ログインTak terasa sudah satu minggu Aluna berada di kotanya sendiri. Sejak pulang dari Bali, tak sekalipun suaminya mengabarinya. Padahal, Aluna sudah memberikan spam pesan. Namun balasannya hanya singkat saja. Seperti enggan menanyakan balik kabar dirinya.
Hari yang ditunggu tiba, Arkan dan ibunya akhirnya pulang ke rumah. Aluna pun menyambut mereka dengan sukacita. "Ada oleh-oleh untukmu dari mas Aamir." Ucap Arkan. "Untukku?" Tanya Aluna dengan mata yang berbinar. Arkan dengan raut wajah datarnya memberikan gelang kupu-kupu kepada Aluna. Melihat itu, Aluna senang sekali. Ia lalu memakai gelang tersebut di tangannya. "Cantiknya.." Aluna sampai terpesona. Melihat itu, Fiona jadi mendengkus. "Padahal gelang itu punya mama. Cuma karena mama inget kamu belum dapat oleh-oleh jadi mama relakan gelang itu untukmu." Oh, Aluna terkesiap mendengar ucapan ibunya. Aluna pun jadi merasa tak enak hati dan bergegas melepas gelangnya. "Maaf kalau begitu, ma. Ini aku kembalikan saja." "Ma!" Tegur Arkan tak senang. "Ambillah! Lagipula gelang itu sudah dipakai olehmu!" Ketus Fiona langsung masuk ke kamarnya. Sementara, Aluna jadi serba salah. Jika dipakai nantinya pasti akan melukai hati Fiona. Jadi lebih baik disimpannya saja pemberian Aamir ini. Selanjutnya, Aluna membantu suaminya membongkar barang-barang dari dalam koper. Baju kotor sudah dipindahkan ke keranjang. Di dalam sana juga Aluna menemukan makanan kering dan juga beberapa bungkus kaos pakaian. "Mas.. ini punya siapa?" Tanya Aluna. "Untuk teman sekantor." Jawab Arkan tanpa menoleh. "Semuanya?" "Iya." Aluna melihat lagi jumlah oleh-oleh yang begitu banyak ini. Sepertinya, Arkan memberikan untuk seluruh pegawai kantornya. "Apa kamu membeli oleh-oleh untukku?" Celetuk Aluna. Arkan terdiam akan pertanyaan itu. Entah karena ingin bertanya atau sekedar menyindir. Arkan memilih pergi dan menghindari Aluna. Melihat itu, Aluna tersenyum pahit. Dia sudah tahu apa jawabannya. Oleh karena suaminya sudah pulang, sekarang Aluna akan melanjukan rencananya. Yaitu, merubah dirinya menjadi apa yang suaminya mau. Aluna berubah lebih perhatian lagi. Sering memuji pria itu tanpa diminta, sering menanyakan kabarnya walau kadang Arkan terlihat risih akan kehadirannya. Ketika, Arkan bekerja maka Aluna akan mengirimkan pesan penuh semangat. Hari ini, Aluna pun membantu suaminya berpakaian. Rambut suaminya pun ikut ditata rapi hingga membuat Arkan keheranan. "Tidak perlu sejauh ini. Kamu urus aja kebutuhan dapur." Ucap Arkan yang jadi kikuk sendiri. "Nggak apa-apa. Untuk suamiku, aku selalu punya waktu." Jawab Aluna dengan senyuman tulusnya. Ia lalu memperhatikan penampilan suaminya. "Kamu tampan, mas. Aku beruntung menikahimu." Arkan menoleh ketika Aluna mengucapkan itu. Apalagi senyuman itu begitu mengembang di wajahnya. "Terima kasih." Aluna menghela nafas panjang ketika suaminya melewatinya begitu saja. "Ternyata aku masih harus berusaha lagi." Aluna pikir sudah bisa memenangkan hati suaminya dengan pujian, tapi rupanya