Share

Bab 3

Author: Nia Juwita
Namun, kalau mengingat hubungan Celine dengan keluarganya, bertanya pun tidak akan ada gunanya.

Tiba-tiba, di ujung lorong, Althea berjalan mendekat sambil berbincang dengan direktur rumah sakit.

Jas putih yang membalut tubuhnya semakin menegaskan pembawaannya yang sigap. Ekspresinya pun tampak begitu fokus.

Direktur rumah sakit memandangnya dengan penuh kekaguman.

Darryn mendorong Darrel ke samping, lalu berjinjit dan melambaikan tangan kepada Althea. "Kak Thea!"

Althea menoleh ke arah mereka. Ekspresinya tetap tenang. Setelah mendapat izin dari direktur rumah sakit, barulah dia tersenyum dan berjalan menghampiri.

Sikapnya yang angkuh dan bebas bukan hanya tidak membuat orang membencinya, malah membuat orang ingin menaklukkannya.

Dalam benak Darryn, hanya wanita seperti Althea, yang berasal dari keluarga kelas atas, yang memiliki tubuh yang sempurna, dan yang kemampuannya luar biasa, yang pantas menjadi kakak iparnya.

Dia memeluk lengan Althea dan bermanja-manja.

"Kak Althea, akhirnya kamu pulang ke tanah air juga! Satu kampus sampai gempar. Kamu nggak tahu, selama setahun ini kakakku sangat merindukanmu ...."

Darrel berkata, "Jangan bahas hal seperti itu di rumah sakit."

Darryn memelotot kepadanya.

"Memangnya aku mengada-ada? Kamu setiap hari tinggal di rumah sakit dan nggak pulang ke rumah, bahkan mengabaikan wanita itu. Bukannya itu karena Kak Thea yang selalu ada di hatimu?"

Kedua tangan Althea dimasukkan ke saku jas putihnya. Tatapannya yang dalam tertuju pada Darrel selama beberapa detik sebelum dia angkat bicara untuk membantunya keluar dari situasi itu.

"Sudahlah, Darryn. Kakakmu dari kecil memang gampang malu. Jangan terus menggodanya. Malam ini aku traktir kamu makan enak."

Darryn menggoda, "Wah, langsung dibela nih? Kalian berdua benar-benar jago pamer kemesraan."

Darrel memasang wajah datar dan membawa rekam medis masuk ke departemennya.

Althea memandangi punggungnya yang tegap dan angkuh, lalu berkata dengan penuh perhatian kepada Darryn.

"Hubunganku dengan kakakmu sudah lama berlalu. Kakakmu sekarang sudah punya istri. Di rumah sakit banyak orang dan gosip mudah tersebar, jadi jangan sembarangan bicara."

Namun, Darryn sama sekali tidak menganggapnya serius.

"Punya istri apanya? Kakakku nggak bilang ke kamu? Dia akan cerai dengan wanita itu."

"Apa? Cerai?" Althea tertegun.

"Kakakku bahkan pergi menjemputmu sendiri, 'kan? Wanita itu nggak bisa punya anak. Siapa yang mau? Dulu kakakku menikahinya cuma karena lagi stres."

"Nggak bisa punya anak?" gumam Althea sambil menyipitkan mata.

"Ya lho! Dia cuma wanita biasa dengan kekurangan fisik. Kakakku benar-benar rugi. Kak Thea? Kamu dengar nggak?"

Althea tersadar dari lamunannya dan tersenyum. "Darryn, aku bawain kamu hadiah."

"Serius? Memang Kak Thea yang paling baik. Kapan aku bisa memanggilmu kakak ipar ya?"

"Bicara apa sih?" Althea mengangkat alisnya. Matanya yang indah langsung terlihat menggoda. Dengan nada bercanda, dia berkata, "Kalau memang penasaran, tanya kakakmu sana."

....

Malam harinya, departemen tempat Darrel bekerja mengadakan acara makan bersama. Setelah Darrel pulang, Celine masih juga belum kembali.

Setelah minum, dia tanpa sadar merasa sedikit gelisah. Dia mengambil ponsel cadangan yang sudah berdebu, lalu mengecasnya.

Selama ini, dia memang selalu menggunakan ponsel itu untuk berkomunikasi dengan Celine.

Ketika ponselnya menyala, pesan dan panggilan masuk membanjir seperti hujan salju.

Dia bahkan tidak melihatnya dan langsung mencari nomor Celine.

Telepon tersambung, tetapi sinyalnya kurang bagus. Suara wanita di seberang terdengar lembut.

"Halo?"

Darrel membuka kerah kemejanya. Jakunnya bergerak naik turun, napasnya masih membawa aroma alkohol.

Di seberang terdengar suara nyanyian dan keramaian. Suasananya sangat meriah.

Dengan nada tidak senang, dia bertanya, "Kamu di mana? Kenapa berisik sekali?"

Celine tahu Darrel menyukai ketenangan, jadi dia menjauh dari api unggun dan kerumunan orang.

"Kamu sudah pulang?"

"Ya. Aku ada dinas mendadak, jadi kemarin-kemarin nggak sempat memberitahumu."

"Nggak apa-apa." Saat mengucapkannya, Celine terdengar seolah tidak terlalu peduli.

Darrel mengatupkan bibir, lalu bertanya lagi, "Kamu di mana?"

Celine menjawab, "Di Kota Litar. Aku mengajak ibuku jalan-jalan."

"Ngapain ke sana? Waktu aku pulang, rumah kotor sekali sampai aku harus panggil orang untuk bersih-bersih. Kamu dan ibumu pasti sudah pergi beberapa hari ya?"

Nada menyalahkannya membuat Celine tidak bisa berkata-kata. Yang dipedulikan Darrel ternyata hanya rumah yang kotor.

