Share

Kalian Bersandiwara?

Penulis: LV Edelweiss
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 23:06:23
Mendengar ketukan pintu dan panggilan dari arah luar kamar, Arumi reflek mendorong tubuh Langit hingga kepala pria itu terbentur pintu lemari.

“Aduh!” rintih Langit.

“Astaga! Maaf, Om.” Arumi shock melihat suaminya, namun pintu kamar harus segera dibuka. “Arumi buka pintu dulu,” katanya, seraya melangkah cepat ke arah pintu.

Arumi segera menarik handle dan membukanya. Melepas senyum lebar agar tak terlihat canggung dan mencurigakan. “Bunda … ada apa?” tanya Arumi dengan raut wajah yang dipaksa agar terlihat biasa saja.

Viola diam dengan dahi yang mengernyit. Memindai sejenak sang menantu yang berdiri tepat di ambang pintu. Semuanya tampak normal, tapi tidak dengan putranya yang ada di depan lemari pakaian.

“Langit kenapa?” tanyanya pada Arumi.

“Heuh? Oh, M—mas, Mas Langit kejedot pintu lemari, Bun.”

“Hah? Kejedot pintu lemari? Kok bisa?” Viola penasaran, dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar.

Di tepi ranjang, Langit duduk diam sembari memegangi belakang kepalanya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Masa Lalu Langit

    “Fanny?” tanya Viola dengan raut wajah tak percaya. Sedang di depannya, Arumi tampak duduk dengan tatapan bingung. “Iya Tan, ini aku. Belum lupa kan sama mantan calon menantu?” tanya perempuan berambut cokelat itu balik. Mendengarnya, Arumi merasa dunia seolah berhenti berputar. Sendok yang ia pegang berdenting pelan saat bersentuhan dengan piring, menciptakan suara yang memekakkan telinga di tengah keheningan meja yang mendadak beku. Ketakutan Arumi tentang Andini memang besar, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa malam ini ia justru akan berhadapan dengan “fosil” dari masa lalu Langit yang bahkan sudah lebih dalam tertimbun. Namanya Fanny Atmasanjaya. Sosok yang dulu sangat dekat dengan Langit dan mereka hampir saja menikah. Sayangnya, saat itu Fanny justru ketahuan berselingkuh dengan laki-laki lain. Kini, kehadiran perempuan tiga puluh tahun itu seolah menjadi mantra yang sanggup melunturkan ketenangan di wajah Erlangga dan keceriaan di wajah Viola. Serta membuat Arumi k

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Sosok Tak Diundang

    Dengan gerakan reflek dan tak terduga oleh Arumi, Langit pun langsung menarik tangan Arumi dan membawa perempuan itu lebih dekat dengan dirinya. Sentakan itu begitu tiba-tiba hingga Arumi memekik pelan. Es krim yang tinggal sedikit di tangannya hampir saja terjatuh jika tak segera ia pertahankan. Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap. Sehingga Arumi bisa mencium aroma parfum maskulin Langit yang bercampur dengan aroma hutan pinus yang segar. Dan tanpa permisi, pria dewasa itu langsung mengarahkan tangan Arumi yang tengah memegang es krim ke dekat mulutnya dan melayapnya. “Hmm, enak,” ujarnya. Kemudian kembali menyantapnya hingga habis. Arumi terpaku dengan mulut yang sedikit ternganga. Ia hanya bisa menatap tangannya yang kini sudah kosong—hanya menyisakan tisu pembungkus. Gerakan Langit yang begitu natural, seakan-akan mereka adalah pasangan normal yang tadi tidak baru saja bertengkar hebat. Menjadikan perasaan Arumi kembali berbunga seperti sebelum-sebelumny

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Satu Sama

    Langit tidak langsung menjawab pertanyaan Arumi. Ia hanya menyandarkan punggung, melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di pangkal hidung, lalu menoleh sepenuhnya ke arah perempuan itu. “Udara di sini bagus. Saya rasa … kita berdua butuh oksigen segar setelah tadi hampir kehabisan napas di mobil,” ujar Langit dengan nada suara yang kini sudah sepenuhnya tenang, tanpa ada sisa ketajaman di dalamnya. ​Arumi menunduk, memainkan sisa es krimnya. Aroma khas pohon pinus yang segar mulai menyusup lewat celah ventilasi mobil. Membawa rasa damai yang asing ke dalam batinnya yang tadi sempat porak-poranda karena suara keras sang suami. “Maafin Arum ya, Om? Soal … yang tadi,” bisik Arumi lirih. Ia merasa inilah saatnya untuk benar-benar bicara, mumpung suasana sedang mendukung. “Arum cuma ... cuma takut aja, Om,” sambungnya. ​Langit terdiam sejenak, memandangi wajah istrinya yang tampak sangat kontras dengan latar belakang hutan yang liar. “Takut? Takut apa? Takut saya pergi?