perjuangan Aluna masih panjang. Tak sampai disitu, Aluna pun ikut mengantar suaminya sampai ke mobil. "Hati-hati di jalan ya, mas." Seru Aluna sambil menyalimi tangan suaminya dengan takzim. Seperti mengambil kesempatan, Aluna pun berjinjit dan mencium pipi suaminya hingga membuat Arkan jadi terkejut. "Kamu ini!" Arkan sampai menatap tajam. "Maaf.. habisnya kamu ganteng banget. Aku jadi gemas!" Dahi Arkan sampai mengkerut karena ucapan istrinya. Apa Aluna ini salah makan hingga berubah genit seperti ini? Daripada terus ditatap oleh Aluna, Arkan memilih masuk ke mobilnya. Dari luar, Aluna bisa melihat suaminya mengusap pipi yang tadi ia cium. Aluna pun kembali tersenyum pahit. "Aluna!" Panggil Fiona dengan suara tingginya. Aluna langsung buru-buru masuk ke rumah ketika dipanggil oleh mertuanya. "Ada apa, ma?" "Lihat itu dapur udah kayak kapal pecah! Piring kotor numpuk. Bekas makan belum diberesin! Nah, kamu malah malas-malasan!" Bentak Fiona sambil berkacak pinggang. "Maaf, ma. Tadi lagi nganter mas Arkan ke depan." "Alasan aja kamu ini! Sana beres-beres!" "Baik, ma." Aluna pergi ke dapur dan membereskan bekas sarapan mereka. "Kalau kamu kerja dan ikut membantu perekonomian keluarga, mama nggak masalah kalau kamu mau males-malesan. Ini kan kamu nggak kerja! Cuma di rumah aja! Harusnya tahu diri!" Aluna menahan mati-matian perasaannya. Begitu juga air matanya yang ingin tumpah ruah. Dia sadari diri akan status dirinya. Sekarang, Aluna sudah tidak memiliki siapapun. Orangtuanya kompak meninggalkannya di dunia ini seorang diri. Saat ini, dia hanya memiliki Arkan dan keluarganya. Walau seringkali hati Aluna sakit karena mereka, tapi Aluna berusaha untuk ikhlas. Mungkin saja ini ujian untuknya. Setelah berberes dan memasak makan siang. Aluna membuka media sosial dan mencari resep kue coklat. Katanya Arkan suka makan kue coklat, kan? Jadi, Aluna akan berusaha memberikan yang terbaik. "Ya ampun.. aku lupa mengirim pesan." Tangan lincah Aluna membuka galeri lagi. Yaitu potongan pesan dari Nindi dan Arkan. Seluruh gaya Nindi saat mengirim pesan pada Arkan ditirunya. Ia lalu memberikan pesan semangat pada Arkan. "Mudah-mudahan dibalas sama mas Arkan." Aluna mengulum senyumnya. Setelah itu, dia memasak kue coklat yang sudah dipelajarinya. Kue coklat spesial untuk suaminya tercinta. Sementara, Arkan tak fokus bekerja karena kiriman pesan dari Aluna. "Kenapa dia jadi seperti ini, sih?" Arkan berdecak kesal. Dia lalu menghapus pesan tersebut. Sesampainya di rumah, Arkan sudah disambut senyuman manis istrinya. Dengan telaten, Aluna menyiapkan semua kebutuhan suaminya tanpa diminta. Membuat Arkan terheran-heran karenanya. "Gimana kerjanya hari ini, mas?" Tanya Aluna lembut. "Nggak fokus." "Kenapa?" "Karena kamu." Deg! Mata Aluna langsung membulat besar. "Karena aku? Kenapa, mas?" Tanya Aluna terbata. "Bisa nggak sih kamu sekejap aja beri aku ruang untuk bernafas? Kamu selalu kirim pesan saat aku kerja. Padahal di rumah kamu nggak berhenti untuk