Chapter: Bab 20 Mas mantan ini bukan mimpi kan?Gadis itu berjalan dengan ritme cepat, matanya sedikit bengkak—sembab,hidung merah muda di bagian puncaknya. Ia melipat kedua tangan, memandangi Theo keheranan. Kedua matanya tampak basah, berbinar. Apalagi, saat langkahnya mendekati Theo—yang masih di luar pagar rumah. Theo berusaha mengatur nafas, detak jantung kian bertalu-talu, belum lagi aliran darah yang terasa membeku. Kedua telapak tangannya dingin—gemetar dan berkeringat. “Kamu mau ngapain?” tanya Vabella suaranya sedikit serak. “A-aku … emh … aku,” ucap Theo mendadak gelagapan. Ia memindai tubuh lelaki itu, dari kaki hingga rambut. Tidak menggunakan kemeja, blazer atau dasi. Ia hanya mengenakan hoodie, celana di bawah lutut, dan membawa kantong plastik bening dengan kotak di dalamnya. Penampilan Theo saat itu membuat Vabella menelan saliva. Jauh berbeda saat tengah di kantor. Rambutnya pun tidak klimis. “Masuk,” ajak Vabella. Theo membuntuti Vabella, sambil menengok kiri kanan. “Mama kamu ada?” “Lagi keluar,” jawab
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: Bab 19 Orang gak jelas Theo menatap keluar, matanya memicing pada kekasih Wike yang asyik sendiri bermain game. Satu tangannya penuh tato, telinga ditindik dan gaya rambut yang acak-acakan. Satu batang rokok diapit jari telunjuk dan jari tengah. Masih menyala dan berasap, Theo menarik nafas panjang. Ia menundukan badan mendekat pada Wike yang seperti cemas. “Cerita sama saya, ada apa?” Theo penasaran. Bibir Wike gemetar, begitupun kedua telapak tangannya. “eng—enggak apa-apa kok pak.” “Kalau kamu butuh bantuan, bisa hubungi saya,” bisik Theo. Ia menjauhkan diri dari Wike, saat Theo menyadari jika kekasihnya beranjak dan akan masuk ke toko donat itu. Langkahnya gontai, mimik wajah garang dengan rahang bawah digerakkan kekiri dan kanan. “Wike! udah belum?!” tanyanya sedikit membentak. “Masih antri,” jawab Wike pelan. Lelaki itu mendelikan mata, memukul pintu kaca sedikit hingga dentuman kecil berbunyi. Wike tampak panik dan ketakutan, ia mengatur nafas perlahan. “Dia emosional?” tanya Theo melirik.
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: Bab 18 Donat manis buat si ManisSepanjang perjalan, Theo terus menerus tersenyum. Seraya mendengarkan musik kesukaannya yang berbahasa Inggris. Kepalanya menggeleng sesekali, atau tangannya di hentakan ke stir mobil seperti bermain drum. “right here waiting for you …,” gumam Theo kepalanya menggeleng. “... i will be right here waiting for you …,” sambung Theo. Diiringi alunan laju mobil yang pelan, karena pas lampu merah. Jarak ke rumah Vabella tak begitu jauh,tetapi macet Ibukota membuat waktu terasa lambat. Theo menoleh ke belakang dan melihat spion. Saat lampu mulai hijau dan kendaraan merayap lagi seperti kura-kura.Theo menambah kecepatan mobil, karena sudah lenggang. Namun, Theo tak langsung menuju rumah Vabella. Ia mampir ke toko donat di sebelah kiri. “Lumayan sepi,” gumam Theo matanya menyipit ke area parkiran. Saat keluar dari mobil, aroma butter dan susu tercium dominan. Di Sebelah toko itu ada beberapa kedai minuman dan makanan cepat saji. Aroma nya makin campur aduk saat Theo mendekat. Ada beber
Last Updated: 2026-09-03
Chapter: Bab 17 Buang semua kenanganVabella menurunkan seluruh foto dirinya dan Genta. Foto-foto itu dicetak polaroid, saat masih kuliah. Ia menempelkan di dinding kamar, hingga memenuhi sebagian ruangannya. Foto-foto itu dimasukan ke dalam kotak kardus. Bertumpukan tak karuan, ia juga merobek beberapa foto dirinya dengan Laura. “Pengkhianat Lo!” caci Vabella seraya merobek foto itu hingga menjadi serpihan kecil. Urat tangannya timbul, begitupun giginya yang gemeretak. ting! Satu pesan masuk pada ponselnya. Vabella sedikit menoleh, itu dari Theo. Ia menghela nafas. Vabella meraih ponsel yang tergeletak di kasur, ia membuka isi pesan dari Theo. [Bibel, aku tunggu jawaban kamu] [Malam ini] Pesan itu membuat Vabella jengkel. Ia mematikan ponsel supaya Theo tidak mengirim pesan atau menelponnya. “Argh!” teriak Vabella merebahkan diri ke tepi kasur. “kenapa Lo harus datang lagi dikehidupan gue?!” Gadis itu sedikit tersenyum, sejenak melupakan permasalah yang tengah melanda. Lagipula,jika harus kehilangan Genta bu
