MasukArkan sedang duduk di kursi kerjanya. Termenung menghadapi laporan yang tercipta di layar komputer pintarnya.
"Ada apa denganku?" Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah beberapa bulan ini performa kinerjanya menurun hingga membuat manajernya sering menegur. Fiona mengatakan jika Arkan kurang liburan. Pria ini mematuhinya dan pergi berlibur di Bali kemarin selama beberapa hari, tetap saja rasa penat di kepalanya ini tak menghilang. Terdengar suara pintu diketuk hingga membuat Arkan menghela nafas panjang. "Masuk!" Perintahnya. Arkan menebak pasti Fiona yang akan mengomelinya. Lagi-lagi pernikahannya dengan Aluna lah yang selalu dipermasalahkannya. "Maaf, mas. Aku ganggu." Arkan mendongak ketika mendengar suara penuh kegugupan itu. Ternyata istrinya yang membawa sebuah nampan. "Aku hanya ingin mengantarkan ini.." Dengan hati-hati Aluna menaruh satu nampan yang berisi secangkir teh hangat dan sepiring cemilan. Dahi Arkan mengernyit ketika melihat isi piring itu. "Apa itu?" Tanyanya. "Kue coklat. Tadi siang aku membuatnya khusus untukmu." Jawab Aluna dengan senyuman mengembang. Mendengar kue coklat, Arkan langsung menatap istrinya. Yang ditatap pun jadi gugup kembali. "Tapi, aku nggak tahu apakah rasanya enak atau tidak. Maaf kalau tidak sesuai dengan seleramu." Aluna yang gugup jadi meremas daster yang dia pakai. Arkan yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. "Terima kasih. Taruhlah disana." Aluna mengangguk dan menyingkir dari hadapan suaminya. Ia takut jika terlalu lama akan membangkitkan kemarahan Arkan lagi. Sementara Arkan langsung meraih piring berisi kue tersebut ketika Aluna keluar dari ruangannya. "Kue coklat.." Arkan menatap nanar kue tersebut. Kue ini mirip sekali dengan kue yang pernah Nindi buatkan untuknya. Sendok kecil itu diambil, Arkan memotong kue tersebut dan menyendokkannya ke dalam mulut. Ternyata rasanya luar biasa. Arkan pun bergumam tak karuan. Oleh karena menyantap kue yang manis ini membuat mood Arkan membaik. Pria ini langsung mengerjakan laporannya dengan penuh semangat. Besoknya, Aluna bergelut di dapur untuk membuat sarapan untuk semua orang. Setelah selesai, dia masuk ke kamar dan melihat suaminya yang tengah bersiap. Ingin sekali Aluna bertanya apakah suaminya butuh bantuan, tapi Aluna takut akan penolakan. Tingkah Aluna yang terlihat termenung itu mengundang perhatian Arkan. "Kenapa melamun?" Tanyanya yang membuat Aluna terkesiap. "Oh.. aku cuma mau ngajak sarapan." Jawab Aluna terbata. Arkan berdeham. "Nanti aku menyusul." Di meja makan, seperti biasa hanya Fiona yang berceloteh. Entah apa saja masakan Aluna yang terasa kurang baginya. Tepatnya, apa yang dilakukan Aluna selalu salah. Sementara, Arkan memilih diam tak menanggapi ucapan ibunya. Setelah sarapan, Aluna mengantar suaminya sampai ke mobil. Mulut ini rasanya gatal ingin memuji penampilan suaminya. Tapi lagi-lagi Aluna takut. Dia pun hanya diam, menyalimi tangan suaminya dengan takzim dan memperhatikan suaminya yang masuk ke dalam mobil. Sebelum melajukan mobilnya, Arkan membuka kaca jendela mobilnya. "Kue coklat semalam enak. Nanti buatkan lagi, ya." Ucap Arkan dengan wajah datarnya. Senyum mengembang di wajah Aluna. Hatinya yang kelabu tiba-tiba berpelangi. Aluna pun mengangguk cepat. "Baik, mas." Apa saja permintaan