Share

Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih
Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih
Author: Moore

Bab 1 

Author: Moore
Ketika Xavier memberitahuku untuk keenam kalinya bahwa dia belum mendapat undian keberuntungan tahun ini dan tidak bisa menikahiku. Dia memintaku untuk menunggu satu tahun lagi.

Aku hanya mengangguk tenang dan menyahut, "Oke."

Kata-kata bujukan Xavier sepertinya tersangkut di tenggorokannya. Dia menatapku dengan heran. "Lia, kamu marah?"

Dia menghela napas dan memelukku erat. "Keberuntungan itu sesuatu yang nggak terduga. Mungkin aku akan dapat undian keberuntungan tahun depan!"

Aku membenamkan wajahku di dadanya. Air mata mengalir di pipiku. "Itu nggak penting lagi."

Jika aku tidak mendengar percakapannya dengan tangan kanannya dua jam sebelumnya, aku akan dengan bodohnya percaya bahwa gagal mendapatkan undian keberuntungan selama enam tahun berturut-turut benar-benar adalah masalah keberuntungan. Sekarang, aku akhirnya tahu itu semua disengaja. Dia berbohong padaku selama lima tahun penuh demi Lyra.

Lima tahun yang lalu, Xavier membawa Lyra kembali ke vila dan secara pribadi mengatur akomodasi terbaik untuknya. Dia berkata kepadaku, "Ayah Lyra meninggal saat menyelamatkanku. Aku mau membalas budinya. Kebetulan, Lyra tumbuh besar di Scopia. Jadi, aku membawanya kembali untuk memperluas wawasannya."

Saat itu, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku justru sangat bersyukur karena ayah Lyra telah menyelamatkan Xavier. Jadi, aku tidak pernah membayangkan dia akan mengajukan permintaan yang begitu luar biasa kepada Xavier. Yang tidak bisa kupercaya adalah Xavier benar-benar menyetujui permintaan absurd itu.

"Apanya yang nggak penting? Sebelumnya, aku cuma kurang beruntung. Tahun depan, aku pasti akan dapat undian keberuntungan!"

Nada bicaranya begitu percaya diri, seolah-olah semuanya berada di bawah kendalinya. Tentu saja, aku mengerti alasannya. Akan tetapi, setelah hari ini, kami tidak akan berhubungan lagi.

Sehari sebelum undian, seorang tetua dari Keluarga Kane secara khusus menemuiku.

"Ini adalah kesempatan terakhir Xavier untuk bebas memilih pasangan hidupnya. Kalau dia masih nggak dapatkan undian keberuntungan, itu membuktikan bahwa pernikahan kalian nggak diberkati Tuhan. Menurut aturan leluhur Keluarga Kane, dia nggak akan lagi punya hak untuk pilih pasangan hidupnya sendiri."

Saat berbicara, tetua itu menatapku dengan penuh arti dan melanjutkan, "Sudah enam tahun. Kamu juga harus siap. Kalau nggak bisa menikahi Xavier, kamu harus terima dijodohkan keluarga. Kamu itu anak yang kusaksikan tumbuh besar sejak kecil. Jadi, aku akan buat pengecualian dan kasih kamu kesempatan untuk memilih."

Dia memberiku hak untuk memilih dan daftar calon pasangan yang memenuhi syarat dari berbagai keluarga. Hari itu, aku sangat menentang pengaturan tetua itu. Aku juga dengan percaya diri mengatakan bahwa Xavier pasti akan mendapatkan undian keberuntungan kali ini dan kami akan segera menikah.

Namun, kenyataan memberiku pukulan yang keras. Percakapan yang kudengar setelahnya benar-benar menghancurkan harapanku.

Baru saja Xavier hendak membuat janji lain, pintu kamar tiba-tiba dibuka. Lyra menjulurkan kepalanya dan menjulurkan lidah dengan nakal. "Maaf sudah mengganggu kalian, tapi aku harus berbuat begini ...."

Dia melambaikan tangan dengan panik ke arah Xavier, tanpa melirikku sekali pun. "Kak Xavier, mobil sopir sudah datang. Kita harus segera berangkat!"

"Oke!"

Xavier melepaskanku dan menjelaskan dengan nada meminta maaf, "Lyra mau beli tas Hermes model terbaru. Tentu saja, aku juga nggak akan melupakan bagianmu. Aku sudah pesankan tas Chanel yang kamu suka!"

Dia menarikku ke arah pintu, tetapi aku dengan lembut mendorongnya. "Aku merasa nggak enak badan. Kalian pergi saja."

