Beranda / Rumah Tangga / Pernikahan Penuh Luka / 162.Yang Tetap Ditunggu

Share

162.Yang Tetap Ditunggu

Penulis: Lusiana
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-01 19:53:56

****

Hari-hari berlalu seperti air yang mengalir pelan, tak berhenti, tak menunggu siapa pun. Pagi datang, sore pulang, malam kembali sepi. Di rumah kecil itu, Aisyah belajar terbiasa dengan satu hal yang makin sering terjadi: Bara tak lagi datang.

Awalnya hanya dua hari. Lalu seminggu. Hingga Aisyah berhenti menghitung.

Namun Arka tidak.

“Bu… Ayah ke mana?”

Pertanyaan itu muncul pertama kali saat Arka duduk di lantai ruang tamu, menyusun balok warna-warni yang tak pernah benar-benar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Penuh Luka   194.Bayangan yang Belum Usai

    **** Kupikir malam itu akan berakhir tenang. Ternyata aku salah. Baru saja Arka kembali tertidur dan Aisyah membereskan dapur, ponselku bergetar. Nama yang muncul di layar membuat dadaku mengencang. Bela. Aku menatap layar itu beberapa detik. Aisyah melihat dari kejauhan. “Dia?” Aku mengangguk pelan. “Angkat,” katanya tenang. “Kamu yakin?” “Kalau kamu nggak angkat, dia akan cari cara lain.” Aku menekan tombol jawab dan langsung mengaktifkan pengeras suara. “Halo.” Suara di seberang terdengar serak. “Mas…” Aisyah berdiri tidak jauh dariku. Wajahnya tetap tenang, tapi aku tahu ia mendengarkan setiap kata. “Ada apa, Bela?” tanyaku datar. “Aku di depan rumah kamu.” Jantungku seperti berhenti sepersekian detik. “Apa?” suaraku meninggi tanpa sadar. Aisyah menatapku tajam. “Di depan?” “Iya,” jawab Bela pelan. “Aku cuma mau lihat kamu sekali lagi.” Aku langsung berjalan ke jendela dan mengintip lewat tirai. Sebuah mobil terparkir di seberang jalan. Lampu dalamnya menyala.

  • Pernikahan Penuh Luka   193.Ujian di Pintu Rumah

    **** Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap lampu merah seperti memberi waktu tambahan untuk pikiranku memutar ulang kejadian pagi tadi. Wajah Bela. Tangisan bayi itu. Tatapan karyawan. Dan nama Aisyah yang disebut dengan nada penuh tuduhan. Aku menggenggam setir lebih erat. “Kali ini aku nggak boleh salah langkah,” gumamku pelan. Ponselku bergetar lagi. Pesan dari Aisyah. Hati-hati di jalan. Sesederhana itu. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada tuduhan. Justru itu yang membuat dadaku semakin sesak. Saat mobil berhenti di depan rumah, lampu teras sudah menyala. Pintu tidak langsung terbuka seperti biasanya. Tidak ada Arka berlari menyambut. Aku turun perlahan. Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari dalam. Aisyah berdiri di sana. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. “Kamu sudah makan?” tanyanya pelan. Aku menelan ludah. “Belum.” “Masuk dulu.” Nada suaranya datar, tapi tidak dingin. Aku melangkah masuk. Rumah terasa sunyi. Ark

  • Pernikahan Penuh Luka   192.Riuh di Lobi

    *** Pagi itu sebenarnya berjalan biasa. Aku datang lebih awal ke kantor, menyelesaikan beberapa berkas sebelum rapat mingguan. Kepalaku masih dipenuhi percakapan semalam dengan Aisyah. Pelan-pelan. Kata itu terus terngiang. Aku sedang menuang kopi ketika ponselku bergetar. Pesan dari Aisyah. Jangan lupa makan siang. Aku tersenyum kecil. Siap, partner. Baru saja aku duduk, suara gaduh terdengar dari luar ruanganku. Awalnya samar seperti bisik-bisik yang berubah jadi riuh. Lalu terdengar suara perempuan yang sangat kukenal. “Kalian semua harus tahu! Saya istrinya Bara!” Tanganku membeku. Tidak mungkin. Aku berdiri cepat dan membuka pintu ruang kerja. Di lobi kantor, Bela berdiri dengan bayi dalam gendongannya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memerah seperti habis menangis. Beberapa karyawan menatap dengan ekspresi campur aduk kaget, penasaran, sebagian jelas menikmati drama. “Bela?” suaraku rendah, menahan emosi. “Kamu ngapain di sini?” Ia langsung menoleh pada