suaminya akan dipatuhinya. Asal Aluna bisa membuatnya bahagia. Setelah kepergian Arkan, Aluna sibuk di dapur untuk memasak dan membuat kue coklat kesukaan suaminya. Ternyata pesan mesra yang dia temukan di ponsel suaminya memberikan dampak yang baik. Buktinya, kue itu bisa menjadi jalan agar Aluna dan Arkan menjadi dekat. Ketika malamnya, Aluna kembali mengantarkan kue tesebut kepada suaminya. Tidak seperti kemarin, Arkan mengatakan kalau dia sungguh menyukai kue buatan Aluna. "Apa lagi makanan yang mas sukai? Nanti aku buatkan." Tanya Aluna. Arkan tampak berpikir. "Kue coklat ini kesukaanku. Aku juga suka susu strawberry." "Akan aku buatkan." Ucap Aluna penuh semangat. Intinya, apa saja keinginan suaminya akan dipenuhinya. Ia memutuskan tak membeli susu strawberry yang dijual di supermarket. Melainkan membuat sendiri susu tersebut. Dari strawberry hingga susu segar. Ia membuat susu strawberry tersebut dengan penuh cinta. Melihat kesungguhan istrinya, hati Arkan jadi terenyuh. Ternyata sebegitu besar perjuangan Aluna untuk mengambil hatinya. Besok malamnya lagi, Aluna mengantarkan susu strawberry pesanan suaminya. "Maaf, mas aku baru bisa buatkan sekarang. Tadi pagi aku mencari strawberrynya dulu." Arkan tersenyum yang membuat Aluna takjub. Sekali lagi, dia harus berterima kasih pada Nindi yang membuka jalan baginya. "Aluna!" Aluna dan Arkan terkejut ketika mendengar suara tinggi itu dari luar. Siapa lagi kalau bukan Fiona. Aluna sampai tergopoh-gopoh berlari dari ruang kerja suaminya. "Ada apa, ma?" "Kamu ini!" Fiona berdecak kesal. "Dapur seperti kapal pecah. Kapan sih kamu bisa paham kalau mama itu paling benci yang kotor-kotor?" "Maaf, ma. Tadi aku belum sempat membersihkannya. Ini aku bersihkan dulu!" "Nunggu ditegur dulu baru kamu sadar! Mimpi apa aku punya menantu sepertimu!" Fiona sampai menggelengkan kepalanya. Sementara, Aluna melarikan diri ke dapur dan membersihkan bekas memasaknya. Salahnya yang memang tidak membereskan semua ini. "Lagian ini sudah jam berapa, hah? Bukannya istirahat malah sibuk di dapur. Kamu ini lebih mirip pembantu tau nggak? Lihatlah dastermu itu!" Celoteh Fiona yang belum puas memarahi menantunya. "Tadi buat susu untuk mas Arkan, ma." "Susu untuk Arkan? Kamu pikir anakku itu masih bayi! Astaga, Aluna." Fiona tidak habis pikir. "Mama! Bisa nggak sehari aja nggak usah mengomel?" Arkan sampai keluar karena kepalanya pusing mendengar suara Fiona. "Gimana nggak ngomel, Arkan! Lihatlah istrimu itu pemalas banget. Ditegur dulu baru dikerjakan! Capek mama ngajarinnya." "Maaf, ma.." jawab Aluna tersendat. Ia masih sibuk membereskan bekas masaknya. "Nggak heran sih. Namanya juga nggak punya ibu sedari kecil. Jadi nggak ada yang ngajarin." "Ma.." tegur Arkan menatap tajam. Fiona mendengkus dan langsung masuk ke kamarnya. Aluna sendiri menghidupkan kran air dan mencuci piring. Arkan yang sejak tadi memperhatikan tahu jika istrinya menangis. Terlihat dari bahu Aluna yang naik turun. "Jangan didengar omongan mama. Kamu tahu sendiri mama itu gimana." Ucap Arkan yang tahu-tahu sudah di belakang Aluna. Aluna menggigit bibirnya menahan isakan yang keluar. "Iya, mas." Jawab Aluna serak. Sesungguhnya dia memang anak yatim piatu yang beruntung dinikahi oleh Arkan."Aluna!" Arkan terkejut melihat wanitanya terjatuh akibat