공유

Bab 2

작가: Antonia
Saat Cassian membawa Selina pulang, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Avena duduk di sofa ruang tamu tanpa menyalakan lampu. Hanya lampu abadi di depan altar penghormatan Nina yang memancarkan cahaya redup, membentuk siluet dirinya yang sunyi.

Terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka, cahaya dari area foyer menerobos masuk hingga membuat Avena sedikit menyipitkan mata.

"Avena, kamu belum tidur?" Suara Cassian terdengar sengaja dibuat santai, seolah sedang menutupi sesuatu.

Di belakangnya, Selina mengintip dengan ragu.

Tiga tahun tak bertemu, tubuhnya jauh lebih kurus. Wajahnya pucat. Dia mengenakan gaun polos dengan rambut panjang yang terurai lembut di bahunya, penampilannya tampak begitu rapuh.

Tatapannya sempat berhenti sejenak pada Avena, lalu segera menunduk. Jemarinya meremas ujung gaunnya dengan gelisah.

"Cassian, sebaiknya aku menginap di hotel saja ...." Suara Selina lirih dan gemetar. "Kak Avena mungkin nggak ingin lihat aku."

"Jangan bicara aneh-aneh." Cassian bergeser memberi jalan agar dia masuk. "Kondisimu sekarang masih butuh orang yang merawat. Menginap di hotel nggak aman. Avena bukan orang yang nggak rasional."

Avena perlahan berdiri. Dia berjalan ke arah foyer dan berdiri tepat di hadapan Cassian dan Selina.

Tiga tahun.

Untuk pertama kalinya, dia memandang wanita yang secara tidak langsung menyebabkan kematian Nina dari jarak sedekat ini.

"Avena, Selina hanya akan tinggal sementara beberapa hari. Setelah aku mencarikan tempat tinggal untuknya, dia akan pindah."

Cassian menjelaskan sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh bahu Avena, tetapi Avena menghindarinya tanpa meninggalkan kesan mencolok.

Tatapan Avena tertuju pada wajah Selina.

Tenang.

Terlalu tenang hingga terasa mengerikan.

Selina mengangkat kepala. Matanya seketika dipenuhi air mata.

"Kak Avena, maafkan aku. Aku tahu aku nggak pantas bertemu denganmu. Soal Nina ... seumur hidup aku nggak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri ...."

Kalimatnya terhenti.

Karena Avena mengangkat tangannya.

Plak!

Suara tamparan yang nyaring bergema di ruang tamu yang sunyi.

Selina sama sekali tidak sempat menghindar. Kepalanya terpental ke samping, sementara bekas lima jari segera muncul di pipinya yang putih. Dia memegangi wajahnya sambil menatap Avena dengan tidak percaya. Air mata langsung mengalir.

"Avena!" Cassian menggeram pelan dan mencengkeram pergelangan tangan Avena. "Apa yang kamu lakukan!"

Avena tidak melawan. Dia hanya mengangkat tangan yang satunya lagi.

Plak!

Tamparan kedua mendarat dengan jauh lebih keras.

Selina langsung terhempas ke lantai. Rambut panjangnya berantakan. Dia tersungkur sambil terisak pelan, bahunya berguncang hebat.

"Avena! Sudah cukup!"

Cassian akhirnya benar-benar kehilangan kendali. Dia mendorong Avena dengan keras hingga terhuyung ke belakang. "Dia sudah menghabiskan tiga tahun di rumah sakit jiwa! Sebenarnya apa lagi yang kamu inginkan!"

Avena mundur dua langkah. Pinggangnya menghantam keras sudut tajam altar penghormatan. Foto Nina yang berada paling atas bergoyang, lalu jatuh ke lantai dengan suara keras. Bingkai kacanya pecah berkeping-keping.

Avena refleks berjongkok untuk memungutnya. Pecahan kaca yang tajam langsung menembus telapak tangannya. Darah segar seketika mengucur, menetes ke wajah kecil Nina yang sedang tersenyum di dalam foto dan mengaburkan lesung pipinya.

Avena gemetar menahan sakit. Dia membuka mulut ingin memanggil nama Nina, tetapi tenggorokannya terasa seperti tersumbat. Jangankan memanggil, bahkan setengah suku kata pun tak mampu keluar. Hanya air mata yang jatuh tanpa peringatan ke atas lukanya, membuat pelipisnya berdenyut nyeri.

"Cassian, dadaku sakit ...."

Tiba-tiba Selina terkulai lemas ke dalam pelukan Cassian. Satu tangannya menekan dada sambil terengah-engah. Wajahnya pucat pasi.

"Apa luka lamaku tadi terbentur? Aku ... sesak sekali ... susah bernapas ...."

