Share

Bab 4

Author: Antonia
Saat Selina didorong masuk ke ruang operasi, Cassian langsung mencengkeram bahu Avena.

"Apa kamu sudah gila?" geramnya dengan mata memerah. "Kamu mau bunuh dia?"

Avena menatapnya dengan sorot mata yang tenang.

Di lengannya masih terlihat bekas cakaran Selina hingga mengeluarkan darah, tetapi seolah-olah dia tidak merasakan sakit sedikit pun.

"Aku tahu kamu benci dia," lanjut Cassian. Nada suaranya dipenuhi kelelahan sekaligus teguran. "Tapi, Avena, sejak kapan kamu berubah menjadi sekejam ini?"

Barulah Avena benar-benar menatapnya. Dia mengangkat tangan dan menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah dadanya. Setelah itu dia membuka telapak tangannya, memberi isyarat bahwa di sana sudah tidak ada apa-apa lagi.

Cassian mengerti. Yang ingin dia katakan adalah, "Aku sudah kehilangan segalanya."

Hatinya sempat berdenyut nyeri. Namun, rasa sakit itu segera tertutup oleh amarah.

"Jadi karena itu kamu mau menghancurkan hidup orang lain?" katanya dengan nada dingin. "Selina memang bersalah, tapi dia sudah menerima hukumannya! Tiga tahun di rumah sakit jiwa masih belum cukup? Kenapa kamu tetap nggak mau merelakan semuanya?"

Sudut bibir Avena sedikit terangkat. Itu adalah senyum yang begitu sinis. Dia berbalik hendak pergi, tetapi Cassian kembali menariknya.

"Kamu mau ke mana? Selina belum melewati masa kritis. Kamu harus tetap di sini. Setelah dia sadar nanti, kamu harus minta maaf sama dia."

Avena mengibaskan tangannya dan tetap melangkah pergi.

"Avena!" Cassian mengejarnya, lalu mencengkeram pergelangan tangannya. "Aku suruh kamu minta maaf! Kamu berutang permintaan maaf sama dia!"

Pergelangan tangan Avena begitu ramping. Satu genggaman tangan Cassian saja sudah cukup untuk melingkarinya. Tulangnya menekan telapak tangan Cassian, tampak begitu rapuh seolah bisa patah hanya dengan sedikit tenaga.

Avena menoleh menatapnya, lalu dia mengangkat tangan yang lain.

Plak!

Tamparan keras itu menggema jelas di lorong rumah sakit yang lenggang. Kepala Cassian terpaling ke samping. Bekas lima jari segera tampak jelas di pipinya. Perlahan dia memalingkan wajah kembali. Tatapannya berubah semakin dingin.

"Baik," ucapnya pelan. "Bagus sekali." Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Kirim orang ke rumah sakit. Awasi Avena. Tanpa izinku, jangan biarkan dia keluar dari vila selangkah pun."

Sejak saat itu, Avena menjadi tahanan rumah. Cassian menyita ponselnya, memutus jaringan internet di vila, lalu menempatkan dua orang pengawal di depan pintu.

Semua jendela dipasangi teralis besi. Kini, Avena menjadi satu-satunya tahanan di dalam sangkar mewah itu. Pada hari ketiga, berita itu mulai menyebar luas.

[ Tunangan Presiden Grup Mahendra Didorong Istri Sah Hingga Jatuh dari Tangga, Dua Nyawa Melayang? ]

[ Negosiator Berubah Menjadi Pembunuh: Kisah Kelam Penyimpangan Mental Wanita Karier ]

[ Balas Dendam Istri Bisu: Kebenaran Berdarah di Balik Pernikahan Keluarga Konglomerat ]

Satu demi satu berita bermunculan.

Semuanya disertai foto-foto dari rumah sakit yang sudah diburamkan, serta foto close-up Selina yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat.

Kolom komentar pun langsung meledak.

