MasukBerita menyebar lebih cepat dari salju.
“Duke Kain membawa wanita ke Istana.” “Wanita itu … Isolde Llewellyn yang melarikan diri tepat sebelum acara pertunangan resmi dilakukan.” “Dan di jarinya… cincin Duchess.” Di ruang singgasana, Aubrey Valcrest menghancurkan cangkir porselen di tangannya. Membuat teh panas itu mengucur ke karpet emas. “Apa maksudnya ‘Duchess Kain’?” Suaranya dingin, tapi tangannya bergetar. Seperti menahan amarah. Di sampingnya, Roselyn menggigit bibir sampai berdarah. Wajahnya masih pucat sejak kejadian di aula tadi. “Yang Mulia,” bisiknya. Air mata mulai menggenang di bola matanya. “Kak Isolde sepertinya sudah kehilangan akal. Dia meninggalkan Anda, dan memilih untuk menjadi istri seorang monster. Dia—“ Pintu ruang singgana terbuka. Tanpa ketukan. Tanpa izin. Angin dingin menerobos masuk, membuat tirai sutra menari liar. Duke Kain masuk lebih dulu. Bayangannya menelan cahaya dari jendela kaca patri. Setiap langkahnya membuat lantai marmer berderak, seolah tidak kuat menahan beban iblis. Dan di belakangnya… Isolde. Gaun hitamnya sederhana, tapi auranya membuat semua bangsawan di ruangan itu menunduk. Cincin besi di jarinya berkilau redup. Bukan berlian. Bukan emas. Tapi lebih menakutkan dari mahkota mana pun. Aubrey berdiri. Mata birunya membelalak saat melihat Isolde. “Isolde?” Suaranya pecah. Tidak percaya. “Itu… benar kau?” Isolde tidak menjawab. Dia hanya menatapnya. Mata abu-abunya kosong. Kosong seperti sumur tanpa dasar. Tidak ada cinta. Tidak ada benci. Hanya … ketiadaan. Ketiadaan yang lebih menyakitkan dari pada kebencian. Duke berhenti tepat di depan singgasana, dia tidak berlutut. Tidak ada Duke Kain yang berlutut pada raja. Dia malah menarik Isolde ke sampingnya. Lengan berototnya melingkar di pinggang ramping Isolde. Dekat. Terlalu dekat untuk istri kontrak. Tindakan posesif. Tindakan kepemilikan. Seakan tindakannya memberitahu jika Isolde Llewellyn hanya untuknya seorang. Seluruh ruangan menahan napas. Duke menatap Aubrey. Mata merahnya menyala, menantang pria itu. Lalu suaranya menggema di seluruh ruang singgasana. Rendah. Serak. Tapi setiap kata menghantam seperti palu godam. “Yang Mulia Putra Mahkota Aubrey.” “Kenalkan.” Dia menunduk, menatap Isolde sekilas. Untuk sepersekian detik, api di matanya mereda. Digantikan sesuatu yang lebih berbahaya, kelembutan. Lalu dia kembali menatap Aubrey, dan tersenyum. Senyum iblis. Yang memekikkan mata. “Istriku.” “Isolde Kain.” Duak! Aubrey mundur selangkah, seolah ditampar. Tak bisa diungkiri, dia terkejut dengan itu. Telinganya tidak rusak, itulah kenapa dia tidak mungkin salah mendengar. Tapi kemudian…. “Jadi begitu, kau melarikan diri di hari pertunangan resmi kita demi menikahi monster?” tanyanya pada Isolde. Wanita itu tidak menjawab. Aubrey lalu menatap kembali Albert. Tatapan tajam seakan membalas tantangan pria itu tadi. “Dan kau Duke Kain, apa kau mengubah rencanamu?” Pertanyaan Aubrey membuat sebelah alis Albert yang tertutup topeng itu terangkat. “Kau kesal karena aku tidak melepaskan Roselyn untuk menjadi obatmu. Dan sekarang, kau menikahi tunanganku untuk membalasku—“ “Mantan tunangan,” potong Duke. “Dan kau sendirilah yang membatalkannya.” Suara Albert tetap datar, tapi tekanan di ruangan itu naik 10 kali lipat. Panas di tubuhnya membuat udara bergetar. “Dengan pedangmu 2 tahun dari sekarang.” Aubrey tertegun. “2 tahun dari sekarang? Apa maksudmu—“ Isolde melangkah maju. Melepaskan diri dari pelukan Duke. Hanya selangkah, tapi cukup untuk membuat Duke menegang. Dia berhenti 2 meter di depan Aubrey. Jarak aman. Jarak antara algojo dan korbannya. “Yang Mulia bilang… ‘Ini untuk Roselyn’,” ucap Isolde. Suaranya pelan. Tapi setiap kata ditusukkan tepat ke jantung Aubrey. Wajah Aubrey memucat. Karena itu kalimat yang belum pernah dia ucapkan. Kalimat yang baru akan dia ucapkan 2 tahun lagi. “Apa kau sengaja