Share

Bab 3

Author: Antonia
Avena berlutut di depan altar penghormatan putrinya semalaman.

Menjelang fajar, darah di telapak tangannya telah mengering. Ketika bergerak sedikit saja, rasa sakitnya menusuk hingga ke tulang. Dia menopang tubuhnya dengan tangan dan hendak berdiri. Namun lututnya mendadak lemas, membuatnya terduduk kembali.

Sinar matahari pagi menembus jendela besar dan menyelimuti seluruh ruang tamu dengan cahaya keemasan yang tipis. Di atas altar, bingkai foto yang baru memantulkan cahaya. Senyum Nina tampak begitu jelas diterangi cahaya pagi.

Menatap foto itu, Avena tiba-tiba teringat ulang tahun Nina yang ketiga.

Saat itu dia masih bisa berbicara. Dia menggendong Nina sambil menunjuk lilin di atas kue ulang tahun.

"Nina, buatlah permohonan."

Nina menyatukan kedua tangan mungilnya, lalu berkata dengan suara lembut khas anak kecil, "Nina berharap Papa dan Mama selalu bersama, dan Nina bisa makan stroberi selamanya."

Di samping mereka, Cassian tersenyum sambil merekam video dengan ponselnya.

"Keinginan Nina pasti akan terwujud."

Saat itu, Selina belum kembali ke tanah air. Saat itu, semuanya masih begitu indah.

Avena memejamkan mata, mengusir semua kenangan itu dari pikirannya. Cassian berjalan menghampirinya sambil membawa nampan berisi sarapan. "Avena, kita perlu bicara."

Tatapannya jatuh pada tangan Avena yang sudah diperban, alisnya langsung berkerut. "Tanganmu ... kenapa kemarin kamu nggak bilang kalau lukanya separah ini?"

Avena tidak memandangnya, juga tidak melirik sarapan itu. Dia berdiri dan bersiap menuju kamar mandi.

"Tunggu." Cassian mencengkeram pergelangan tangannya dengan tenaga yang cukup kuat. "Soal semalam, aku minta maaf. Aku nggak seharusnya mendorongmu. Tapi aku harap kamu bisa mengerti. Selina itu ...."

Avena mengibaskan tangannya hingga terlepas.

"Avena!" Suara Cassian dipenuhi amarah yang selama ini dia tahan.

"Sampai kapan kamu mau terus seperti ini? Nina sudah pergi tiga tahun! Hidup kita harus terus berjalan! Selina juga sudah membayar harga atas semua ini. Memangnya kamu masih ingin apa lagi darinya? Apa dia harus mati untuk menebus dosanya?"

Avena menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatapnya.

Matanya sangat tenang. Namun di balik ketenangan itu, Cassian melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar karena gelisah.

"Hari ini aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk ganti perban."

Nada bicara Cassian akhirnya melunak. Dia mengangkat tangan hendak menyentuh wajah Avena, tetapi Avena kembali memalingkan kepala dan menghindarinya.

"Jangan keras kepala." Nada bicara Cassian kembali mengeras. "Kalau lukanya nggak ditangani dengan baik, bisa infeksi."

Tanpa memberi kesempatan Avena menolak, dia langsung menarik Avena keluar.

Avena berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan Cassian. Pada akhirnya dia tetap didorong masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada satu kata pun yang terucap.

Beberapa kali Cassian ingin membuka pembicaraan. Namun setiap kali melihat wajah Avena yang dingin dan tanpa ekspresi, semua kata-kata itu kembali dia telan.

Saat dokter membersihkan luka Avena, Cassian berdiri di samping. Begitu melihat luka yang menembus telapak tangannya, dia langsung terkesiap.

"Kenapa bisa separah ini?"

Dokter mengernyit.

"Pecahan kacanya menusuk sangat dalam sampai mengenai tendon. Luka ini harus dijahit dan pasien juga perlu suntikan tetanus. Kenapa baru datang sekarang?"

Avena menundukkan mata tanpa menjawab.

