Share

PL 46

Author: Piki Chan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-02 20:03:04

Entah kenapa Brian cerewetnya melebihi biasanya. Sejak aku datang dan duduk membaca buku di belakang Safira, mulutnya tak berhenti berkomentar. Tapi kupilih diam. Tenang. Bukankah itu yang selalu kuusahakan di hadapannya?

“Tumben Tuan Muda nggak kerja? Sudah terlalu banyak uang?” Suara Brian nyaris seperti ejekan, tapi aku terlalu malas menanggapinya.

Dari pantulan cermin, aku melihat Safira menatapku singkat. Matanya mencari, seolah menunggu reaksiku. Tapi aku memil

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Lavender   PL 60

    Safira masih terlelap di sampingku, napasnya teratur, wajahnya tampak sangat tenang tanpa beban rahasia yang biasanya menghantui.Jemari tanganku bergerak perlahan mengusap helai rambutnya yang menyembul dari balik bantal. Mengingat kembali pengakuanku semalam tentang kejadian enam tahun lalu membuat dadaku terasa jauh lebih ringan. Beban sebagai pria yang menyimpan obsesi sendirian kini telah luruh sepenuhnya.“Enggak mau bangun?” bisikku tepat di telinganya.Safira menggeliat pelan, matanya mengerjap berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk melalui jendela villa. Begitu kesadarannya pulih dan melihat wajahku yang berada sangat dekat dengannya, rona merah langsung menjalar di pipinya yang bersih.“Kak Mika... sejak kapan bangun?” tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.“Sejak aku sadar kalau istriku ternyata tukang tidur,” godaku sambil menarik hidungnya gemas.Safira memberen

  • Pernikahan Lavender   PL 59

    Aku berdiri bersandar di pintu mobil hitamku, menatap bangunan megah yang selama ini menjadi simbol kepedihan hidupku. Di sampingku, Jonas sedang sibuk berkoordinasi dengan tim kepolisian yang sudah bersiaga di balik pohon-pohon besar, sementara Brian sedang menyesap kopi instannya dengan raut wajah yang tak lagi jenaka."Semua titik masuk sudah dikunci, Mika," lapor Jonas dengan suara rendah. Aku hanya mengangguk pelan. Amarah yang selama ini kupendam terasa dingin, membeku menjadi sebuah ketenangan yang mematikan."Biarkan dia merasa menang sejenak. Aku ingin dia memegang dokumen itu sebelum dunianya runtuh berkeping-keping."Brian mendekat, ia merapikan kerah jaketku yang sedikit miring."Ingat, Mika. Jangan pakai otot. Kita punya hukum dan semua bukti itu. Jangan sampai kamu yang justru terlihat buruk di depan kamera wartawan yang sebentar lagi datang.""Aku tahu, Brian. Aku bukan lagi anak kecil yang bisa mereka injak-injak," jawabku datar.

  • Pernikahan Lavender   PL 58

    Gelas kristal berisi air mineral dingin itu berdenting pelan saat diletakkan di atas meja marmer hitam. Ruangan ini jauh dari aroma obat-obatan yang menyesakkan dada.Sebuah private lounge tersembunyi di lantai teratas gedung pusat bisnis kota, tempat yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatku. Pencahayaannya temaram, didominasi warna emas dan kayu gelap, memberikan kesan mewah sekaligus misterius.Di luar jendela besar, kelap-kelip lampu kota tampak seperti hamparan permata, namun pikiranku justru tertinggal di sebuah villa sunyi di puncak sana.Brian sedang duduk bersila di atas sofa kulit Italia, sibuk mengaplikasikan masker mata sambil memegang ponsel. Sementara Jonas, pria itu entah kenapa justru sibuk mencoba-coba koleksi jam tangan di lemari pajanganku seolah sedang berada di toko aksesori."Bisa nggak, satu malam saja kalian bersikap normal?" tanyaku sambil mengurut pangkal hidung yang terasa pening.Jonas menoleh, menyeringai hingga

  • Pernikahan Lavender   PL 57

    Bab 57Safira masih duduk di samping ranjang Tuan Arya, jemarinya yang mungil menggenggam erat tangan pria tua itu, seolah ia takut jika dilepaskan, nyawa mertuanya akan ikut melayang pergi.Langkah kaki Angga terdengar mendekat, sangat teratur dan tidak terburu-buru. Ia membungkuk kecil sebelum meletakkan sebuah ponsel yang layarnya masih menyala di atas meja kopi di depanku.“Tuan, Danu sudah mencoba menghubungi lima kali dalam sepuluh menit terakhir. Sepertinya dia sudah mendengar apa yang terjadi pada Anggun dan Rosa semalam.”Tatapan mataku tetap tertuju pada dokumen di pangkuanku, namun sudut bibirku terangkat membentuk senyum sinis.“Biarkan dia menunggu sedikit lebih lama. Pria seperti Danu perlu merasakan bagaimana rasanya berada di ujung tanduk sebelum kita memberinya napas buatan.”Brian yang baru saja kembali dari kantin dengan membawa tiga cup kopi panas ikut menimpali sambil meletakkan minuman itu.

  • Pernikahan Lavender   PL 56

    Brian masih sibuk dengan tablet di tangannya, sesekali jemarinya mengusap layar dengan gerakan cepat. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya saat ia membaca deretan berita yang mulai memenuhi portal gosip malam ini.Di sampingnya, Safira sudah terlelap di kursi panjang. Kepalanya bersandar pada bantal kecil yang sengaja kusiapkan agar ia tidak merasa pegal saat terbangun nanti. Kelelahan yang ia alami sepertinya sudah mencapai batas maksimal setelah seharian penuh dengan emosi.“Mika, kamu sudah lihat ini?” Brian memutar layar tabletnya ke arahku, memperlihatkan sebuah foto buram hasil jepretan kamera ponsel yang diambil di koridor rumah sakit beberapa jam lalu.Tatapan mataku menyipit tajam menatap gambar tersebut.“Foto saat aku menahan tangan Anggun?”“Tepat sekali. Judulnya pun sangat provokatif, Prahara di Rumah Sakit, Putra Mahkota Aryasatya Mengusir Kakak Kandung Demi Istri Misterius. Wartawan mulai mencium s

  • Pernikahan Lavender   PL 55

    Suasana di dalam ruangan itu mendadak mendingin begitu Safira menyebut nama Anggun. Aku bisa merasakan bagaimana genggaman tanganku pada jemari Safira mengencang secara tidak sadar.Brian yang tadinya duduk santai sambil memeriksa kuku segera menegakkan punggung. Ada kilat waspada di matanya yang tajam, sebuah insting yang selalu ia miliki sebagai orang yang paling lama mengenalku.“Di mana kamu melihatnya?” tanyaku dengan nada suara yang sengaja kurendahkan agar tidak terdengar terlalu mengancam bagi Safira.“Di dekat loket administrasi bawah, Kak. Dia tidak sendirian. Ada beberapa orang berpakaian formal yang mengikutinya.” Safira sedikit tersentak. Ia menunjuk ke arah pintu koridor dengan gerakan ragu.Anggun benar-benar tidak punya rasa malu. Ayahnya sedang berjuang di antara hidup dan mati di dalam ruang ICU ini, dan dia masih punya energi untuk berkeliaran di area rumah sakit seolah sedang mengawasi mangsa. Aku tahu persis ap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status