dorongan para wanita. Ia berlari menolong mantan istrinya. Begitu juga dengan Aamir yang menyergap Sinar. "Mas. Lihat aku dapat bunga!" Seru Sinar berbinar saat mendapatkan lemparan bunga pengantin. "Kamu bisa mendapatkannya dariku!" Sahut Aamir. Sinar tersenyum dan terlonjak kaget saat menoleh. Ada Aluna yang terjatuh sedang dibantu oleh Arkan. "Astaga, mbak Aluna!" Aluna menerima uluran tangan Arkan. Ia berusaha berdiri dengan susah payah. Gara-gara terdorong tadi. Sepertinya tak hanya pinggulnya yang sakit karena membentur lantai. Tapi kakinya juga ikut terkilir karena memakai hak tinggi ini. "Sakit, mas." Keluh Aluna saat berdiri. "Yang mana?" "Kakiku." Arkan berlutut untuk melihat kaki wanitanya. Aluna menunjuk bagian yang terkilir. "Duduk dulu." Ajak Arkan memapah mantan istrinya. Si kembar yang penasaran ikut berlarian mengejar orang tuanya. Dengan cepat, Fiona menahan Abi dan Ditha agar tidak meng
Ketika Arkan berdebar menunggu jawaban, Aluna malah dipanggil. "Mbak Aluna! Lihat Ditha!" Seru Sinar cepat. Tanpa pikir panjang, Arkan dan Aluna bangkit dari duduknya dan berlari menuju ke depan. Mereka pikir terjadi sesuatu pada Ditha. Rupanya.. Astaga! Aluna sampai tertawa. Ditha tengah diajari cara menabur bunga di altar pernikahan. Besok dia akan menjadi peri yang akan membuka jalan untuk pengantin dengan cara menabur bunga. Tapi Ditha yang ceriwis malah menabur bunga dengan sembarangan. Sontak saja kakek, nenek dan semuanya tertawa karena ulah Ditha. "Sudah ku katakan, Adel. Kamu harus memakluminya." Ucap Aluna mengulum senyum. Adelina tertawa. "Nggak masalah. Itu saja sudah bagus." Langit memanggil Abi. Setidaknya kembaran Ditha ini lebih bisa dipercaya. Dalam satu kali arahan, Abi mengerti. Ia pun menyebar bunya dengan baik. Tapi ekspresi wajahnya itu.. ya, ampun! Langit s
Satu menghalangi jalan ibunya, satu lagi terus menarik gaun. Aluna sampai tertatih-tatih melangkah karena ulah kedua anaknya. Perut anak kembar ini memang tak bisa diajak kompromi jika sedang lapar. Arkan yang melihat itu pun tak tinggal diam. Pria ini bergegas ke arah Aluna dan mengambil alih kedua anaknya. Setelah itu mereka memilih meja yang kosong untuk makan bersama. "Ayah, mau ayam goreng!" Ucap Abi. "Ibu, mau sopnya!" Seru Ditha. Aluna dan Arkan duduk. Keduanya menaruh si kembar di tengah. Yang terjadi, Abi dan Ditha berebut makanan hingga bertengkar. "Aduh, kalian ini!" Arkan sampai geleng-geleng kepala. Akhirnya posisi itu ditukar. Arkan berada di tengah dengan si kembar di sisi kanan kirinya. Sementara Aluna berada di ujung. "Lapar, ayah!" Seru Abi mencebik. "Sabar, nak.." ujar Aluna kewalahan. Inilah alasannya kenapa jarang membawa si kembar di tempat umum. Mengurus sa
Aluna terkejut. Tubuhnya bergetar hebat. Dia ingin berteriak. Dalam otaknya dia sudah meronta minta dilepaskan. Tak sudi jika tangan itu digenggam lagi oleh tangan besar yang penuh kehangatan itu. Namun yang terjadi dia hanya diam saja.. dibiarkannya Arkan menggenggam hangat tangannya. Membawanya menuju altar pernikahan dimana dua kembar menjadi ekor ayah dan ibunya. Langit melirik Arkan yang baru keluar dari rumah sambil menggandeng Aluna. Ia lalu menyenggol istri barunya. "Apa?" Tanya Adelina mengikuti arah pandangan suaminya. Ia lalu tersenyum. "Sempurna. Sekarang kita bisa foto bersama." Fiona dan Farah yang melihat itu juga sontak tersenyum. Arkan dan Aluna jadi dekat kembali. Sekarang.. mereka tinggal menunggu kabar baik dari mantan suami istri itu. Aluna dibawa ke atas altar. Arkan memepetkan tubuhnya pada Aluna. Sekarang genggaman tangan itu terlepas berganti pada rangkulan di bahu hingga membuat dua
