共有

Bab 2

作者: Stary Dream
last update 公開日: 2026-04-11 07:39:13

"Nindi.."

Aluna melihat nama dari pengirim pesan tersebut dan tersenyum kecil. Ternyata, Arkanlah yang mengiriminya pesan terlebih dahulu. Wanita yang menjadi mantan terindah bagi suaminya.

[ "Aku baik. Bagaimana kabarmu?" ] balas wanita itu.

Aluna kembali menggeser pesan milik Nindi. Ternyata ini adalah obrolan mereka setelah sekian lama. Mungkin semenjak Arkan memutuskan menikahinya.

Ia lalu memeriksa pesan yang lain.

"Maafkan aku sudah lancang, mas." Di satu sisi dia merasa bersalah karena sembarangan membuka ponsel suaminya, tapi di sisi lain dia penasaran.

Sampai Aluna menyadari jika tak ada pesan dari Aluna disana. Padahal, hampir setiap hari Aluna mengirimkan pesan. Sekedar menanyakan keadaan suaminya ketika sedang bekerja. Tapi, namanya tidak ada disana.

Aluna menggeser lagi layar tersebut dan menyentuh galeri. Sebuah kumpulan foto dan video milik suaminya. Hingga ada satu tempat yang Aluna begitu penasaran ingin membukanya.

Yaitu tangkapan layar.

"Pesan apa ini yang disimpan oleh mas Arkan?" Karena penasaran, Aluna membuka kembali pesan tersebut dan terperangah. Ternyata percakapan milik Arkan dan Nindi.

Disitu masih tertulis jelas bahwa Arkan menamai Nindi dengan sebutan "My Love" berbeda dengan nama sekarang yang hanya Nindi saja.

Aluna meneliti pesan-pesan tersebut, begitu mesra. Mungkin karena saat itu keduanya masih menjalin hubungan. Disanalah Aluna juga sadar, bahwa ada sisi lain dari Arkan yang tak ia ketahui.

Pria yang selalu dingin di hadapannya ini begitu hangat, terbaca dari semua pesan yang ia kirimkan pada Nindi. Ternyata Arkan tak kaku seperti yang ia kira, pria ini begitu romantis dan menghujani Nindi dengan kata cinta. Nindi pun sama seperti itu.

Saking manisnya pesan-pesan yang dikirimkan oleh Arkan pada Nindi membuat hati Aluna meringis. Dia lalu mengirim pesan-pesan tersebut ke nomornya. Lagi-lagi Aluna terkesiap. Arkan menamai kontaknya dengan sebutan nama saja. Tidak ada yang spesial.

Setelah mengirimkan pesan tersebut, Aluna segera menghapus balon obrolannya. Takut jika aksinya ini diketahui oleh Arkan.

"Sudah siap?" Tanya Arkan yang tiba-tiba muncul.

"Oh.. su-sudah, mas." Untung saja ponsel Arkan sudah diletakkannya lagi ke atas nakas.

"Keluarlah. Taksi yang mengantarmu sudah di depan."

Aluna mengangguk dan membawa kopernya menuju pintu luar. Sebelumnya dia berpamitan dulu kepada Fiona, Farah dan keluarganya yang lain.

"Ya, pulanglah!" Sahut Fiona tanpa menoleh. Dia bahkan mengelap tangannya bekas disalimi oleh menantunya tadi.

Melihat dinginnya tanggapan Fiona dan juga keluarganya yang lain, Aluna paham kalau mereka pasti menderita karena harus bersitatap dengannya. Namun semua bisa ditahannya demi Arkan yang dicintainya.

"Masuklah ke taksimu. Kopermu sudah disana."

"Terima kasih, mas." Aluna mengambil tangan suaminya dan menciuminya dengan takzim. "Aku pamit."

"Hmm.. hati-hati di jalan."

Aluna kira dia akan diantar suaminya menuju taksi yang ada di depan. Rupanya dia salah. Arkan malah menutup pintu ketika Aluna baru saja keluar dari rumah.

Oh, sungguh sedih Aluna melihat perlakuan suaminya. Dengan gontai, Aluna menuju taksi yang menunggu di depan pagar rumah. Tepat sekali sebuah mobil hitam masuk ke perkerangan.

"Aluna!" Seru seseorang di dalam mobil hingga membuat langkah wanita ini terhenti. Pria ini lalu keluar dari mobilnya dan melepaskan kaca mata hitamnya.

