เข้าสู่ระบบFanny sudah pergi, tapi sisa-sisa ketegangan yang ia bawa masih tertinggal di meja reservasi Langit. Pria itu terlihat membuang napas kasar, seolah merasa lega masa lalunya sudah tak lagi berada di dekatnya.“Ayo makan lagi?” ucap Viola berusaha mencairkan suasana.Ajakan Viola terdengar sangat hambar di tengah udara yang kian terasa menipis. Arumi masih bergeming, matanya terpaku pada sisa steak di piringnya yang kini terlihat seperti gumpalan daging yak tak punya cita rasa.Langit meraih gelas air putihnya, meneguknya hingga tandas dengan gerakan kasar. Meski Fanny sudah berlalu, tetap saja, atmosfer di meja mereka itu sudah terlanjur terkontaminasi.“Arumi, ayo makan. Itu dagingnya masih ada. Steak-nya enak kan? Ini restoran kesukaan Langit, sayang kalau tidak dinikmati,” bujuk Viola lagi, suaranya terdengar sangat memelas, seolah ia merasa bertanggung jawab atas kekacauan ini.“Iya, Bunda,” angguk Arumi patuh.Namun, sebelum Arumi kembali menyendok daging steak-nya, ia pun mengang
“Fanny?” tanya Viola dengan raut wajah tak percaya. Sedang di depannya, Arumi tampak duduk dengan tatapan bingung. “Iya Tan, ini aku. Belum lupa kan sama mantan calon menantu?” tanya perempuan berambut cokelat itu balik. Mendengarnya, Arumi merasa dunia seolah berhenti berputar. Sendok yang ia pegang berdenting pelan saat bersentuhan dengan piring, menciptakan suara yang memekakkan telinga di tengah keheningan meja yang mendadak beku. Ketakutan Arumi tentang Andini memang besar, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa malam ini ia justru akan berhadapan dengan “fosil” dari masa lalu Langit yang bahkan sudah lebih dalam tertimbun. Namanya Fanny Atmasanjaya. Sosok yang dulu sangat dekat dengan Langit dan mereka hampir saja menikah. Sayangnya, saat itu Fanny justru ketahuan berselingkuh dengan laki-laki lain. Kini, kehadiran perempuan tiga puluh tahun itu seolah menjadi mantra yang sanggup melunturkan ketenangan di wajah Erlangga dan keceriaan di wajah Viola. Serta membuat Arumi k
Dengan gerakan reflek dan tak terduga oleh Arumi, Langit pun langsung menarik tangan Arumi dan membawa perempuan itu lebih dekat dengan dirinya. Sentakan itu begitu tiba-tiba hingga Arumi memekik pelan. Es krim yang tinggal sedikit di tangannya hampir saja terjatuh jika tak segera ia pertahankan. Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap. Sehingga Arumi bisa mencium aroma parfum maskulin Langit yang bercampur dengan aroma hutan pinus yang segar. Dan tanpa permisi, pria dewasa itu langsung mengarahkan tangan Arumi yang tengah memegang es krim ke dekat mulutnya dan melayapnya. “Hmm, enak,” ujarnya. Kemudian kembali menyantapnya hingga habis. Arumi terpaku dengan mulut yang sedikit ternganga. Ia hanya bisa menatap tangannya yang kini sudah kosong—hanya menyisakan tisu pembungkus. Gerakan Langit yang begitu natural, seakan-akan mereka adalah pasangan normal yang tadi tidak baru saja bertengkar hebat. Menjadikan perasaan Arumi kembali berbunga seperti sebelum-sebelumny
Langit tidak langsung menjawab pertanyaan Arumi. Ia hanya menyandarkan punggung, melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di pangkal hidung, lalu menoleh sepenuhnya ke arah perempuan itu. “Udara di sini bagus. Saya rasa … kita berdua butuh oksigen segar setelah tadi hampir kehabisan napas di mobil,” ujar Langit dengan nada suara yang kini sudah sepenuhnya tenang, tanpa ada sisa ketajaman di dalamnya. Arumi menunduk, memainkan sisa es krimnya. Aroma khas pohon pinus yang segar mulai menyusup lewat celah ventilasi mobil. Membawa rasa damai yang asing ke dalam batinnya yang tadi sempat porak-poranda karena suara keras sang suami. “Maafin Arum ya, Om? Soal … yang tadi,” bisik Arumi lirih. Ia merasa inilah saatnya untuk benar-benar bicara, mumpung suasana sedang mendukung. “Arum cuma ... cuma takut aja, Om,” sambungnya. Langit terdiam sejenak, memandangi wajah istrinya yang tampak sangat kontras dengan latar belakang hutan yang liar. “Takut? Takut apa? Takut saya pergi?
Arumi menggelengkan kepala, sebuah isyarat jika ia menolak permintaan Langit. Tadi disuruh diam kan?“Hei …,” Langit menarik pelan tangan Arumi.“Hmm eum ….” Arumi berdehem kesal.“Udah bisu ya? Nggak bisa lagi bicara?” tanya Langit dengan sudut bibir yang sedikit tertarik ke atas.Mendengar kata-kata Langit, perlahan Arumi pun menurunkan tangannya. Menoleh ke arah suaminya itu dengan tatapan ragu, seolah ingin memastikan apakah pria di sampingnya ini masih memiliki sisa kemarahan atau tidak. Namun penampakan yang terlihat oleh Langit justru wajah sembab, hidung memerah, dan mata yang menunjukkan kerapuhan luar biasa. “Maaf kalau suara saya tadi terlalu tinggi,” ucap Langit pelan saat pandang mereka sudah bertemu. “Tapi diam kamu itu lebih mengganggu saya ketimbang pertanyaan konyol kamu tadi.”Langit mengulurkan tangan perlahan. Jemarinya yang hangat mengusap sisa-sisa air mata di pipi Arumi dengan gerakan yang sangat lembut—berbanding terbalik dengan kasarnya cara ia membanting s
Suaranya menggelegar di dalam ruang kabin mobil yang sempit itu. Sehingga membuat Arumi tersentak dan spontan menciut di kursinya. Jujur saja, ini adalah kali pertama Langit menaikkan nada bicara setinggi itu kepadanya. Di sisi lain, Langit memukul kemudi satu kali sebagai ekspresinya dalam menyalurkan kekesalannya. Kemudian menoleh ke arah Arumi dengan tatapan yang menyala—campuran antara kemarahan, luka, dan frustrasi yang sudah sangat membuncah. “Kamu pikir saya ini apa, Arumi? Robot yang tidak punya perasaan? Atau pria tanpa harga diri yang mau menikahi anak dari wanita yang sudah mengkhianatinya hanya karena ‘logis’?” Langit bertanya dengan nada sarkasme yang dalam. Arumi masih terdiam dengan kepala yang menunduk. Terus melihat jari-jari tangannya yang saling mencubit sejak tadi di atas pangkuannya. “Kamu terus-menerus membandingkan diri kamu dengan Mama kamu. Kamu terus-menerus menyiksa diri dengan bayangan itu! Apa selama ini perhatian saya, semua yang saya berikan, tida







