Share

Bab 4

Author: Nia Juwita
Celine teringat ucapan Darrel saat pria itu menelepon dua malam lalu. "Hari ini aku senang."

Sepertinya Kota Purgawa memang sedang ramai.

Bahkan perceraian antara dirinya dan Darrel pun tak lebih dari riak kecil. Kepulangan Althea-lah yang benar-benar menimbulkan gejolak besar.

Celine menutup media sosialnya dan bersiap tidur. Tiba-tiba, Darryn mengiriminya pesan dengan nada menuntut.

[Kamu mau cerai dengan kakakku, 'kan? Kamu bawa ibumu ke mana?]

[Liburan. Dua hari lagi aku pulang.]

[Kakakku dan Althea sudah balikan! Cepat pulang. Aku nggak mau Kak Althea sampai jadi orang ketiga!]

Celine menatap dua kata "sudah balikan" itu sambil mencibir.

Bagaimanapun juga, dialah istri sahnya. Mereka malah berani memerintahnya?

Celine bukan orang yang bisa diinjak-injak begitu saja. Dia membalas.

[Kakakmu sendiri yang menunda-nunda. Kalau kamu nggak mau Althea jadi orang ketiga, ya minta padaku baik-baik agar cepat pulang.]

Benar saja, mana mungkin Nona Besar Darryn mau meminta sesuatu secara baik-baik kepadanya?

[Bisa nggak berhenti mengunggah foto ibumu? Menjijikkan tahu! Kamu nggak malu, tapi kakakku malu!]

Ucapan itu langsung menyulut amarah Celine.

[Memangnya itu urusanmu?]

[Jelek banget. Jangan sampai orang-orang di media sosial takut melihatnya. Kamu kira ibumu cantik? Sekilas saja sudah kelihatan seperti orang bodoh!]

Celine langsung menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur. Setelah keluar, dia terus mencoba menelepon Darryn lewat panggilan suara.

Namun, gadis itu malah tidak berani mengangkatnya.

Akhirnya, Darryn tidak tahan lagi.

[Jangan kayak wanita gila! Kalau bukan karena kamu terus menunda perceraian dengan kakakku, dari dulu sudah kuhapus kontakmu.]

[Nggak masalah. Setelah kamu jadi dokter nanti, aku akan sebarkan screenshot semua ucapanmu yang menghina pasien. Kita lihat siapa yang masih mau berobat ke dokter kayak kamu nanti.]

[Kamu berani?!]

Celine menatap foto Helen yang terpasang di layar ponselnya. Dia bersandar di dinding, berjongkok, lalu membenamkan wajah di antara kedua lengannya.

Sampai keesokan harinya, amarahnya masih belum reda. Dadanya terasa sesak dan sangat tidak nyaman.

Orang bilang dokter harus punya hati yang penuh belas kasih. Siapa sangka, Keluarga Suwandi justru begitu dingin dan tidak berperasaan.

Zafira jelas sudah mendengar soal itu. Pagi-pagi sekali, dia menghubungi Celine untuk menanyakan kenapa dia pergi ke Kota Litar.

[Celine, seharusnya kamu mengurus perceraian dengan Darrel dulu sebelum pergi.]

Celine sempat ingin membalas dia sudah terlanjur sampai di sini. Memangnya ada gunanya mengatakan itu sekarang?

Namun, ketika teringat uang seserahan 2 miliar dan akses ke fasilitas medis berkualitas yang diberikan Keluarga Suwandi, dia menghapus pesan itu dan menggantinya dengan kalimat lain.

[Maaf. Seminggu lagi aku akan pulang. Kami pasti akan bercerai. Nggak perlu khawatir.]

[Secepatnya.]

Desakan yang dingin, tanpa sedikit pun kehangatan manusiawi.

Sikap Keluarga Suwandi membuat Celine merasa jijik.

....

Setelah akhirnya berhasil menenangkan diri, Celine tiba-tiba menerima telepon dari Darrel.

Dia mengira Darrel menelepon untuk membicarakan perceraian.

Sebenarnya, dia juga belum sepenuhnya bisa menerima percakapan terakhir mereka.

Dia adalah manusia. Hatinya bukan terbuat dari batu. Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan.

Bagaimanapun, mereka sudah hidup bersama selama setahun. Mereka juga bukan dua batang kayu. Setidaknya pasti ada beberapa hal yang perlu dibicarakan, bukan?

Dalam 365 hari, setidaknya pasti ada satu atau dua hari yang layak dikenang.

Celine juga bukan pertapa suci. Kalau tidak mengungkapkan semua kekecewaan dan kekesalan yang selama ini dia pendam, mungkin tidak akan pernah ada kesempatan lagi.

Karena itu, dia mengangkat telepon.

Suara khas Darrel terdengar di telinganya, begitu dingin hingga menusuk tulang.

"Althea punya masalah dengan pasien yang membuat keributan. Pasiennya sampai mengejarnya ke rumah. Aku menyuruhnya tidur di kamarmu dulu."

Otak Celine sempat berhenti bekerja beberapa detik. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia malah merasa geli.

"Itu rumahmu. Kamu yang menentukan. Nggak perlu memberitahuku."

Dari seberang, pria itu berbicara seolah sedang membacakan pasal hukum.

"Rumah itu merupakan harta bersama dalam pernikahan. Menurutku, aku perlu memberitahumu."

Celine memutar bola matanya. Ini semacam bukti tertulis untuk berjaga-jaga ya? Dia juga tidak pernah bilang ingin memperebutkan rumah itu.

Kemudian, Darrel berkata lagi, "Althea nggak bawa pakaian. Pinjamkan piamamu dulu."

