เข้าสู่ระบบMalam itu, Rafael masih memikirkan Delia. Kalimat gadis itu terus berputar di kepalanya.‘Memangnya kenapa?’Rafael tidak menemukan jawabannya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti memikirkannya. Setidaknya untuk malam ini.Sementara di tempat lain, Delia justru sedang memikirkan sesuatu yang jauh berbeda.Renata.Sejak kejadian di belakang sekolah, Delia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan seperti kehidupan pertamanya.Awalnya ia mengira perubahan itu hanya terjadi karena dirinya ikut campur.Ia menyelamatkan Nina.Ia mencegah kejadian yang seharusnya menjadi awal dari masalah besar.Akan tetapi, semakin hari, Delia mulai melihat perubahan lain. Hubungan Renata dan Tristan.Dulu, Delia mengetahui kedekatan mereka dari beberapa kejadian yang terjadi di sekolah.Ia masih mengingatnya dengan jelas. Renata sering mencari kesempatan untuk berada di dekat Tristan.Tristan juga beberapa kali terlihat membantunya.Kemudian ada sebuah kejadian yang membuat hubungan m
Sejak beberapa hari terakhir, Rafael mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.Delia benar-benar berubah.Bukan hanya dari caranya berbicara.Bukan hanya karena gadis itu tidak lagi sibuk menjelaskan dirinya setiap kali Rafael salah paham.Tetapi...Delia seolah benar-benar berhenti memperhatikannya.Pagi itu, Rafael baru saja memasuki gerbang sekolah ketika tanpa sadar pandangannya mencari sosok tertentu di antara kerumunan siswa.Beberapa detik kemudian, ia melihat Delia. Gadis itu sedang berdiri di dekat taman bersama Nina. Rafael sempat memperlambat langkah.Dulu, jika Delia melihatnya datang, gadis itu pasti akan langsung menoleh.Mungkin tersenyum.Atau bahkan mencari alasan untuk menghampirinya.Namun sekarang, Delia bahkan tidak melihat ke arahnya. Ia sedang berbicara dengan Nina sambil sesekali tertawa kecil.Rafael mengerutkan kening, ‘Dia benar-benar gak lihat aku?’Pikiran itu baru muncul sesaat sebelum Rafael menyadari betapa anehnya dirinya. Kenap
Pagi itu, Delia datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.Bukan karena ingin menunggu seseorang.Bukan pula karena berharap bisa bertemu Rafael.Ia hanya ingin menyelesaikan tugas yang belum sempat dikerjakannya kemarin.Dulu, Delia bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan datang sepagi ini hanya untuk belajar.Biasanya, ia akan mencari alasan agar bisa datang bersamaan dengan Rafael.Sekadar melihat laki-laki itu berjalan melewati gerbang sekolah saja sudah cukup membuatnya senang.Sekarang?Delia bahkan tidak lagi tahu kapan terakhir kali ia memperhatikan jam kedatangan Rafael.Ia duduk di bangkunya sambil membuka buku.Beberapa menit kemudian, Nina datang. Begitu melihat Delia sudah duduk dengan buku terbuka, Nina langsung menghampiri.“Tumben rajin.”Delia mendongak, “Daripada nanti keteteran.”Nina menarik kursi di sebelahnya.“Kamu benar-benar berubah, ya.”Delia mengerutkan kening.“Kenapa semua orang bilang begitu?”“Karena memang berubah.”Nina mengambil salah satu buk
Sejak percakapan mereka di koridor kemarin, Rafael tidak bisa berhenti memikirkan Delia. Bukan karena gadis itu mengatakan sesuatu yang aneh.Justru sebaliknya.Delia tidak mengatakan apa-apa.Biasanya, setiap kali Rafael menegurnya, Delia akan langsung memberikan penjelasan panjang. Bahkan terkadang gadis itu akan berusaha meyakinkan Rafael bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan.Namun kemarin...Delia hanya menjawab seperlunya.Tidak membela diri.Tidak memohon untuk dipercaya.Bahkan ketika Rafael menyebut nama Renata, gadis itu tidak terlihat panik sedikit pun.Rafael mengernyit.Ada sesuatu yang berbeda. Dan entah mengapa, ia mulai memperhatikan perubahan itu.Pagi itu, ketika memasuki kelas, pandangan Rafael tanpa sengaja jatuh ke arah Delia.Gadis itu sedang duduk bersama Nina. Keduanya tampak sibuk membicarakan sesuatu. Sesekali Nina tertawa, kemudian Delia ikut tertawa. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari keberadaan Rafael.Dulu, pemandangan seperti itu hampir must
