“Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu
Last Updated : 2026-09-04 Read more