LOGIN"Ngapain kamu di sini malam-malam?!" Andrea langsung melayangkan pertanyaan ke arah Bayu dengan nada yang cukup keras, kedua tangannya sudah mengepal seolah siap untuk melangkah maju ke arah mantan adik iparnya itu dan meninju wajahnya.Kaluna yang melihat itu langsung menahan lengan suaminya. Ia tidak ingin Andrea membuat keributan di malam hari seperti yang pasti akan membangunkan seisi penghuni rumah atau bahkan tetangga mereka. Meski sebenarnya ia terkejut dengan adanya mantan suami Katerina ini, tapi ia yakin Katerina sudah tahu akan hal itu. Tak mungkin Bayu bisa masuk ke rumah ini dan membukakan pintu untuknya dan Andrea kalau Katerina tak mengijinkan laki-laki itu masuk ke rumah ini sebelumnya.Sementara itu, Bayu masih berdiri tenang di hadapan Andrea dan membuka mulutnya untuk menjelaskan keberadaannya di rumah ini. Namun belum sempat ia melakukan itu suara Daniel dari atas tangga lebih dulu terdengar membuat semua orang yang ada di lantai bawah akhirnya terdiam.
Tatapan mata mereka akhirnya berakhir ketika Katerina kembali memandang Daniel yang juga sedang memandangnya, menunggu jawaban akan permintaan itu."Niel, Papa harus pulang ke rumahnya. Besok kan bisa ketemu lagi. Iya kan, Pa?" Ucap Katerina sambil tersenyum dan sekilas menatap ke arah mantan suaminya.Bayu yang mendengar kata-kata itu justru terdiam membisu. Dadanya berdesir kala Katerina memanggilanya 'Pa' meski ia tahu maksud panggilan itu hanya dilakukan di depan anak mereka.Sadar akan keterdiamannya, Bayu buru-buru mengangguk mengiyakan ucapan Katerina. Ia tak mungkin menuruti keinginan Daniel ketika sudah jelas sekali Katerina menolak ide anak itu agar ia menginap di rumah ini.Namun tiba-tiba Daniel merengek sampai menangis dan duduk di karpet sambil menendang-nendang kedua kakinya seolah tak terima permintaannya ditolak."Nggak boleh seperti itu, Niel." Katerina berjongkok mencoba meraih tubuh anaknya agar berhenti menendang-nendang kedua kakinya."Niel maunya Papa tidur di s
Katerina terdiam cukup lama. Dirinya masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Bisa ia rasakan jantung berdebar cepat, tapi bukan karena sedang berbunga-bunga. Melainkan ia begitu terkejut.Meski sudah pernah mendengar Salsa yang berkata bahwa Matthias menyukainya dan beberapa kali kakaknya juga menggodanya, ia tetap merasa terkejut dengan pernyataan cinta yang dilakukan laki-laki itu.Pertemuan mereka ini bisa dihitung jari, pendekatanpun tidak pernah. Rasanya sulit dipercaya Matthias menyukainya. Apa selama ini ia saja yang tak peka?"Tidak apa-apa kalau kamu belum bisa menjawabnya, Kate. Saya tidak akan memaksa kamu untuk segera melakukannya.""Maaf, Matt.""It's okay."Matthias lantas tersenyum. Senyum yang membuat Katerina merasa bersalah karena menggantung laki-laki itu. Namun ia juga tak mungkin langsung menerima atau menolak Matthias. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan.Tak berselang lama, mereka pun keluar dari restoran itu. Matthias mengantarkan Katerina kemba
Bayu melangkahkan kakinya mendekati Amanda yang sepertinya tak sadar dengan kehadirannya. Selama ini ia sudah cukup diam dan tak menghukum perempuan itu yang telah menipu dan mempermainkan hidupnya, tapi kali ini rencana Amanda sungguh membuatnya muak."Saya akan kirim uang mukanya setelah ini asal kamu benar-benar menjalankan tugas dari saya dan_"Bayu merebut ponsel itu dan membantingnya ke lantai, membuat Amanda terkejut. Perempuan itu lupa bahwa ada Bayu di rumah ini, karena laki-laki itu datang saat ia sedang keluar dengan teman-temannya dan baru pulang beberapa saat lalu."Mau kamu apakan anakku, Amanda? Hah?!!!"Bayu menatap tajam ke arah Amanda, rahangnya mengeras dan wajahnya merah padam karena amarah. Amanda seketika merinding. Bertahun-tahun ia mengenal Bayu, tak pernah sekalipun melihat laki-laki itu menunjukkan amarahnya sebesar ini. Bahkan saat tahu Farel bukanlah anaknya, laki-laki itu marah tapi tak seperti sekarang.Refleks Amanda memundurkan langkahnya, namun Bayu ju
