Share

Hukuman Yang Membawa Petaka

Penulis: JolaSky
last update Terakhir Diperbarui: 2023-10-24 20:41:37

Nova terperangah saat kaitan tangannya di bisep Angga dienyahkan begitu saja ketika mereka sudah sampai di rumah.

“Jangan lupa diri. Aktingmu sudah berakhir,” ujar Angga sinis kemudian melangkah lebih dulu memasuki rumah. Para pelayan menyambut kedatangan mereka dengan dua buah baki berisi selop rumahan untuk bos mereka. 

“Aku hanya sedang menyeimbangkan langkahku. Memakai dres panjang ini dalam keadaan hamil besar itu menyiksaku,” Nova membalas sembari bernafas lega. 

Di rumah, Nova tidak perlu khawatir aktingnya akan dikuliti oleh para pelayan karena sebelum mereka dipilih dan memilih untuk mengabdikan diri mereka untuk Angga, segepok uang tutup mulut sudah dijejalkan oleh Angga. 

Angga berdecih, “Alasan! Bilang saja kamu memang ingin memegang tubuhku lebih lama. Jangan pernah menyentuh seincipun tubuhku selain aku sendiri yang memulai,” tegasnya.

Tiba-tiba, dalam sekali tarikan Angga meraih tubuh Nova ke dalam gendongannya. 

"Angga, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku, semua pekerja memperhatikan kita." 

"Mereka akan melihat ini setiap hari jika kamu tak mau mengikuti aturanku!" tegas Angga dengan pandangan lurus ke depan. 

"Apa maksudmu?" Nova mulai panik. Ia yakin betul selama acara tadi sudah memenuhi kemauan sang suami untuk berakting sempurna. 

Brak!

Pintu sebuah kamar didobrak dalam sekali tendangan. Kaki panjang itu membawa Nova masuk ke dalam ruangan serba hitam dan merah. Pada Akhirnya Nova tahu kemana arah pikiran suaminya. 

Sudahlah kesulitan bergerak karena gaun yang Nova pakai, penderitaannya masih berlanjut dengan tuntutan Angga pada Nova untuk menuntaskan kabut gairah yang mulai menelusup di manik indah pria itu. 

"Layani aku sekarang!" kata Angga menuntut. Tangannya gesit membuka setiap helai kain yang membalut tubuhnya sedangkan Nova dibiarkan terkapar di atas ranjang. 

"Kenapa aku harus melayanimu? Aku tidak melakukan kesalahan apapun hari ini." Nova membela diri. Perutnya yang besar terasa penuh dan menyesakkan dada dalam posisi seperti ini.  Nova tak hanya memikirkan dirinya sendiri. Bayi dalam kandungannya tak layak diperlakukan kasar seperti ini.

"Kita sudah sepakat, selain kamu harus menebus dosamu pada adikku, kamu juga harus melayani aku kapanpun aku mau. Di sini kamulah yang bersalah, dan sudah sepantasnya kamu menebus itu semua."

Udara dingin di ruangan itu semakin menusuk tulang. Warna hitam dan merah mendominasi semakin menambah kesan kelam dari ruangan ini. Beberapa alat yang tak lazim digunakan oleh pasangan lain tersedia secara cuma-cuma. 

Jangan tanya darimana Angga mendapatkan itu semua. Jauh sebelum Nova resmi menjadi istrinya, pria itu mampu menutupi aib pribadi sebagai pemain wanita dengan persona yang ia bangun di hadapan media. 

Sekujur tubuh Nova memanas. Dihadapannya terpampang wajah tampan dengan siluet tegas di setiap sisi. Siapa yang tak mau menjadi pendamping sosok dewa Yunani seperti pria ini? Kecuali Nova. 

Tubuh Nova bergerak tak karuan dalam kegelisahan setiap sentuhan Angga begitu menggoda membuat Nova hampir hanyut dalam gerbang kenikmatan. 

Srek!!

Gaun putih itu dikoyak dengan kasar lalu dihempaskan begitu saja. Dengan dua balutan kain yang tersisa, Nova siap menjadi mangsa. 