Cassian langsung panik. Dia mengangkat Selina dalam gendongan, lalu bergegas menuju pintu. Seluruh pikirannya hanya dipenuhi kekhawatiran terhadap wanita di pelukannya. Dia bahkan tidak melirik ke arah Avena yang masih berjongkok di tengah pecahan kaca sedikit pun.

Selina bersandar lemah di dada Cassian, tetapi matanya melampaui bahu pria itu dan menatap Avena. Tatapan itu tidak menyimpan rasa sakit. Tidak ada rasa bersalah. Yang ada hanyalah secercah kemenangan yang berlalu begitu cepat.

Avena memahami arti tatapan itu. Dia melihat Cassian membantu Selina duduk di sofa dengan hati-hati. Dia melihat pria itu terus-menerus menanyakan keadaan Selina. Dia juga melihat bagaimana Cassian sama sekali mengabaikan tangannya yang masih mengucurkan darah.

Sama seperti tiga tahun yang lalu.

Di dunia Cassian, setiap ketidaknyamanan yang dialami Selina selalu menjadi keadaan darurat. Sedangkan dia dan Nina ... selalu bisa menunggu. Selalu harus bersabar.

"Aku antar Selina istirahat dulu. Kamu tetap di sini dan renungkan kesalahanmu!"

Hampir sambil memeluk Selina, Cassian membawanya naik ke lantai atas.

Avena tetap duduk di lantai sambil memungut pecahan kaca yang terakhir.

Seluruh telapak tangannya sudah berlumuran darah, tetapi gerakannya tetap mantap dan perlahan. Dia menyusun pecahan-pecahan kaca itu di atas meja, berusaha mengembalikan bingkai foto seperti semula.

Namun, bingkai itu tidak bisa diperbaiki lagi. Sama seperti beberapa hal. Sekali hancur, akan tetap hancur. Dia berdiri dan masuk ke gudang penyimpanan, lalu mengambil bingkai foto yang baru. Dengan sangat hati-hati dia memasukkan kembali foto putrinya ke dalam bingkai itu.

Saat melakukannya, darah kembali menetes ke atas foto. Dia menyekanya dengan punggung tangan, tetapi noda darah malah semakin melebar.

Tangan Avena berhenti sejenak. Lalu dia melanjutkan pekerjaannya hingga selesai, kemudian meletakkan kembali foto Nina di altar penghormatan.

Dia menyalakan dupa dan menancapkannya, lalu berlutut di depan altar. Dahinya menempel pada lantai yang dingin.

Tidak ada isak tangis. Tidak ada tubuh yang gemetar. Hanya setitik air mata yang perlahan menetes ke celah lantai, lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 19

    Tiga bulan kemudian, di sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.Negara kecil itu mengandalkan pariwisata sebagai industri utamanya. Pemandangannya indah dan penduduknya hidup sederhana serta ramah. Di pulau itu terdapat sebuah panti asuhan bernama "Rumah Cahaya Bintang", yang menampung lebih dari 20 anak yang kehilangan tempat tinggal.Relawan yang baru datang adalah seorang wanita dari timur. Dia sangat pendiam dan jarang berbicara, tetapi semua anak menyukainya. Dia menguasai bahasa isyarat dan sering menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak.Dia juga pandai membuat kue stroberi yang lezat. Setiap Rabu sore saat waktu minum teh, semua anak pasti bisa menikmati kue buatannya.Selain itu, dia juga pandai membuat kotak musik. Dari barang-barang bekas, dia menciptakan boneka kecil yang bisa berputar dan menari, dengan lagu "Bintang Kecil" sebagai pengiringnya.Meskipun kemampuan bicaranya sudah pulih, dia tetap enggan banyak berbicara. Karena itu,

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 18

    "Aku selalu berpikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir kamu akan memaafkanku. Aku selalu berpikir semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Tapi aku salah. Terkadang, ada kesalahan yang nggak akan bisa lagi diperbaiki."Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke pelipisnya sendiri. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku bersedia."Tatapan Avena sempat bergetar sesaat, tetapi segera kembali tenang."Cassian, berhentilah berpura-pura. Kamu bukan orang yang akan bunuh diri. Kamu nggak akan rela kehilangan perusahaanmu, kedudukanmu, dan nama baikmu. Kamu hanya akan memilih 'pilihan yang paling masuk akal' bagimu sendiri, sama seperti tiga tahun yang lalu."Tangan Cassian bergetar.Avena benar. Dia memang bukan orang yang sanggup bunuh diri. Dia takut mati. Takut kehilangan segalanya. Takut jatuh dari puncak kehidupan. Namun, yang lebih dia takuti adalah menjalani sisa hidup di dalam kebencian Avena."Kalau aku benar-benar memilih mati?" tanyanya pelan. "Kal

