เข้าสู่ระบบAris dan Kiara duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Jarak di antara mereka terlihat jelas. Tak ada yang menoleh. Tak ada yang berani memulai. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, mengisi kekosongan.Tiba-tiba Aris bersuara, datar.“Aku sudah mengajukan resign dari rumah sakit.”Kiara menoleh sekilas, lalu kembali menatap lantai.“Aku akan ambil tawaran dari rumah sakit di Kalimantan,” lanjut Aris.Suara Kiara keluar pelan, nyaris bergetar.“Mas… apa kita harus hidup seperti ini?”Ia menelan ludah. “Apa kau sanggup melanjutkan hidup bersamaku?”Aris menarik napas panjang.“Mungkin tidak akan mudah,” katanya jujur.Ia tersenyum tipis, pahit. “Tapi bagaimana lagi? Kita belum mati. Kalau belum mati, ya harus terus hidup.”Kiara menatap suaminya beberapa detik, lalu kembali menunduk.“Profesiku dokter,” Aris melanjutkan, suaranya datar. “Hidupku sehari-hari selalu sama. Tidak ada yang menyenangkan.”Ia menyandarkan punggung ke sofa. “Tapi aku puas dengan kehidupanku yang stabil.”
Air mata Kiara jatuh satu per satu, memburamkan pandangannya. Dari balik kaca depan mobil, ia melihat ke arah halaman hijau yang rasanya baru saja menjadi tempatnya bahagia. Arhan masih berdiri di sana, dengan satu tangan yang digenggam erat oleh Dewi. Langkahnya tertahan, tubuhnya condong seolah ingin mengejar namun tak pernah benar-benar sampai. Jangan menahanku, suara itu bergetar di dada Kiara. Jika kau terus melakukan itu, aku mungkin akan memilih melompat ke jurang bersamamu. Mobil melaju. Ban berderit pelan saat berbelok keluar dari halaman. Kiara menahan napas, lalu melirik ke kaca spion. Bayangan Arhan ada di sana—kecil, diam, kian menjauh. Sosok yang tadi memenuhi seluruh dunianya, kini hanya titik yang tersisa di sudut pandang. Kiara memejamkan mata sesaat. Air mata jatuh ke pangkuannya. Terima kasih, bisiknya tanpa suara, karena kau pernah menghadiahkanku surga. Ketika mobil itu benar-benar lenyap, Dewi perlahan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Arhan.
Dewi masih duduk di kursinya, pandangannya mengikuti kendaraan Arhan yang mulai melaju menjauh dari kafe. Lampu sein menyala, lalu menghilang di tikungan. Dewi tidak langsung beranjak. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya.Di tempat lain, Kiara sedang berada di dapur kecil rumah itu. Kompor menyala, aroma masakan perlahan memenuhi ruangan. Ponselnya bergetar di atas meja.Arhan:Tunggu sebentar lagi. Aku sudah dekat, sebentar lagi sampai. Kiara tersenyum tanpa sadar. Senyum yang ringan dan jujur. Ia mematikan kompor, melepas celemek, lalu berlari kecil ke arah halaman depan. Angin malam menyapu wajahnya.Dalam hatinya, ia berbisik,Aku tahu suara langkah kakinya. Aku tahu cara pintu itu terbuka. Langkah-langkah manis itu kini segera menuju ke arahku.Saat langkah Kiara berhenti di tengah halaman, pintu pagar depan terbuka.Arhan berdiri di sana.“Kamu nggak harus keluar,” kata Arhan lembut.Kiara tidak menjawab. Ia hanya melangkah cepat ke ar
Menjelang senja, Kiara masih menunggu.Langit mulai meredup, matahari perlahan turun di balik pepohonan. Kiara berdiri di halaman rumah, jari-jarinya menggenggam liontin semanggi di lehernya. Ia memutar-mutar benda kecil itu tanpa sadar, seolah dari sanalah rasa tenang akan datang.Tak lama, ia duduk di kursi ayunan kayu. Ayunannya bergerak pelan, berderit kecil, menemani detik-detik yang terasa berjalan terlalu lambat. Pandangannya terus tertuju ke arah pintu gerbang depan. Namun sosok yang ia tunggu tak kunjung muncul.Kiara menghela napas panjang.Dari saku celananya, ia mengeluarkan ponsel yang sejak dua hari lalu dimatikan. Sebentar ia ragu, lalu menekan tombol daya. Layar menyala. Beberapa detik kemudian, ponsel itu bergetar.Sebuah panggilan masuk.Nama Rani muncul di layar.Kiara tersenyum kecil. Senyum yang tipis, tapi hangat. Ia hampir lupa bahwa di dunia yang terasa runtuh ini, masih ada satu orang lagi yang selalu berdiri di sisinya—tanpa syarat, tanpa tuntutan.Ia mengges
Di malam ketika Kiara terbangun karena mimpi buruk, Arhan menenangkannya hingga napas perempuan itu kembali teratur dan tubuhnya mengendur dalam pelukan. Lama Arhan menatap wajah yang kini terlelap itu, seolah memastikan tidurnya benar-benar pulih. Setelah yakin Kiara tak lagi gelisah, ia bergerak perlahan, berhati-hati agar tak membangunkannya. Tangannya meraih ponsel yang sejak kemarin sengaja dimatikan. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi berhamburan memenuhi layar, namun Arhan mengabaikannya. Ia langsung mencari satu nama—lalu menekan tombol panggil.Tak butuh waktu lama panggilan itu langsung tersambung.“Berani sekali kamu menghubungiku,” suara Aris terdengar dingin, menahan amarah. “Setelah membawa kabur istri orang.”Arhan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak membalas dengan nada tinggi. “Saya ingin bertemu, Pak Aris,” katanya tenang. “Saya ingin menyelesaikan semua ini secepatnya. Kita bicarakan langsung.”Di seberang, terdengar tawa singkat tanpa kehangatan. “Nyali kamu
Aris sudah tiba di Jogja sore itu. Lampu-lampu restoran hotel tempat ia menginap menyala terang, memantulkan cahaya hangat yang justru berseberangan dengan suasana di antara mereka. Aris dan Dewi duduk saling berhadapan, dua cangkir kopi terletak di meja, nyaris tak tersentuh. Dewi memecah keheningan lebih dulu. “Akhirnya kamu bergerak juga,” katanya datar. “Tidak cuma duduk menunggu istrimu pulang.” Aris menghela napas pelan. “Sebenarnya aku percaya Kiara bakal pulang sendiri.” Belum sempat kalimat itu benar-benar mengendap, Dewi menyela. Ia menurunkan cangkir yang baru saja diminumnya dengan suara kecil namun tegas. “Kita tidak sedang membicarakan anak remaja yang kabur dari rumah,” ujarnya tajam. “Ini perempuan dewasa yang memilih pergi dengan pria lain.” Aris menautkan jarinya, menatap meja. “Baiklah. Karena aku sudah sampai di sini,” katanya akhirnya, “katakan… kira-kira di mana istriku sekarang berada.” Dewi mengangkat bahu tipis. “Kita harus mencarinya. Kita tidak bisa







