Beranda / Romansa / Pernikahan tanpa Bahagia / Obsesi yang Berbahaya

Share

Obsesi yang Berbahaya

Penulis: Diko_13
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-18 15:12:55

Restoran itu masih penuh suara riuh ketika Aruna meninggalkan Rafka malam itu. Hujan deras menyapu kota, lampu jalan berpendar samar di balik kabut air. Langkah Aruna berat, tapi hatinya justru terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menunduk di hadapan suaminya.

Jika dia sungguh mencintaiku, biar dia yang membuktikan. Aku sudah cukup menderita.

---

Di dalam restaurant, Rafka masih duduk terpaku. Segelas wine di depannya tak tersentuh. Kata-kata Aruna terus terngiang di kepalanya: “Buktikan dengan tindakan. Kalau tidak... anggap saja pernikahan kita sudah berakhir.”

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Hatinya perih. Sejak kapan ia begitu bodoh membiarkan wanita yang selalu setia di sisinya merasa tidak berharga?

Aruna... aku masih mencintaimu. Aku hanya terlambat menyadarinya.

---

Sementara itu, di apartemen mewahnya, Melani duduk di depan cermin, menghapus riasan dengan gerakan kasar. Wajah cantiknya menegang, matanya penuh amarah.

Ia baru saja mendapat kabar dari seorang kolega bahwa Rafka bertemu Aruna malam ini. Tangannya meremas botol parfum di meja rias hingga hampir pecah.

“Dia masih menemui wanita itu...” bisiknya penuh kebencian.

Melani menatap bayangan dirinya di cermin. “Tidak. Aku tidak boleh kalah. Rafka milikku. Hanya milikku.”

Dengan cepat ia meraih ponsel, menekan nomor Rafka.

---

“Melani...” suara Rafka terdengar berat saat menjawab.

“Kau di mana?” suara Melani dingin.

“Jangan tanya. Aku butuh waktu sendiri.”

Keheningan sejenak, lalu Melani bertanya tajam, “Apa kau bersama Aruna?”

Rafka tidak menjawab. Hanya diam.

Itu sudah cukup bagi Melani. Tangannya bergetar menahan marah. “Kau tidak bisa terus menggantung antara aku dan dia, Raf. Kau harus memilih. Dan kau tahu aku pilihan yang lebih tepat.”

Rafka menutup telepon tanpa berkata apa-apa.

Melani terdiam, lalu tertawa kecil. Tawa itu terdengar getir, nyaris gila. “Baiklah. Kalau dia tidak bisa memilih... aku akan membuatnya memilih.”

---

Keesokan paginya, toko bunga Dian sedang sepi ketika Aruna menerima paket. Seorang kurir datang dengan kotak besar berwarna hitam, tanpa pengirim yang jelas.

“Untuk Bu Aruna,” katanya sambil menyerahkan.

Aruna bingung, tapi menerimanya. Saat membuka kotak itu, jantungnya hampir berhenti.

Di dalamnya ada setangkai mawar hitam yang layu, dengan secarik kertas bertuliskan:

“Tinggalkan Rafka, atau hidupmu yang akan layu sepertinya.”

Dian yang melihat isi kotak itu langsung terperanjat. “Astaga, Aruna! Siapa yang melakukan ini?”

Aruna gemetar, tapi ia tahu pasti siapa dalangnya. “Melani...”

---

Malamnya, Rafka datang ke toko. Wajahnya lelah, namun matanya penuh penyesalan.

“Aruna, kita harus bicara.”

Aruna menatapnya tajam. “Bicara? Tentang apa? Tentang bagaimana kekasihmu mengirimi ancaman?”

Rafka terkejut. “Ancaman? Apa maksudmu?”

Aruna menunjukkan kotak hitam itu. Rafka menatapnya lama, wajahnya mengeras. “Melani...” gumamnya penuh kemarahan.

Aruna bersuara tegas. “Lihat, Raf. Inilah wanita yang kau biarkan masuk ke hidup kita. Dia tidak hanya merebutmu, tapi juga mencoba menyingkirkanku. Masihkah kau buta?”

Rafka terdiam, dadanya naik turun. Untuk pertama kalinya, ia merasakan amarah bukan pada Aruna, melainkan pada Melani.

---

Sementara itu, Melani duduk di bar mewah, meneguk minuman dengan mata liar. Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.

Ponselnya bergetar—sebuah pesan masuk. Dari nomor tak dikenal.

[?:] Apa kau yakin dia akan memilihmu? Kadang cinta yang dipaksakan justru berakhir menghancurkan segalanya.

Melani mendengus, lalu membalas cepat.

[Melani]: Aku tidak peduli. Aku akan punya dia, dengan cara apa pun.

---

Beberapa hari berlalu, Rafka mulai sering datang ke toko bunga. Ia tidak selalu bicara banyak, hanya duduk diam sambil memperhatikan Aruna bekerja.

Dian sempat menggoda, “Dia mulai sadar siapa yang sebenarnya berharga.”

