MasukMatthias mengalihkan tatapan lebih dulu. Laki-laki itu kemudian tersenyum, jelas sekali ada keterpaksaan di sana dan Katerina tahu akan hal itu. "Terima kasih karena telah memberi saya jawaban, Kate. Meski bukan sebagai pasangan, bisakah kita tetap berhubungan sebagai teman?""Ya tentu saja, Matt." Balasnya sembari tersenyum. Mungkin pertemanan adalah hal terbaik yang bisa ia berikan pada Matthias.Di saat yang sama, Bayu mendengarkan hampir semua percakapan Katerina dan Matthias dari balik tembok. Niatnya tadi ingin bertanya pada mantan istrinya itu di mana toples kukis milik Daniel karena anak mereka ingin kembali memakannya.Namun saat langkahnya hampir sampai ke ruang tamu, ia tak sengaja mendengar Katerina yang berkata tidak pada pernyataan Matthias. Ia sempat terkejut sesaat, tak menduga laki-laki bule itu ternyata sudah menyatakan perasaan pada Katerina. Berarti dugaannya selama ini tidaklah salah, Matthias memang menaruh rasa pada mantan istrinya.Untuk sesaa
Bayu langsung menatap ke arah Matthias. Entah kenapa setiap kali ia melihat laki-laki itu ada rasa panas di dadanya. Rasa cemburunya begitu membakar sampai ia berpikir jika bisa, ia akan meminta laki-laki itu untuk tidak lagi bertemu dengan Katerina atau pun Daniel."Papa, lihat! Lego Niel yang baru udah dibuat sama Uncle Matt, karena Uncle Dre nggak bisa. Bagus kan, Papa."Ucapan polos Daniel justru seperti bensin yang disiramkan di tengah kobaran api di hatinya. Tapi sebisa mungkin ia mengontrol dirinya di depan sang anak."Iya bagus, sayang." Ucapnya seraya mengulas senyum dan mengelus kepala sang anak.Daniel kemudian menarik tangan Bayu untuk ikut duduk di karpet yang penuh mainan, tepat di sebelah Matthias. Anak sekecil Daniel tak tahu bahwa suasana di antara orang dewasa di sekitarnya mendadak begitu canggung.Namun tiba-tiba Andrea justru meminta Katerina untuk mengajak Matthias mengobrol di ruang tamu saja. "Kate, kalau kamu mau mengobrol sama Matthias d
Daniel tak henti-hentinya mengunyah kukis buatanya dengan Eyang Sukma. Sepanjang perjalanan ke rumah mulut anak itu selalu terisi sampai membuat Katerina meringis melihatnya. Ia harus cepat-cepat menghentikan itu. Kukis itu banyak gulanya, dan anak sekecil Daniel tidak boleh terlalu banyak memakan gula."Niel, udah dulu ya makan kukisnya. Buat besok lagi." Ucapnya sambil menoleh sekilas ke arah sang anak yang duduk di kursi penumpang."Tapi kukisnya enak, Mama. Mau Niel habiskan.""Kalau habis nanti Niel nggak bisa makan lagi. Kan Mama nggak bisa buatnya.""Ya tinggal minta sama Eyang."Katerina mengembuskan napasnya pelan. Pintar sekali anaknya ini menjawab. "Loh tadi kan semua kukisnya Eyang dikasih ke Niel. Berarti kan Eyang udah nggak punya, sayang.""Nanti Niel sama Eyang buat lagi, Mama."Akhirnya Katerina tak mendebat lagi ucapan anaknya. Percuma saja jika ia melakukannya, Daniel pasti akan menjawabnya. Biarkan nanti kalau anaknya itu lengah, akan
Setelah kepergian Bayu dan Farel, Katerina mengajak Daniel untuk kembali ke rumah Eyang Sukma. Untungnya tadi anaknya itu tak kekeuh minta ikut dengan Bayu. Namun sekarang ia juga harus menghadapi pertanyaan kritis dari sang anak di tengah langkah kaki mereka ke arah rumah."Mama, kenapa Farel bilang Papa ke Papanya Daniel terus tadi bilang mau ketemu Papa Riki?""Karena Farel punya Papa dua." Jawab Katerina asal."Apa Daniel juga punya Papa dua, Mama?"Katerina meringis mendengar pertanyaan anaknya. Tentu ia tak mungkin menjelaskan masalah orang dewasa pada Daniel. Tapi di sisi lain ia juga tahu anaknya pasti akan terus bertanya jika jawaban yang ia berikan terasa tidak memuaskan."Nggak, dong. Daniel cuma punya satu Papa, yaitu Papa Bayu.""Kenapa Papa Niel cuma satu, Mama?"Katerina menatap wajah anaknya yang penuh dengan rasa penasaran dan juga bingung. Ia juga sebenarnya bingung menjelaskannya pada anaknya itu. Akhirnya Katerina menarik napas sambil
