Share

Pernikahan Jebakan
Pernikahan Jebakan
Penulis: NariaPranata

Prolog

Aylee beringsak mundur, jantungnya berdegup begitu kencang, aliran darah seolah berhenti di urat-urat nadinya hingga wajahnya kini nyaris pucat. Nafasnya terengah seolah paru-parunya tak dapat lagi menghirup udara. Gabe semakin maju, wanita cantik bermata coklat itu kini terjebak di antara dinding dan tubuh atletis Gabe.

Gabe tersenyum menang, tangannya menyibak rambut coklat terang Aylee, menyelipkan rambut panjang itu di belakang telinganya. Gabe lantas mencium telinga Aylee lembut, menekankan bibirnya di sepanjang leher Aylee, wanita itu melenguh. Tak disangka bahwa sentuhan itu nyatanya begitu membuainya. Gabe tersenyum di sela ciumannya. Dengan agresif ia lantas mencium bibir Aylee yang merekah, seolah memang gadis itu menunggu ciuman dari Gabe. Keduanya berciuman tanpa ampun, Gabe begitu brutal menciumnya, memainkan bibir Aylee dengan rakusnya bak singa yang sedang kelaparan. Sejurus kemudian Gabe menanggalkan gaun tidur Aylee, menyibak dadanya, bibirnya nyaris mendarat di area itu. Namun Aylee tiba-tiba Aylee terbangun, ternyata semuanya hanya mimpi.

Nafasnya tersengal, ia menutupi dadanya yang masih terbungkus rapi di balik gaun tidurnya. Matanya mengedar pandang sekeliling kamarnya. Tak ada Gabe di situ.

Ia mengelap keringat yang membasahi keningnya. Beranjak dari tempat tidurnya, Aylee berjalan menuju dapur. Ia melihat jam di layar ponselnya, sudah jam tiga pagi dan pria itu masih belum pulang.

Usai meneguk air mineral yang sedetik lalu diambilnya dari kulkas, ia mulai menelepon pria yang sudah beberapa bulan ini menjadi suaminya. Namun seperti yang Aylee duga, pria itu tak akan menjawab telepon darinya. Ia pastilah sedang menginap di apartemen kekasihnya, Michelle Morgan.

Aylee menertawai diri sendiri, bisa-bisanya ia mimpi dicumbu oleh pria brengsek yang sudah menikahinya secara paksa. Okay, ralat. Bukan dipaksa sebetulnya, lebih tepatnya dijebak. Lelaki brengsek itu adalah Gabriel Ferdinand suaminya, yang kerap ia panggil Gabe.

Gabriel Ferdinand adalah bosnya di perusahaan tempat Aylee bekerja, pada awalnya pria itu begitu manis dan baik padanya, sewajarnya seorang pria yang tertarik dengan wanita, Gabe, cukup meyakinkan. Aylee tentu saja mudah dibuai olehnya, selain dari ia CEO muda, ia memiliki paras rupawan dengan tubuh atletis sempurna yang membuat banyak wanita jatuh hati padanya, termasuk Aylee. Gabe yang belum ada sebulan memacarinya, langsung melamar Aylee. Tentu saja gadis polos itu girang bukan main, ia tanpa pikir panjang menerima lamaran Gabe. Namun begitu pernikahan itu usai terlaksana, di malam pertama yang harusnya mereka bercumbu mesra, Gabe justru membisikkan satu kalimat yang membuat Aylee menjatuhkan air matanya dengan begitu mudah.

“Jangan harap aku mau menyentuhmu, kamu cantik tapi tak cukup membuatku menginginkanmu. Aku menikahimu hanya sebagai kedok agar orang tuaku tak terus-terusan memisahkanku dari Michelle. Kamu tipikal sempurna untuk orang tuaku, namun bukan untukku.” Begitu tak punya perasaan saat pria itu melontarkan kata-kata menyakitkan baginya.

“Jadi kamu menjebakku? Kamu menikahiku agar kamu bisa terus berhubungan dengan dia tanpa takut dicurigai mama dan papa?” Gabe tersenyum sinis, begitu menakutkan. Citranya yang manis saat dia menjadi kekasihnya kini hilang sama sekali. Aylee mengerti kenapa orang tua Gabe tak menyukai Michelle, sebab gadis itu seorang aktris ibu kota yang punya banyak skandal, itu berbanding terbalik dengan citra keluarga Gabe yang terpandang dan sempurna tanpa cela. Aylee sendiri bukan dari keluarga pengusaha, kedua orang tua Aylee adalah dosen di Universitas ternama di negara ini. Keluarga Aylee cukup disegani karena riwayat pendidikan dan attitude mereka yang baik. Itulah mengapa orang tua Gabe sangat menyetujui hubungan Gabe dan Aylee, lebih-lebih di keluarga Gabe tidak ada anak perempuan, jadi ibu Gabe, Natasya Ferdinand sangat menyukai menantunya itu.

