MasukArnold memerintahkan karyawannya untuk memutar ulang rekaman beberapa menit sebelum Sherin masuk ke koridor itu. Fokusnya kini tertuju pada setiap orang yang keluar masuk dari area tikungan tersebut.“Tunggu," gumam Arnold saat menangkap kejanggalan dari rekaman yang ditayangkan sebelumnya. "Putar ulang kamera satu.”Sang petugas dengan gemetar menggeser kursor pada linimasa rekaman pada video yang dimaksud. Mata biru Arnold menyipit semakin tajam, terpaku pada sosok pria dengan seragam petugas kebersihan berbelok ke tikungan yang sama sesaat setelah Sherin menghilang.Dengan cepat pandangan Arnold beralih ke monitor lainnya yang menangkap sosok yang sama di titik yang berbeda. Ia membandingkan visual troli yang didorong petugas kebersihan tersebut dengan seksama.Sebelum tikungan, troli itu tampak kosong. Sesudahnya, setelah keluar dari tikungan yang sama, sebuah kantong hitam berukuran sangat besar muncul di tumpukan paling atas, membuat beban troli itu terlihat jauh lebih penuh dan
Sorot mata Arnold seketika menggelap, menghunus Oliver dengan tajam. “Kamu yakin USB ini jatuh dari tas itu?”Oliver mengangguk cepat dengan wajah sedikit memucat. Ia juga tidak percaya flashdrive itu akan muncul dari dalam tas itu. Tadi ia tidak sengaja melihat benda berkilau itu terpental keluar dari saku pinggiran tas bekal itu.‘Bagaimana Sherin bisa mendapatkan USB ini?’ batin Arnold, menatap flashdrive di telapak tangannya. Satu dugaan yang paling ia takutkan mendadak menghantam kepalanya.Arnold bergegas beranjak dari tempatnya. Sembari menyambar jasnya, ia berjalan cepat keluar dari ruangan. Langkah kakinya yang lebar menggema di sepanjang koridor.Oliver mengikuti dengan sigap di sampingnya. “Ada apa, Tuan Muda?”“Aku rasa kecelakaan yang hampir menimpa istriku empat hari lalu ada kaitannya dengan USB itu,” gumam Arnold dengan napas memburu. Jarinya menekan tombol lift di depannya dengan tidak sabaran.Oliver mengerjap syok. “Maksud Anda … Shadow Eagle mengincar Nona karena m
Oliver meneguk salivanya dengan bersusah payah. “Ta-tadi saya bertemu dengan Nyonya Muda di lobi waktu mengantarkan klien kita,” lapornya dengan suara gugup.Ia segera menceritakan rentetan kejadian saat ia memergoki Sherin yang sedang tertahan di meja resepsionis. “Nyonya Muda dipersulit karena namanya tidak ada di jadwal janji temu dengan Anda hari ini,” terang Oliver.Arnold terdiam. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia lupa memberi instruksi pada bawahannya soal kedatangan Sherin. Kelalaiannya ini membuatnya merasa sangat bersalah.Sindiran Clarissa tadi mendadak terngiang di kepalanya. Kini, Arnold baru menyadari bahwa keputusannya untuk merahasiakan status pernikahannya dari publik justru malah mempersulit Sherin dan membuat istrinya itu diremehkan oleh para bawahannya sendiri karena ketidaktahuan mereka.“Kalau memang dia sudah datang, ada di mana dia sekarang?” desis Arnold, kembali menghunus Oliver dengan tajam.“Itulah masalahnya, Tuan Muda,” sahut Oliver sambil menu
“K-Kamu … kenapa ada di sini?” cicit Sherin dengan suara serak tertahan.Alih-alih menjawab, pria itu malah menyeringai sinis. Kening Sherin mengernyit saat menangkap sesuatu yang digenggam pria tersebut—sebuah kain berwarna gelap yang tampak mencurigakan.“Ka-kamu mau apa?” sergah Sherin saat melihat pria itu malah bergerak mendekat ke arahnya. Firasat buruk seketika menyergap seluruh indranya. “Ja-jangan mendekat atau aku akan─Hmpph!”Belum sempat Sherin melayangkan peringatannya, pria itu telah menerjang dengan gerakan kilat dan membekap mulutnya. Sherin meronta hebat, jemarinya mencakar lengan pria itu berusaha melepaskan bungkaman kuat yang menekannya.Akan tetapi, bau tajam zat kimia yang menyengat dari kain yang membekapnya seketika memenuhi rongga pernapasannya. Dalam hitungan detik, kepala Sherin terasa berputar hebat, tenaganya semakin melemah dan akhirnya kegelapan total segera merenggut kesadarannya.Pria paruh baya itu segera melepaskan bungkamannya saat tubuh Sherin terk
Sembari mengusap pergelangan tangannya yang memerah, Clarissa mendongak dengan tatapan remeh. Ia terkekeh kecil. “Bagaimana dengan lahan proyek yang akan kamu kembangkan? Apa kamu tidak takut aku mencemarkan nama baikmu dan membocorkan rahasia pembicaraan rapat kita tadi kepada lawan bisnismu, Arnold?”“Kamu pikir aku tidak menyiapkan rancangan cadangan?” balas Arnold dengan acuh tak acuh.Clarissa tercengang, tetapi kemudian ia tersenyum tipis. “Baiklah … aku akan pergi,” lirihnya seraya bangkit dari duduknya.Dengan tubuh yang masih gemetar, ia menatap Arnold lurus-lurus. “Aku tidak tahu seperti apa wanita yang berhasil menaklukkanmu, Arnold. Tapi, aku ingin tahu … apa dia sanggup menerima masa lalu?”Dahi Arnold mengernyit dalam. Sebelum ia sempat mempertanyakan maksud ucapan itu, Clarissa sudah berbalik dengan angkuh. “Tenang saja. Aku akan pergi seperti yang kamu inginkan.”Wanita itu pun melangkah keluar dengan langkah goyah. Namun, langkahnya terhenti sesaat ketika melihat satu
Sudut bibir Clarissa perlahan mengembang samar. “Arnold, aku tidak tahu kalau kamu ternyata pandai berbohong.”Dahi Arnold mengernyit. Sebelum ia sempat merespon, wanita itu telah bergerak mendekat, lalu dengan lancang melingkari lehernya.“Kamu sengaja bicara seperti ini untuk membuatku cemburu, kan? Padahal tidak ada salahnya kamu akui saja kalau kamu─”Sentakan kasar Arnold memutus ucapan Clarissa. Wanita itu pun terhuyung mundur hingga pinggangnya membentur pinggiran meja dan membuatnya meringis pelan.Namun, Arnold tidak menunjukkan simpati sedikit pun dan malah melayangkan tatapan sinis padanya. “Berhentilah berhalusinasi dan menganggap dirimu masih begitu penting sampai aku harus membuatmu cemburu, Clarissa.”“Jadi … kamu benar-benar … sudah menikah?” Suara Clarissa terdengar bergetar. Ia menatap Arnold dengan lekat seolah ingin mencari kebohongan di mata pria itu. Akan tetapi, yang ia temukan hanyalah tatapan dingin dan asing yang tidak menyisakan sedikit pun kehangatan.Seola







