登入Andini terus memantau perkembangan cerita yang dibagikannya. Sudah ada puluhan orang di menit pertama, lalu menengoknya lagi dan sekitar lima menit sudah ada ratusan. Naik terus hingga ribuan yang melihat. Ia memeriksa setiap username, Fahmi belum melihat itu. Lelaki bajingan itu memang tidak selalu membuka sosial media, bahkan bisa dikatakan jarang.Selang sekitar sepuluh menit, pintu ruangan Andini diketuk begitu keras. Berkali-kali, hingga membuat Andini dongkol. “Masuk!” perintah Andini dengan wajah kesal. Pintu terbuka dan ternyata itu Indri, ia menghampiri Andini dengan mata sudah sembab dan pipinya banjir. Wajahnya penuh amarah, matanya tak berkedip sama sekali. Ia berjalan perlahan mendekat pada Andini. “Aku … sudah lihat apa yang mbak bagikan si Instagram,” ujarnya terisak, ia makin mendekat Andini pun menyambut dengan berdiri. Mereka saling tatap, Andini tak sedikitpun merasa takut jika memang Indri egois. “Lalu?” kata Andini dengan nada meledek. “Itu sepenuhnya bukan
“Pagi, mbak Andini!” seru Indri sumringah menyambut Andini yang hendak masuk ke butik. Wanita berambut panjang sepunggung itu tengah sibuk menyiapkan kamera untuk konten. Andini tak menggubris sedikitpun, melihatnya pun tak sudi. Hanya sekilas melirik dengan sudut mata saja. Hal itu, membuat Indri bertanya-tanya, ia muram setelah melihat penampakan ekspresi Andini yang datar. “Mbak Andini kenapa ya?” gumamnya dalam hati melanjutkan memasang beberapa properti. “Mbak, ini design kebaya pesanan client memurut mbak Andini gimana?” Ozan menyerahkan selembar kertas HVS saat Andini hendak memasuki ruangannya, langkahnya jadi terhenti. Pikirannya masih ruwet, Andini hanya memeriksa beberapa detik lalu dikembalikan lagi pada Ozan saat itu juga. Sambil memegangi keningnya yang nyut-nyutan, “kamu atur aja Zan.” “Mbak okey?” tanya Ozan menatapnya. Andini hanya tersenyum getir dan langsung memasuki ruangannya. Ia menghembuskan nafas panjang, kemudian menyemprotkan pengharum ruangan aroma lave
Dengan langkah gontai, Andini berlari menuruni tangga dan mengabaikan Leni yang menyapanya. Ia buru-buru mengambil kunci mobil yang selalu ditaruh pada rak tempat menyimpan beberapa pernak-pernik dan hiasan lain. "Andini!" teriak Fahmi dari lantai atas. Wanita itu tak merespon apapun, ia langsung menuju mobil dan lekas mengemudi. Dadanya naik turun sesak, Fahmi tampak mengejar dan terhenti di ambang pintu saat menyaksikan mobil yang dikendarai Andini sudah melaju. Lelaki dengan penyesalan itu berdecak kesal. Ia menonjokan kepalan tangan ke tembok. Hingga sedikit berbunyi bagai dentuman kecil. Dalam perjalanan yang tak tahu akan kemana, Andini berusaha memfokuskan diri. Ia tidak boleh mati konyol hanya karena keteledoran. "Sialan!" decak Andini. Tak sampai tiga puluh menit Andini telah sampai di perumahan elit. Ia menepikan mobilnya di sebelah kiri, tepat di depan gerbang putih tinggi. Halaman rumah itu selau penuh dengan kendaraan, baik motor dan mobil siang maupun malam. Seak
Sebelum menjelaskan permasalahnya, Fahmi merangkul Andini. Ia membawa istrinya yang sedikit lemas itu duduk di tepi kasur. Tangisannya belum berhenti, Andini semakin sesegukan. "Semua yang kamu katakan dan kamu tahu itu benar adanya, aku menikah lagi. Tapi ... Itu semua bukan karena aku mencintai Indri, melainkan aku hanya ingin menyelamatkan hidupnya," jelas Fahmi pelan. Andini melirik, tangisannya terhenti saat mendengar penjelasan Fahmi. Lelaki itu tak berkutik, ada satu tetes air mata yang jatuh dari kedua matanya. Pemandangan yang baru pertama kali Andini saksikan. Ia tidak pernah melihat suaminya menangis. "Maksud kamu menyelamatkan hidupnya bagaimana?" Andini penasaran menunggu penjelasan Fahmi selanjutnya. Fahmi menatap Andini sambil memegangi kedua telapak tangan halus nan dingin istrinya itu, lalu melanjutkan, "saat itu aku bertemu dengan Indri, dia hendak bunuh diri di rooftop apartemen, aku mendengar semua curahan hatinya." "Berkali-kali dia gagal dalam asmaranya, bah