melakukan ini? Kau sedang membodohiku dengan mengatakan hal yang membingungkan.” “Kau lari dari pertunangan, dan kau sudah dicap sebagai pengkhianat.” “Apa tindakanmu ini, karena kau juga ingin lari dari hukumanmu?” Isolde tersenyum. Senyum yang sama dinginnya dengan salju di kuburannya sendiri. “Tidak ada hukum yang membuatku takut di Kekaisaran ini.” ‘Karena aku sudah pernah mati sekali,’ batinnya kemudian. Isolde mengangkat tangan kirinya. Memamerkan cincin besi Duke. “Karena aku … Duchess Kain,” lanjutnya. “Dan Anda juga tidak perlu khawatir Yang Mulia, karena saya datang bukan untuk menuntut pertunangan itu kembali.” “Saya datang … untuk mengembalikan pisau itu.” “Dan kali ini… aku yang akan memegang gagangnya.” Keheningan yang mencekik. Roselyn jatuh berlutut, dia menangis histeris. “Kak, apa maksudmu? Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” Duke tidak menoleh pada Roselyn. Mata merahnya tidak pernah lepas dari Isolde. Lalu, di depan seluruh bangsawan, di depan Putra Mahkota, di depan mantan tunangannya… Duke Kain berlutut dengan satu lutut, di hadapan Isolde. Dia mengambil tangan Isolde yang dingin. Mencium punggung tangannya. Bibirnya yang panas tidak membakar kulit Isolde. Hanya menghangatkannya. Gerakan seorang ksatria pada ratunya. Gerakan seorang monster pada satu-satunya manusia yang tidak takut padanya. “Kau benar, istriku,” bisik Duke. Hanya Isolde yang mendengar. “Kali ini… kau yang pegang pisaunya.” “Dan aku… akan jadi perisaimu.” Aubrey melihat semua itu. Melihat wanita yang dulu memohon cintanya… kini menerima penghormatan dari pria paling ditakuti di benua. Tinju Aubrey mengepal sampai kukunya menancap di telapaknya. Untuk pertama kali dalam hidupnya… Dia merasakan apa itu “kehilangan”. Dan itu terlambat.Tidak seperti biasanya, sosok kejam yang disebut sebagai tiran monster itu kini tengah berdiri di depan cermin. Dia menatap pantulannya sendiri di sana, manik merahnya itu mengarah tepat pada topeng berwarna hitam yang melekat di wajah sebelah kirinya.Albert terdiam, dengan kepala yang mengingat ucapan Isolde beberapa waktu lalu.Wanita itu mengatakan jika urat hitam sebagai tanda kutukannya sudah mulai memudar. Albert memang mengetahui itu, tapi tetap saja dia masih belum merasa yakin jika harus melepaskan topengnya ini.Tapi hari ini, entah kenapa perasaannya terasa berbeda.Satu tangan Albert bergerak, membuka topeng yang melekat di wajah sebelah kirinya itu.Kini, terpampanglah dengan jelas kondisi wajahnya yang sebelumnya selalu tertutup. Isolde tidak salah, urat hitam di sana memang sudah tidak sepekat seperti dulu. Warnanya sedikit memudar…Albert menunduk, mungkinkah ini memang hasil dari setiap malam dirinya menyentuh Isolde saat tidur. Apakah efeknya bisa senyata ini?“Pada
Seperti yang sudah dikatakan Duke Kain, hari ini juga dia dan Isolde akan kembali pulang ke wilayah Utara. Tidak seperti sebelumnya, Isolde tidak datang ke kediaman Marquess Llewellyn terlebih dulu. Niatnya memang seperti itu. Tapi, siapa sangka jika tanpa teruduga sebelum menaiki kereta dia dan Albert bertemu lebih dulu dengan Roselyn juga kedua orang tuanya.Lebih tepatnya kedua orang tua kandung Isolde.Mereka terus menemani wanita itu, layaknya putri kandung mereka. Sementara Isolde, yang notabenenya adalah darah daging mereka justru diperlakukan layaknya orang asing.“Kakak,” panggil Roselyn yang datang menghampiri Isolde dengan langkah yang sedikit ia percepat. Senyum lebar terukir di bibir tipisnya, seolah memberitahu jika hatinya tengah merasa begitu bahagia saat ini.Sementara Isolde, ia yang mendengar panggilan itu lantas menoleh, tatapan dinginnya sontak membuat Roselyn menyadari sesuatu.“Maksud saya Duchess Kain. Maaf atas kelancangan saya,” ucapnya sambil menunduk merasa