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 17

    "Maaf ...." Cassian kembali mengucapkan kata itu.Namun, dia tahu. Semuanya sudah terlambat."Nggak ada gunanya lagi kata maaf, Cassian," ujar Avena pelan."Permintaan maaf nggak bisa menghidupkan Nina kembali. Nggak bisa mengembalikan suaraku. Nggak bisa mengembalikan hidup kita seperti dulu. Kata 'maaf' adalah hal yang paling nggak berguna di dunia. Itu hanyalah alasan yang digunakan para pengecut untuk membebaskan diri dari rasa bersalah."Dia berjalan menghampiri Selina, lalu berjongkok di depannya, menatap kedua mata yang perlahan kehilangan cahaya."Selina, di kehidupan berikutnya ... jadilah orang yang baik."Untuk terakhir kalinya, mata Selina bergerak sedikit. Dia memandang Avena, lalu tatapannya membeku untuk selamanya.Selina telah mati. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah dan jiwa yang dipenuhi dosa. Dia meninggal di pulau terpencil yang tidak diketahui siapa pun.Avena berdiri. Dia memandang Selina untuk terakhir kalinya, lalu menoleh kepada Cassian. "Sekarang gilira

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 16

    Cassian menunggu di pegunungan selama satu minggu. Avena tidak lagi mau menemuinya, juga tidak menjawab teleponnya. Dia dibatasi hanya boleh beraktivitas di sekitar vila. Ada orang-orang yang khusus mengawasinya sehingga dia tidak bisa memasuki area lain di kompleks vila itu.Namun, Cassian tidak berniat pergi. Dia tahu, jika kali ini dia pergi, maka dia benar-benar akan kehilangan Avena untuk selamanya.Pada malam hari ketujuh, semua orang yang menjaganya tiba-tiba menghilang. Cassian langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia berlari keluar dari vila menuju sisi lain kompleks itu.Malam begitu gelap dan tidak ada cahaya bulan. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam karang. Mengandalkan ingatannya, Cassian menemukan bangunan putih itu.Pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun.Pintu masuk menuju ruang bawah tanah terbuka lebar dan cahaya lampu memancar dari bawah. Cassian ragu selama sesaat, lalu melangkah turun.Lorong yang panjang. Cahaya lampu yang pucat

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 15

    "Tapi tiga tahun yang lalu, kamu memilih kehilangan Nina." Avena memotong ucapannya. "Di dalam hatimu, nyawa Selina akan selalu lebih penting daripada aku dan Nina."Setelah mengatakan itu, dia memutus panggilan video.Ruangan kembali sunyi. Selina masih menangis, tetapi suaranya sudah semakin lemah.Avena menyimpan pisaunya, lalu berjalan menghampiri Selina. Dia berjongkok di depannya hingga tatapan mereka sejajar."Sekarang kamu sudah lihat, bukan?" katanya pelan. "Inilah pria yang kamu cintai. Dalam situasi hidup dan mati, dia akan selalu memilih menyelamatkanmu dan mengorbankan orang lain. Tiga tahun lalu korbannya Nina, tiga tahun kemudian korbannya aku. Sungguh kisah cinta yang mengharukan."Selina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara."Tapi tahukah kamu, Selina." Suara Avena menjadi semakin lirih, "Dia memilihmu bukan karena dia mencintaimu. Dia memilihmu karena dia tidak mencintaiku, juga tidak mencintai Nina. Di dalam hatinya, kami tid

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 14

    Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung dan wajah Cassian muncul di layar. Dia tampak sangat letih. Matanya dipenuhi guratan merah, sementara latar belakangnya adalah hutan lebat di pegunungan."Avena?" Suaranya terdengar panik. "Akhirnya kamu mau temui aku? Di mana kamu? Bisa nggak kita bicara?"Avena tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengarahkan kamera ke Selina. Ekspresi Cassian langsung berubah."Selina? Kenapa kamu ... Avena, apa yang kamu lakukan padanya?""Nggak melakukan apa-apa. Aku hanya mengundangnya datang sebagai tamu." Suara Avena tetap tenang. "Cassian, sekarang aku kasih kamu satu pilihan. Sama seperti tiga tahun lalu di gudang, saat aku memberimu pilihan."Dia berjalan mendekati Selina, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. Pisaunya memang tidak besar, tetapi sangat tajam. Di bawah cahaya lampu, bilahnya memantulkan kilau dingin."Dengan pisau ini, aku akan melakukan satu hal."Avena berkata dengan tenang, "Kamu bisa memilih, apakah pisau ini akan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status