama. Tempat di mana dulu selalu menjadi peraduannya kala gundah. Kedua tangannya saling bertaut memeluk tubuh, matanya menatap lurus pada puluhan tangkai bunga mawar beraneka warna yang bergoyang diterpa angin dan tanpa usaha menyanggah. Kontras dengan ketenangan itu, Nova tengah bergulat dengan kepalanya yang berisik. Suara Celva yang menolak keras dirinya terus berputar, bersama dengan rasa bersalah kembali menghujam dadanya. Sebagai seorang ibu, sesak atas penolakan anak sendiri bukanlah hal yang bisa dielak. Terlebih setelah Nova tahu, dia telah menjadi terlalu egois dengan meninggalkan anak itu bertahun-tahun dalam kebingungan. “Ternyata kamu di sini.” Sebuah suara berat menggeser bola mata Nova ke samping. Tempat di mana bayangan seorang pria be
Wanita itu, berjalan santai menghampiri Angga. Setiap gestur yang–tidak sengaja–dia tunjukkan, seakan memperjelas tahtanya di rumah ini. Jantung Nova nyaris mencelos kala matanya melihat keakraban yang melibatkan wanita itu dengan Angga. Kedekatan yang nyaris tak berjarak untuk sebuah pertemanan, dan terlalu intim untuk sebuah hubungan lebih dari sekedar teman. “Hei! Tentu aku merindukan kalian,” jawab Angga. Kata-katanya semakin menohok batang tenggorokan Nova. “Terlebih pada putri kecil ini.” Di tempatnya, Nova memperhatikan setiap interaksi kecil di antara tiga orang di depannya. Percikan api meletup di matanya. Rasa tidak suka tergambar jelas di sana tapi dia memilih diam. “Papa, Celva kangen Papa!” celoteh anak perempuan dalam gendongan wanita tadi. Membuyarkan segala perasaan tak nyaman yang sempat hinggap di hatinya. Gadis kecil itu beralih ke pangkuan Angga. Sepersekian detik mata Nova merekam dengan jelas bagaimana interaksi Angga dengan gadis kecil yang telah ditinggalk
Empat jam sisa penerbangan sebelum mendarat di Jakarta dilalui Angga, Nova, bahkan Chris dalam keheningan. Namun, dibanding Chris yang tidak mendapatkan efek apapun dari tragedi tadi, ada Angga yang kini melangkah di sepanjang lounge bandara dengan segala pikiran berkecamuk. Meski begitu, perhatiannya terhadap Nova dan bayi mungil, Noah, tetap menjadi prioritasnya. Ia memastikan setiap hal berjalan dengan lancar dan dua orang itu selalu berada dalam keadaan nyaman. Mereka sudah mendarat di Jakarta. Lalu lalang orang-orang di sekitar mereka sempat membuat Angga kesulitan untuk mengawasi Nova dan Noah. “Kenapa kau tidak menugaskan pengawal untuk berjaga, huh?” ucap Angga pada Chris di depannya, memimpin langkah mereka keluar dari lounge. Wajah pria itu memucat, “Maaf, Tuan. Aku pikir kita akan pulang dengan jet pribadi milikmu,” sahut Chris. Resiko pekerjaan menjadi tangan kanan Angga, ia harus mengingat dan peka akan segala detail hal tentang bosnya itu. Tidak hanya Angga, ia juga h
Angga duduk termangu di kursinya. Gelisah di dadanya mulai berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Beberapa kali ia menampar pipinya, hanya demi merasakan sakit di sana. Ini bukan mimpi. Apa yang ia dengar dari Nova tadi nyata adanya. Disaat Angga berperang dengan pikirannya sendiri, seseorang di sampingnya terlelap dalam tidur. Setelah melewati momen menegangkan karena Noah yang rewel, Nova terlelap kelelahan. Sekilas Angga memperhatikan setiap hal yang membuat dunia Angga jungkir balik karenanya. “Permisi, Tuan. Apakah Anda ingin segelas teh atau kopi?” Suara lembut pramugari membyarkan semua lamunan Angga beserta bayangan tentang Nova di kepalanya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita cantik, dengan pakaian serba ketat berwarna biru dan sanggul rabut yang rapi dan lici. Tidak lupa senyum ramah yang merupakan sebuah kewajiban dalam pertunjukan selama penerbangan Seoul ke Jakarta. Angga tersenyum tipis membalas sapaan itu. Kopi bukan
Di lobi bandara, tiga orang berdiri sambil menyibukkan diri menata perasaan masing-masing. Selain tiga orang itu, ada Chris yang sibuk menurunkan koper bersama supir pribadi Mario. Sesekali pria itu mengecek ponsel, memastikan mereka tidak datang terlambat. “Semuanya sudah siap, Tuan. Kita bisa masuk sekarang,” ucap Chris. Di balik jas fit body yang dia kenakan, Chris nampak lebih gagah hari ini. Angga menoleh padanya, “Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang.” Ia mendekati Mario dan Nova yang kini sedang berbicara serius. “Nova, sudah waktunya kita berangkat,” kata Angga. Ia juga beralih pada Mario, “Dan Mario, terima kasih karena sudah membantu kami sejauh ini,” ucap Angga kemudian meraih pundak Nova mendekat padanya. Seakan ia benar-benar ingin menunjukkan bahwa Nova adalah miliknya. Mario menelisik setiap gelagat Angga yang terlihat semakin posesif. Sorot matanya menyimpan banyak arti yang tidak bisa diterjemahkan oleh Angga. Lalu, seulas senyum tipis terukir di wajah Mario.
Semilir angin menerpa wajah Nova , terasa menyegarkan namun tidak mampu mengangkat sedikit beban berat yang sedang ia pikul saat ini. Ia duduk sendirian di taman yang terhubung langsung dengan kolam renang gedung apartemen Mario seorang diri. Pandangannya mengedar, memperhatikan aktivitas penghuni lain gedung ini yang berlalu lalang di depannya. Di mata Nova, mereka terlihat seperti hidup tanpa beban. bebas tertawa dan bertukar senyum dengan orang-orang yang mereka cintai. “Apakah mereka begitu menikmati hidup mereka?” Nova berkata lirih. Pada angin, pada percikan air kolam yang berterbangan tipis dan mengenai wajahnya. Kini ia berada di tengah-tengah orang-orang individualis. Mereka hanya akan mengurus permasalahan hidup mereka sendiri alih-alih menaruh simpati pada sosok yang duduk sendirian di kursi taman seperti Nova. Di saat sendiri seperti ini, Nova tidak bisa mengendalikan pikirannya. Bayangan masa lalu kelam terus menerus mengisi setiap sudut pikiran Nova tanpa ampun. Seper







