Share

Bab 7. Tuduhan Lagi

Penulis: Dian Alfina
last update Tanggal publikasi: 2023-08-23 11:22:54

Sudah dua hari Delia tidak keluar kamar, wajahnya pucat dan tubuhnya mulai melemah. Ia menangis selama dua hari berturut-turut, bahkan sejak hari itu ia membenci tubuhnya.

Ini jauh lebih hancur ketika semua orang menuduhnya pembunuh. Tidak ada yang bisa menolong Delia sekarang, jika dia mati pun mungkin jenazahnya akan ditemukan satu minggu kemudian.

Suara pintu digedor keras, Delia yang awalnya sedang menutup mata reflek membuka mata mendengar gedoran tak sabar dari seseorang.

"Kau keluarlah!" teriakannya memekakkan telinga Delia.

Untuk bangkit dan berjalan saja, Delia tidak memiliki tenaga.

"Kau benar-benar ya! Apa sebenarnya yang kau mau hah!" murka Rafael. "Dasar beban!"

Ceklek!

Delia memunculkan wajahnya di balik pintu, sebisa mungkin ia menutupi keadaan kamarnya yang begitu berantakan.

"Ada apa Raf?" ujarnya sangat lirih, harusnya Rafael melihat perubahan Delia yang sangat mengenaskan, tapi sekali lagi apa pedulinya?

“Oh jadi ini kerjaanmu! Berleha-leha layaknya ratu!" gertaknya dengan rahang mengeras. "Kau bukan permaisuri di sini."

“Maafkan aku Raf. Aku sedang tidak enak badan," sahut Delia lemas, ia sengaja tidak menatap Rafael karena ia masih mengingat jelas kejadian menyakitkan itu.

“Kau pikir aku peduli hah! Cepat bersihkan ruang depan!"

Rafael melihat wajah pucat Delia, tapi lagi-lagi pria itu tidak peduli dengan keadaannya, "Bukankah ini yang kau mau?" Ia tersenyum miring.

“Jika bukan karena ulahmu, Renata pasti masih hidup! Mungkin aku sudah hidup bahagia bersamanya," nyatanya ia kembali membahas hal mengenai Renata.

Delia memejamkan matanya barang sejenak, ia tau ke mana arah yang akan Rafael katakan.

“Ingat, Renata pergi gara-gara kau!" tuduhnya sembari menunjuk wajah Delia dengan tajam.

‘Tuduhan ini lagi...' batinnya lelah.

“Kalaupun aku menjelaskannya seratus ribu kali, bahwa bukan aku yang membunuh Renata. Kau tetap tidak akan percaya," Ia menahan agar tidak menangis.

Kemudian Rafael tertawa, suaranya cukup nyaring di telinganya, "Percaya?" kelakarnya. "Jelas aku tidak percaya! Aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu!"

Tapi sungguh, kematian itu bukan ulah Delia.

Setiap pembelaan yang keluar dari mulutnya, tidak ada yang akan percaya. Lantas apa yang harus ia lakukan?

“Sudahlah, cepat kau bersihkan rumahku!" perintahnya. "Kepalaku akan semakin sakit jika berinteraksi denganmu!" ujar Rafael sebelum dia pergi.

Dia pikir hanya dirinya saja yang sakit kepala? Nyatanya Delia juga, tidak hanya kepala melainkan mentalnya juga.

***

Gemeretak gigi Rafael ketika melihat sebuah foto yang ia dapatkan, rahangnya mengeras, sorot matanya menandakan jika pria tersebut menahan amarah.

Ia meremas kasar foto tersebut yang berada di tangannya, "Sialan!"

Brak....

Rafael memukul meja kerjanya keras.

“Aku tidak percaya, istrimu ternyata sangatlah licik," Gladis semakin memprovokasi Rafael. "Ah jangan-jangan dia juga bersekongkol dengan Bara."