Xavier tidak senang dengan penolakanku. Namun, karena didesak oleh Lyra, dia hanya berkata dengan buru-buru, "Jangan marah. Aku akan bawakan kamu hadiah waktu aku kembali."

Kata-kata itu ditujukan kepadaku, tetapi matanya tetap tertuju pada Lyra. Tatapannya dipenuhi dengan kelembutan yang bahkan tidak sadari dirinya sendiri.

Sambil melihat mobil itu melaju pergi, aku menghubungi nomor tetua keluarga.

"Aku setuju dengan perjodohan yang diaturkan keluarga."

Tidak seperti penolakan keras sebelumnya, kali ini, aku dengan rela menerima perjodohan yang diaturkan tetua tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 10 

    Sean langsung mengerutkan kening dan tatapannya menjadi dingin. Dia secara refleks menggendong Joseph dengan lebih erat dan merangkul bahuku dengan tangan lainnya."Kamu mau temui dia?" tanyanya dengan suara rendah. Dia sepenuhnya menyerahkan keputusan itu kepadaku.Aku menggeleng, lalu mengangguk. "Ada beberapa hal yang mungkin perlu dikatakan dengan jelas," ucapku dengan tenang. Kemudian, aku memberi instruksi kepada pengawal, "Suruh dia tunggu di luar gerbang taman." Melalui gerbang besi tempa yang berornamen namun dingin itu, aku melihat Xavier lagi. Dia sudah jauh lebih kurus. Matanya menunjukkan kelelahan yang tak dapat disembunyikan dan kekeraskepalaan yang hampir mendekati kegilaan. Penampilannya sama sekali tidak cocok dengan suasana taman yang tenang dan bahagia."Lia ...." Suaranya terdengar serak dan kering. Tatapannya menyapu wajahku dengan rakus sebelum tertuju pada Sean di sampingku dan Joseph dalam pelukannya. Kemudian, matanya menyipit tajam."Pak Xavier." Aku berbic

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 9 

    Setahun kemudian, di Sisile.Namun, kenyataannya tidak berjalan seperti yang diharapkan Lyra.Sinar matahari yang hangat menyinari seluruh halaman. Aku duduk di kursi rotan di taman dan memperhatikan Sean yang berada tidak jauh dariku dalam diam. Dia sedang menunduk dan bermain dengan putra kami yang belum genap satu tahun. Si kecil tertawa tanpa henti. Tangan mungilnya mencengkeram ujung jari Sean erat-erat.Setahun yang lalu, aku tidak dapat membayangkan kedamaian dan kebahagiaan seperti ini. Sebenarnya, hubunganku dengan Sean sudah terjalin sejak lama. Beberapa tahun lalu, kami pernah bertemu di sebuah acara amal untuk kalangan atas di Nepilo. Sean hadir sebagai perwakilan Keluarga Olsen. Meskipun masih muda, dia sudah sangat berwibawa.Di tengah gemerlap lampu lantai dansa, mata kami bertemu sejenak dan dia menatapku dalam-dalam. Tatapannya mengandung pengamatan yang tenang dan ... sesuatu yang tak kumengerti saat itu. Selain itu, aku juga tidak punya waktu untuk memahaminya.Seme

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 8 

    Setelah kembali ke Scopia dan kehilangan perlindungan Xavier, Lyra benar-benar panik. Sebelumnya, dengan mengandalkan ayahnya sebagai penyelamat Xavier, dia bisa keluar masuk dengan bebas di Vila Keluarga Kane, berpakaian rapi, dan dihormati semua orang.Dia tenggelam dalam kemuliaan semu, lalu berbicara dan bertindak dengan sombong. Dia telah menyinggung semua orang di Scopia sejak lama. Sekarang, dia diusir dengan menyedihkan dan kehilangan segalanya dalam semalam.Saat dia kembali ke Scopia dengan langkah lesu, yang menyambutnya bukan rasa simpati dari orang-orang, melainkan ejekan, pengucilan, dan tatapan dingin.Orang yang pernah iri padanya memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkannya. Orang yang pernah disinggungnya mengejeknya secara terang-terangan. Bahkan para tetangga juga menghindarinya, seolah-olah dia adalah wabah penyakit. Kata-kata mereka penuh dengan penghinaan ...."Bukannya hidupnya begitu glamor sebelumnya? Kenapa dia kembali sekarang?""Seharusnya karena gagal mena