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Bab 16 BajinganVabella tetap diam di tempat, ia menyiapkan kamera ponsel, tetapi tidak ditunjukan pada layar laptop. Jika memang benar sebutan “Gen” itu adalah Genta, ia sudah siap dengan kamera ponselnya. Tubuhnya gemetar, terutama kedua tangannya. Di bagian dada terasa sesak, jalur nafasnya seolah terhalang sesuatu di area tenggorokan. Desahan itu semakin menjadi, keluar dari mulut keduanya. Vabella sudah ancang-ancang, bibir dan giginya gemeretak. Tampak, Laura di peluk dan dicumbu kali ini tepat di depan layar. Sayangnya, wajah lelaki itu belum tampak. Ia hanya menenggelamkan kepala bagian wajahnya di dada Laura. Perempuan itu menggeliat, suara yang membuat Vabella sedikit risih. Namun, ia juga pernah bersuara seperti itu. Jantungnya makin dag-dig-dug, belum juga terlihat jelas wajahnya. Hanya saja, Vabella betul-betul mengenali gaya rambut lelaki yang tengah menjamah sahabatnya itu. Pelan-pelan, Laura jatuh begitu saja di tempat tidur. Memang benar, itu adalah Genta. Genta yang selama ini
Last Updated: 2026-08-29
Chapter: Bab 15 Selingkuh?Laura menertawakan Vabella, yang memasang ekspresi wajah merengut sejak mengawali obrolan video. Cerita Vabella dengan kedua lelaki nya itu,membuat Laura kegelian. Bahkan, berkali-kali Laura tersedak dan batuk. Sesekali pandangan Vabella tajam melotot pada layar telepon video di laptopnya. “Gak lucu!” kata Vabella ketus. “Lagian ada-ada aja, kalau tau obrolannya gak nyambung ya tinggal ke kamar,” balas Laura menstabilkan suaranya. “terus, sekarang Lo pilih siapa?” “Ya Genta lah, dia kan pacar gue,” jawab Vabella seraya memainkan kuku jari. Laura melirikkan bola matanya ke arah kanan. “Yakin? Bell, pilih yang benar-benar sayang sama Lo jangan yang Lo sayang.” “Beda nya apa?” tanya Vabella mengangkat kedua tangannya dan mengepalkan di bawah dagu. Dia mendekatkan wajahnya pada layar laptop. “Masa kayak gitu aja gak paham cantik,duh …,” cibir Laura terdengar meneguk air. “Ya mana gue paham, kalo masalah duit baru gue paham,” celetuk Vabella.“Ada gila-gila nya ya, nih ya! kalau
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: #29"Bagaimana bisa dihubungi?" tanya Fahmi dengan nada panik, pandangannya tidak fokus berkali-kali menoleh jok belakang tempat Andini duduk. Andini menggeleng, tanpa menatap Fahmi. Ia merasa begitu bodoh, harus mengikuti permintaan Fahmi. Tidak ada suara keluar dari mulut wanita itu, sejak memasuki mobil. Ia hanya menatap ke luar jendela, memandangi jalanan Ibukota yang selalu ramai. "Sialan!" decak Fahmi menghantam stir mobilnya. "Coba pakai ponsel kamu Mas," bujuk Sintya yang duduk di sampingnya. "Tertinggal di apartemen, tapi ... aku tau, kemana dia akan membawa Indri." Fahmi memutar stir, ia berbelok menjauh dari jalan protokol. "Kalau kamu tidak memposting apapun di sosial media, ini semua tidak akan terjadi," tambah Fahmi menggerutu. "Apa aku salah jika mencari pembelaan?" "Kamu bukan mencari pembelaan, tapi mencari sensasi dan kegaduhan!" "Memangnya penculikan Indri, itu sebabku?" Andini bergejolak, ia memasang wajah garang. "Tentu saja, bisa saja ada ora
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: #28 2M harga matiIa membekap mulut Indri, pekikan dari wanita itu masih terdengar samar. Indri berusaha melindungi dirinya, dengan memukuli dada Alex menggunakan kedua tangannya. Ia juga hendak menendang dengan kaki, saat Alex mulai menciumi kedua pipi Indri secara paksa. Melihat itu, lelaki bertubuh lebih besar dari Indri hanya tertawa sedemikian keras, merasa puas. Namun, aksi Alex tersebut terhenti oleh suara dering dari ponsel Indri. Alex berdecak kesal, ia melepaskan tangannya dari mulut Indri. Gadis itu mencoba mengatur nafas dalam ketakutannya. "Siapa itu?" tanya Alex menoleh sedikit kearah ponsel yang digenggam Indri. "Mbak Andini," ucap Indri gemetar. Sigap Alex merebut ponsel itu, Indri berusaha merebut kembali. Namun, tenaga Alex lebih besar dari dirinya. Ia kembali dibekap sekuat tenaga saat Alex menerima telepon tersebut. "Hallo ... Ha-ha-ha, kalau kamu ingin Indri selamat, berikan uang dua miliyar untukku!" ancam Alex dengan suara keras. Mata Indri membulat lebar, dua mil