Cassian berdiri di samping dengan wajah muram. Luka itu dijahit lima jahitan, lalu Avena menerima suntikan tetanus. Selama seluruh proses itu, Avena tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan alisnya tidak berkerut. Dia hanya menatap langit-langit dengan tenang.

Beberapa kali Cassian ingin mengatakan sesuatu, tetapi setiap melihat tatapan kosong di mata Avena, dia kembali mengurungkan niatnya.

Setelah keluar dari rumah sakit, dia mengantar Avena pulang.

"Aku harus menghadiri rapat dulu. Setelah selesai, aku akan pulang. Selina sedang beristirahat di kamar tamu. Jangan ganggu dia."

Avena bahkan tidak menoleh. Dia langsung masuk ke lift.

Apartemen itu sangat sunyi. Avena berjalan lurus menuju kamar anak yang dulu ditempati Nina. Begitu membuka pintu, dia terpaku. Ada seseorang di dalam.

Selina mengenakan piama sutra milik Avena. Dia sedang berdiri di depan meja belajar kecil milik Nina sambil memegang sebuah kotak musik. Kotak musik itu dibuat sendiri oleh Avena sebagai hadiah ulang tahun Nina yang ketiga.

Begitu tutupnya dibuka, seorang gadis kecil bergaun balet akan berputar menari, diiringi alunan lagu "Für Elise".

"Lucu sekali kotak musik ini."

Selina menoleh. Saat melihat Avena, dia tersenyum pelan tanpa sedikit pun terlihat gugup.

"Kak Avena, kamu sudah pulang? Gimana tanganmu? Sudah baikan?"

Tatapan Avena jatuh pada kotak musik itu, lalu perlahan beralih ke wajah Selina.

"Aku bangun pagi dan nggak bisa tidur lagi, jadi aku jalan-jalan sebentar."

Selina meletakkan kotak musik itu, lalu berjalan mendekati Avena dengan nada lembut. "Cassian bilang aku nggak perlu sungkan. Anggap saja ini rumahku sendiri. Kak Avena nggak keberatan, 'kan?"

Avena tidak bergerak.

Selina berhenti tepat di depannya. Tiba-tiba dia merendahkan suara, sementara sudut bibirnya melengkung membentuk senyum manis. "Tahu nggak? Kemarin waktu melihat foto putrimu, aku jadi berpikir. Waktu dia meninggal, apa dia juga semanis itu? Jatuh dari tempat setinggi itu pasti sangat sakit, ya?"

Napas Avena terhenti sesaat.

"Sebenarnya ...."

Selina mendekat lagi. Suaranya begitu pelan, nyaris seperti bisikan. "Hari itu di gudang, aku bukan nggak sengaja."

Tangan Avena mulai gemetar. "Aku sengaja melepaskannya."

Selina tersenyum. Di matanya berkilat cahaya penuh kebencian. "Anak kecil itu terlalu berisik. Dia terus menangis sampai para penculik pun merasa kesal. Aku pikir, kalau dia nggak ada, mungkin Cassian akan lebih banyak memperhatikanku."

Waktu seolah berhenti.

Avena bisa mendengar suara darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Bisa mendengar jantungnya menghantam rongga dada tanpa henti. Dan dia juga bisa mendengar sesuatu di dalam benaknya ... kewarasannya yang terakhir akhirnya hilang sepenuhnya.

Selina masih terus berbicara.

"Lagi pula aku punya surat keterangan gangguan jiwa. Aku nggak mungkin dijatuhi hukuman mati. Cuma tiga tahun saja. Lihat, sekarang bukankah aku baik-baik sa ...."

Kalimatnya terputus. Karena Avena sudah mencengkeram rambutnya. Begitu kuat hingga Selina menjerit kesakitan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Avena menyeretnya menuju tangga. Selina menjerit histeris sambil meronta, tetapi tangan Avena mencengkeram rambutnya sekeras penjepit besi.

"Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku! Cassian! Cassian, tolong aku!"