Itu juga salah satu alasan Celine merasa pernikahan ini tidak perlu dipertahankan lagi.

Dulu, ibunya sering dipukuli ayahnya sampai kepalanya cedera. Setelah akhirnya bercerai, ibunya malah didiagnosis menderita tumor otak.

Saat itu, Celine mengira dengan adanya Darrel sebagai menantunya, operasi ibunya akan berjalan lancar.

Darrel memang sudah berjanji akan mengoperasi ibunya. Namun, hanya karena sebuah pesan dari Althea, dia justru menyerahkan operasi itu kepada Edwin tepat sebelum masuk ruang operasi.

Kalau saat itu Celine tidak harus menunggu di luar ruang operasi, dia pasti sudah bertengkar dengan Darrel.

Sayangnya, meski sudah berusaha mencegah segala kemungkinan, karena serah terima tugas mereka yang tidak berjalan dengan baik, perawat melakukan kesalahan serius hingga menyebabkan ibunya mengalami infeksi setelah operasi dan meninggalkan banyak komplikasi.

Dia sudah memilih orang yang paling dipercayainya, tetapi semuanya justru berakhir di luar dugaan. Inilah hal yang paling tidak bisa dimaafkan Celine.

Sebagai menantu, Darrel sudah dianggap seperti anak sendiri. Karena itu, Celine sangat kecewa dengan suaminya.

Suasana menjadi hening. Celine asal bertanya, "Kamu minum?"

Nada bicara Darrel yang biasanya dingin terdengar sedikit lembut kali ini. "Ya. Hari ini aku senang."

Celine tersenyum.

Yang seharusnya pergi sudah pergi, yang seharusnya kembali juga sudah kembali. Memang sudah waktunya untuk merasa senang.

"Seminggu lagi aku pulang. Setelah itu, kita bereskan urusan kita."

Urus apa?

Darrel teringat sesuatu. "Nggak perlu terburu-buru."

Celine menjawab, "Oke."

....

Setelah menelepon Darrel, beban berat yang selama ini mengimpit hati Celine akhirnya terasa lebih ringan.

Namun, hatinya justru terasa sedikit kosong.

Sebenarnya, selama beberapa hari di Kota Litar, dia tidak terlalu bahagia.

Dia juga pertama kali menikah, mana mungkin tidak ingin menjalani rumah tangga dengan baik.

Celine cukup penasaran dengan reaksi Darrel terhadap perceraian ini. Apa yang akan dia katakan kepadanya?

Dia pikir, setidaknya Darrel akan mengatakan sesuatu yang menunjukkan penyesalan.

Misalnya, Darrel tidak merawatnya dengan baik, tidak cukup memperhatikan ibunya, ketidakmampuannya memiliki anak bukanlah kesalahannya, dan kalau suatu hari dia mengalami kesulitan, dia masih bisa meminta bantuannya.

Dengan didikan Keluarga Suwandi, mereka selalu pandai menjaga penampilan dan melakukan hal-hal semacam ini demi menjaga harga diri.

Namun, pada akhirnya yang dia dapatkan hanya kalimat "nggak perlu buru-buru".

Reaksi Darrel benar-benar sesuai dugaan. Ternyata, selama ini dia terlalu menganggap dirinya penting.

"Celine ...."

Celine menoleh. "Kenapa, Bu?"

"Fotoin Ibu."

"Oke. Ibu berdiri di sini. Begini, kakinya seperti ini, ya ...."

Celine melihat ibunya berpose dengan wajah bahagia di depan dinding bunga. Bekas luka operasi di kepalanya terlihat jelas. Hidung Celine seketika terasa agak perih.

Dia salah memilih suami, juga salah memercayai orang, hingga membuat ibunya menderita.

Sore harinya, ibu dan anak itu pergi menonton pertunjukan tari dan nyanyian tradisional dengan latar pegunungan bersalju.

Helen duduk di antara penonton dengan topi merah di kepalanya. Dia bertepuk tangan dengan penuh semangat seperti anak kecil.

Beberapa turis di belakang mereka berbisik, "Tante di depan itu kenapa seperti orang bodoh? Apa kecerdasannya bermasalah?"

Celine merasa sangat tersinggung mendengarnya.

Wajahnya langsung menjadi masam. Dia menoleh dan memelotot kepada kedua orang itu hingga mereka terkejut.

Kemudian, dia memandang Helen, mengusap pipinya, lalu mengabadikan senyum polos ibunya dan mengunggahnya ke media sosial.

Malam harinya di hotel, Helen sudah tertidur.

Celine merasa bosan dan diam-diam menggulir media sosial. Dia melihat Darrel menyukai unggahan dosen mereka, Johan yang sedang menikmati teh dan melihat bunga.

Edwin juga menyukainya.

Jari Celine tanpa sadar berhenti di layar.

Foto ibunya kebetulan berada di antara dua unggahan Johan. Mereka melewatinya begitu saja.

Saat terus menggulir ke bawah, Celine melihat Edwin mengunggah sebuah foto bersama pada pagi sebelumnya.

[Dewi bedah saraf kembali! Tebarkan bunga!]

Bukan hanya seluruh anggota departemen mereka yang hadir, bahkan direktur rumah sakit dan beberapa petinggi lainnya juga ada di sana. Darryn juga ikut hadir. Sungguh meriah.

Semua orang tersenyum sambil mengangkat seorang wanita cantik nan dingin dengan aura luar biasa.

Sosok pria yang tampan dan berwajah dingin berdiri tepat di tengah, menggenggam tangan Althea erat-erat, menunjukkan sikap yang penuh keinginan untuk melindunginya.

Darrel juga menyukai unggahan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 50

    Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 49

    Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 48

    Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 47

    Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 46

    Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 45

    Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status