Inicio / Romansa / Pesona Anak Bos / Dua Jalan Berbeda

Compartir

Dua Jalan Berbeda

Autor: E Widia
last update Fecha de publicación: 2026-08-16 20:14:53

Deza melepaskan genggamannya, berlari kecil menembus kerumunan. "Mama!"

Widi berlutut di tepi trotoar, merentangkan kedua tangannya. Deza langsung menghambur, menubrukkan tubuh kecilnya ke pelukan sang ibu hingga tas punggungnya berguncang.

"Eits, jangan lari-lari, nanti jatuh..." tegur Widi lembut seraya mengusap punggung Deza.

Namun, saat Widi mendongak, gerak tangannya seketika terhenti.

Tepat dua langkah di belakang Deza, Yudo berdiri. Napas pria itu memburu pelan, matanya menatap Widi tanp
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pesona Anak Bos   Kebenaran yang Terungkap

    Matahari pagi menembus celah jendela kelas. Suara ketukan spidol di papan tulis tak sepenuhnya mampu menyamarkan gelisah yang menggelayuti pikiran Yudo sejak kemarin sore.Di barisan depan, Deza duduk tegak. Tangan kecilnya sibuk menorehkan garis-garis kata di buku tulis, sesekali mengetuk-ngetukkan pensilnya ke dagu saat berpikir."Pak Yudo?"Panggilan nyaring itu membuyarkan lamunan Yudo. Deza mengacungkan tangannya tinggi-tinggi."Eh... iya, Deza?" Yudo berdeham cepat, berusaha menguasai suaranya."Nomor tiga ini dibacanya twenty atau twentii?" tanya Deza seraya menunjuk lembar tugasnya.Yudo melangkah mendekat, berlutut di samping meja Deza untuk menyamakan tinggi tubuh mereka. "Yang benar twenty, Deza," bisik Yudo lembut.Ia menatap wajah anak di hadapannya dari dekat. Garis mata itu, cara Deza tersenyum... Yudo tak sanggup menahan dorongan di dadanya untuk bertanya."Deza... umur berapa tahun sekarang?""Lima tahun, Pak!" jawab Deza bangga, mengacungkan lima jari kecilnya ke uda

  • Pesona Anak Bos   Di Antara Dua Bayangan

    Deru mesin mobil silver milik Mas Eza menderu halus, memelankan laju hingga terparkir pas di depan rumah kecil bercat putih asri itu.Tak berselang lama, pintu kayu depan terdorong pelan. Mas Eza melangkah masuk seraya mengayunkan tiga kotak pizza hangat yang aroma kejunya menyeruak ke udara."Sore! Penjahat lalu lintas akhirnya sampai!" seru Mas Eza riang, berusaha mengikis rasa bersalahnya. "Maaf ya, Aku bener-bener mati konyol di jalan tol."Namun, keceriaan Mas Eza menguap begitu saja.Di meja makan kayu yang tampak usang, Widi duduk mematung. Jemarinya tertaut begitu erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih.Tatapannya lurus mengarah ke permukaan meja—kosong, redup, dan menyimpan kabut tebal yang menekan.Di sebelahnya, Deza duduk mengayunkan kaki kecilnya yang menggantung."Wah, Pizza! Makasih, Om Eza!" pekik Deza kegirangan, matanya berbinar menatap kotak-kotak di tangan Mas Eza.Mas Eza memaksakan senyum, mengusap puncak kepala bocah itu. Namun pandangannya tak l

  • Pesona Anak Bos   Dua Jalan Berbeda

    Deza melepaskan genggamannya, berlari kecil menembus kerumunan. "Mama!"Widi berlutut di tepi trotoar, merentangkan kedua tangannya. Deza langsung menghambur, menubrukkan tubuh kecilnya ke pelukan sang ibu hingga tas punggungnya berguncang."Eits, jangan lari-lari, nanti jatuh..." tegur Widi lembut seraya mengusap punggung Deza.Namun, saat Widi mendongak, gerak tangannya seketika terhenti.Tepat dua langkah di belakang Deza, Yudo berdiri. Napas pria itu memburu pelan, matanya menatap Widi tanpa berkedip. Senyum di bibir Widi perlahan memudar, berganti dengan tarikan tipis di sudut rahangnya yang menegang."Bisa... bicara sebentar?" suara Yudo terdengar serak, hampir tenggelam di antara deru mesin kendaraan.Widi menelan ludah gatal di tenggorokannya. Ia bangkit berdiri pelan-pelan, membetulkan kerah baju Deza tanpa berani membalas tatapan Yudo terlalu lama."Ada taman di samping," Yudo memberi isyarat ke arah sudut halaman sekolah yang teduh di bawah naungan pohon pule. "Biarkan Deza