  • Pernikahan Penuh Luka   191.Pelan-Pelan, Tapi Bersama

    **** Pagi itu datang tanpa drama. Aku bangun lebih dulu dari biasanya. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai, menyentuh wajah Arka yang masih terlelap di tengah kasurnya. Bara masih tertidur di sisi lain, napasnya teratur. Aku memperhatikannya beberapa detik. Dulu, melihatnya tidur seperti itu terasa biasa saja. Sekarang, ada perasaan lain bukan cinta yang meledak-ledak, tapi sesuatu yang lebih tenang. Seperti keputusan yang diulang setiap hari. Bara bergerak pelan, lalu membuka mata. “Kamu ngapain lihat-lihat aku begitu?” suaranya serak. “Aku lagi memastikan.” “Memastikan apa?” Ia menyipitkan mata. “Masih orang yang sama nggak.” Ia tersenyum kecil. “Dan?” “Masih. Cuma versi lebih sadar dosa.” Bara tertawa pelan. “Itu kemajuan.” Aku bangkit dari kasur. “Bangun. Kamu janji mau bikin sarapan.” Ia langsung duduk. “Serius kamu ingat?” “Janji investasi kepercayaan, kan?” Ia mengangkat kedua tangan. “Baik, Bu Direktur Kepercayaan.” Di dapur, Bara terlihat terlalu seriu

  • Pernikahan Penuh Luka   190.Rumah yang Dipilih

    *** Aku selalu percaya satu hal luka tidak hilang hanya karena seseorang berjanji. Luka butuh waktu. Butuh bukti. Mobil berhenti di depan rumah. Bara mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Arka sudah lebih dulu membuka pintu belakang. “Ayah cepet, nanti Arka yang buka pintu!” serunya semangat. Aku tersenyum tipis. Bara menoleh padaku. “Kamu capek?” “Enggak,” jawabku pelan. “Cuma banyak yang dipikirin.” Ia mengangguk. “Tentang tadi?” Aku menghela napas. “Tentang semuanya.” Kami turun bersama. Arka sudah berdiri di depan pintu, menunggu dengan ekspresi serius. “Ayah, sekarang kita beneran nggak berantem lagi kan?” tanyanya polos. Bara berlutut di depannya. “Ayah sama Ibu nggak berantem.” “Terus kemarin-kemarin itu apa?” Aku dan Bara saling pandang. “Itu… belajar,” jawabku akhirnya. “Belajar apa?” “Belajar supaya jadi keluarga yang lebih baik,” kata Bara lembut. Arka mengangguk seperti orang dewasa kecil. “Oh. Kalau gitu Arka juga mau belajar.” Bara tertawa pelan.

  • Pernikahan Penuh Luka   189.Janji di Atas Tanah Sunyi

    **** “Aku marah,” katanya jujur. “Tapi bukan ke kamu.” Aku terdiam. “Lalu ke siapa?” “Ke keadaan. Ke masa lalu yang nggak pernah benar-benar selesai,” jawab Aisyah pelan. “Dan mungkin… ke diriku sendiri yang masih harus belajar percaya lagi.” Aku berdiri di depannya, tak berani menyentuhnya dulu. “Aku nggak akan lari lagi.” Ia menatapku lama. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Mas. Aku cuma butuh kamu konsisten.” Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. “Iya, Bu,” jawab Aisyah. Pintu terbuka, dan Ibu masuk lebih dulu. Di belakangnya, Ayah duduk di kursi roda, tangannya bertumpu di sandaran. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam seperti biasa. “Ayah mau bicara sebentar,” katanya pelan. Aku langsung mendekat dan membantu mendorong kursi roda beliau sedikit masuk ke dalam kamar. Ibu duduk di sisi ranjang. “Besok pagi Ibu dan Ayah mau pulang.” “Cepat sekali, Bu?” tanyaku. Ayah tersenyum tipis. “Rumah juga harus ditengok. Lagipula… rasanya kalian butuh ruang tanpa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status