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Es Krim Cinta

    Arumi menggelengkan kepala, sebuah isyarat jika ia menolak permintaan Langit. Tadi disuruh diam kan?“Hei …,” Langit menarik pelan tangan Arumi.“Hmm eum ….” Arumi berdehem kesal.“Udah bisu ya? Nggak bisa lagi bicara?” tanya Langit dengan sudut bibir yang sedikit tertarik ke atas.Mendengar kata-kata Langit, perlahan Arumi pun menurunkan tangannya. Menoleh ke arah suaminya itu dengan tatapan ragu, seolah ingin memastikan apakah pria di sampingnya ini masih memiliki sisa kemarahan atau tidak. Namun penampakan yang terlihat oleh Langit justru wajah sembab, hidung memerah, dan mata yang menunjukkan kerapuhan luar biasa. ​“Maaf kalau suara saya tadi terlalu tinggi,” ucap Langit pelan saat pandang mereka sudah bertemu. “Tapi diam kamu itu lebih mengganggu saya ketimbang pertanyaan konyol kamu tadi.”Langit mengulurkan tangan perlahan. Jemarinya yang hangat mengusap sisa-sisa air mata di pipi Arumi dengan gerakan yang sangat lembut—berbanding terbalik dengan kasarnya cara ia membanting s

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Emosi Langit

    Suaranya menggelegar di dalam ruang kabin mobil yang sempit itu. Sehingga membuat Arumi tersentak dan spontan menciut di kursinya. Jujur saja, ini adalah kali pertama Langit menaikkan nada bicara setinggi itu kepadanya. Di sisi lain, Langit memukul kemudi satu kali sebagai ekspresinya dalam menyalurkan kekesalannya. Kemudian menoleh ke arah Arumi dengan tatapan yang menyala—campuran antara kemarahan, luka, dan frustrasi yang sudah sangat membuncah. “Kamu pikir saya ini apa, Arumi? Robot yang tidak punya perasaan? Atau pria tanpa harga diri yang mau menikahi anak dari wanita yang sudah mengkhianatinya hanya karena ‘logis’?” Langit bertanya dengan nada sarkasme yang dalam. Arumi masih terdiam dengan kepala yang menunduk. Terus melihat jari-jari tangannya yang saling mencubit sejak tadi di atas pangkuannya. “Kamu terus-menerus membandingkan diri kamu dengan Mama kamu. Kamu terus-menerus menyiksa diri dengan bayangan itu! Apa selama ini perhatian saya, semua yang saya berikan, tida

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Om Masih Cinta Mama?

    ​Mendengar suara Langit, lamunan Arumi seketika buyar tak bersisa. Dengan gerakan spontan, ia menoleh ke arah suaminya yang masih fokus menyetir, mencoba menata kembali detak jantungnya yang sedikit berpacu karena terkejut dari alam bawah sadarnya.“Eh, nggak Om. Nggak ada apa-apa,” jawab Arumi seraya tersenyum canggung.“Saya pikir kamu melihat sesuatu,” ujar Langit.“Nggak kok, Om.” “Ya sudah, kamu istirahat saja kalau lelah. Nanti saya bangunkan kalau sudah sampai.”Arumi pun mengangguk patuh. Lalu kembali menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi mobil yang empuk. Namun, alih-alih memejamkan mata, pandangannya justru terlempar kosong ke arah deretan ruko yang mulai ramai oleh aktivitas manusia di bawah terik matahari pagi yang kian menyengat. Batinnya bergejolak hebat. Bayangan sosok ibunya di tepi jalan tadi terus menghantui, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang di kepalanya.Ya, Arumi kembali melihat Andini. Sama seperti saat ia melihat bayangan perempuan itu di m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status