"Bi, tolong jaga Daniel sebentar, ya. Saya ada urusan keluar. Nggak akan lama kok."Katerina berpamitan pada ART di rumah kakaknya sebelum keluar untuk menghampiri mobil Matthias yang sudah terparkir di depan gerbang. Malam ini adalah malam ia dan laki-laki itu akan makan malam bersama. Semoga saja Daniel tidak terbangun dan mencarinya agar ia tak mengacaukan makan malam itu dan membuat Matthias kecewa."Maaf ya, kamu harus menunggu sedikit lama. Tadi Daniel sempat tidak mau turun dari gendongan."Katerina berbicara seraya masuk ke dalam mobil Matthias. Tadi Daniel memang sedikit rewel dan tidak mau diturunkan ke ranjang meski mata balita itu sudah terpejam."Tidak apa-apa. Saya justru berharap kalau Daniel bisa ikut makan malam dengan kita.""Mungkin lain kali, Matt." Balasnya sambil tersenyum.Setelah itu mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang tak pernah sepi. Matthias yang gugup karena hanya berdua dengan Katerina menjadi tak banyak berbicara dan memilih untuk memutar radio ya
Dua laki-laki itu saling berhadapan dan sama-sama terdiam seolah sedang berpikir tentang satu sama lain. Dalam pikiran Bayu laki-laki itu pasti bukan hanya sekedar kenalan Katerina. Sedangkan bagi Matthias, laki-laki di hadapannya tak perlu diragukan lagi merupakan ayah kandung Daniel, wajahnya begitu mirip dengan balita itu. Ia juga ingat saat mereka bertemu di Mall beberapa waktu lalu. Mereka masih sama-sama diam hingga akhirnya suara Katerina terdengar dari belakang Bayu. “Hey, Matt. Sini masuk. Aku nggak nyangka kamu datang ke sini.” Sapa perempuan itu dengan bahasa yang santai.Matthias pun tersenyum lalu sedikit membungkukkan badan ke arah Bayu sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah melewati pria itu. Ia masih tak menyangka akan bertemu dengan mantan suami Katerina di sini. Sepertinya ia yang salah memilih waktu untuk berkunjung. “Kakakmu belum pulang dari honeymoon?” Tanya Matthias saat sudah duduk di sofa ruang tamu. “Belum, masih lima hari lagi katanya.” Di saat yang sama
"Karena uncle itu lewat jalan yang ada di depan rumah ini, Niel." Katerina tahu jawabannya itu hanya karangan bebas. Daniel bahkan tanpa sadar mengernyitkan dahi seolah tidak puas dengan jawaban yang ia katakan. "Terus kenapa mukanya mirip Niel?" Kini ia bingung harus menjawab apa. Bagaimana menj
"Apa mereka kembali bersama?" Amanda tersenyum getir. Tangannya masih mencengkram kemudi dengan kuat meski Katerina dan Bayu sudah pergi dari halaman Cafe itu.Hatinya terasa panas hanya karena melihat mantan suami istri itu berbincang dari kejauhan. Ia juga bisa melihat bagaimana perhatiannya Bayu
"Terima kasih, Matt. Mari mampir dulu ke rumah kakak saya."Katerina yang akan keluar dari mobil Matthias tak lupa menawari laki-laki itu untuk singgah sebentar di rumah Andrea. Namun sayangnya tawaran itu langsung dijawab gelengan oleh Matthias."Terima kasih, Kate. Tapi mungkin lain kali saja, ya
Katerina kembali ke meja di mana Daniel, Matthias, Salsa dan Ben berada di sana. Tangannya membawa dua piring berisi makanan untuknya dan Daniel. Dari kejauhan ia bisa melihat anaknya sudah kembali ceria dan kini sedang bercanda dengan Salsa. Rasa lega menyelimuti hatinya.Tidak ada hal paling memb







