Share

61 Tatapan Bela

Penulis: Lusiana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 11:09:02

Setelah selesai berkutat di dapur dan memastikan sarapan hampir siap, aku berniat melanjutkan kegiatan lain. Namun langkahku terhenti tiba-tiba ketika Bara memegang lenganku. Sentuhan itu hangat… berbeda dari biasanya. Aku menoleh, sedikit terkejut.

“Kamu nggak perlu capek-capek ngerjain ini semua,” katanya pelan tapi tegas. “Kamu istirahat. Kamu bangunkan Arka, dan kita sarapan bareng.”

Aku terpaku. Jantungku berdetak aneh. Sarapan bareng? Kata-kata itu bergema dalam pikiranku seperti sesuatu yang asing, sesuatu yang dulu hampir tak mungkin kudengar dari mulutnya. Bibirku bergerak, tapi suaraku justru hilang.

Bara mengangkat wajahnya, menatapku langsung. “Kamu keberatan sarapan sama aku?”

Pertanyaan itu kalimat sederhana tiba-tiba terasa terlalu dekat. Terlalu personal. Seolah dia bukan sekadar mengajak sarapan, tapi mengajakku masuk kembali sedikit lebih dalam ke ruang hidupnya.

Aku buru-buru menggeleng. “Oh itu… enggak, Mas. Aku bangunin Arka dulu. Sekalian mandiin.”

Bara men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Penuh Luka   106.Tidak Sendiri

    **** Aku duduk di tepi ranjang kamarku, menatap lantai yang dingin. Rumah ini kembali menerimaku tanpa syarat, tanpa tanya. Namun justru itu yang membuat dadaku terasa makin sesak. Seharusnya aku pulang dengan kepala tegak, bukan dengan hati remuk dan masa depan yang terasa buram. Arka duduk di kursi kecil, memainkan ujung bajuku dengan jari-jarinya yang mungil. Tatapannya sesekali terangkat ke arahku, penuh rasa ingin tahu. “Bu, kita di sini lama?” tanyanya polos. Pertanyaan sederhana itu menghantam dadaku lebih keras dari apa pun. Aku menelan ludah. “Entahlah, Nak. Ibu belum tahu.” Aku sendiri tak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan tak tahu harus melangkah ke mana setelah ini. Hidupku seperti berhenti di satu titik di saat aku memilih pergi dari rumah Bara dengan membawa Arka dan luka yang belum sempat sembuh. Aku memejamkan mata, mencoba mengingat kembali semua yang terjadi. Wajah Bara terlintas jelas di benakku. Dingin. Jauh. Seolah aku tak pernah berarti apa-apa da

  • Pernikahan Penuh Luka   105.Rumah Masa Kecil

    **** Setelah keluar dari rumah Bara, aku tidak langsung pulang ke tempat tinggalku yang sementara. Kakiku melangkah tanpa tujuan yang pasti, sementara pikiranku dipenuhi kekacauan yang tak kunjung reda. Arka kugenggam erat, seolah jika kulepaskan sedikit saja, dunia akan benar-benar runtuh di hadapanku. Aku keluar dari rumah Bara mengendarai motor,motor pemberian kedua orang tuaku. Aku memutuskan kembali ke rumah kedua orang tuaku. Rumah kecil yang dulu menjadi saksi masa kecilku, tempat aku belajar tentang arti pulang dan bertahan. Aku tak ingin merepotkan Dokter Aldi lebih jauh. Kebaikannya sudah terlalu banyak untuk kubalas, sementara aku sendiri masih tenggelam dalam luka yang belum sembuh. Sepanjang perjalanan, Arka terdiam di pangkuanku. Matanya sesekali menatapku, seolah ingin bertanya mengapa ibunya terlihat begitu lelah dan kosong. Aku tersenyum tipis padanya, meski hatiku bergetar. “Sebentar lagi kita sampai, Nak,” bisikku lirih. Motor berhenti di depan halaman ru