Andini mendadak tak bersuara, air matanya sudah kering. Hanya tersisa garis yang menyapu sedikit riasan. Pandangannya kosong, wajahnya tampak lesu menatap ke arah luar jendela. Malam itu, seakan mati rasa bagi Andini. Ia tak berharap Fahmi pulang bahkan menemuinya, tak ada rasa cemburu jika memang apa yang dikatakan Bagas adalah benar. “Nyonya, makan dulu dari tadi nyonya belum makan,” bujuk Leni khawatir. Andini tak merespon apapun, ia hanya mengedipkan mata diiringi hembusan nafas pendek. “Apa nyonya baik-baik saja? Mau saya panggilkan …,” ucap Leni terhenti. “Tidak perlu, saya akan makan jika saya mau.” Ia melengos pergi dengan wajah datar. Leni tertunduk, penuh tanya apa yang terjadi dengan majikan perempuannya itu. Ia tidak berani lagi mengucapkan sepatah kata pun. “Semoga nyonya baik-baik saja,” gumam Leni mengelus dadanya. Andini merebahkan diri begitu saja di ranjang. Ia menatap langit-langit kamar, sedikit tersenyum dengan mata yang sayu. “Berani-beraninya kamu Fahmi
Nafas Fahmi tersengal-sengal,begitupun Indri. Tubuh mereka berkilau karena keringat yang menyelimuti. Keduanya saling pandang, dengan posisi Fahmi duduk sedangkan Indri tiduran di sofa. Fahmi mendaratkan ciuman mesra di kening Indri yang lesu melayani gairah Fahmi. Ia meraih celana dan underware yang terhempas begitu saja. Kemudian, berjalan kearah kamar untuk mengambil baju kaos di lemari. Sambil celingukan, ia mengambil ponsel yang di simpan tas miliknya, di bagian poket terdalam yang nyaris tak terlihat. Ia menyalakan ponsel itu, beberapa detik menunggu hingga Fahmi cemas jika tiba-tiba Indri masuk. Fahmi begitu lega saat wallpaper ponselnya mulai terlihat. Langsung muncul beberapa notifikasi dari layar. Ia mengklik notifikasi WhatsApp, ada beberapa chat dan puluhan panggilan masuk dari Andini dan Hans. “Apa?! Meninggal?” Fahmi tersentak kaget, membuka pesan dari Andini dan foto jenazah Bagas yang dikirim istrinya itu. “Sayang!” panggil Indri suaranya parau, “kamu di mana?” F
Andini frustasi dengan kemacetan Jakarta di sore hari. Berkali-kali ia membunyikan klakson karena kesalnya. Kepalanya pun tiada henti menoleh memastikan Bagas masih bernyawa. "Sialan!" gerutu Andini menggebrak stir di depannya. "Nyonya, biarkan saya mati di sini nyonya," ujar Bagas di sela-sela se
"Mbak, Fahmi kemana? Mobilnya gak ada," tanya Andini heran. "Tadi, Tuan buru-buru nyonya tidak bilang apa-apa," jawab Leni menghadap. Andini berpikir sejenak dalam posisi tegapnya,ia melirik jam yang menujukan pukul empat sore. Dari siang, nomornya tak bisa dihubungi, di chat pun tidak dibalas. "
Aku suka saat menancing seseorang, mas Fahmi terlihat gugup untuk menjawab. Bola matanya bergulir ke kiri dan kanan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu pasti. "Mas, kok diam sih? Kenal gak," cecar ku. "Emh ... Andin style? iya aku tahu tapi aku ... gak kenal sama owner nya, memang
Aku merogoh ponsel yang seunyi itu, membuka kunci dan gambar pertama yang tampak adalah foto diriku dan Mas Fahmi, saat itu kami berdua tengah pre-wedding. Namun, yang aku pasang sebagai wallpaper hanya tampak punggung saja. Layar ponsel terus aku gulir ke atas dan ke bawah. Pesan masuk terakhir d