"Angga, tolong jangan lakukan itu. Aku mohon kali ini saja. Bayi ini akan lahir dalam hitungan hari, aku tidak ingin terjadi sesuat-thuh deng-an-nyah ah–" Nova memohon. Suaranya semakin sumbang. Napasnya menggebu membuat dadanya naik turun. 

Sesak dan nikmat adalah dua dilema yang harus Nova terima. Tak peduli seberapa besar usahanya untuk menolak, Angga tak.pernah gentar. 

"Apa salahnya jika aku ingin menemuinya sebelum anak itu lahir? Aku hanya meminjam tubuhmu untuk mengandung dan melahirkan penerusku. Bukan berarti aku menaruh ketertarikan padamu."

Deg!

Jantung Nova rasanya berhenti berdetak untuk sepersekian detik ketika mendengar pernyataan itu. Satu kenyataan yang pernah terucap dulu, tidak pernah Nova sangka akan diseriusi oleh Angga. 

"Apa belum cukup kamu menyiksa batinku selama ini?" 

Sebelah alis Angga naik, sorot mata merendahkannya tertuju tepat di kedua mata indah Nova yang keoranyean. 

"Menyiksa? Apakah itu kata yang pantas untuk menggambarkan sebuah penebusan dosa?".

Sungguh! Nova ingin mati saja rasanya. Percuma hidup dalam belenggu dendam orang lain. Penderitaan ini seolah tak berujung. 

"Sudah aku katakan berkali-kali padamu, Angga. Bukan aku pembunuhnya! Justru aku datang untuk menyelamatkan Andre," ujar Nova dengan penekanan di setiap katanya. 

Tetapi, itu semua nyatanya tidak bisa membuat Angga percaya, "pernyataan tanpa bukti adalah klise. Jangan mencoba meyakini aku dengan wajah polosmu itu."

"Bagaimana lagi aku harus bersumpah agar kamu percaya? Aku bukan pembunuh Andre hiks! Hiks!" 

Dinding pertahanan yang selama ini dibangun kokoh perlahan retak. Tangis pilu merongrong dari mulut Nova.  Nova tidak pernah meminta Angga untuk mengiba. Setidaknya, memberikan sedikit ruang gerak untuk membuktikan kebenaran adalah harapan yang selama ini dinanti oleh Nova. 

"Omong kosong! Jalani saja takdirmu dan layani aku sekarang!"

Permohonan Nova tak pernah diindahkan. Miris, mungkin Angga satu-satunya suami yang tak memiliki empati dan Nova harus bertahan dengan pria itu tanpa ujung yang pasti. 

Angga mulai melancarkan aksinya sebagai penguasa permainan ranjang kali ini. Perut besar Nova sama sekali tak mengurungkan niatnya untuk sekedar memberi jeda. Angga dengan gagahnya memacu Nova untuk terus mendesau. Menggaungkan kenikmatan di malam yang melelahkan ini. 

"Ang-gha, please stop. Anggha." Nova meracau. Di bawah sana Angga masih giat melakukan aksinya namun Nova sudah tak lagi memiliki cadangan tenaga. 

Pegangannya di sprei ranjang mengendur. Keringat sebesar biji jagung semakin deras mengalir dari dahi Nova. Janin di dalam kandungannya bergerak semakin brutal seolah menolak kehadiran ayahnya di dalam sana.

"Anggha, perutkuh sakith." 

"Jangan banyak alasan, Nova. Aku tahu itu hanya caramu untuk menghentikanku." 

Pedih mana lagi yang belum pernah Nova rasakan? Ketika tubuhnya tak mampu lagi menahan sakit dan dawai kenikmatan secara bersamaan. Kejujurannya masih dianggap sebagai alasan. 

Mulas mulai menjajah setiap sudut perut Nova, menjalar hingga ke punggung. Ada dorongan yang kuat dari janinnya untuk memberontak.

'Apakah kamu akan lahir sekarang, nak?' batin Nova. Di tengah kesakitannya, Nova mengingat ucapan dokter yang menyebutkan hari perkiraan lahir sang janin. 