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 7

    Saat perintah pengurungan dikeluarkan, Xavier langsung ambruk. Terperangkap dalam sangkar megah ini, hatinya dipenuhi obsesi. Dia berusaha menerobos penjagaan pengawal supaya bisa menemuiku dan menuntut penjelasan.Apakah aku pergi hanya karena ucapan marahnya mengenai aku tidak layak menempati posisi istri kepala klan? Itu hanyalah ledakan emosi sesaat. Apakah hanya karena aturan leluhur sialan itu, aku dengan mudahnya menyerah pada hubungan kami yang telah berjalan tujuh tahun?Dalam pikirannya yang keras kepala, dia masih menganggap kepergianku sebagai "kesalahpahaman" atau "merajuk" yang bisa dijelaskan dan ditebus.Sampai suatu hari, Lyra menerobos penjagaan pengawal dan muncul di depan pintu kamarnya. Dia mengenakan gaun elegan dan riasan indah, juga berusaha sebaik mungkin untuk meniru kelembutanku di masa lalu."Kak Xavier ...." Xavier bahkan tidak mendongak. Suaranya sedingin es saat bertanya, "Siapa yang izinkan kamu masuk?""Aku mengkhawatirkanmu." Lyra mendekat selangkah d

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 6

    "Palsu ... semua ini palsu!" seru Xavier ke udara. "Dia cuma membohongiku! Dia sengaja sembunyikan semua barangnya dan ciptakan berita itu cuma untuk paksa aku mengaku kalah!" Dia menolak menerima apa yang terjadi di hadapannya. Dia merasa aku sangat mencintainya dan sudah menunggunya selama tujuh tahun. Jadi, aku tidak mungkin pergi dan menikahi orang lain dengan semudah itu. Dia mengira ini adalah balas dendam yang kurencanakan dan "ngambek" paling hebat yang pernah kulakukan.Seperti binatang buas yang terkurung, Xavier bergegas kembali ke Vila Keluarga Kane, lalu mengerahkan setiap koneksi yang dimilikinya untuk mencari keberadaanku. Dia berulang kali menghubungi nomor yang sudah lama tidak aktif itu, juga mengirim orang untuk mengawasi setiap tempat yang mungkin kukunjungi.Tangan kanannya dengan jelas memberitahunya bahwa aku telah tiba di Sisile dan menikah di Katedral Pulermo kemarin. Namun, dia dengan marah mengecam semuanya sebagai "kebohongan" dan "konspirasi Sean".Dia mul

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 5 

    Beberapa hari kemudian, melihat aku masih belum menghubunginya, Xavier makin gelisah dan mengirim tangan kanannya untuk mencari tahu keberadaanku. Namun, kabar yang dibawa tangan kanannya membuat hatinya tenggelam. Aku sudah keluar dari rumah sakit, juga langsung meninggalkan Nepilo tepat pada hari aku keluar dari rumah sakit."Dia sudah pergi?" Xavier tertegun sejenak, lalu mengejek, "Dia bisa pergi ke mana? Dia paling-paling cuma pindah tempat untuk menjernihkan pikirannya dan mau menarik perhatianku." Berhubung merasa frustrasi, dia bangkit dan pergi ke koridor di luar kamar rawat supaya bisa menghirup udara segar. Dua perawat muda mendorong troli obat dan berjalan melewatinya. Dia mendengar bisikan gembira mereka."Kamu sudah lihat foto-foto pernikahan pewaris Keluarga Olsen? Lihat yang ini! Konon, ekor gaun pengantinnya sepanjang sembilan meter dan disulam dengan benang emas asli!"Perawat lainnya mencondongkan tubuh lebih dekat. Suaranya dipenuhi rasa iri dan fantasi, "Bukan cum

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 4 

    Xavier sedang menemani Lyra. Dia duduk di kamar rawat inap, tetapi hatinya terasa gelisah. Dia masih menungguku menunduk dan meminta maaf kepada Lyra atas apa yang terjadi di café.Lyra bersandar padanya, lalu berpura-pura mengerti dan menasihatinya, "Kak Xavier, kamu nggak pergi jenguk Kak Celia?"

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 3

    Xavier tertegun sejenak, lalu menghela napas lega. Dia berkata kepadaku dengan ekspresi santai, "Sudah kutahu Lia memang paling pengertian. Lyra masih muda. Kamu ngalah saja sama dia."Seusai berbicara, dia buru-buru keluar dari toko sambil berujar, "Aku akan minta asisten penjualan toko Chanel untu

  • Pernikahan yang Tak Pernah Terpilih   Bab 2 

    Di kafe yang telah disepakati, tetua itu menyerahkan sebuah daftar kepadaku dengan puas."Lia, baguslah kamu bisa berpikir terbuka. Ini adalah para pemuda yang kupilih dengan cermat. Mereka itu yang terbaik, mau itu dalam penampilan maupun karakter. Pilih saja salah satu yang kamu suka." Aku tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status