Aruna hanya tersenyum hambar. “Aku tidak bisa percaya begitu saja, Dian. Aku sudah terlalu sering disakiti.”

Namun jauh di lubuk hatinya, ia merasakan sesuatu. Sebuah cahaya kecil dari cinta lama yang belum sepenuhnya padam.

---

Suatu sore, ketika toko hampir tutup, Dira datang lagi. Kali ini ia membawa sekotak cokelat kecil.

“Untukmu,” katanya sambil tersenyum. “Aku tahu kau sering lupa makan karena sibuk bekerja.”

Aruna terharu, menerima dengan tangan gemetar. “Kau terlalu baik, Dira.”

Dira menatapnya dalam-dalam. “Bukan soal baik. Aku hanya tidak tahan melihatmu terus terluka. Kau pantas bahagia, Aruna. Dengan atau tanpa Rafka.”

Kata-kata itu membuat hati Aruna bergetar. Ia menunduk, tak sanggup menatap balik.

Di luar toko, dari dalam mobil mewahnya, Melani mengamati. Matanya menyipit saat melihat Aruna tertawa kecil bersama Dira.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” gumamnya dengan suara penuh kebencian.

---

Malam itu, Aruna menerima telepon tak dikenal. Suaranya samar, tapi ia bisa mengenali nada dingin itu.

“Kalau kau berani terus mendekat ke Rafka,” bisik Melani, “aku pastikan hidupmu akan jauh lebih sengsara dari sekarang.”

Aruna menggenggam ponsel erat. Namun kali ini ia tidak menangis. Ia menjawab dengan suara bergetar tapi tegas, “Lakukan apa pun yang kau mau, Melani. Aku tidak takut lagi.”

Klik. Telepon terputus.

Di balik ketakutannya, Aruna merasa anehnya lega. Ia telah menghadapi musuhnya langsung. Dan ia tahu, ini baru awal dari perang yang lebih besar.

---

Di sisi lain kota, Rafka berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu kota. Hatinya diliputi dilema. Ia tahu harus memilih, dan hatinya tahu siapa yang benar-benar ia cintai.

Aruna... maafkan aku. Aku akan menebus semuanya.

Namun ia tidak sadar, Melani sudah menyiapkan langkah berikutnya—langkah yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ancaman bunga layu.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan tanpa Bahagia   Jejak yang Ditukar Darah

    Langkah Arrel menembus hutan utara dengan irama yang mantap, meski pikirannya berkecamuk. Pepohonan menjulang seperti dinding raksasa, menghalangi sinar matahari yang hanya jatuh dalam garis-garis tipis di tanah. Aroma lumut, tanah basah, dan dedaunan yang baru tersentuh embun memenuhi udara.Ia berjalan cepat, namun tidak tergesa. Setiap gerakan terukur. Setiap tarikan napas penuh kewaspadaan.Ghaeron bukan musuh yang bisa diremehkan. Dan kelompok lamanya—yang kini tampaknya tumbuh menjadi kekuatan liar—tidak lagi sama seperti saat ia pergi.Di atas kepala, burung-burung hitam terbang rendah, seolah mengabarkan kedatangan badai.Arrel menghentikan langkah ketika mendengar suara ranting patah di kejauhan.Ia meraba gagang kapaknya.Satu… dua… tiga langkah mendekat.“Hentikan,” serunya tanpa berbalik. “Aku tahu kau mengikuti dari tadi.”Hening sejenak.Lalu suara tawa lirih muncul di balik semak-semak.“Aku lupa… kau ini seperti serigala. Peka pada setiap langkah.”Arrel memutar tubuhn

  • Pernikahan tanpa Bahagia   Bayang-Bayang yang Muncul Kembali

    Fajar belum sepenuhnya naik ketika Arrel terbangun. Matahari masih tersembunyi di balik bukit, meninggalkan semburat oranye tipis di langit. Udara pagi membawa hawa lembap bercampur bau tanah basah. Dia duduk di tepi ranjang sederhana yang diberikan warga desa untuk sementara, membiarkan pikirannya berputar tanpa arah.Tidak ada mimpi. Tidak ada bayangan. Tapi dadanya terasa berat.Seolah semalam, seseorang telah menggenggam jantungnya erat-erat dan menolak melepaskannya.Pintu kamar diketuk pelan.“Arrel? Sudah bangun?” Suara Lyana terdengar.Arrel berdiri, membuka pintu. Lyana berdiri dengan rambut yang masih sedikit kusut, wajah lelah, namun matanya tetap penuh tekad.“Kepala desa ingin bertemu,” katanya. “Katanya ada seseorang yang datang malam tadi membawa kabar.”Arrel mengerutkan kening. “Kabar apa?”Lyana menggeleng. “Dia tidak bilang. Tapi ekspresinya… sepertinya penting.”Arrel langsung mengambil kapaknya yang encoknya sudah ia bersihkan semalam, lalu memasangnya di punggung