Semua orang yang ada ruang makan itu akhirnya menoleh ke arah seseorang yang Farel panggil Papa, yaitu Bayu. Hal itu seketika langsung membuat raut wajah Daniel bingung. Mengapa Farel juga memanggil Papanya sebagai Papa?"Itu kan Papanya Niel? Kok kamu panggil Papa?" Spontan Daniel berucap yang juga membuat Farel menatap anak itu dengan sama bingungnya."Itu Papa aku, Niel."Melihat kedua anak itu kebingungan, Eyang Sukma akhirnya bersuara. "Peluk dulu dong, Papanya."Seolah lupa dengan perdebatan kecil mereka, Daniel dan Farel berlari ke arah Bayu dan langsung memeluk kaki laki-laki itu.Bayu yang sedari tadi masih terdiam karena tak menyangka akan bertemu dengan Katerina dan Daniel di sini seketika terkejut kala kedua anaknya memeluk."Papa!!!" Panggil Daniel dan Farel bersamaan."Papa, Niel sama Farel mau main di taman yang di depan, Papa. Papa ikut, ya." Pinta Daniel tanpa basa-basi.Katerina yang mendengarnya langsung menegur sang anak. "Niel, Pa
"Itu rumahnya Eyang, Mama?" Itu adalah pertanyaan pertama Daniel saat menginjakan kaki di halaman rumah Eyang Sukma."Iya, sayang.""Kalau Niel mau main di sini dulu boleh, Mama?" Daniel berhenti berjalan dan memandangi taman yang ada di sisi kanan halaman rumah.Katerina pun akhirnya turut memperhatikan taman itu. Seingatnya dulu tidak ada taman di sana, hanya halaman kosong yang hanya dipenuhi rumput hijau. Sesekali rumput itu dipotong agar terlihat rapi.Tapi sekarang sisi halaman itu sudah berubah menjadi taman yang indah dengan berbagai bunga di sana. Di tengah taman ada air mancur berukuran sedang dan ada bangku panjang juga."Nanti kita main di taman, tapi ketemu Eyang dulu ya, ijin dulu sama Eyang. Kan tamannya punya Eyang.""Okay, Mama."Mereka kembali melanjutkan langkah ke arah rumah dan ketika ia memencet bel, tak lama kemudian seorang ART membukakan pintu untuknya. Ia lantas tersenyum dan menyapa ART tersebut."Selamat siang, Mbak. Saya K
Setelah napas mereka jauh lebih stabil, Bayu melepaskan penyatuan mereka dan mencium bibir Katerina dalam. Katerina yang masih bingung dengan ucapan Bayu sebelumnya menahan tubuh laki-laki itu saat akan menjauh."Kamu kok ngomong gitu tadi, Mas?"Bayu mengernyitkan dahi, "Ngomong apa, Cantik?""Tad
Dirga langsung membawa calon istrinya pergi setelah perempuan itu berbicara kurang sopan pada Bayu. Sedangkan Katerina dan Bayu masih berdiri saling berhadapan.Katerina merasa keadaan jadi lebih buruk dari sebelumnya. Ia tidak enak terhadap Bayu, Dirga, dan juga calon istri Dirga.Sedangkan Bayu t
"Hallo, Bayu...""Hallo, Amanda. Kamu ngapain telepon malam-malam?"Bayu berjalan keluar dari kamar, namun karena terburu-buru pintunya tak tertutup dengan rapat dan Bayu tak menyadari itu."Ayo temani aku minum..." Ucap Amanda di seberang sana.Bayu tahu arti minum yang perempuan itu baru saja kat
Setelah menemani Andrea membeli kado untuk anniversary, Katerina dan laki-laki itu memilih untuk masuk ke dalam restoran untuk makan malam dan menunggu Bayu di sana.Kebetulan mereka bertemu dengan Bu Lis dan Dirga serta kekasihnya yang juga sedang berada di restoran yang sama."Ya ampun, Mbak Kate