Bara yang dia maksud adalah laki-laki yang ada di foto dengan Delia.

Karena mendapat hasutan dari Gladis, akhirnya kemarahannya semakin meluap.

Di tempat lain Delia tengah duduk di sofa, tengah bersantai selesai membersihkan rumah Rafael. Meski dengan keadaan lemas, ia tetap menjalankan apa yang pria arogan itu perintah.

Ponsel miliknya bergetar, "Andrew..." beonya sembari menekan tombol hijau di layar.

"Halo Ndrew, kenapa?"

“Halo Del. Kau tidak jadi pergi ke kantor?"

“Tidak, mungkin besok. Aku sedang tidak enak badan,"

“Del, kau benar baik-baik saja 'kan?"

“Ya tenang saja aku baik-baik saja,"

Tiba-tiba pintu terbuka, Delia menoleh dan mendapati Rafael pulang dengan guratan wajah memerah.

Reflek ia langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Del!" seru Andrew di seberang sana. "Halo Del!" namun tidak ada sahutan sama sekali dari si empunya.

‘Delia cukup kaget Rafael pulang lebih awal, 'Ada apa?' pikirnya.

“Sebenarnya apa yang akan kau rencanakan?" kelakar Rafael tanpa basa basi.

“Apa maksudmu?" Jelas Delia tidak mengerti dengan suaminya yang tiba-tiba pulang dan memarahinya.

Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun hari ini, bahkan ia sudah melakukan apa yang pria itu perintahkan.

"Katakan saja!" teriaknya.

Mendengar teriakan Rafael, Delia jadi mulai terpancing. Dia pikir menjadi Delia tidak lelah?

Dadanya naik turun, ia mulai berani menatap balik Rafael. Semua emosi yang ia tahan terkumpul menjadi satu dan siap ia ledakkan.

“Apa? Apa yang harus aku katakan? Kau pulang tiba-tiba lalu memakiku seenaknya! Ya aku tau kau membenciku, tapi jangan kau pikir karena itu aku ingin membalas dendam kepadamu! Terserah, sekarang apapun yang kau katakan aku tidak lagi peduli!" Ia menjeda kalimatnya.

Delia sendiri tidak tau bagaimana bisa ia merangkai kalimat panjang seperti itu.

“Percuma juga! Kau tidak akan percaya dengan wanita licik ini!"

Setelah mengucapkan kalimat tersebut Delia pergi meninggalkan Rafael yang tercenung melihat kemarahan wanita itu.

“Hei! Aku masih belum selesai bicara!"

Namun Delia tidak peduli, ia memilih terus berjalan dan masuk ke dalam kamarnya.

"Sial! Harusnya aku yang marah!" decak Rafael, "Kenapa malah dia yang tampak kesal?" Hanya saja, entah kenapa, hati pria tampan itu justru tak tenang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Tak Diharapkan   30. Hari Yang Berbeda

    Hari yang selama ini Delia takuti akhirnya tiba. Sejak membuka mata pagi itu, perasaan tidak nyaman sudah memenuhi dadanya.Ia masih mengingat tanggal ini.Terlalu jelas.Dalam kehidupan pertamanya, hari ini menjadi salah satu hari yang paling ingin ia hapus dari ingatan.Hari ketika sesuatu terjadi pada Delina.Kakaknya.Delina hanya terpaut satu tahun darinya. Mereka tumbuh bersama, bersekolah di tempat yang sama, bahkan sering dianggap lebih seperti sahabat daripada kakak-adik.Dulu, Delia tidak pernah benar-benar menyadari betapa berharganya keberadaan kakaknya.Apalagi ketika dirinya terlalu sibuk mengejar Rafael.Delina tidak pernah menyukai sikap Delia yang begitu terobsesi pada laki-laki itu. Sebagai kakak, ia tentu merasa malu sekaligus kesal melihat adiknya terus mengejar seseorang yang jelas-jelas tidak memberikan perasaan yang sama.Hubungan mereka pun tidak selalu baik.Ada masa ketika keduanya lebih sering bertengkar daripada berbicara baik-baik.Sampai semuanya terlamba

