Share

5. Long Americano Regular

Long americano regular membuat Raline dan lelaki itu makin menjadi akrab. Tadinya, lelaki itu terburu-buru karena ia sedang mengejar bus yang berhenti di seberang jalan, bus itu akan melintas ke daerah kosannya. 

"Terus kenapa kamu langsung mengganti minumanku kalau kamu sedang mengejar bus ?" 

"Reflek aja, habisnya lihat muka kamu kasihan kayak pingin marah tapi kamu tahan" jawab seseorang itu setelah meneguk es kopi yang ia pesan lagi 

"Bagaimana tidak, itu minuman yang baru saja aku beli, belum begitu banyak aku meminumnya sudah tumpah aja" 

"Tapi kalau bukan karena aku terburu-buru mungkin kita nggak jadi akrab dadakan kayak gini" lelaki itu tertawa kecil. 

Raline juga melakukan itu memberikan senyuman kecil tapi menawan dan mereka langsung berjabat tangan sebagai tanda perkenalan. 

Namanya Ifan, Ifan Fernanda. Mahasiswa juga, tapi bukan di Harimukti ia kuliah di Hasanudin jurusan pertanian. Entah kenapa Raline lebih suka dengan dandanan anak kuliah yang seperti ini. Simple, satu warna dan terkesan seperti anak ibu kota banget. 

Jangan ditanya, Robby juga terkadang seperti ini, namun semua terhalang oleh sikap dan kelakuannya yang membuat Raline jarang memandang Robby seperti Ifan. 

Bahasan mereka di sore itu sudah cukup jauh, mereka membahas sampai menuju pertanyaan "hatinya sudah ada yang punya belum?" 

Senyuman kecut Raline seakan membuat Ifan kebingungan. Bukan bermaksud apa-apa hanya ingin sekedar tahu supaya kedepannya Ifan bisa bersikap sewajarnya. 

"Memangnya, kalau aku sudah punya pacar kamu nggak mau ketemu aku lagi? Raline bertanya 

"Ketemu lagi atau tidak juga tergantung takdir tuhan. Aku hanya ingin memastikan, cuma kalau nggak mau jawab nggak papa." 

Karena pada dasarnya Raline anak yang jujur, walaupun di keadaan mendesak pun Raline akan tetap jujur. Ia menganggukan kepalanya perlahan seraya menandakan iya kalau dia sudah punya pacar. 

Pun dengan Ifan yang melakukan hal yang sama; mengangguk. Mengangguk mengerti dan berjaga jarak atau punya cara lain untuk menyikapinya. 

✨✨✨

"Terima kasih sudah diantarkan pulang. Kamu masih ingat jalan pulangnya, kan?" Ifan turun dari motor Raline dan memberikan helm kepada Raline. 

"Masih, lah, aku sedikit hafal dengan jalan daerah sini." 

Drrt.. drrt… 

Ponsel Raline berdering ada panggilan masuk dari Robby. 

"Pacar kamu sudah nyariin, pulanglah"

"Iyaa.. aku pulang dulu,ya" Raline bergegas memakai helm dan mengabaikan panggilan dari Robby. Dalam hatinya ia rela berdebat lagi asalkan tidak ingin melewatkan pemandangan indah di malam hari ini. 

Tubuh tinggi, pakaian yang kekinian, sepatu yang keren. Raline menyukai dandan ini. 

"Jangan ngeliatin terus nanti jadi suka" ucap Ifan sambil memasukan tangan kirinya ke saku celana. 

"Hehehe" 

"Line.. semoga takdir mempertemukan kita lagi,ya" 

"Boleh ku aminin?" 

"Terserah" 

"Aamiin.. makasih buat pertemuan acaknya. Senang kenal denganmu" Raline tersenyum dan segera meninggalkan kostan Ifan. 

Ifan hanya nyengir membayangkan pertemuan acaknya dengan Raline hari ini. Entah rencana tuhan bagian mana yang memulai semuanya ini. 

Buat Ifan, Raline adalah perempuan yang ceria namun suka berpetualang, termasuk dalam kisah cintanya. 

✨✨✨

Raline tiba di rumahnya dan dengan segera ia duduk di atas kasur lalu membuka ponselnya. Ponselnya terus berdering dari Robby.

Sebelum Raline mendengar ocehan dari Robby, ia sedang berusaha mengatur nafas, mencari alasan dan mulai minum air putih lalu mengangkat telepon dari Robby. 

"Dari mana?" Pertanyaan yang langsung pada intinya tanpa basa basi atau perkataan lainnya. 

"Nongkrong sama Geisha" Raline menjawab lalu di ikut tepukan jidat, ia belum bersengkongkol dengan Geisha. 

"Seharian kemana aja ?"

"Pulang kuliah langsung nongkrong di cafe sampai ini baru pulang. Aku tadi beli long ice americano, seger banget. Kamu pernah nyoba itu?" Raline mencoba mencairkan suasana

"Belum pernah, tapi kedengarannya enak" 

"Bangeett… besok beli sama aku, ya" 

"Sekalian lusa saja, kayaknya sudah lama kita nggak malam mingguan" 

"Ahh benar, kapan terakhir kita malam mingguan? Kayaknya udah lama banget" 

"Kamu, sih, sibuk mulu" 

"Kamu, sih, yang bikin aku sibuk" 

"Kalau kamu nurut aku nggak bakal capek-capek omeli kamu" 

"Hahaha, bisa capek juga kamu. Salah sendiri siapa yang bertingkah kayak gitu" 

"Line, aku sayang kamu" 

"By, aku sayang pake banget sama kamu. Jangan kayak gitu terus, ya?" 

"Tapi, Line" 

"Ayolah… kalau kamu membawa hubungan ini dengan santai dan mengalir begitu saja, semua pasti bakal baik-baik saja" 

"Tapi kamu janji nggak ngulangin lagi, kan? 

"Janji.. aku janji" 

Janji yang hanya diucapkan di mulut memang membuat semuanya begitu tenang seakan semua bisa dipertanggung jawabkan. Namun, pertanggungjawaban yang sesungguh dari sebuah janji adalah pembuktian. 

Robby hanya membutuhkan pembuktian dari Raline bukan sekadar ucapan manis di mulutnya. Karena sekali hati disakiti selamanya ia mudah untuk kembali percaya. 

Panggilan itu pun berakhir, Robby mempersilahkan Raline untuk membersihkan tubuhnya lalu memeriksa tugas kuliah. 

Sedangkan Robby juga mau lanjut mengoreksi kerjaannya dan segera bergegas untuk istirahat. Buat Raline itu sungguh menenangkan, Robby tidak terlalu rese hari ini. 

Bagi Raline, kesan pertamanya setelah bertemu dengan Ifan ia mendapatkan nilai yang begitu sempurna. Sesempurna itu Ifan dimata Raline dengan segala tampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. 

Saat memejamkan matanya, Raline nggak bisa menghapus bayang-bayang Ifan. Senyumnya, tawa kecutnya, gayanya dia di depan kost semua masih terbayang sempurna dipikiran Raline. 

Raline juga nggak berhenti senyum-senyum sendiri di balik selimutnya ia juga berkata selamat malam untuk Ifan. 

Ifan Fernanda, anak pertanian sudah membuat Raline merona pipinya. 

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status