menggangguku!" Ucap Arkan penuh kekesalan. "Aku kerja jadi nggak fokus, Aluna! Padahal masalahku lagi banyak di kantor." "Ma-af, mas.." ucap Aluna dengan wajah tertunduk. "Aku cuma ingin memberimu semangat saja." "Jangan memakai dalih memberikan semangat kalau kamu cuma sekedar ingin mencari perhatianku! Aku nggak butuh itu." Dengan kesal, Arkan meninggalkan Aluna dan pergi keluar dari kamarnya. Sementara, Aluna terduduk di tepi ranjang sambil menangis. Tak lama, pintu dibuka lagi. Ternyata ibu mertuanya datang dengan berkacak pinggang. "Inilah gunanya mencari istri yang berpendidikan!" Geram Fiona. "Biar tahunya nggak nyusahin suami aja. Memang kamu mau suamimu di pecat karena kamu, Aluna? Awas, ya! Kalau kamu berani mengganggu Arkan maka kamu akan berhadapan dengan ibu!" Fiona mendengkus dan langsung keluar dari kamar. Air mata Aluna kembali berjatuhan membasahi pipinya. Dia lalu membuka laci meja riasnya. Mengambil diari dan juga pena. Menumpahkan kesedihan pada kertas putih tersebut."Mas.."Pintu diketuk dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Suara itu terdengar samar hingga Arkan harus melesatkan pendengarannya. Setelah yakin jika memang ada istrinya yang berdiri di depan pintu, barulah ia menegur."Masuklah." Ucap Arkan. Pria ini sibuk di ruang kerja sambil bermain di depan laptopnya.Aluna masuk dengan perlahan sembari membawa satu nampan yang berisi kue coklat dan teh hangat. Ia lalu menghidangkannya di depan Arkan."Cemilan lembur, mas." Ujar Aluna mempersilahkan."Hmm.. terima kasih." Sahut Arkan tanpa menoleh.Aluna masih memandangi suaminya yang terduduk di kursi kerja. Dahi suaminya tampak bergaris. Mata itu terlihat memerah. Belum lagi rambut yang acak-acakan.Seketika Aluna menjadi iba. Beberapa hari ini, Arkan sibuk di kantor untuk mengejar laporan akhir tahun. Dia pergi pagi dan pulang pada malam hari. Namun bukannya beristirahat, Arkan malah menghabiskan waktunya di ruang kerja."Kenapa masih disini?" Tanya Arkan pada istrinya yang tegak mematung."A
"Bulan depan mama mau uang bulanan untuk mama dinaikkan." Serunya."Kenapa??" "Jangan perhitungan dengan ibu sendiri. Kalau bisa seluruh gaji kamu biar mama yang pegang!" Sambungnya sambil melirik Aluna.Aluna yang mendengar itu hanya bisa tertunduk seperti yang sudah-sudah. Tak mau membantah ataupun mengelak. Dia terima saja jika Arkan mengikuti keinginan ibunya.Padahal selama ini, Arkan membagi dua pengeluaran rumah ini dengan ibunya. Untuk biaya listrik dan air ada Arkan yang membayar. Sementara operasional sehari-hari Fiona yang akan menanggung.Itu karena mendiang papa Arkan masih memiliki gaji pensiun yang diwariskan pada Fiona. Begitu juga mamanya ini yang masih memiliki gaji pensiun sendiri.Aluna yang merasa akan ada perdebatan memilih menyingkir. Ia pergi ke dapur untuk mencuci piring, sedangkan anak dan ibu itu mengobrol di ruang keluarga."Kenapa, ma? Ada masalah dengan gaji papa?""Nggak ada.""Lalu kenapa?"Fiona mendengkus. "Memang salah ya mama minta seluruh gajimu?
