Masuk“Bukannya kamu punya pacar, Rangga?” tanya pemilik suara berat itu.Langkah kaki Arumi terhenti begitu saja, ia lalu menoleh, melihat kepada Langit yang sudah berdiri tak jauh dari mereka. Matanya membola, jantungnya berdegup kencang.“Om, Langit?” seru Rangga. “Kok tiba-tiba nanya pacar aku?” tanyanya penasaran. Langit melangkah maju perlahan. Ia lalu berhenti tepat di depan Rangga dan juga Arumi. Auranya begitu dingin dan mendominasi hingga Rangga refleks menurunkan rentangan tangannya.Tatapan Langit menghujam langsung ke arah Arumi, seolah sedang memperingatkan istrinya itu bahwa pelukan apapun dengan pria lain adalah pelanggaran berat.“Saya hanya tidak ingin keponakan Selena terjebak dalam masalah karena terlalu ‘ramah’ pada wanita lain yang jelas-jelas hanya sepupunya dan terlihat tidak nyaman,” ucap Langit dengan nada bicara yang datar namun tajam.“Tidak nyaman? Tidak nyaman gimana ya maksud Om? Aurel tadi keliatan happy-happy aja tuh,” bantah Rangga, meski suaranya sedikit
Pintu kayu berat itu berderit pelan, seakan-akan menjadi saksi bisu atas kekacauan yang baru saja terjadi di dalam ruang ganti tersebut.Arumi muncul dari balik celahnya dengan wajah yang diusahakan tampak senormal mungkin. Sayangnya, binar di matanya yang sayu tak bisa sepenuhnya berbohong di depan ibu angkatnya.Di sana, Selena berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada. Matanya yang tajam langsung menyapu sosok Arumi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dirinya tak langsung bicara, namun keheningan itu justru terasa jauh lebih mengintimidasi bagi Arumi ketimbang rentetan pertanyaan.“Kenapa lama benget, Aureli?” tanya Selena dengan nada rendah yang bergetar, pertanda jika ia sedang menahan emosi. “Dan kenapa pintunya harus dikunci? Sejak kapan kamu punya kebiasaan mengunci pintu saat sedang membantu orang lain?” cecarnya.“Ma … i—itu, tadi … tadi kunci pintunya agak rusak, kalau nggak dikunci dari dalam suka kebuka sendiri,” alibi Arumi sembari meremas jemarinya di balik punggu
Mendengar pertanyaan Langit, jantung Arumi kembali berdetak cepat. Perasaannya menjadi karuan, seolah ia berada pada sebuah persimpangan yang membuat dirinya dilema.“O—om ... jangan gini, nanti ada yang denger,” bisik Arumi parau. Bukannya menjawab pertanyaan Langit, ia justru mengalihkan pembicaraan. Tangannya gemetar hebat, berusaha menahan bidang dada Langit yang kini bersentuhan langsung dengan pakaiannya.Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Di cermin besar yang mengelilingi mereka, ia bisa melihat betapa kontrasnya tubuh mungilnya yang terkurung dalam dekapan protektif seorang Langit.Pertanyaan pria itu barusan persis seperti sebuah jebakan. Jika ia menjawab ‘iya’, maka ia harus merelakan suaminya untuk menjadi suami dari wanita lain. Namun jika ia menjawab ‘tidak’, itu artinya ia harus siap menghadapi badai amukan dari Selena dan semua keluarga wanita itu.“Kenapa kamu nggak jawab, Arumi? Apa kamu benar-benar rela melihat saya bersanding di pelaminan dengan wan
“Om, jangan gila, deh!” Arumi membalas masih dengan bisikan tapi kali ini ada sedikit getar. Ia meronta pelan, berusaha melepaskan cengkraman tangan Langit yang terasa panas di kulit lengannya yang kecil.“Siapa yang kamu bilang gila, hm?” Langit tak terima dikatakan seperti itu oleh istrinya sendiri.“Kalau Om ngelakuin itu, Om bukan cuma hancurin Arumi, tapi Om juga hancurin Mama! Tolong, Om ... satu hari ini aja, kendaliin emosi Om Langit.”Apapun yang Arumi katakan, Langit tetap tidak mau melepaskan lengan Arumi. Ia justru selangkah lebih maju, mengikis jarak hingga aroma maskulinnya yang tajam—aroma yang semalam begitu lekat di tubuh Arumi—kembali menyerbu indra penciuman perempuan berambut pendek itu.“Apa katamu? Satu hari?” Langit mendengus sinis, matanya menatap tajam ke arah pintu butik tempat Selena dan Rangga menghilang. “Kamu tahu betapa tersiksanya saya melihat kamu diperlakukan seperti pelayan oleh Selena tadi? Melihat kamu disentuh sembarangan oleh keponakannya dan ka
Arumi tersentak kaget, bahunya sampai menciut mendengar suara denting piring milik Langit. Ia segera menyingkirkan tangan Rangga dari dahinya dengan gerakan hati-hati. Melirik takut-takut ke arah Langit yang kini menatap Rangga seolah-olah ingin menelan pria muda itu hidup-hidup.“E … Rangga, a—aku … aku nggak apa-apa, kok. Beneran,” bisik Arumi terbata, mencoba meredam suasana yang terasa kembali mendidih.Mata Langit berkilat tajam, napasnya terdengar sedikit berat menahan amarah yang hampir meledak melihat tangan pria lain menyentuh kulit istrinya tepat di depan matanya sendiri. Menurutnya, setiap inci tubuh Arumi adalah wilayah terlarang bagi siapa pun. Dia yang berkuasa atas Arumi. Hanya dia yang berhak.“Tapi wajahmu—”.“Dia bilang, dia baik-baik saja, Rangga,” potong Langit. “Justru sentuhan tanganmu bisa membuat dia sakit, nanti,” sambungnya dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan sindiran.Rangga tertegun, tangannya yang masih menggantung di udara perlahan ditarik
Gelas di tangan Arumi bergetar pelan, menciptakan riak kecil pada sisa jus jeruk yang ada di dalamnya. Ia merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang yang curam, dan Langit baru saja memberi dorongan kecil di punggungnya. Tatapan pria itu—yang terlihat begitu tenang namun penuh dengan sandiwara—benar-benar membuat Arumi ingin menghilang detik itu juga. Ia tahu, Langit bukanlah pria yang sabaran.“Ng—enggak usah, Om! Udah bener kok. Udah nggak bocor sama sekali!” seru Arumi dengan nada yang sedikit tinggi, saking paniknya. Ia segera menunduk, menghindari tatapan menyelidik Selena yang mulai terasa berat.“Oh, baguslah kalau sudah benar. Jangan sampai airnya terbuang percuma, Arumi. Mubazir,” ucap Langit dingin, namun matanya berkilat nakal, menikmati kepanikan yang ia ciptakan di wajah istrinya itu.“Heh, iya, Om.” Arumi tersenyum lebar tapi hambar.“Ya udah, sudah cukup membahas masalah kerannya. Lanjut makan dulu,” ujar Selena seraya menyendok lagi nasi gorengnya. “Mas mau lagi?” ta