  • Pesona Anak Bos   Jejak yang Kembali

    Riuh tawa dan celoteh anak-anak bersahutan menembus dinding kelas. Namun, saat derap langkah kaki asing terdengar mendekati ambang pintu, suasana mendadak surut.Puluhan pasang mata mungil menengadah, menatap hening pada sosok yang baru saja melangkah masuk.Yudo menarik napas pelan, menguasai panggung pertamanya. Setelah perkenalan singkat yang disambut senyum polos, ia membuka buku absen di atas meja dan mulai memanggil nama mereka satu per satu."Abimana?""Hadir, Pak!"Satu per satu suara nyaring menyahut. Hingga jemari Yudo terhenti tepat di baris paling bawah. Matanya terpaku pada sebaris nama yang terasa begitu asing, namun anehnya menghentakkan dadanya."Yudeza..." ucap Yudo pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri."Saya, Pak!" Tangan mungil di barisan tengah terangkat tinggi-tinggi.Yudo mendongak. Saat mata mereka saling bertaut, napas Yudo seketika tertahan.Binar mata jernih itu, bentuk alisnya, hingga caranya menatap lurus... terasa begitu familier. Ada getaran

  • Pesona Anak Bos   Di Antara Dua Langkah

    Lampu-lampu gantung koridor mall memancarkan pendar kuning hangat, memantul di atas marmer kilap yang dipadati lalu lalang pengunjung."Satu... dua... tiga! Melompat!"Deza menjinjitkan kakinya tinggi-tinggi, melompati tiap kotak pola keramik lantai sambil mengguncang-guncang genggaman tangannya pada jemari Mas Eza. Bunyi decit kencang dari sepatu kets mungilnya terdengar berkali-kali.Mas Eza menunduk, tak sanggup menahan tawa renyah yang lolos dari dadanya. "Awas jatuh, Jagoan.""Tidak akan! Deza kan—" Langkah Deza mendadak terhenti di tengah kotak marmer. Matanya berbinar terang menatap sesosok wanita yang baru saja melangkah keluar dari balik pintu kaca sebuah butik di ujung koridor.Genggaman tangannya pada Mas Eza terlepas begitu saja."Mamaaaa...!"Tungkai-tungkai kecil itu memacu kencang, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar bagai kepakan sayap.Dari kejauhan, Widi seketika menjatuhkan tas jinjingnya ke lantai. Ia berlutut, menyambut serbuan kecil itu dengan dekapan terbuk

  • Pesona Anak Bos   Setelah Setengah Dekade

    Lima tahun melenyap dalam sekejap.Nginggg!Suara deru mesin pesawat yang baru mendarat melengking samar di kejuahan, tersapu riuh rendah ribuan orang di terminal kedatangan internasional.Bu Ella berdiri antusias, meremas papan nama dengan senyum yang tak pudar sedikit pun. Putra tunggalnya akhirnya pulang.Namun, di sampingnya, Mas Eza berdiri kaku bagai patung. Buku-buku jarinya memutih, meremas kuat jemarinya sendiri hingga memerah. Dadanya bergemuruh oleh cemas yang membakar.Bagaimana kalau Yudo menemukan Widi? Bagaimana kalau Yudo tahu tentang Deza? Bagaimana kalau luka Widi yang baru sembuh dihancurkan lagi?"Yudo! Sini, Nak!" teriak Bu Ella gembira, melambaikan tangan tinggi-tinggi.Sesosok pria bertubuh tegap dengan balutan coat hitam melangkah mendekat, menderek koper besar. Mas Eza tertunduk dalam-dalam, menarik napas panjang untuk menguasai gemetar di lututnya."Mami..." Yudo merengkuh tubuh ibunya erat-erat, melepas rindu yang tertahan setengah dekade.Bu Ella melepaskan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status