[ Istri sah itu psikopat, ya? Karena anaknya sendiri mati, dia jadi nggak tahan melihat orang lain punya anak? ]

[ Dengar-dengar anaknya sendiri meninggal karena dia lalai menjaganya. Sekarang malah mau mencelakai orang lain. Benar-benar wanita berhati iblis. ]

[ Orang seperti ini pantas jadi negosiator? Jangan-jangan waktu bernegosiasi dia juga langsung membunuh orang kalau nggak sepakat. ]

[ Kasihan sekali Pak Cassian. Menikahi wanita gila. ]

[ Cuma aku yang merasa pelakor itu memang pantas menerima balasannya? Berani merusak rumah tangga orang, ya harus siap menerima akibat. ]

[ Hei komen yang di atas, moralmu rusak. Istri sah itu sudah mencoba membunuh orang! Itu tindak pidana! ]

Di bawah arahan pihak-pihak yang sengaja menggiring opini, seluruh pemberitaan mulai berpihak kepada Selina.

Akun media sosial Avena pun berhasil ditemukan. Kotak pesan pribadinya dipenuhi kutukan dan makian. Namun, Avena sama sekali tidak mengetahui semua itu. Dia dikurung di dalam vila.

Setiap hari dia hanya duduk di depan altar penghormatan putrinya. Duduk sepanjang hari tanpa berpindah.

Hari kelima, Cassian akhirnya pulang.

Wajahnya tampak sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya begitu jelas. Jas yang dikenakannya kusut, seolah sudah berhari-hari tidak diganti. Dia berdiri di pintu ruang tamu tanpa langsung masuk.

"Selina sudah melewati masa kritis, untuk sementara nyawanya nggak lagi terancam. Tapi kondisi mentalnya masih sangat buruk. Setiap malam dia terus mengalami mimpi buruk."

Avena membelakanginya sambil menyalakan dupa untuk altar Nina. Cassian berjalan masuk, lalu meletakkan sebuah tablet di atas meja.

"Lihat ini."

Di layar terpampang sebuah berita berjudul, "Makam Korban Dirusak, Siapa Dalang Pelampiasan Dendam Ini?"

Foto yang ditampilkan adalah makam Nina. Batu nisannya disiram cat merah. Di atasnya tertulis kata-kata seperti "Pembawa sial" dan "Cepat mati, cepat terbebas."

Bunga-bunga yang diletakkan di sana sudah diinjak hingga hancur. Stroberi yang dipersembahkan sebagai sesaji juga berserakan di tanah.

Tangan Avena bergetar. Abu dupa jatuh ke punggung tangannya, meninggalkan titik merah karena panas. Namun, dia tidak bergerak sedikit pun. Dia hanya menatap layar itu tanpa berkedip.

"Netizen sangat marah," kata Cassian dengan suara yang tenang, saking tenangnya hingga terasa mengerikan. "Mereka menemukan makam Nina, lalu melakukan semua ini. Aku sudah suruh orang membersihkannya dan memperketat keamanan di area pemakaman. Tapi ...."

Dia berhenti sejenak sambil menatap punggung Avena. "Hal seperti ini mungkin akan terus terjadi. Terlalu banyak orang yang emosinya sudah terpancing. Aku nggak mungkin bisa mengendalikan semuanya."

Perlahan Avena berbalik. Dia menatap Cassian, seolah bertanya dengan tatapannya.

"Lalu?"

Cassian menghindari pandangan matanya sebelum berkata pelan, "Pergilah ke rumah sakit dan minta maaf kepada Selina. Minta maaf secara terbuka. Katakan bahwa waktu itu kamu hanya terbawa emosi, bukan sengaja ingin menyakitinya."

"Aku akan mengatur para wartawan. Kamu nggak perlu bicara, cukup mengangguk saja. Selama kamu meminta maaf, semua ini akan berakhir, dan makam Nina juga nggak akan diganggu lagi."

Avena tetap tidak bergerak. Seluruh ekspresi di wajahnya lenyap. Yang tersisa hanyalah kehampaan, seperti selembar kertas putih yang telah dihapus hingga bersih.

"Avena." Cassian melangkah mendekat. Untuk pertama kalinya terdengar sedikit nada memohon dalam suaranya. "Aku tahu ini sangat berat bagimu. Tapi ini satu-satunya cara. Demi agar Nina bisa beristirahat dengan tenang, kumohon."