12 februari. Dua hari lagi menuju hari persalinan yang diperkirakan akan tiba. 

"Aw, ah! Anggha perutku. Tolong perutku sakit sekali awh!"

Nova terus meracau kesakitan. Melihat itu, seketika pria di atas tubuhnya bergeming. Menghentikan permainan yang sedang berada di klimaksnya. 

"Jangan bercanda, Nova. Ini belum waktunya anak itu lahir. Masih dua hari lebih awal dari perkiraan dokter." Angga berusaha menyanggah. Sedetik kemudian ia merasakan cairan mulai membasahi area kaki Nova yang terbuka. Darah. 

Darah segar mengalir dari area sensitif Nova yang masih Angga kuasai. Raut wajah Angga berubah tegang.

"Ka–kau keguguran?!" 







Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Keyakinan Semu

    Di bawah langit malam yang gelap, Nova berlindung menutupi air matanya yang jatuh satu per satu ke pipi. Tidak peduli seberapa nyeri angin malam.menghunus kulitnya, dia tetap berdiri di sana. Halaman belakang yang dia rindukan sejak lama. Tempat di mana dulu selalu menjadi peraduannya kala gundah. Kedua tangannya saling bertaut memeluk tubuh, matanya menatap lurus pada puluhan tangkai bunga mawar beraneka warna yang bergoyang diterpa angin dan tanpa usaha menyanggah. Kontras dengan ketenangan itu, Nova tengah bergulat dengan kepalanya yang berisik. Suara Celva yang menolak keras dirinya terus berputar, bersama dengan rasa bersalah kembali menghujam dadanya. Sebagai seorang ibu, sesak atas penolakan anak sendiri bukanlah hal yang bisa dielak. Terlebih setelah Nova tahu, dia telah menjadi terlalu egois dengan meninggalkan anak itu bertahun-tahun dalam kebingungan. “Ternyata kamu di sini.” Sebuah suara berat menggeser bola mata Nova ke samping. Tempat di mana bayangan seorang pria be

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Bibit Cemburu

    Wanita itu, berjalan santai menghampiri Angga. Setiap gestur yang–tidak sengaja–dia tunjukkan, seakan memperjelas tahtanya di rumah ini. Jantung Nova nyaris mencelos kala matanya melihat keakraban yang melibatkan wanita itu dengan Angga. Kedekatan yang nyaris tak berjarak untuk sebuah pertemanan, dan terlalu intim untuk sebuah hubungan lebih dari sekedar teman. “Hei! Tentu aku merindukan kalian,” jawab Angga. Kata-katanya semakin menohok batang tenggorokan Nova. “Terlebih pada putri kecil ini.” Di tempatnya, Nova memperhatikan setiap interaksi kecil di antara tiga orang di depannya. Percikan api meletup di matanya. Rasa tidak suka tergambar jelas di sana tapi dia memilih diam. “Papa, Celva kangen Papa!” celoteh anak perempuan dalam gendongan wanita tadi. Membuyarkan segala perasaan tak nyaman yang sempat hinggap di hatinya. Gadis kecil itu beralih ke pangkuan Angga. Sepersekian detik mata Nova merekam dengan jelas bagaimana interaksi Angga dengan gadis kecil yang telah ditinggalk

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   My Heart Landed In Jakarta

    Empat jam sisa penerbangan sebelum mendarat di Jakarta dilalui Angga, Nova, bahkan Chris dalam keheningan. Namun, dibanding Chris yang tidak mendapatkan efek apapun dari tragedi tadi, ada Angga yang kini melangkah di sepanjang lounge bandara dengan segala pikiran berkecamuk. Meski begitu, perhatiannya terhadap Nova dan bayi mungil, Noah, tetap menjadi prioritasnya. Ia memastikan setiap hal berjalan dengan lancar dan dua orang itu selalu berada dalam keadaan nyaman. Mereka sudah mendarat di Jakarta. Lalu lalang orang-orang di sekitar mereka sempat membuat Angga kesulitan untuk mengawasi Nova dan Noah. “Kenapa kau tidak menugaskan pengawal untuk berjaga, huh?” ucap Angga pada Chris di depannya, memimpin langkah mereka keluar dari lounge. Wajah pria itu memucat, “Maaf, Tuan. Aku pikir kita akan pulang dengan jet pribadi milikmu,” sahut Chris. Resiko pekerjaan menjadi tangan kanan Angga, ia harus mengingat dan peka akan segala detail hal tentang bosnya itu. Tidak hanya Angga, ia juga h