“Aku akan bicara dengan orang tuamu,” ancam Aylee dengan suara bergetar, ia masih shock dengan kenyataan pilu yang menimpanya. Gabe memegangi dagu Aylee.

“Coba saja bilang. Aku akan menceraikanmu, kamu tentu ingat Ayahmu memiliki riwayat penyakit jantung, jika dia tahu anaknya dicerai belum sehari setelah pernikahan, kamu tentu tahu apa yang akan terjadi.” Bahkan pria brengsek itu mengancam Aylee, membuat gadis itu tak berdaya dibuatnya.

Aylee menitikkan air matanya lagi ketika mengingat kejadian itu. Sudah hampir empat bulan ini ia bergumul dengan rasa pedih, harga dirinya seolah tak ada lagi. Lelaki itu membuat Aylee merasa menjadi wanita paling tak diinginkan, ia begitu rendah di mata suaminya.

Dering ponsel Aylee berbunyi. Ia segera melihat layar di ponselnya, namun bukan Gabe yang meneleponnya. Nama ‘Martin my Bestie' yang tertera.

“Pagi sekali kamu meneleponku?” jawab Aylee sembari ia berjalan menuju kamarnya kembali.

“Aku baru pulang dari Lounge. Kepalaku pusing, aku tak bisa tidur, Ay.” Suara Martin dari seberang.

“Kamu minum?” Aylee sedikit khawatir dengan pria yang sejak ia berumur sepuluh tahun sudah menjadi sahabatnya itu.

“Aku hanya minum sedikit, Ay. Kamu tahu mereka ke lounge untuk merayakan keberhasilanku mendapat kontrak film itu, mana mungkin aku tak ikut minum? Hanya sekedar menghormati manajemenku.” Aylee mengerti, kini pria kesayangannya itu memang sudah beberapa tahun ini sudah terjun ke dalam industri hiburan, tentu itu akan lekat dengan dunia malam seperti itu. Apa pun itu, asalkan Martin bahagia, ia ikut bahagia.

Martin yang tampan mengawali kariernya sedari sekolah menengah atas dengan menjadi seorang model, menjadi aktor papan atas adalah mimpinya, dan kini segala kerja kerasnya mulai menunjukkan hasil. Ia kini akhirnya mendapatkan proyek perdananya sebagai seorang pemeran utama dalam sebuah film.

“Kalau begitu harusnya kamu tidur. Kenapa malah meneleponku?”

“Selain dari aku rindu suaramu, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Aylee terdiam, ia cukup penasaran dengan perkataan Martin. Namun ia juga takut mendengar kabar yang akan membuatnya sedih.

“A-ada apa memang?” Aylee gugup.

“Coba tebak!” ucap Martin, namun belum sempat Aylee berbicara suara Martin kembali terdengar.

“Suamimu barusan bersama kami. Michelle adalah lawan mainku di film ini.” Aylee menghela nafas berat, kini Gabe sudah begitu terang-terangan menunjukkan hubungan mereka rupanya. Ia bahkan ikut merayakan keberhasilan Michelle di Lounge, Aylee yakin mereka juga pada akhirnya memesan kamar di hotel tersebut. Aylee menjilat bibirnya, ia lantas memaksakan diri untuk tersenyum, lantas suaranya berusaha ditegarkan.

“Aku tidak apa-apa, Martin,” ucap Aylee berbanding terbalik dengan hatinya yang kembali hancur lebur. Namun ini sudah biasa untuknya, bahkan ia pernah menjumpai hal yang lebih gila dari ini. Gabe bahkan pernah mengajak Michelle ke rumah mereka dan bercinta dengan Michelle dengan Aylee masih berada di rumah itu. Hati wanita mana yang tak sakit? perlakuan Gabe betul-betul membuat Aylee merasa jijik pada dirinya sendiri, karena ia tak mampu membuat pria itu sedikit saja tertarik padanya, bahkan pria itu justru seperti menganggapnya tak ada. Adakah pernikahan yang lebih buruk dari ini?.

“Aku akan membalas perbuatannya padamu, Ay. Aku bersumpah!” gertak Martin, pria tampan itu terdengar serius. Tanpa sepengetahuan Aylee pria itu lantas tersenyum licik. Pria itu punya rencana. 

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Bintu Ikhwani
Keren, Mbak. ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status