Kumohon.

Dia benar-benar mengucapkan kata itu.

Avena terus menatapnya sangat lama. Akhirnya dia mengangguk pelan. Cassian mengembuskan napas lega. Seluruh tubuhnya seakan kehilangan tenaga.

"Besok pagi pukul sepuluh di rumah sakit. Aku akan mengatur semuanya."

Dia berbalik hendak pergi. Namun, Avena menarik ujung lengan bajunya. Dia menunjuk foto Nina di atas altar penghormatan, lalu menunjuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menyatukan kedua tangan dan menempelkannya di samping pipinya, memberi isyarat orang yang sedang tidur.

Yang ingin dia tanyakan adalah, "Apakah Nina bisa benar-benar beristirahat dengan tenang?"

Jakun Cassian bergerak naik turun. Dengan suara serak dia menjawab, "Bisa. Aku berjanji."

Avena melepaskan lengan bajunya, lalu kembali membelakanginya.

Cassian mengembuskan napas lega. "Besok pukul tiga sore kita akan mengadakan konferensi pers di rumah sakit. Aku akan mengatur semuanya. Kamu hanya perlu datang dan membacakan pernyataan permintaan maaf."

Setelah mengatakan itu, dia sempat ingin mengulurkan tangan menyentuh Avena. Namun melihat tangan Avena yang masih diperban, dia tidak tahu harus menyentuh bagian mana.

Pada akhirnya dia hanya menepuk pelan bahu wanita itu. "Beristirahatlah lebih awal."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 19

    Tiga bulan kemudian, di sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.Negara kecil itu mengandalkan pariwisata sebagai industri utamanya. Pemandangannya indah dan penduduknya hidup sederhana serta ramah. Di pulau itu terdapat sebuah panti asuhan bernama "Rumah Cahaya Bintang", yang menampung lebih dari 20 anak yang kehilangan tempat tinggal.Relawan yang baru datang adalah seorang wanita dari timur. Dia sangat pendiam dan jarang berbicara, tetapi semua anak menyukainya. Dia menguasai bahasa isyarat dan sering menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak.Dia juga pandai membuat kue stroberi yang lezat. Setiap Rabu sore saat waktu minum teh, semua anak pasti bisa menikmati kue buatannya.Selain itu, dia juga pandai membuat kotak musik. Dari barang-barang bekas, dia menciptakan boneka kecil yang bisa berputar dan menari, dengan lagu "Bintang Kecil" sebagai pengiringnya.Meskipun kemampuan bicaranya sudah pulih, dia tetap enggan banyak berbicara. Karena itu,

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 18

    "Aku selalu berpikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir kamu akan memaafkanku. Aku selalu berpikir semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Tapi aku salah. Terkadang, ada kesalahan yang nggak akan bisa lagi diperbaiki."Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke pelipisnya sendiri. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku bersedia."Tatapan Avena sempat bergetar sesaat, tetapi segera kembali tenang."Cassian, berhentilah berpura-pura. Kamu bukan orang yang akan bunuh diri. Kamu nggak akan rela kehilangan perusahaanmu, kedudukanmu, dan nama baikmu. Kamu hanya akan memilih 'pilihan yang paling masuk akal' bagimu sendiri, sama seperti tiga tahun yang lalu."Tangan Cassian bergetar.Avena benar. Dia memang bukan orang yang sanggup bunuh diri. Dia takut mati. Takut kehilangan segalanya. Takut jatuh dari puncak kehidupan. Namun, yang lebih dia takuti adalah menjalani sisa hidup di dalam kebencian Avena."Kalau aku benar-benar memilih mati?" tanyanya pelan. "Kal