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Kenyataan yang Tidak Terduga

    Angga duduk termangu di kursinya. Gelisah di dadanya mulai berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Beberapa kali ia menampar pipinya, hanya demi merasakan sakit di sana. Ini bukan mimpi. Apa yang ia dengar dari Nova tadi nyata adanya. Disaat Angga berperang dengan pikirannya sendiri, seseorang di sampingnya terlelap dalam tidur. Setelah melewati momen menegangkan karena Noah yang rewel, Nova terlelap kelelahan. Sekilas Angga memperhatikan setiap hal yang membuat dunia Angga jungkir balik karenanya. “Permisi, Tuan. Apakah Anda ingin segelas teh atau kopi?” Suara lembut pramugari membyarkan semua lamunan Angga beserta bayangan tentang Nova di kepalanya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita cantik, dengan pakaian serba ketat berwarna biru dan sanggul rabut yang rapi dan lici. Tidak lupa senyum ramah yang merupakan sebuah kewajiban dalam pertunjukan selama penerbangan Seoul ke Jakarta. Angga tersenyum tipis membalas sapaan itu. Kopi bukan

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Selamat Tinggal Korea

    Di lobi bandara, tiga orang berdiri sambil menyibukkan diri menata perasaan masing-masing. Selain tiga orang itu, ada Chris yang sibuk menurunkan koper bersama supir pribadi Mario. Sesekali pria itu mengecek ponsel, memastikan mereka tidak datang terlambat. “Semuanya sudah siap, Tuan. Kita bisa masuk sekarang,” ucap Chris. Di balik jas fit body yang dia kenakan, Chris nampak lebih gagah hari ini. Angga menoleh padanya, “Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang.” Ia mendekati Mario dan Nova yang kini sedang berbicara serius. “Nova, sudah waktunya kita berangkat,” kata Angga. Ia juga beralih pada Mario, “Dan Mario, terima kasih karena sudah membantu kami sejauh ini,” ucap Angga kemudian meraih pundak Nova mendekat padanya. Seakan ia benar-benar ingin menunjukkan bahwa Nova adalah miliknya. Mario menelisik setiap gelagat Angga yang terlihat semakin posesif. Sorot matanya menyimpan banyak arti yang tidak bisa diterjemahkan oleh Angga. Lalu, seulas senyum tipis terukir di wajah Mario.

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Terjebak Dalam Belenggu Dosa

    Semilir angin menerpa wajah Nova , terasa menyegarkan namun tidak mampu mengangkat sedikit beban berat yang sedang ia pikul saat ini. Ia duduk sendirian di taman yang terhubung langsung dengan kolam renang gedung apartemen Mario seorang diri. Pandangannya mengedar, memperhatikan aktivitas penghuni lain gedung ini yang berlalu lalang di depannya. Di mata Nova, mereka terlihat seperti hidup tanpa beban. bebas tertawa dan bertukar senyum dengan orang-orang yang mereka cintai. “Apakah mereka begitu menikmati hidup mereka?” Nova berkata lirih. Pada angin, pada percikan air kolam yang berterbangan tipis dan mengenai wajahnya. Kini ia berada di tengah-tengah orang-orang individualis. Mereka hanya akan mengurus permasalahan hidup mereka sendiri alih-alih menaruh simpati pada sosok yang duduk sendirian di kursi taman seperti Nova. Di saat sendiri seperti ini, Nova tidak bisa mengendalikan pikirannya. Bayangan masa lalu kelam terus menerus mengisi setiap sudut pikiran Nova tanpa ampun. Seper

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status