"Assalamu'alaikum," Aluna mengucap salam.Alih-alih membalas salam menantunya, Fiona malah menatap tajam paper bag yang ada di tangan Aluna.Aluna yang merasa tengah dikuliti lalu menunduk dengan segan, ia mencoba berlalu dari wanita yang tengah memandang sinis padanya.Plak!Aluna terkesiap ketika majalah yang dibaca Fiona terlempar di atas meja begitu saja.Wanita ini lalu memberi kode dengan tangannya agar Aluna mendekat."Ada apa, ma?" Tanya Aluna tersendat."Dari mana kamu?""Dari salon sama..." Aluna memperlihatkan paper bagnya. "Mampir ke butik.""Kemarikan!"Terpaksa Aluna membiarkan mertuanya melihat isi paper bag tersebut dan mengobrak ngabriknya. Tapi yang dilihat Fiona bukan hanya pakaian yang Aluna beli, melainkan harganya."Ya, Tuhan!" Fiona berdecak saat melihat kertas harganya. "Ini mahal banget! Kamu ini! Enak banget ngabisin uang suamimu!""Maaf, ma.. tapi aku membelinya dengan sisa uang belanja yang ku tabung.." kilah Aluna."Sama aja, Luna! Lihat ini!" Fiona memper
"Ini, mas.."Aluna dengan telatennya membawakan tas kerja Arkan dan mengantarnya sampai ke teras. Tangan pria itu diambilnya dan disalimi dengan takzim."Aku pergi dulu." Sahut Arkan. Seperti biasa. Suara itu terdengar dingin, datar seakan tak bernyawa."Mas.." panggil Aluna tersendat. "Apa boleh aku minta izin keluar hari ini?"Arkan langsung menoleh. "Mau kemana?""Aku mau ke salon." Jawab Aluna sedikit malu-malu.Arkan ikut terkejut. Tumben sekali. Dalam dua tahun pernikahan mereka, baru kali ini Arkan melihat Aluna ingin ke salon."Boleh. Nanti hati-hati di jalan.""Iya, mas. Makasih banyak!" Seru Aluna bersorak. Ia pun melambaikan tangan saat suaminya masuk ke dalam mobil.Sedangkan di dalam ada dua wanita penggosip yang mengintip dari kaca jendela. Terutama Fiona yang berdecak tak suka melihat kemesraan menantu dan putranya."Adel mana sempat mengantar suaminya sampai ke teras, mbak. Suaminya dibiarin aja pergi kerja." Ucap Farah. Eh, kenapa tiba-tiba dia jadi tersentuh melihat
Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya. Tapi suara Fiona sudah melengking seantero rumah. Apa saja pekerjaan Aluna selalu salah di matanya.Biasanya Fiona tak akan mengomel hebat seperti ini. Tapi pagi ini kedua tanduk itu sudah keluar dari kepalanya.Ada saja yang dikoreksi oleh Fiona. Baik dari teh hangat yang sudah dibuat, atau nasi uduk yang dijadikan sarapan. Aluna serba salah. Tapi dia masih bisa berpikiran positif.Mungkin karena ada Farah disini makanya Fiona menjadi cerewet. Ya.. walaupun hari-hari sebelumnya juga begitu."Selamat pagi.. mari kita sarapan." Ajak Fiona pada saudaranya yang baru saja keluar dari kamar."Wah.. harum banget nasi uduknya. Mbak yang buat, ya?" Farah bertanya pada kakak perempuannya."Iya, dong. Memang siapa lagi?" Sahut Fiona sambil melirik Aluna.Aluna sendiri hanya diam tertunduk. Padahal sejak tadi dia yang pontang panting masak di dapur. Sementara Fiona hanya bisa mengomel."Mana suamimu? Belum bangun?" Kini pertanyaan diajukan pada Aluna."B
Sayup-sayup Aluna membuka matanya perlahan. Aroma parfum maskulin ini sangat membelai hidungnya.. Kepala wanita ini sedikit menggeliat. Di bawahnya masih ada dada bidang tempat Aluna merebahkan diri.Jemari Aluna yang lentik mengusap dada suaminya dengan kasih sayang. Wanita ini tersenyum tipis.Semalam sungguh luar biasa..Sesungguhnya dalam dua tahun pernikahan, Arkan jarang sekali menyentuh istrinya. Hingga terkadang tebersit pertanyaan di benak Aluna.. apakah suaminya ini normal? Kenapa ia seakan tak tertarik dengan santapan halal yang dimiliknya.Namun pesan mesra dari Nindi menyadarkan Aluna. Jika Arkan sebenarnya masih terjebak dalam pesona mantan kekasihnya. Sebab itulah, Aluna harus memperbaiki diri agar suaminya berbalik mencintainya.Seperti Aluna yang sudah tunduk terlebih dahulu pada pesona yang di miliki suaminya.Aluna beringsut bangun perlahan. Kepalanya mendongak untuk menatap Arkan yang tertidur pulas.Lagi-lagi senyum itu terbit.Wajah Arkan sangat tampan. Mata taj