Avena sama sekali tidak menghiraukan teriakannya. Dia mencengkeram rambut Selina, menatap lurus ke sepasang mata yang kini dipenuhi ketakutan.

Lalu, dia mendorong Selina sekuat tenaga.

Jeritan Selina mendadak terputus. Tubuhnya terjungkal ke belakang dan menggelinding menuruni tangga. Suara tubuh yang menghantam anak tangga terdengar berat dan tumpul berulang kali. Hingga akhirnya semuanya kembali sunyi.

Avena berdiri di puncak tangga, menatap ke bawah. Selina meringkuk di lantai tanpa bergerak sedikit pun. Darah perlahan menyebar dari bawah tubuhnya.

Avena bahkan tidak meliriknya untuk kedua kali. Dia berbalik dan kembali ke kamar anak.

Dia memungut boneka beruang Teddy itu, menepuk-nepuk debu yang menempel dengan lembut, lalu memeluknya ke dalam pelukan.

Matahari di luar bersinar begitu hangat. Cahayanya jatuh tepat di wajah Avena. Dia memejamkan mata, lalu menarik napas panjang.

Kemudian, dia tersenyum. Setelah itu dia berdiri dan tidak lagi menoleh ke arah Selina, lalu berbalik dan berjalan naik ke lantai atas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 19

    Tiga bulan kemudian, di sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.Negara kecil itu mengandalkan pariwisata sebagai industri utamanya. Pemandangannya indah dan penduduknya hidup sederhana serta ramah. Di pulau itu terdapat sebuah panti asuhan bernama "Rumah Cahaya Bintang", yang menampung lebih dari 20 anak yang kehilangan tempat tinggal.Relawan yang baru datang adalah seorang wanita dari timur. Dia sangat pendiam dan jarang berbicara, tetapi semua anak menyukainya. Dia menguasai bahasa isyarat dan sering menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak.Dia juga pandai membuat kue stroberi yang lezat. Setiap Rabu sore saat waktu minum teh, semua anak pasti bisa menikmati kue buatannya.Selain itu, dia juga pandai membuat kotak musik. Dari barang-barang bekas, dia menciptakan boneka kecil yang bisa berputar dan menari, dengan lagu "Bintang Kecil" sebagai pengiringnya.Meskipun kemampuan bicaranya sudah pulih, dia tetap enggan banyak berbicara. Karena itu,

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 18

    "Aku selalu berpikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir kamu akan memaafkanku. Aku selalu berpikir semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Tapi aku salah. Terkadang, ada kesalahan yang nggak akan bisa lagi diperbaiki."Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke pelipisnya sendiri. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku bersedia."Tatapan Avena sempat bergetar sesaat, tetapi segera kembali tenang."Cassian, berhentilah berpura-pura. Kamu bukan orang yang akan bunuh diri. Kamu nggak akan rela kehilangan perusahaanmu, kedudukanmu, dan nama baikmu. Kamu hanya akan memilih 'pilihan yang paling masuk akal' bagimu sendiri, sama seperti tiga tahun yang lalu."Tangan Cassian bergetar.Avena benar. Dia memang bukan orang yang sanggup bunuh diri. Dia takut mati. Takut kehilangan segalanya. Takut jatuh dari puncak kehidupan. Namun, yang lebih dia takuti adalah menjalani sisa hidup di dalam kebencian Avena."Kalau aku benar-benar memilih mati?" tanyanya pelan. "Kal