  • Pernikahan Penuh Luka   104.Bom Waktu

    Setelah kepergian Aisyah malam itu, rumah terasa jauh lebih lengang. Tak ada lagi suara langkahnya yang biasanya terdengar pelan di lorong, tak ada napas berat yang sering ia sembunyikan saat menahan tangis. Bu Indah pun tak berlama-lama. Perempuan itu memilih pulang ke rumahnya sendiri, membawa kepuasan yang bahkan tak ia sembunyikan dari sorot matanya. Pintu tertutup. Sunyi. Aku berdiri beberapa detik di tengah kamar, memastikan tak ada siapa pun yang tersisa selain diriku. Lalu perlahan senyum itu muncul senyum yang sejak tadi kutahan. Aku melangkah ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhku dengan santai, seolah beban besar akhirnya terangkat dari pundakku. “Pada akhirnya hari yang kutunggu benar-benar tiba,” gumamku pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri. Mataku menatap langit-langit kamar, pikiranku berkelana ke satu nama yang terus berputar di kepala. Bara. “Aku sudah menjadi nyonya Bara seutuhnya,” lanjutku dalam hati. “Walaupun Bara dan Aisyah belum resmi berc

  • Pernikahan Penuh Luka   103.Konfrontasi Dengan Ibu Mertua

    **** Aku tidak pernah berniat kembali ke rumah itu. Bahkan melintas di depan gerbangnya saja membuat dadaku sesak. Tapi hidup kadang memaksa kita menghadapi sesuatu yang paling ingin kita hindari. Pagi itu, ponselku bergetar saat aku sedang menidurkan Arka. Nama Ibu Indah ibu Bara muncul di layar. Jantungku langsung berdegup tak beraturan. Aku menatap layar itu lama. Ragu. Takut. Tapi pada akhirnya, aku mengangkat panggilan itu. “Aisyah,” suara beliau terdengar dingin, tanpa basa-basi. “Kamu di mana?” Aku menelan ludah. “Saya… di tempat aman, Bu.” “Datang ke rumah sekarang,” katanya tegas. “Kita harus bicara.” Nada itu bukan permintaan. Perintah. Aku menarik napas dalam. “Baik, Bu.” Telepon terputus. Tanganku gemetar. Aku memeluk Arka erat, mencium keningnya berkali-kali. “Ibu harus kuat, Nak,” bisikku. “Apa pun yang terjadi.” Beberapa jam kemudian, aku berdiri di depan rumah itu lagi. Rumah yang sama, tapi perasaanku sudah berbeda. Tidak ada lagi harapan. Ti

  • Pernikahan Penuh Luka   102.Euforia Kemenangan

    **** Aku terbangun dengan perasaan yang… ringan. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku membuka mata tanpa rasa terancam. Tanpa bayangan Aisyah yang mondar-mandir di rumah ini dengan wajah sabar tapi menyebalkan itu. Tanpa suara langkahnya di dapur. Tanpa tatapan matanya yang selalu membuatku merasa seperti orang ketiga padahal kini, akulah pusat segalanya. Aku tersenyum kecil sambil mengusap perutku yang sudah membesar. “Kita menang,” bisikku pelan. “Akhirnya.” Aku bangkit perlahan dari ranjang, memastikan gerakanku terlihat hati-hati. Aku tahu Bara selalu memperhatikan hal itu. Semakin aku terlihat lemah dan rapuh, semakin ia merasa bertanggung jawab dan semakin jauh Aisyah tersingkir. Aku melangkah keluar kamar dan berhenti sejenak di lorong. Sunyi. Rumah ini terasa berbeda. Lebih luas. Lebih lega. Seperti sebuah panggung yang akhirnya hanya menyisakan satu pemeran utama. Aku berjalan ke dapur. Tak ada Aisyah. Tak ada suara wajan. Tak ada aroma masakan sederhana yan

  • Pernikahan Penuh Luka   101.Setelah Aisyah Pergi

    **** Pintu rumah itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah seperti yang sempat kutakutkan. Justru keheningan itulah yang membuat dadaku terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Aku berdiri di ruang keluarga, mematung. Tanganku mengepal tanpa sadar. “Mas…” suara Bela memecah keheningan. Ia bangkit dari sofa perlahan, satu tangannya masih setia memegangi perutnya. “Kamu nggak apa-apa?” Aku menghembuskan napas panjang. “Aku baik-baik saja.” Kebohongan. Aku berjalan menjauh, mendekati jendela. Tirai sedikit tersibak. Halaman rumah kosong. Tak ada bayangan Aisyah. Tak ada langkah tergesa. Ia benar-benar pergi. Begitu saja. “Mas nggak perlu terlalu dipikirkan,” kata Bela lembut sambil mendekat. “Aisyah cuma lagi emosi. Nanti juga balik sendiri.” Aku menoleh cepat. “Dia pergi sama Arka.” Bela terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. “Justru itu. Seorang ibu pasti miki

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status