Masuk**** “Aku marah,” katanya jujur. “Tapi bukan ke kamu.” Aku terdiam. “Lalu ke siapa?” “Ke keadaan. Ke masa lalu yang nggak pernah benar-benar selesai,” jawab Aisyah pelan. “Dan mungkin… ke diriku sendiri yang masih harus belajar percaya lagi.” Aku berdiri di depannya, tak berani menyentuhnya dulu. “Aku nggak akan lari lagi.” Ia menatapku lama. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Mas. Aku cuma butuh kamu konsisten.” Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. “Iya, Bu,” jawab Aisyah. Pintu terbuka, dan Ibu masuk lebih dulu. Di belakangnya, Ayah duduk di kursi roda, tangannya bertumpu di sandaran. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam seperti biasa. “Ayah mau bicara sebentar,” katanya pelan. Aku langsung mendekat dan membantu mendorong kursi roda beliau sedikit masuk ke dalam kamar. Ibu duduk di sisi ranjang. “Besok pagi Ibu dan Ayah mau pulang.” “Cepat sekali, Bu?” tanyaku. Ayah tersenyum tipis. “Rumah juga harus ditengok. Lagipula… rasanya kalian butuh ruang tanpa
**** Hari ketiga di rumah itu berjalan lebih tenang dari yang kuduga. Ibu masih menjaga jarak, tapi tidak lagi melempar kalimat setajam hari pertama. Ayah beberapa kali mengajak Arka bermain di ruang tengah. Aisyah mulai menata dapur kecil di lantai dua, membuat ruang itu terasa lebih hidup. Malam itu, untuk pertama kalinya kami makan bersama tanpa suasana terlalu kaku. Ibu bahkan memasak sayur kesukaan Ayah. “Aisyah, tambahkan sambalnya sedikit,” kata Ibu tiba-tiba. Aisyah menoleh, sedikit terkejut. “Baik, Bu.” Aku menangkap sorot mata istriku. Ada harapan kecil yang tumbuh. Arka berceloteh tanpa henti. “Ayah tadi ajarin aku naik sepeda kecil di halaman! Aku hampir nggak jatuh!” “Hampir?” aku mengangkat alis. “Sedikit aja,” bantahnya cepat. Ayah tertawa pelan. Ibu menggeleng tipis. Untuk beberapa menit, suasana itu terasa… normal. Lalu. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu depan terdengar keras. Terlalu keras untuk jam segini. Ibu menoleh ke arah pintu.
**** Pagi kepindahan itu datang terlalu cepat. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Aisyah masih tertidur di sampingku, Arka meringkuk di antara kami seperti pagar kecil yang hangat. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap mereka. Ini alasanku. Bukan rumah. Bukan gengsi. Bukan pembuktian pada Mama. Mereka. “Ayah…” gumam Arka setengah sadar. Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. “Iya, jagoan.” Aisyah membuka mata perlahan. “Sudah pagi?” “Iya.” Aku bangkit. “Kita mulai beres-beres.” Ia duduk, menatap sekeliling kontrakan kecil itu. Tempat yang jadi saksi kami belajar bertahan tanpa campur tangan siapa pun. Tempat yang sempit, tapi hangat. “Kamu yakin?” tanyanya lagi, entah untuk keberapa kali. Aku mendekat, mengecup keningnya. “Aku lebih takut kehilangan kamu lagi daripada menghadapi Mama.” Ia terdiam. Lalu mengangguk pelan. **** Menjelang siang, mobil pick-up sewaan sudah terisi kardus dan koper. Tidak banyak. Hidup kami memang tidak pernah penuh barang. Y
*** Pagi itu aku datang lebih cepat dari waktu yang kami sepakati. Warung kopi kecil di dekat taman masih setengah kosong. Bau kopi hitam bercampur udara pagi yang lembap. Tanganku memegang cangkir, tapi rasanya hambar. Bukan karena kopinya. Karena pikiranku terlalu ramai. Aku tidak datang untuk bernostalgia. Aku datang untuk mengakhiri. Langkah itu akhirnya terdengar. “Aku kira kamu nggak akan datang sepagi ini.” Suara Bela tetap sama. Tenang. Lembut. Seolah tidak pernah ada yang retak. Aku mendongak. “Aku nggak mau lama-lama.” Ia duduk di depanku. Tatapannya menelusuri wajahku, seperti mencari sesuatu yang hilang. “Kamu berubah,” katanya pelan. “Iya.” “Karena dia?” Aku menahan napas.Tak menjawab. Sunyi turun di antara kami. Dulu, sunyi seperti ini terasa nyaman. Sekarang rasanya seperti jurang yang memisahkan. “Kamu kelihatan capek,” Bela berkata lagi. “Aku lagi belajar jadi suami yang lebih baik.” Ia tersenyum tipis. “Dan dulu kamu nggak belajar
**** Aku tahu pagi itu bukan pagi biasa. Ada sesuatu di cara Bara membuka pintu. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Wajahnya memang masih menyimpan sisa tegang, tapi matanya… matanya berbeda. Jernih. Seperti seseorang yang sudah menutup satu pintu dan memegang kunci yang baru. “Sudah selesai?” tanyaku tadi. Dan ia menjawab dengan satu kata yang terasa berat tapi lega, sudah. Aku tidak bertanya detail. Tidak ingin mengorek luka yang baru saja ia jahit. Tapi aku melihatnya. Cara pundaknya turun. Cara napasnya lebih panjang. Ia tidak lari. Dan untuk pertama kalinya sejak bayangan masa lalu itu muncul kembali, aku merasa tidak sendirian. Arka tertawa kecil, menarik jari Bara. Aku melihat ayah dan anak itu saling menatap, dan entah kenapa, dadaku menghangat. Bara menoleh ke arahku lagi. “Aisyah.” “Hm?” “Aku mau ngomong serius.” Nada itu membuatku otomatis tegang. “Apa?” Ia menggeser duduknya lebih dekat. Tangannya masih menggenggam tanganku. “Kita pulang ke rumahku.” Aku terd
**** Pagi datang tanpa aba-aba. Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai, jatuh tipis di wajah Arka yang masih terlelap di antara mereka. Bara sudah terjaga sejak subuh, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang belum selesai. Aku bergerak pelan, menyadari ia belum benar-benar tidur. “Kamu nggak istirahat?” tanyanya lirih. Bara menggeleng kecil. “Aku mikir.” “Soal tadi malam?” “Iya.” Sunyi sebentar. Bukan sunyi canggung, tapi sunyi yang sedang mencari bentuk baru. “Aku nggak mau rumah ini jadi tempat orang lain masuk seenaknya,” ucap Bara akhirnya. Aku menatapnya. “Aldi nggak masuk seenaknya.” “Dia datang karena kamu nyaman.” “Aku nyaman karena dia nggak pernah bikin aku merasa salah.” Kalimat itu membuat Bara menelan ludah. “Aku bikin kamu merasa salah?” Aku tak langsung menjawab. Ia bangun, duduk bersandar pada kepala ranjang. “Kamu sering diam. Dan diam kamu itu seperti vonis.” Bara ikut duduk. “Aku pikir kalau aku nggak ngomong, masalahnya







