Share

Bab 2

Author: Nia Juwita
Celine menjilat bibirnya yang kering. "Dia pergi menjemput Althea?"

Edwin mengangguk. "Ya. Althea akan kembali untuk menjabat sebagai dokter kepala di departemen bedah saraf."

Edwin adalah senior Darrel dan Althea. Mereka bertiga dibimbing oleh guru yang sama. Edwin sudah bertahun-tahun mendukung hubungan mereka. Dia bahkan sangat melindungi Althea.

Malam sebelum Darrel menikah dengan Celine, Edwin begitu marah sampai minum-minum, lalu pergi ke rumah Keluarga Suwandi. Dia bahkan mencengkeram kerah Darrel dan mempertanyakan kenapa Darrel tidak menunggu Althea kembali.

Namun, semuanya sekarang akan kembali ke jalur yang semestinya.

Dia sengaja menambahkan, "Darrel sendiri yang berinisiatif pergi menjemput Althea. Dia kelihatan nggak sabar. Bagaimanapun, dia sudah menunggu Althea selama setahun."

"Oh." Celine tersenyum tipis. "Ya sudah kalau begitu. Maaf sudah mengganggu kalian."

Edwin mendengus dingin.

Saat Celine pergi, samar-samar dia mendengar orang-orang di belakangnya sedang membicarakannya.

"Kamu nggak takut dia bertengkar dengan Darrel?"

Edwin mencibir. "Memangnya dia berani bertengkar dengan Darrel? Cuma bermodal wajah cantik, dia merusak hubungan orang lain. Itu namanya pelakor."

Rekannya terkekeh pelan. "Bukannya kamu dokter yang menangani ibunya? Kenapa kamu bicara begitu tentang dia?"

Rekan yang lain berkata pelan, "Nasib dia juga sebenarnya kasihan. Temanku di bagian kandungan bilang dia didiagnosis mandul."

"Apa? Darrel benar-benar sial. Untung Althea sudah kembali."

Celine mempercepat langkahnya dan masuk ke lift.

Dia tidak menyangka kabar bahwa dirinya tidak bisa memiliki anak sudah tersebar.

Setelah keluar dari gedung rumah sakit, sisa cahaya matahari terbenam membuat pandangannya sedikit kabur.

Ternyata Althea bukan hanya akan kembali, Darrel bahkan pergi jauh-jauh untuk menjemputnya sendiri.

Sambil menuruni tangga, Celine menarik sudut bibirnya.

Selama setahun ini, dia bahkan tidak pernah punya hak untuk duduk di kursi penumpang di sebelah Darrel.

Sudahlah. Kalau begitu, dia akan menunggu Darrel pulang bersama Althea.

Malam itu juga, Celine meminta cuti selama dua minggu kepada atasannya dan membawa ibunya ke Kota Litar untuk bersantai.

Dua tahun lalu, ibunya didiagnosis menderita tumor otak, tetapi hasil operasinya tidak terlalu baik.

Keinginan terbesar ibunya adalah pergi melihat Kota Litar yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran.

....

Darrel dan Althea tiba di Kota Purgawa lima hari kemudian.

Meski sebagian besar barang mereka sudah dikirim lewat jasa pengiriman, barang bawaan Althea tetap saja sangat banyak.

Darrel membawa masuk tiga koper dan empat tas.

Althea sudah lebih dulu berbaring santai di sofa dengan kedua lengannya terbuka lebar. Rambut keritingnya tergerai, sementara pakaian bagian atasnya hanya menyisakan tank top berpotongan rendah.

Melihat jaket dan barang-barang milik Althea berserakan di lantai, Darrel menghela napas.

Althea memiliki sifat khas seorang murid teladan. Kepribadiannya eksentrik, kecerdasannya luar biasa, tetapi kemampuan mengurus dirinya sendiri sangat buruk.

Bagaimanapun, dia adalah putri kesayangan Keluarga Santoso. Sejak lahir, dia sudah ditakdirkan untuk hidup dalam kemewahan dan terbiasa menjadi pusat perhatian.

"Darrel, kepalaku sakit." Althea mengerang pelan sambil memejamkan mata.

Darrel bertanya, "Mau panggil tukang pijat ke rumah?"

"Nggak mau."

Darrel membuatkan segelas air madu dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, dia membungkuk untuk memunguti satu per satu barang yang berserakan di lantai, lalu membuka jendela agar udara berganti.

Setelahnya, dia pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat sebelum bersiap pergi.

Wanita di sofa itu menatapnya dengan tatapan menggoda dan berkata dengan santai, "Malam ini bisa nggak kamu tetap di sini?"

Tangan Darrel terhenti di gagang pintu.

Dia mengatupkan bibir dan berdiri di ambang pintu dengan punggung menghadap Althea. Sosoknya tampak begitu dingin dan tenang.

Waktu seolah berhenti pada saat itu.

Sebelum dia sempat berbalik, mata indah Althea sudah dipenuhi godaan. Dia terkikik, seolah puas karena berhasil mengerjainya.

"Pergi sana. Jangan ganggu aku istirahat. Kamu suami orang, 'kan?"

Dia sengaja menekankan keempat kata terakhir itu, seolah status itu merupakan penghinaan yang membuatnya memandang rendah Darrel.

Suasana di antara mereka terasa berat, menyisakan rasa sakit yang samar dan terus menggerogoti hati hingga sulit bernapas.

