Share

Obsesi Rani

Penulis: Efi lutpiyah
last update Tanggal publikasi: 2026-10-10 12:43:38

"Kamu masih marah?" tanya Selina pelan saat sepanjang perjalanan suaminya tak kunjung membuka suara.

"Menurutmu?" tanya balik Leon datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

Selina menghembuskan napasnya pelan. "Leon, aku kan bertanya padamu, kenapa malah bertanya balik?"

"Bukankah hal itu juga yang selalu kamu lakukan setiap kali aku bertanya?"

Selina langsung mendelik ke arah suaminya. Ternyata, jika sedang merajuk, sikap laki-laki ini bisa sangat menguras emosi dan penuh gengsi.

"Leon,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Kontrak Dengan Mantan Kekasih    Keributan yang membuat Rani malu

    "Se-sekar... ke-kenapa kamu ada di sini?" tanya Om Heri terbata-bata, tubuhnya mendadak kaku melihat kehadiran istri sahnya.Namun, Sekar tidak menjawab pertanyaan itu sedikit pun. Dengan mata menyalang penuh amarah, wanita itu melangkah lebar lalu secepat kilat menjambak rambut Rani dengan sangat keras."Dasar gadis murahan! Apa yang dijanjikan tua bangka ini sampai kamu mau dijadikan simpanan olehnya?!" bentak Sekar murka, menarik kepala Rani hingga mendongak.Rani meringis kesakitan, jemarinya berjuang mencengkeram tangan Sekar yang mencengkeram erat rambutnya. "Aww! Lepas! Lepaskan aku!""Sekar, kamu jangan gila! Ini di tempat umum!" bentak Om Heri panik setengah mati, berusaha melerai jemari istrinya.Sekar justru terkekeh sumbang. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia sengaja melayangkan tatapan tajam ke sekeliling area ballroom. Keributan itu seketika menarik perhatian, membuat puluhan tamu bergaun dan berjas mewah berdatangan mengelilingi mereka karena penasaran."Lihat semuanya!

  • Pernikahan Kontrak Dengan Mantan Kekasih    Komplotan laki-laki hidung belang

    "Baguslah, akhirnya Kak Selina pergi juga!" gumam Rani seraya menyeringai puas menatap pintu keluar ballroom.Om Heri yang mendengar gumaman itu langsung merapat ke arah wanitanya dengan raut penasaran."Memangnya siapa sih dia, Sayang?""Dia itu kakakku, Om. Kakak satu ibu," adu Rani bersungut-sungut dengan nada memelas yang dibuat-buat. "Tapi setelah menikah dengan Tuan Leon, dia benar-benar lupa segalanya. Bahkan aku dan Ibu dibiarkan kelaparan!""Astaga, tidak tahu diri sekali!" umpat pria tua itu sinis. "Tapi mulai sekarang kamu tidak usah memikirkan kakakmu itu, Sayang. Sekarang ada Om yang akan menuruti semua kemauan kamu dan ibumu."Rani tersenyum senang mendengar janji manis itu. Ia semakin merapatkan pegangan tangannya di lengan Om Heri."Om Heri baik deh, aku jadi makin cinta!"Pria tua itu terkekeh puas, lalu mengecup gemas pucuk kepala Rani."Ya sudah, ayo Om kenalkan pada teman-teman Om di sana," ajak Om Heri seraya menunjuk ke arah deretan pria paruh baya yang tengah me

  • Pernikahan Kontrak Dengan Mantan Kekasih    Sikap angkuh Rani

    "Kak Selina!"Wajah Rani mendadak pucat pasi. Matanya membelalak tak percaya saat menangkap keberadaan kakaknya di sana."Rani, kamu sedang apa di sini? Terus... siapa dia?" Tatapan Selina tertuju lurus pada Om Heri. Laki-laki paruh baya itu pun beralih menatap Rani, menuntut penjelasan.Rani semakin gelagapan. Otaknya berputar keras mencari alasan yang logis dan masuk akal."Baby, siapa dia?" tanya pria tua itu heran. Namun, saat pandangannya bersitatap dengan Leon yang terkenal sebagai pengusaha muda yang sukses, senyum Om Heri seketika mengembang hangat."Bukankah ini Tuan Leon? Lalu... wanita di samping Anda ini, apakah istri Anda?" tanya Om Heri sopan.Leon hanya mengangguk singkat dengan raut wajah tetap datar dan dingin. "Benar, wanita di samping saya adalah istri saya."Selina yang tak bisa berpikir jernih melihat adiknya bersanding dengan pria setua itu langsung bergerak maju. Tangannya terulur hendak menarik lengan Rani, tetapi dengan secepat kilat Rani menepisnya kasar."K