Genggaman tangan Arkan melemah. Perlahan dua tangan mungil yang sedang di dekapnya itu terlepas. Pria ini memalingkan wajah, seperkian detik ia mengembalikan wajah itu ke semula. Dimana ada Aluna yang berjalan mendekat. Berhadapan sejajar dengannya. Aluna meraih jas pria itu. Merapikan dasi yang terlihat miring. Mengancingkan jas coklat muda yang ia pakai dan mengusap bahu jas tersebut untuk memberikan kesan terakhir. Wanita ini mengangkat wajahnya. Mata itu nampak terkejut. Apa yang barusan ia lakukan? Lupakah Aluna jika keduanya adalah sepasang mantan? Arkan menatap wanita itu dengan hangat. Seolah cinta yang dulu sempat patah kini kembali tumbuh dengan sehat. Sejenak keduanya membeku dalam kebisuan. Seakan menikmati rasa baru yang tumbuh dalam hati keduanya. Abi dan Ditha tertawa melihat orang tuanya bersama. Mereka bermain. B
Hari berjalan dengan baik, enam bulan ini banyak sekali perubahan yang terjadi di warung ayam yang sudah berganti nama ini. Begitu juga dengan pemilik warungnya. Hari ini Langit akan mempersunting Adelina. Astaga. Ini adalah pernikahan kali kedua tapi benar-benar membuatnya gugup. Nekat tidak namanya kalau menikahi wanita yang ia suka sejak pertama kali melihatnya? Ya, dia suka si perempuan cerewet itu sejak pertama kali melihatnya. Untuk pertama kalinya, Langit bertemu dengan wanita secantik Adelina. Walau awalnya Langit menghempaskan perasaannya karena Adelina adalah bagian keluarga Arkan namun ia tak bisa menutupi perasaan itu. Terlebih saat mengetahui jika Adelina memiliki kisah hidup yang kelam sama seperti dirinya. Dua jiwa rapuh yang bertemu dan melebur jadi satu. Langit pun tak ragu lagi untuk menikahinya. "Udah siap belum, mas? Lama banget!" Gerutu Sinar sejak tadi melihat Langit bercermin di kaca b
Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya. Tapi suara Fiona sudah melengking seantero rumah. Apa saja pekerjaan Aluna selalu salah di matanya.Biasanya Fiona tak akan mengomel hebat seperti ini. Tapi pagi ini kedua tanduk itu sudah keluar dari kepalanya.Ada saja yang dikoreksi oleh Fiona. Baik dari
Sayup-sayup Aluna membuka matanya perlahan. Aroma parfum maskulin ini sangat membelai hidungnya.. Kepala wanita ini sedikit menggeliat. Di bawahnya masih ada dada bidang tempat Aluna merebahkan diri.Jemari Aluna yang lentik mengusap dada suaminya dengan kasih sayang. Wanita ini tersenyum tipis.S
Masih jelas dalam ingatan Aluna, siapa pria itu. Pria yang memberinya keteduhan pada Aluna yang tengah berkuyup sedih.Aluna yang menangis karena baru saja kehilangan orang tuanya di sebuah masjid yang ada di kota ini. Padahal, Aluna baru saja hijrah untuk meniti karir disini. Tapi kabar yang ia te
Tak terasa sudah satu minggu Aluna berada di kotanya sendiri. Sejak pulang dari Bali, tak sekalipun suaminya mengabarinya. Padahal, Aluna sudah memberikan spam pesan. Namun balasannya hanya singkat saja. Seperti enggan menanyakan balik kabar dirinya.Hari yang ditunggu tiba, Arkan dan ibunya akhirn