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 17

    "Maaf ...." Cassian kembali mengucapkan kata itu.Namun, dia tahu. Semuanya sudah terlambat."Nggak ada gunanya lagi kata maaf, Cassian," ujar Avena pelan."Permintaan maaf nggak bisa menghidupkan Nina kembali. Nggak bisa mengembalikan suaraku. Nggak bisa mengembalikan hidup kita seperti dulu. Kata 'maaf' adalah hal yang paling nggak berguna di dunia. Itu hanyalah alasan yang digunakan para pengecut untuk membebaskan diri dari rasa bersalah."Dia berjalan menghampiri Selina, lalu berjongkok di depannya, menatap kedua mata yang perlahan kehilangan cahaya."Selina, di kehidupan berikutnya ... jadilah orang yang baik."Untuk terakhir kalinya, mata Selina bergerak sedikit. Dia memandang Avena, lalu tatapannya membeku untuk selamanya.Selina telah mati. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah dan jiwa yang dipenuhi dosa. Dia meninggal di pulau terpencil yang tidak diketahui siapa pun.Avena berdiri. Dia memandang Selina untuk terakhir kalinya, lalu menoleh kepada Cassian. "Sekarang gilira

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 16

    Cassian menunggu di pegunungan selama satu minggu. Avena tidak lagi mau menemuinya, juga tidak menjawab teleponnya. Dia dibatasi hanya boleh beraktivitas di sekitar vila. Ada orang-orang yang khusus mengawasinya sehingga dia tidak bisa memasuki area lain di kompleks vila itu.Namun, Cassian tidak berniat pergi. Dia tahu, jika kali ini dia pergi, maka dia benar-benar akan kehilangan Avena untuk selamanya.Pada malam hari ketujuh, semua orang yang menjaganya tiba-tiba menghilang. Cassian langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia berlari keluar dari vila menuju sisi lain kompleks itu.Malam begitu gelap dan tidak ada cahaya bulan. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam karang. Mengandalkan ingatannya, Cassian menemukan bangunan putih itu.Pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun.Pintu masuk menuju ruang bawah tanah terbuka lebar dan cahaya lampu memancar dari bawah. Cassian ragu selama sesaat, lalu melangkah turun.Lorong yang panjang. Cahaya lampu yang pucat

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 15

    "Tapi tiga tahun yang lalu, kamu memilih kehilangan Nina." Avena memotong ucapannya. "Di dalam hatimu, nyawa Selina akan selalu lebih penting daripada aku dan Nina."Setelah mengatakan itu, dia memutus panggilan video.Ruangan kembali sunyi. Selina masih menangis, tetapi suaranya sudah semakin lemah.Avena menyimpan pisaunya, lalu berjalan menghampiri Selina. Dia berjongkok di depannya hingga tatapan mereka sejajar."Sekarang kamu sudah lihat, bukan?" katanya pelan. "Inilah pria yang kamu cintai. Dalam situasi hidup dan mati, dia akan selalu memilih menyelamatkanmu dan mengorbankan orang lain. Tiga tahun lalu korbannya Nina, tiga tahun kemudian korbannya aku. Sungguh kisah cinta yang mengharukan."Selina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara."Tapi tahukah kamu, Selina." Suara Avena menjadi semakin lirih, "Dia memilihmu bukan karena dia mencintaimu. Dia memilihmu karena dia tidak mencintaiku, juga tidak mencintai Nina. Di dalam hatinya, kami tid

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 14

    Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung dan wajah Cassian muncul di layar. Dia tampak sangat letih. Matanya dipenuhi guratan merah, sementara latar belakangnya adalah hutan lebat di pegunungan."Avena?" Suaranya terdengar panik. "Akhirnya kamu mau temui aku? Di mana kamu? Bisa nggak kita bicara?"Avena tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengarahkan kamera ke Selina. Ekspresi Cassian langsung berubah."Selina? Kenapa kamu ... Avena, apa yang kamu lakukan padanya?""Nggak melakukan apa-apa. Aku hanya mengundangnya datang sebagai tamu." Suara Avena tetap tenang. "Cassian, sekarang aku kasih kamu satu pilihan. Sama seperti tiga tahun lalu di gudang, saat aku memberimu pilihan."Dia berjalan mendekati Selina, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. Pisaunya memang tidak besar, tetapi sangat tajam. Di bawah cahaya lampu, bilahnya memantulkan kilau dingin."Dengan pisau ini, aku akan melakukan satu hal."Avena berkata dengan tenang, "Kamu bisa memilih, apakah pisau ini akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status