"Mas Aamir?"

"Mau kemana kamu?" Tanyanya. Aamir adalah sepupu Arkan. Anak dari Brastya, kakak dari Fiona.

"Mau pulang, mas."

"Pulang? Bukannya kita masih ada acara sampai besok. Kok kamu mau pulang?"

"Ada pekerjaan di Jakarta." Jawab Aluna tersendat. Dia tak mau jujur jika sebenarnya Arkan lah yang memaksanya untuk pulang.

"Oh, sama Arkan?"

Aluna menggeleng. "Sendirian, mas."

"Sendirian?" Kini mata Aamir terbelalak. "Naik apa?"

"Naik pesawat, mas. Itu taksiku sudah ada di depan."

Aamir lalu mendongak melihat taksi yang rupanya sudah terparkir disana sejak kedatangannya.

"Kalau begitu hati-hati di jalan."

"Iya, mas. Aku permisi dulu."

Aluna pergi menuju taksinya dengan Aamir yang mengamati. Setelah memastikan Aluna masuk ke dalam taksinya, Aamir mendekat dan mengetuk jendela sopir.

"Tolong titip adik ipar saya." Ucapnya yang membuat Aluna tersenyum.

"Baik, pak."

Taksi yang dikendarai Aluna melaju dan meninggalkan area perumahan, Aamir pun lalu masuk ke dalam rumah.

"Aamiir!!" Seru para ibu-ibu memekkakan telinga.

"Ya, ampun. Hampir pecah gendang telingaku!" Aamir sampai tertawa. Dia lalu menerima pelukan tante-tantenya satu per satu. "Apa kabar semua?"

"Baik. Kamu kapan sampai ke Bali?" Tanya Farah.

"Baru hari ini dan langsung kemari." Aamir lalu menatap para anggota keluarganya satu per satu. "Mana pengantin baru?"

"Sedang di hotel. Eh, papamu nggak mau ikut, ya?" Tanya balik Fiona.

"Bukan nggak mau ikut. Tapi lagi ada urusan. Tante tahu sendiri kalau papa itu CEO perusahaan di Singapore." Aamir meralat ucapan tantenya. Dia paham betul kalau Fiona ini suka sekali berpikiran negatif dan bergosip. "Apa kabar, Arkan?"

"Baik, mas." Jawab Arkan.

"Aku ketemu Aluna tadi diluar. Dia pulang sendirian?"

Arkan memandang Fiona sekilas dan beralih lagi pada sepupunya.

"Ya, ada urusan disana."

Aamir mengangguk, jawaban yang dilontarkan Arkan sama dengan Aluna tadi. Jadi, itu mungkin benar.

Aamir bersama Brastya tinggal di Singapore beberapa tahun ke belakang ini. Oleh sebab itu, ia jarang bertemu dengan keluarga besar dari sebelah papanya. Dan di pernikahan anak Farah ini, Aamir ditugaskan Brastya untuk menghadiri pernikahan Adelina.

"Mana oleh-olehnya.. masa pulang dari luar negeri nggak bawa oleh-oleh?" Goda Farah.

"Ya, ampun. Ternyata tante-tanteku ini nggak berubah!" Aamir jadi tertawa. "Minta tolong pelayan ambilkan kotak hadiah di mobil. Ada souvenir untuk kalian semua."

Semua kembali bersorak ketika mendapatkan hadiah dari Aamir.

"Ini gelangnya cantik banget!" Seru Fiona ketika melihat gelang berwarna emas dengan gambar kupu-kupu. "Untuk tante, ya!"

"Nah, bukannya kamu udah dapet kalung sama cincin!" Farah melotot. Padahal dalam hatinya dia menginginkan gelang itu juga.

"Jangan! Tante kan udah dapet dua, bagi ke yang lain." Sela Aamir.

"Yang lain udah dapet semua kok!" Ucap Fiona.

"Belum. Aluna belum dapat." Balas Aamir yang membuat Arkan terdiam. "Kan, simpan gelang itu untuk istrimu. Dia pasti suka gelang kupu-kupu itu."

Arkan berdeham dan menatap ibunya yang memegang gelang tersebut.

"Simpankan untuk Aluna, ma." Pintanya.

"Jangan! Kamu aja yang simpan. Masa barang istrimu disimpan sama ibumu, sih!"