Albert membuka pintu kamarnya dan Isolde, dia masuk ke dalam dan melihat Isolde yang berdiri di depan jendela.Wanita itu hanya terdiam, melihat taman istana yang memang bisa terlihat dari sana.Entah kenapa sejak upacara pembuktian tadi pagi, Isolde menjadi sedikit diam hari ini. Dia akui, Isolde memang tidak banyak bicara. Dia dingin dan hanya mengatakan hal yang ingin dikatakannya.Tapi, dari penglihatannya saat ini. Diamnya Isolde sudah tampak sedikit berbeda.‘Apa dia masih memikirkan yang terjadi di kuil? Mungkinkah dia sangat kecewa karena merasa gagal untuk yang kedua kalinya,’ batin Albert.Menyadari jika apa yang dipikirkannya kemungkinan benar, Albert mendekat. Dimana hawa panasnya yang menyebar dan membuat udara mendesis itu langsung disadari oleh Isolde.Ekor matanya melirik Albert yang datang mendekat dan berdiri tepat di sampingnya.Sama seperti Isolde, arah pandang Albert juga tertuju pad ataman di sana. “Kau baik-baik saja?” tanyanya tanpa melihat pada Isolde.“Apa me
Pupil mata Isolde melebar, dia terkejut setengah mati dengan apa yang saat ini Albert lakukan. Sentuhan di bibirnya yang terasa sangat asing ini, karena ciuman ini adalah ciuman pertamanya.Isolde mematung, dia masih belum tersadar sepenuhnya.Hingga saat dirinya merasakan sapuan lembut yang Albert lakukan, Isolde pun tersentak.Hangat!Satu kata itu yang bisa Isolde pahami saat ini, saat Albert membuka mulutnya Isolde bisa merasakan kehangatan yang sangat jelas melalui napasnya.Lembut!Satu kata lagi yang hadir di kepala Isolde, tidak seperti sikapnya yang dingin dan kejam. Bibir Duke Kain sangat lembut, terlebih ketika bibir itu menyapu bibirnya habis dan menggigitnya dengan sangat pelan.Awalnya, suasana di sana sangat sepi. Seolah mereka kompak merasa terkejut dengan tindakan yang penuh keberanian itu dari Duke Kain, namun sesaat kemudian. Seolah mereka tersadar, suasana di sana pun langsung gempar.Bisikan di sana langsung menyerang, selayaknya ombak di lautan.“Kau lihat, monst
Suara langkah kaki Isolde menggema di altar yang hening.Dia berdiri diam sesaat, memperhatikan sekelilingnya, lalu menatap patung Dewi. Situasi yang sama, seperti di kehidupannya yang dulu.Ingatan mengerikan itu muncul lagi, ingatan akan kegagalannya, ingatan yang membuatnya terkucil dan dimaki oleh banyak orang, bahkan oleh orang tuanya sendiri.“Silakan Duchess Kain.” Imam Agung kembali memberikan perintahnya.Namun, Isolde masih tetap diam. Kedua tangannya tampak terkepal dengan erat, tidak bisa dia ungkiri jika rasa takut akan kegagalan itu masih melekat di hatinya.Di tempatnya Duke Kain menyadari apa yang tengah dirasakan oleh istrinya itu, dia ingin naik dan menghampiri Isolde. Tapi itu melanggar aturan, karena yang boleh pergi ke sana hanyalah Saintess atau calon Saintess.Karena itu, sama seperti Isolde. Albert juga hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.Tindakan Isolde saat ini yang hanya berdiri diam itu, mengundang tanda tanya dari orang-orang yang ha
Lonceng Kuil Suci berdentang 7 kali. Gema sakralnya menyapu seluruh sudut ibu kota selatan yang hangat. Suara logam berat yang bertalu-talu itu memecah keheningan fajar, menandai dimulainya hari pembuktian yang memang sudah dinantikan seluruh kekaisaran.Hari dimana calon Saintess harus membuktikan anugerahnya di hadapan Dewi. Saat gema ketujuh perlahan menyusut menjadi kesunyian yang mencekam, pintu ganda Aula Agung kuil yang terbuat dari kayu ek berlapis emas terbuka perlahan.Sinar matahari pagi khas wilayah selatan yang terik menerobos masuk, menyinari debu-debu yang beterbangan dan menembus kaca patri megah di langit-langit aula. Kilauan cahaya itu langsung menyoroti altar suci di ujung ruangan, tempat di mana air suci ujian telah disiapkan.Di sepanjang karpet beludru merah yang membentang menuju altar, ratusan bangsawan berpakaian mewah sudah berdiri berjejer. Termasuk para pendeta dan juga rakyat jelata. Semuanya hadir untuk melihat kebenaran akan siapakah Saintess asli sesu