  • Pernikahan tanpa Bahagia   Jejak yang Tersisa

    Angin malam berembus lembut melewati sela-sela pepohonan tua ketika Arrel dan Lyana akhirnya berhenti di tepi sungai kecil yang mengalir tenang. Lelaki itu menurunkan kapaknya, duduk di batu besar, dan menarik napas panjang, seolah mencoba menenangkan gejolak yang sejak tadi menyesakkan dadanya.Lyana berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatap punggung Arrel yang tampak lebih berat dari biasanya—seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan, sesuatu yang tidak ingin ia biarkan keluar.“Arrel…” panggil Lyana pelan.Arrel tidak langsung menjawab. Ia hanya memukul-mukul ujung sepatu boot-nya ke tanah basah, menatap air sungai yang memantulkan bayangan mereka. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bicara, suaranya lirih namun jelas.“Aku merasa seperti kembali mundur, kembali pada diriku yang dulu. Dan itu… tidak pernah menjadi hal yang baik.”Lyana mendekat, duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Ia hanya menunggu. Karena ia tahu, Arrel tidak butuh nasehat saat ini—ia butuh seseorang yan

  • Pernikahan tanpa Bahagia   DI ANTARA YANG DIAM DAN YANG TERLUKA

    Malam itu hujan turun perlahan, menelusuri jendela apartemen seperti jejak air mata yang tak terlihat. Aruna berdiri di ruang tamu, memeluk dirinya sendiri seperti mencoba meredam getaran di dadanya. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah tiga jam ia menunggu Rafka pulang.Tiga jam penuh kecemasan.Tiga jam penuh pikiran yang berusaha ia bantah, namun semakin lama semakin menyakitkan.Ponsel di meja kopi bergetar, tapi Aruna tahu itu bukan dari suaminya. Nama Mama muncul di layar, pesan singkat seperti tamparan halus di pipi:[Mama]: Nak, kalau butuh pulang, rumah selalu terbuka untukmu.Aruna menelan ludah. Ia ingin pulang, ingin berada di pelukan ibunya, tapi ia juga tahu bahwa pergi tanpa bicara dengan Rafka hanya akan memperburuk keadaan. Ia masih ingin berusaha—atau setidaknya memberi penjelasan terakhir sebelum semuanya runtuh.Suara pintu elektronik berbunyi pelan.Aruna mendongak.Rafka masuk dengan langkah berat. Jas hitamnya basah di bahu, rambutnya sedikit acak.

  • Pernikahan tanpa Bahagia   Di Antara Hujan yang Belum Reda

    Hujan kembali turun malam itu, seperti kebiasaan lama yang enggan benar-benar pergi. Rintiknya menimpa jendela apartemen Rania satu per satu, menghasilkan denting-denting lembut yang mengisi ruangan dengan kesunyian yang justru menenangkan. Kota Jakarta tampak kabur di luar sana—lampu-lampu gedung memantul dalam kaca yang basah, membentuk garis cahaya yang seolah ikut menangis bersama langit.Rania duduk di sofa, tubuhnya berselimut selimut tipis berwarna biru pucat. Di meja kopi di hadapannya, secangkir teh yang ia buat sejak setengah jam lalu sudah kehilangan uapnya. Namun ia tetap memandanginya, seolah seduhan itu bisa memberi jawaban yang sudah berhari-hari ia cari.Ponselnya tergeletak di sisi kanan. Layar yang sesekali menyala hanya menampilkan notifikasi pekerjaan—editor, penerbit, jadwal wawancara. Tidak ada satu pun pesan dari Arka.Dan anehnya, itu justru membuat dadanya terasa lebih kosong daripada yang ia kira.Sudah hampir dua minggu sejak pertengkaran besar itu. Dua ming

  • Pernikahan tanpa Bahagia   Saat Luka Lama Menemukan Suaranya

    Alya menatap pantulan dirinya di cermin rias kamar rumah sakit, sesuatu yang seharusnya sederhana tetapi malam ini terasa jauh lebih berat dari biasanya. Matanya masih sembap, tetapi ada sinar yang berbeda—bukan lagi ketakutan, melainkan semacam keberanian yang lahir dari keputusasaan yang sudah melewati batas.Di belakangnya, pintu kamar terbuka pelan.“Alya…” suara Ardan terdengar serak, lebih dalam daripada biasanya.Alya tak menjawab. Tangannya yang gemetar perlahan menurunkan alat rias yang tadi ia gunakan untuk menyamarkan bekas air mata. Ia tahu Ardan sudah berdiri beberapa langkah darinya tanpa perlu menoleh.Pria itu menarik napas panjang. “Kita perlu bicara.”“Kita sudah bicara,” sahut Alya datar, suaranya pecah di akhir kata. “Kau yang memilih tidak mendengarkan.”Ardan mendekat, tetapi langkahnya ragu—seolah takut menyentuh batas sabar Alya yang sudah terlalu tipis. Aura dingin yang biasanya menjadi perisainya kini terlihat retak, namun justru itu membuat Alya semakin bing

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status