Terdiam Arkan karena ucapan Aamir. Dengan langkah berat, Arkan mengambil gelang yang ada di tangan Fiona dan menyimpannya.

Sementara di bandara, Aluna membaca pesan yang ada di dalam ponselnya. Berupa tangkapan layar berisi chat antara Nindi dan suaminya.

"Jadi, mas Arkan suka kue coklat?" Nah, Aluna baru tahu.

Sebuah pesan terbaca dimana Arkan menyatakan terima kasihnya karena Nindi membuatkan kue coklat di hari ulang tahunnya. Lengkap dengan hadiah sepasang sepatu berwarna coklat.

"Kue coklat dan sepatu."

Aluna kembali membaca pesan yang lain. Ternyata Nindi suka sekali membuat puisi dan dikirimkannya pada Arkan. Tak hanya itu, Nindi juga sering kali memberikan perhatian kecil pada Arkan yang membuat suaminya tergila-gila dan merasa dicintai.

"Ternyata harus begini membuat mas Arkan luluh. Aku harus mencobanya."

Bukan marah atau sakit hati. Aluna mencoba mempelajari apa yang menjadi kesenangan suaminya. Dia bertekad untuk mengambil hati suaminya setelah membaca pesan-pesan mesra ini.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 11

    "Mas.."Pintu diketuk dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Suara itu terdengar samar hingga Arkan harus melesatkan pendengarannya. Setelah yakin jika memang ada istrinya yang berdiri di depan pintu, barulah ia menegur."Masuklah." Ucap Arkan. Pria ini sibuk di ruang kerja sambil bermain di depan laptopnya.Aluna masuk dengan perlahan sembari membawa satu nampan yang berisi kue coklat dan teh hangat. Ia lalu menghidangkannya di depan Arkan."Cemilan lembur, mas." Ujar Aluna mempersilahkan."Hmm.. terima kasih." Sahut Arkan tanpa menoleh.Aluna masih memandangi suaminya yang terduduk di kursi kerja. Dahi suaminya tampak bergaris. Mata itu terlihat memerah. Belum lagi rambut yang acak-acakan.Seketika Aluna menjadi iba. Beberapa hari ini, Arkan sibuk di kantor untuk mengejar laporan akhir tahun. Dia pergi pagi dan pulang pada malam hari. Namun bukannya beristirahat, Arkan malah menghabiskan waktunya di ruang kerja."Kenapa masih disini?" Tanya Arkan pada istrinya yang tegak mematung."A

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 10

    "Bulan depan mama mau uang bulanan untuk mama dinaikkan." Serunya."Kenapa??" "Jangan perhitungan dengan ibu sendiri. Kalau bisa seluruh gaji kamu biar mama yang pegang!" Sambungnya sambil melirik Aluna.Aluna yang mendengar itu hanya bisa tertunduk seperti yang sudah-sudah. Tak mau membantah ataupun mengelak. Dia terima saja jika Arkan mengikuti keinginan ibunya.Padahal selama ini, Arkan membagi dua pengeluaran rumah ini dengan ibunya. Untuk biaya listrik dan air ada Arkan yang membayar. Sementara operasional sehari-hari Fiona yang akan menanggung.Itu karena mendiang papa Arkan masih memiliki gaji pensiun yang diwariskan pada Fiona. Begitu juga mamanya ini yang masih memiliki gaji pensiun sendiri.Aluna yang merasa akan ada perdebatan memilih menyingkir. Ia pergi ke dapur untuk mencuci piring, sedangkan anak dan ibu itu mengobrol di ruang keluarga."Kenapa, ma? Ada masalah dengan gaji papa?""Nggak ada.""Lalu kenapa?"Fiona mendengkus. "Memang salah ya mama minta seluruh gajimu?

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 9

    "Assalamu'alaikum," Aluna mengucap salam.Alih-alih membalas salam menantunya, Fiona malah menatap tajam paper bag yang ada di tangan Aluna.Aluna yang merasa tengah dikuliti lalu menunduk dengan segan, ia mencoba berlalu dari wanita yang tengah memandang sinis padanya.Plak!Aluna terkesiap ketika majalah yang dibaca Fiona terlempar di atas meja begitu saja.Wanita ini lalu memberi kode dengan tangannya agar Aluna mendekat."Ada apa, ma?" Tanya Aluna tersendat."Dari mana kamu?""Dari salon sama..." Aluna memperlihatkan paper bagnya. "Mampir ke butik.""Kemarikan!"Terpaksa Aluna membiarkan mertuanya melihat isi paper bag tersebut dan mengobrak ngabriknya. Tapi yang dilihat Fiona bukan hanya pakaian yang Aluna beli, melainkan harganya."Ya, Tuhan!" Fiona berdecak saat melihat kertas harganya. "Ini mahal banget! Kamu ini! Enak banget ngabisin uang suamimu!""Maaf, ma.. tapi aku membelinya dengan sisa uang belanja yang ku tabung.." kilah Aluna."Sama aja, Luna! Lihat ini!" Fiona memper