Rafael masih berdiri di tempat yang sama setelah Renata pergi.Kalimat gadis itu terus terngiang di kepalanya.“Kalau kamu benar-benar ingin tahu, tanyakan sendiri kepada Delia.”Rafael mengembuskan napas pelan. Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur. Setidaknya, itulah yang berusaha ia yakini. Namun rasa penasaran membuat langkahnya justru membawanya menuju kelas Delia.Di sana, ia melihat Nina sedang membereskan beberapa buku ke dalam tas.“Delia di mana?”Nina yang mendengar suara Rafael langsung menoleh, “Kenapa?”“Aku tanya, Delia di mana?”Nina menatapnya beberapa saat sebelum menjawab, “Udah pulang.”Rafael mengernyit.“Sendirian?”“Nggak.”“Sama siapa?”Nina terlihat ragu.“Bara.”Jawaban itu membuat Rafael terdiam sesaat.“Bara?”Nina mengangguk.“Mereka tadi pergi bareng.”Rafael tidak mengatakan apa-apa lagi.Entah kenapa, mendengar nama Bara membuat perasaannya semakin tidak nyaman.Ia teringat ucapan Renata.‘Delia semakin sering ikut campur urusanku.’Kalau begitu, apa ya
Sejak kejadian di belakang sekolah, Delia mulai merasa sedikit lebih tenang.Untuk pertama kalinya, ia melihat bukti bahwa masa depan yang selama ini menghantuinya tidak harus terjadi dengan cara yang sama.Renata masih hidup.Tidak ada kecelakaan seperti yang ia ingat.Tidak ada kejadian yang membuat hidupnya berubah dalam satu hari.Mungkin kali ini semuanya benar-benar akan berbeda.Namun, Delia lupa satu hal.Masa lalu mungkin berubah, tetapi orang-orang di dalamnya tetap sama.Termasuk Renata.***Keesokan harinya, suasana kelas terasa seperti biasanya.Beberapa siswa sibuk mengobrol, sebagian lainnya masih menyelesaikan tugas sebelum guru datang.Delia duduk di bangkunya sambil membaca buku. Nina yang berada di sebelahnya beberapa kali melirik ke arah Delia.“Del.”“Hm?”“Semalam kamu dapat pesan aneh lagi?”Tangan Delia yang sedang membalik halaman langsung berhenti.Ia menoleh, “Kenapa kamu tanya begitu?”“Karena wajahmu kemarin kelihatan aneh setelah membaca sesuatu di ponsel
Semalam Rafael tidak pulang ke rumah. Delia cukup merasa lega. Setidaknya, ia bisa sedikit lebih bebas. Pagi ini, ia juga berniat pergi ke kantor. Bertemu banyak orang mungkin bisa mengurangi beban pikiran yang ditanggungnya. Setelan kemeja berwarna coklat ia padukan dengan rok span selutut, bl
Rafael yang menjamah tubuh Gladis seketika menghentikan aksinya, gara-gara Delia yang merusak momen bersama Gladis membuat Renata hadir dalam ingatannya. Ia menjambak kasar rambutnya kala mengingat kondisi Renata yang tergeletak berlumuran darah. "Sayang kau akan pergi ke mana? Apa kau tidak ingin
Delia kini tengah duduk di depan jendela kamar. Keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.Jika tidak ada Bara–teman Andrew–, mungkin ia masih menangis seperti wanita gila di pinggir jalan.Kini ada satu lagi koleksi luka Delia, kali ini ia melakukannya hingga tiga kali.Tak ada lagi tangisan meraun
Rafael meleparkan sebuah kunci kepada Delia, "Itu kunci kamarmu!" "Jadi di mana kamarku?" "Kamar pembantu!" Delia hanya mengangguk lalu pergi dari hadapannya. Ia berjalan ke belakang dengan gontai. Seolah tidak ada tenaga untuk menjawab Rafael. Instingnya membawa perempuan tersebut ke sebuah ru