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 29. Kesempatan Kedua

    Pagi itu, Delia datang ke sekolah dengan keputusan yang sudah bulat. Ia tidak bisa terus mengandalkan ingatannya. Selama ini, ia menganggap kehidupan pertamanya sebagai sebuah peta. Setiap kejadian yang ia ingat menjadi petunjuk untuk menentukan langkah berikutnya. Akan tetapi, peta itu perlahan berubah. Kejadian di belakang sekolah tidak berlangsung seperti yang ia ingat. Nina berhasil terhindar dari masalah. Hubungan Renata dan Tristan pun mulai menunjukkan arah yang berbeda. Bahkan ada orang baru yang muncul dalam kehidupan Renata, seseorang yang tidak pernah Delia ingat sebelumnya. Lalu ada Bara. Seseorang yang dalam kehidupan pertama baru ia kenal setelah dirinya menjadi istri Rafael. Sekarang, Bara sudah menjadi bagian dari hari-harinya. Semua itu membuat Delia sadar. Masa lalu sudah berubah. Maka masa depan yang ia ingat juga tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu yang pasti. Delia membuka buku catatannya. Di halaman pertama terdapat daftar kejadian yang ia i

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 28. Bayangan Dari Masa Depan

    Hari-hari berlalu lebih cepat dari yang Delia inginkan.Semakin dekat dengan tanggal yang selama ini berusaha ia hindari, semakin sulit baginya untuk bersikap tenang.Tanggal itu.Tanggal yang masih tersimpan jelas dalam ingatannya.Tanggal ketika kehidupan Delina berubah untuk selamanya.Delia menatap kalender yang berada di atas meja belajarnya. Ujung jarinya perlahan menyentuh angka yang sudah ia lingkari beberapa hari lalu.Tinggal beberapa hari lagi.Ia menarik napas panjang.Dalam kehidupan pertama, Delia tahu persis bagaimana semuanya bermula.Ia tahu apa yang akan terjadi.Ia tahu siapa saja yang terlibat.Ia bahkan tahu akibat yang akan ditanggung Delina setelah kejadian tersebut.Karena itulah, sejak kembali ke masa lalu, Delia berjanji tidak akan membiarkan hal yang sama terulang. Tetapi sekarang ia mulai ragu.Kejadian Nina berubah. Hubungan Renata dan Tristan juga mulai berjalan di luar ingatannya. Bahkan orang-orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya mulai muncul dala

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 27. Kehidupan Berbeda

    Pertanyaan Renata terus terngiang di kepala Delia bahkan setelah gadis itu pergi.“Kamu tahu sesuatu yang seharusnya tidak kamu tahu?”Delia berjalan menyusuri koridor dengan pikiran yang berantakan.Ia tidak tahu apakah Renata benar-benar mencurigainya atau hanya sengaja menakut-nakutinya.Satu hal yang Delia tahu pasti.Ia harus lebih berhati-hati.Sejak kembali ke masa lalu, Delia selalu berpikir bahwa dirinya memiliki keuntungan.Ia tahu apa yang akan terjadi.Ia tahu siapa yang akan menyakitinya.Ia tahu kesalahan apa yang seharusnya tidak ia ulangi.Ia bahkan tahu bagaimana hubungan beberapa orang akan berakhir.Tetapi sekarang Delia mulai memahami bahwa semua itu tidak sepenuhnya benar.Ia memang mengetahui masa depan.Hanya saja, masa depan yang ia ingat adalah masa depan sebelum semuanya berubah. Setiap keputusan yang ia ambil bisa menggeser kejadian berikutnya. Seperti saat ia menyelamatkan Nina. Kejadian yang seharusnya terjadi berubah. Hubungan Renata dan Tristan juga mul