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 8

    "Ini, mas.."Aluna dengan telatennya membawakan tas kerja Arkan dan mengantarnya sampai ke teras. Tangan pria itu diambilnya dan disalimi dengan takzim."Aku pergi dulu." Sahut Arkan. Seperti biasa. Suara itu terdengar dingin, datar seakan tak bernyawa."Mas.." panggil Aluna tersendat. "Apa boleh aku minta izin keluar hari ini?"Arkan langsung menoleh. "Mau kemana?""Aku mau ke salon." Jawab Aluna sedikit malu-malu.Arkan ikut terkejut. Tumben sekali. Dalam dua tahun pernikahan mereka, baru kali ini Arkan melihat Aluna ingin ke salon."Boleh. Nanti hati-hati di jalan.""Iya, mas. Makasih banyak!" Seru Aluna bersorak. Ia pun melambaikan tangan saat suaminya masuk ke dalam mobil.Sedangkan di dalam ada dua wanita penggosip yang mengintip dari kaca jendela. Terutama Fiona yang berdecak tak suka melihat kemesraan menantu dan putranya."Adel mana sempat mengantar suaminya sampai ke teras, mbak. Suaminya dibiarin aja pergi kerja." Ucap Farah. Eh, kenapa tiba-tiba dia jadi tersentuh melihat

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 7

    Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya. Tapi suara Fiona sudah melengking seantero rumah. Apa saja pekerjaan Aluna selalu salah di matanya.Biasanya Fiona tak akan mengomel hebat seperti ini. Tapi pagi ini kedua tanduk itu sudah keluar dari kepalanya.Ada saja yang dikoreksi oleh Fiona. Baik dari teh hangat yang sudah dibuat, atau nasi uduk yang dijadikan sarapan. Aluna serba salah. Tapi dia masih bisa berpikiran positif.Mungkin karena ada Farah disini makanya Fiona menjadi cerewet. Ya.. walaupun hari-hari sebelumnya juga begitu."Selamat pagi.. mari kita sarapan." Ajak Fiona pada saudaranya yang baru saja keluar dari kamar."Wah.. harum banget nasi uduknya. Mbak yang buat, ya?" Farah bertanya pada kakak perempuannya."Iya, dong. Memang siapa lagi?" Sahut Fiona sambil melirik Aluna.Aluna sendiri hanya diam tertunduk. Padahal sejak tadi dia yang pontang panting masak di dapur. Sementara Fiona hanya bisa mengomel."Mana suamimu? Belum bangun?" Kini pertanyaan diajukan pada Aluna."B

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 6

    Sayup-sayup Aluna membuka matanya perlahan. Aroma parfum maskulin ini sangat membelai hidungnya.. Kepala wanita ini sedikit menggeliat. Di bawahnya masih ada dada bidang tempat Aluna merebahkan diri.Jemari Aluna yang lentik mengusap dada suaminya dengan kasih sayang. Wanita ini tersenyum tipis.Semalam sungguh luar biasa..Sesungguhnya dalam dua tahun pernikahan, Arkan jarang sekali menyentuh istrinya. Hingga terkadang tebersit pertanyaan di benak Aluna.. apakah suaminya ini normal? Kenapa ia seakan tak tertarik dengan santapan halal yang dimiliknya.Namun pesan mesra dari Nindi menyadarkan Aluna. Jika Arkan sebenarnya masih terjebak dalam pesona mantan kekasihnya. Sebab itulah, Aluna harus memperbaiki diri agar suaminya berbalik mencintainya.Seperti Aluna yang sudah tunduk terlebih dahulu pada pesona yang di miliki suaminya.Aluna beringsut bangun perlahan. Kepalanya mendongak untuk menatap Arkan yang tertidur pulas.Lagi-lagi senyum itu terbit.Wajah Arkan sangat tampan. Mata taj

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status