Fakta bahwa Darrel sudah menikah bahkan tidak bisa diubah oleh siapa pun. Lalu, apa arti sumpah cinta yang pernah mereka ucapkan?

Urat-urat di punggung tangan Darrel yang menggenggam gagang pintu mulai menonjol.

Darrel menarik napas dalam-dalam. "Aku pergi dulu. Istirahat yang baik."

Althea tetap berbaring di sofa sambil menatap langit-langit, lalu menyunggingkan senyuman sinis.

Darrel meninggalkan apartemen Althea dan kembali ke rumah pernikahannya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, dia membuka pintu rumah. Bau debu di dalam bahkan terasa lebih kuat daripada aroma yang dibawanya setelah terbang puluhan ribu kilometer.

Darrel sangat menjaga kebersihan. Wajahnya langsung menjadi masam. Sedikit rasa tidak senang muncul di hatinya.

Setelah menelepon petugas kebersihan untuk datang membersihkan rumah, barulah dia kembali ke kamar utama.

Jari-jarinya yang panjang dan putih perlahan membuka kancing kemeja, sementara tatapannya kosong.

Dia mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke atas ranjang. Lehernya yang jenjang terlihat jelas. Jakunnya bergerak saat dia menelan ludah.

Beberapa hari terakhir dia terus bepergian. Ditambah lagi dengan naik turunnya emosinya, dia merasa lelah.

Sudah seminggu dia tidak melampiaskan hasratnya. Ketika mencium aroma samar yang tertinggal di bantal, dia teringat saat terakhir kali kehilangan kendali dan menggendong Celine ke atas ranjangnya.

Rambut Celine tergerai di bahu, tubuhnya dibasahi keringat, tangannya mencengkeram seprai, sementara bibir merah mudanya tergigit, berusaha menahan gejolak dalam dirinya.

Mengingat sisi lembut dan menggoda Celine, tenggorokan Darrel terasa panas dan sulit menahan diri.

Dia melihat jam. Masih sekitar dua jam lagi sebelum Celine pulang.

Darrel tidur sejenak untuk memulihkan tenaganya. Ketika terbangun, hari sudah gelap.

Namun, saat dia turun dari ranjang dan berjalan ke luar, ruang utama masih gelap gulita.

Celine belum pulang.

Dia pun mengernyit.

Sejak menikah, Celine tidak pernah pulang larut malam tanpa kabar.

Keesokan harinya saat bekerja, Darrel terlebih dahulu memeriksa rekam medis.

Kondisi ibu mertuanya, Helen Makuta, tidak mengalami penurunan. Namun, ada satu kali pemeriksaan lanjutan yang terlewat.

Barulah setelah mendengar cerita dari rekan kerjanya, Darrel tahu bahwa Celine pernah datang mencarinya.

Edwin tampak sedikit bangga pada dirinya sendiri. "Aku bilang ke dia, kamu pergi ke Negara Mardia untuk menjemput Althea."

Darrel mengusap pangkal alisnya. "Buat apa kamu bilang begitu ke dia?"

"Cepat atau lambat dia juga akan tahu, 'kan?"

Edwin sengaja menyiratkan sesuatu. Althea sudah kembali, jadi Celine yang tidak bisa memberikan anak tentu saja harus menyingkir.

Darrel tidak mengatakan apa-apa. Dia mengangkat rekam medis dan bertanya, "Kenapa ibu mertuaku nggak datang untuk pemeriksaan lanjutan?"

"Kamu lagi pergi. Hari itu pasien terlalu banyak, jadi aku suruh dia bawa ibunya pulang dulu. Tapi, setelah itu aku lupa bikin janji pemeriksaan berikutnya."

"Kak Edwin, aku perlu mengingatkanmu. Karena kelalaian departemen kita, setelah menjalani operasi kraniotomi, ibu mertuaku nggak hanya mengalami gangguan intelektual, tapi kondisinya juga nggak stabil. Sesuai prosedur, dia seharusnya mendapat prioritas untuk pemeriksaan. Lain kali, lakukan pemeriksaan menyeluruh dan teliti untuknya. Ini juga demi kebaikanmu sendiri."

Setelah berkata demikian, Darrel membawa rekam medis dan berjalan pergi dengan dingin.

Edwin hanya bisa berdiri di sana dengan wajah kebingungan.

....

Ketika mendengar bahwa Darrel sudah menjemput Althea pulang ke tanah air, Darryn yang masih berkuliah di fakultas kedokteran langsung bersemangat. Dia sampai bolos untuk menemui mereka.

"Kak!"

Saat itu, Darrel baru saja selesai melakukan pemeriksaan pasien dan kembali bersama sekelompok orang di belakangnya.

Dia mengernyit. "Ada apa kamu ke sini?"

"Kak Althea mana? Aku mau ketemu dia."

Bagi semua mahasiswa kedokteran, Althea adalah sosok yang mereka kagumi.

Mendengar nama Althea, tatapan dingin Darrel sedikit berubah.

"Direktur rumah sakit lagi bicara dengannya. Jangan ganggu dia."

Darryn menjulurkan lidah. "Tenang saja. Aku nggak akan bikin Kak Althea kesayanganmu itu kena masalah."

Darrel menarik Darryn ke samping. Dia ingin bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah selama beberapa hari terakhir dan untuk apa Celine datang ke rumah sakit mencarinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 50

    Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 49

    Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 48

    Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 47

    Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 46

    Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 45

    Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status