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 26. Rahasia Pertama

    Sejak melihat orang itu berbicara dengan Renata di belakang gedung sekolah, pikiran Delia tidak lagi tenang.Ia masih mengingat wajahnya dengan jelas.Seseorang yang seharusnya tidak ada dalam cerita yang ia ingat. Setidaknya, bukan dalam bagian yang pernah ia ketahui.Delia berjalan menuju kelas dengan langkah pelan. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.Siapa dia?Apa hubungannya dengan Renata?Dan yang paling membuat Delia gelisah, kenapa orang itu baru muncul sekarang?Sesampainya di kelas, Delia langsung duduk di bangkunya.Nina yang sedang membaca buku segera menoleh.“Kamu kenapa?”“Gak apa-apa.”“Kamu dari tadi kelihatan banyak pikiran.”Delia tersenyum tipis.“Aku cuma lagi mengingat sesuatu.”Nina tidak bertanya lebih jauh. Delia bersyukur untuk itu.Ia tidak mungkin menceritakan bahwa dirinya sedang berusaha mengingat kembali kehidupan yang pernah dijalaninya.Terlebih, semakin lama ia berada di masa lalu, semakin Delia sadar bahwa ingatannya ternyata tidak selengkap ya

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 25. Petunjuk Lama

    Malam itu, Rafael masih memikirkan Delia. Kalimat gadis itu terus berputar di kepalanya.‘Memangnya kenapa?’Rafael tidak menemukan jawabannya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti memikirkannya. Setidaknya untuk malam ini.Sementara di tempat lain, Delia justru sedang memikirkan sesuatu yang jauh berbeda.Renata.Sejak kejadian di belakang sekolah, Delia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan seperti kehidupan pertamanya.Awalnya ia mengira perubahan itu hanya terjadi karena dirinya ikut campur.Ia menyelamatkan Nina.Ia mencegah kejadian yang seharusnya menjadi awal dari masalah besar.Akan tetapi, semakin hari, Delia mulai melihat perubahan lain. Hubungan Renata dan Tristan.Dulu, Delia mengetahui kedekatan mereka dari beberapa kejadian yang terjadi di sekolah.Ia masih mengingatnya dengan jelas. Renata sering mencari kesempatan untuk berada di dekat Tristan.Tristan juga beberapa kali terlihat membantunya.Kemudian ada sebuah kejadian yang membuat hubungan m

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 6. Korban

    Rafael yang menjamah tubuh Gladis seketika menghentikan aksinya, gara-gara Delia yang merusak momen bersama Gladis membuat Renata hadir dalam ingatannya. Ia menjambak kasar rambutnya kala mengingat kondisi Renata yang tergeletak berlumuran darah. "Sayang kau akan pergi ke mana? Apa kau tidak ingin

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 5. Luka Baru

    Delia kini tengah duduk di depan jendela kamar. Keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.Jika tidak ada Bara–teman Andrew–, mungkin ia masih menangis seperti wanita gila di pinggir jalan.Kini ada satu lagi koleksi luka Delia, kali ini ia melakukannya hingga tiga kali.Tak ada lagi tangisan meraun

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 4. Tidak Peduli

    Rafael meleparkan sebuah kunci kepada Delia, "Itu kunci kamarmu!" "Jadi di mana kamarku?" "Kamar pembantu!" Delia hanya mengangguk lalu pergi dari hadapannya. Ia berjalan ke belakang dengan gontai. Seolah tidak ada tenaga untuk menjawab Rafael. Instingnya membawa perempuan tersebut ke sebuah ru

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 3. Hinaan

    Setelah berhasil menenangkan diri, Delia sibuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Rafael dan Gladis selama satu setengah jam.Ia pun menghempaskan diri ke sofa sembari menyeka keringat yang turun di keningnya.Delia cukup lega menyelesaikan apa yang diperintah Rafael. Ia juga sudah memasak sesu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status