Celine mengernyit dan berpikir, masih ada piamanya di rumah itu?

Oh, sepertinya dia lupa mengambil pakaian yang dijemur di balkon.

"Pakai saja."

Biarkan saja kalau mereka berdua tidak merasa jijik. Toh dia juga tidak menginginkannya lagi. Anggap saja dia menyumbangkannya untuk kesenangan khusus mereka.

Mulai sekarang, semakin jauh dia dari sampah-sampah itu akan semakin baik.

Saat hendak menutup telepon, Darrel tiba-tiba berkata.

"Kota Litar punya banyak tempat wisata. Ajak Ibu pulang dulu, nanti lain kali bisa pergi lagi. Jangan sampai menunda urusan penting."

Saat itu, terdengar teriakan manja seorang wanita dari ponsel.

"Darrel, telur goreng yang kubuat gosong! Cepat sini!"

"Aku tutup dulu."

Celine bahkan belum sempat berbicara, Darrel sudah menutup telepon.

Dia memegang ponselnya sambil mencibir. Bukankah waktu itu Darrel bilang tidak perlu buru-buru?

Ternyata itu hanya basa-basi? Bagaimanapun, dia sudah membawa wanita itu masuk ke rumah.

Darrel yang selalu menjaga citra sebagai pria yang jujur dan terhormat itu pasti sangat peduli pada reputasi wanita yang dicintainya. Apa jadinya kalau tersiar kabar bahwa Althea sampai dikejar-kejar pasien?

Darrel juga tidak suka bau asap masakan. Karena itu, selama setahun ini Celine bahkan tidak berani memasak di rumah. Kalau terpaksa memasak pun, dia hanya merebus makanan. Rumah itu benar-benar tidak terasa seperti rumah.

Sekarang mereka malah menggoreng telur bersama.

Benar-benar standar ganda. Celine mengerucutkan bibir.

"Celine, cara menyiramnya gimana ya?"

Helen memanggilnya dengan bingung dari kamar mandi.

Jantung Celine langsung berdegup kencang. Dia melempar ponselnya dan segera turun dari tempat tidur.

Operasi kraniotomi itu menyebabkan kemampuan kognitif Helen menurun. Dia sering kali melupakan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Celine lalu mengajari ibunya cara menyiram toilet dengan sabar, sambil mendengarkan cerita Helen tentang hal-hal menyenangkan selama perjalanan mereka beberapa hari terakhir.

Melihat Helen begitu bersemangat, Celine membuka kembali daftar tempat wisata yang belum mereka kunjungi.

Dia memutuskan untuk tidak memedulikan desakan Keluarga Suwandi. Biar saja mereka panik setengah mati.

Selama setahun, dia dan ibunya terus dipandang sebelah mata. Operasi ibunya mengalami masalah sampai akibatnya seperti ini, tetapi semua orang masih merasa mereka berdua sudah mendapatkan keuntungan besar dari keluarga Suwandi.

Celine memandang Helen seperti sedang melihat seorang anak kecil.

Yang terpenting adalah ibunya bahagia.

Celine sudah bisa melepaskan semuanya. Karena itu, dia tidak ingin lagi memedulikan Darrel.

Wanita yang selama ini ada di hati Darrel bahkan sudah masuk ke rumah mereka. Apa lagi yang perlu dibicarakan?

Tinggal menunggu sampai dia kembali ke Kota Purgawa, lalu mereka tinggal merobek akta nikah mereka dan semuanya selesai.

Namun, di sisi lain, di Kota Purgawa ....

Tanpa kehadiran sang nyonya rumah, berbagai urusan sehari-hari ternyata cukup membuat kepala Darrel pening.

Saat hendak membayar tagihan listrik, dia bahkan tidak tahu nomor pelanggan rumahnya sendiri dan terpaksa menelepon Celine untuk menanyakannya.

Dalam beberapa hal, Darrel sebenarnya cukup kolot. Misalnya, dia berpandangan bahwa suami mencari nafkah di luar, sedangkan istri mengurus rumah.

Dia meminta Celine membayar tagihan itu langsung melalui ponselnya. Namun, Celine beranggapan bahwa itu sudah bukan rumahnya lagi. Dia pun memilih tidak mau tahu.

Ada satu hal lagi yang paling penting ....

Darrel sudah dua minggu tidak melampiaskan hasratnya. Sebagai pria normal yang sudah menikah, dia tidak merasa menggunakan tangannya sendiri sebagai pengganti pasangan adalah pilihan yang baik.

Tengah malam, ketika pikirannya sedang kacau, dia mendengar suara benda-benda beradu dari luar. Darrel mengernyit dan turun dari tempat tidur.

Ketika pintu kamar dibuka, di ruang utama yang remang-remang tampak sesosok wanita dengan tubuh yang indah dan berlekuk.

Pakaiannya sangat minim. Kerah bajunya melorot hingga memperlihatkan bahunya, sementara bagian bawah tubuhnya nyaris tidak tertutup. Kedua kakinya yang jenjang bergoyang ringan.

Darrel langsung menutup kembali pintu kamarnya.

"Pakai baju yang benar. Aku sudah carikan piama untukmu, 'kan?"

Althea terkekeh mengejek. "Kenapa? Setahun nggak ketemu, sekarang jadi cowok polos? Aku sudah menawarkan tontonan gratis, kok malah nggak mau lihat? Memangnya aku nggak cantik?"

Darrel menjawab, "Pakai baju yang benar."

"Nggak mau lihat? Memangnya aku nggak secantik istrimu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 50

    Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 49

    Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 48

    Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 47

    Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 46

    Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 45

    Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status