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: #27 Penculikan"Apa?" Fahmi tersentak dengan wajah memerah. Sialnya, dia tidak membawa ponsel. "Coba hubungi Indri," perintah Fahmi memohon. "Kamu saja yang hubungi, itu bukan urusanku." Andini melenggang begitu saja, disusul Sintya dibelakangnya. "Aku minta tolong," ucap Fahmi suaranya lirih. Mendengar itu, Andini menghentikan langkah. Ia menghela nafas berat, haruskan ia menolong orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Itu adalah sebuah ketidak mungkinan. "Kali ini saja, tolong ... telpon Indri, tanyakan keadaan dia," bujuk Fahmi melas. Andini menatap kearah Sintya, gadis di sampingnya itu mengangguk samar. Namun, matanya seolah berkata tidak perlu. Dilema dan bingung, masih banyak permasalahan yang harus Andini selesaikan. "Andini, tolong ini demi anakku," Fahmi memohon dengan suaranya yang gemetaran, seketika ia menangis sesegukan begitu saja. Pemandangan itu sedikit menjijikan di mata Andini, ia mendelikan mata keatas. Sambil mencibir dalam hati bagaimana Fahmi memohon. "Oke, t
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: #26 Kenapa Indri?"Ini semua karena postingan kamu! pak Julian dan Om Hans batal menjadi investor di perusahaanku," hardik Fahmi berjalan kearah Andini dengan bahu naik turun. Wajahnya merah, bola mata melotot seakan mau keluar. Tangannya mengepal dengan urat yang nampak. Andini tak gentar, ia menengadahkan kepala menyambut Fahmi yang kian mendekat. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan, tak ada kata yang keluar dari keduanya. Ruangan itu kian memanas, menjadi saksi bisu ketika tangan Fahmi melayang menampar pipi Andini. Hingga, Andini tersungkur jatuh tak berdaya. Air matanya jatuh setetes, namun tidak membuat ia ciut atau takut. "Kamu harus menghapus postingan itu!" bentak Fahmi. Andini tertawa seraya menyeka air matanya dan bangkit, ia menatap tajam kearah Fahmi dan berkata, "semua orang sudah tahu kelakuan kamu, kamu harus bisa menerima konsekuensinya." "Apa yang aku lakukan bukanlah kriminal, ada banyak laki-laki yang berpoligami di dunia ini dan itu bukanlah hal ilegal," tambah Fahmi. "
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: #25 Berkas perceraian"Kamu lihat! netizen sudah menghujat aku Mas!" bentak Indri menunjuk-nunjuk ke ponsel yang ia pegang. Fahmi merebut ponsel itu, ia memperhatikan dengan seksama. Beberapa DM dari pengikut Indri, hujatan dan ujaran kebencian terlontar begitu saja. Fahmi mempererat genggaman tangannya, urat di atas punggung tangannya timbul, bibirnya menutup dan giginya gemeretak. "Andini," gumam Fahmi kesal. "Aku gak mau kehilangan pekerjaan aku,yang sudah aku bangun dengan susah payah," caci Indri sesegukan. "Iya, aku akan meminta Andini untuk menghapus semua postingan tentang ini," timpal Fahmi. "Menghapus? Terlambat! Semua orang sudah tahu,dan semua orang mengira aku ini gundik! Wanita murahan! Padahal, jelas-jelas aku juga korban." Wanita itu mondar-mandir dengan menggigiti jari telunjuk. Perasaan resah dan gelisah menyelimuti tubuh Indri. "Huek! Huek ...." Indri memegangi perutnya yang terasa mual. "Sayang, kamu ...kenapa?" tanya Fahmi mendekat. "Jangan mendekati aku!" sergah Indri menepis d
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: #24"Mau apa kamu?" tanya Indri tanpa menoleh. "Hanya ingin tahu kabarmu, memastikan kamu tidak betul-betul bahagia dengan pernikahanmu! Apalagi ... kamu menikah dengan suami orang," ujar lelaki itu. Laki-laki itu berjalan mendekati Indri. Keringat dingin menyeringai di area pelipis dan kening. Indri terus memencet-mencet tombol lift di depannya panik. "Ayo buka," rintih Indri melirik sedikit kearah mantan pacarnya itu. Saat pintu terbuka, Indri buru-buru masuk untung saja dalam lift itu ada beberapa orang yang hendak naik dari basement. Ia menyelipkan diri diantara mereka. Lelaki itu hanya berdiam diri, berdecak kesal karena gagal menghampiri Indri. Ia menghentakkan kakinya ke lantai penuh emosi. "Awas kamu!" ancam lelaki itu menatap kearah lift. Dengan tergesa-gesa, Indri langsung keluar dari dalam lift setelah pintu terbuka pada lantai tujuannya. Tangannya gemetar hebat, jantungnya masih bertalu-talu. Kartu akses yang ia pegang pun sempat terjatuh. Ia terhenti di pintu, sekit
Last Updated: 2026-07-09