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 17

    "Maaf ...." Cassian kembali mengucapkan kata itu.Namun, dia tahu. Semuanya sudah terlambat."Nggak ada gunanya lagi kata maaf, Cassian," ujar Avena pelan."Permintaan maaf nggak bisa menghidupkan Nina kembali. Nggak bisa mengembalikan suaraku. Nggak bisa mengembalikan hidup kita seperti dulu. Kata 'maaf' adalah hal yang paling nggak berguna di dunia. Itu hanyalah alasan yang digunakan para pengecut untuk membebaskan diri dari rasa bersalah."Dia berjalan menghampiri Selina, lalu berjongkok di depannya, menatap kedua mata yang perlahan kehilangan cahaya."Selina, di kehidupan berikutnya ... jadilah orang yang baik."Untuk terakhir kalinya, mata Selina bergerak sedikit. Dia memandang Avena, lalu tatapannya membeku untuk selamanya.Selina telah mati. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah dan jiwa yang dipenuhi dosa. Dia meninggal di pulau terpencil yang tidak diketahui siapa pun.Avena berdiri. Dia memandang Selina untuk terakhir kalinya, lalu menoleh kepada Cassian. "Sekarang gilira

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 16

    Cassian menunggu di pegunungan selama satu minggu. Avena tidak lagi mau menemuinya, juga tidak menjawab teleponnya. Dia dibatasi hanya boleh beraktivitas di sekitar vila. Ada orang-orang yang khusus mengawasinya sehingga dia tidak bisa memasuki area lain di kompleks vila itu.Namun, Cassian tidak berniat pergi. Dia tahu, jika kali ini dia pergi, maka dia benar-benar akan kehilangan Avena untuk selamanya.Pada malam hari ketujuh, semua orang yang menjaganya tiba-tiba menghilang. Cassian langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia berlari keluar dari vila menuju sisi lain kompleks itu.Malam begitu gelap dan tidak ada cahaya bulan. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam karang. Mengandalkan ingatannya, Cassian menemukan bangunan putih itu.Pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun.Pintu masuk menuju ruang bawah tanah terbuka lebar dan cahaya lampu memancar dari bawah. Cassian ragu selama sesaat, lalu melangkah turun.Lorong yang panjang. Cahaya lampu yang pucat

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 15

    "Tapi tiga tahun yang lalu, kamu memilih kehilangan Nina." Avena memotong ucapannya. "Di dalam hatimu, nyawa Selina akan selalu lebih penting daripada aku dan Nina."Setelah mengatakan itu, dia memutus panggilan video.Ruangan kembali sunyi. Selina masih menangis, tetapi suaranya sudah semakin lemah.Avena menyimpan pisaunya, lalu berjalan menghampiri Selina. Dia berjongkok di depannya hingga tatapan mereka sejajar."Sekarang kamu sudah lihat, bukan?" katanya pelan. "Inilah pria yang kamu cintai. Dalam situasi hidup dan mati, dia akan selalu memilih menyelamatkanmu dan mengorbankan orang lain. Tiga tahun lalu korbannya Nina, tiga tahun kemudian korbannya aku. Sungguh kisah cinta yang mengharukan."Selina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara."Tapi tahukah kamu, Selina." Suara Avena menjadi semakin lirih, "Dia memilihmu bukan karena dia mencintaimu. Dia memilihmu karena dia tidak mencintaiku, juga tidak mencintai Nina. Di dalam hatinya, kami tid

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 14

    Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung dan wajah Cassian muncul di layar. Dia tampak sangat letih. Matanya dipenuhi guratan merah, sementara latar belakangnya adalah hutan lebat di pegunungan."Avena?" Suaranya terdengar panik. "Akhirnya kamu mau temui aku? Di mana kamu? Bisa nggak kita bicara?"Avena tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengarahkan kamera ke Selina. Ekspresi Cassian langsung berubah."Selina? Kenapa kamu ... Avena, apa yang kamu lakukan padanya?""Nggak melakukan apa-apa. Aku hanya mengundangnya datang sebagai tamu." Suara Avena tetap tenang. "Cassian, sekarang aku kasih kamu satu pilihan. Sama seperti tiga tahun lalu di gudang, saat aku memberimu pilihan."Dia berjalan mendekati Selina, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. Pisaunya memang tidak besar, tetapi sangat tajam. Di bawah cahaya lampu, bilahnya memantulkan kilau dingin."Dengan pisau ini, aku akan melakukan satu hal."Avena berkata dengan tenang, "Kamu bisa memilih, apakah pisau ini akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status