Vila itu kosong tanpa seorang pun. Cassian menerobos masuk ke rumah, lalu mencari ke lantai atas dan bawah, serta memeriksa setiap kamar. Avena tidak ada.Dari pakaiannya, kosmetik, buku-buku yang biasa dia baca, dan bahkan kerajinan tangan yang selama ini dia buat juga sudah tidak ada. Hanya di kamar tamu, tergeletak sebuah foto di atas nakas.Itu adalah foto mendiang Nina.Cassian berbalik dan berlari ke ruang kerja. Dia menyalakan komputer, lalu membuka semua rekaman CCTV vila. Dia melihat rekaman saat Avena mengemasi barang-barangnya dan pergi. Waktunya menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh pagi ini, tidak lama setelah dia meninggalkan vila.Avena mengenakan mantel putih gading. Luka di punggungnya yang tercabik cambukan rotan masih merembeskan darah, tetapi langkahnya tetap mantap. Dia berjalan sampai ke depan pintu, lalu berhenti dan menoleh ke belakang.Di layar CCTV, wajahnya terlihat sangat jelas. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan, bahkan tidak ada kebencian. Yang ters
Read more