  • Pernikahan Kontrak Dengan Mantan Kekasih    Menghadiri pesta

    Malam hari pun tiba. Sesuai dengan janjinya, Om Heri benar-benar mengajak Rani untuk mendampinginya ke acara ulang tahun klien pentingnya.Wanita muda itu kini tengah dipoles oleh seorang perias profesional di kamar penthouse. Wajahnya dibalut riasan yang cukup tebal dan tatanan rambut yang disanggul serapi mungkin."Mbak, kok blush on-nya tidak kelihatan, sih?!" protes Rani tajam saat memandangi pantulan wajahnya di cermin rias."Maaf, Nona. Tapi menurut saya, Nona jauh lebih anggun dan cantik seperti ini karena riasannya tidak terlalu mencolok," jelas sang perias mencoba memberi saran terbaik."Aduh! Sebenarnya di sini yang sedang didandani kamu atau saya, sih?! Kok kamu yang malah sibuk mengatur?!" Mata Rani seketika melotot tajam."Bukan begitu, Nona... Saya hanya mencoba menyesuaikan—""Sudah, tidak usah banyak alasan! Kamu di sini dibayar untuk mendandani saya, bukan untuk menceramahi saya!" potong Rani sengit.Perias tersebut hanya bisa menghela napas pelan. Tanpa berani membal

  • Pernikahan Kontrak Dengan Mantan Kekasih    Dimanjakan Om Heri

    "Om, ini bagus nggak?" tanya Rani dengan nada manja, memamerkan gaun mewah berwarna mencolok yang membalut tubuhnya.Om Heri meneliti pakaian tersebut dari atas ke bawah. Warna terang itu berpadu sempurna dengan kulit mulus Rani, membuat pria paruh baya itu mengangguk mantap."Sangat cantik, Sayang. Cocok sekali untuk kulit kamu yang putih dan mulus," puji pria tua itu dengan mata berbinar.Rani tersenyum penuh kemenangan. Ia memoles wajahnya semanis mungkin seraya bergelayut manja di lengan Om Heri."Aku ambil yang ini ya, nggak apa-apa kan?""Ambil saja, Sayang. Uang Om masih banyak, jangankan cuma gaun, mau beli sama toko-tokonya sekalian juga Om sanggup," sahut Om Heri percaya diri.Rani tak sanggup menahan rasa bahagianya. Tanpa ragu, wanita itu langsung mengambil dua gaun sekaligus, mengabaikan troli belanjaannya yang sudah menumpuk tinggi dengan barang-barang bermerek."Bajunya sudah, Om... Aku boleh ambil tas sekalian nggak?" tanya Rani seraya melirik centil ke arah rak tas-ta

  • Pernikahan Kontrak Dengan Mantan Kekasih    Selalu dihargai

    "Sayang, aku tadi dengar dari Oma kalau Mama datang ke sini?" tanya Leon langsung, menghampiri istrinya yang tengah merapikan pakaian di lemari.Selina mendongak perlahan, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mama tadi datang membawa makanan untuk aku dan Oma!" jelasnya santai.Sikap santai istrinya itu justru membuat Leon menghela napas berat. "Jangan terlalu percaya pada Mama, Selina. Aku khawatir dia cuma berpura-pura baik.""Aku tahu, Leon. Tapi aku cuma ingin menghargai usahanya yang sudah jauh-jauh datang membawakan makanan."Leon mengangguk pelan. Keteledoran emosinya berangsur surut, berganti ketenangan saat menatap mata istrinya."Aku cuma tidak ingin kamu kenapa-napa," ucap Leon lembut."Aku pasti berhati-hati, Leon. Tapi kamu juga jangan terlalu berburuk sangka. Siapa tahu Mama memang benar-benar sedang berusaha memperbaiki diri, terutama hubungan kalian.""Aku cuma mau kamu waspada. Bagaimanapun, kamu belum tahu betul seperti apa watak Mama yang sebenarnya."Selina terkekeh pelan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status