Share

Mulai Kecanduan

Penulis: LV Edelweiss
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-07 18:18:53

Langit bergeming. Dengan mata mereka yang saling mengunci. Seolah memutus semua urusan dunia luar. Dalam diam yang penuh makna itu, ia dapat membaca seluruh hasrat istrinya. Bukan sekadar kepuasan, melainkan rasa rindu yang berulang.

"Kamu mau lagi?" tanya Langit. Ia tak mau kalau sampai salah dalam mendengar. Sebab ini bukan sekedar kepuasan semata, tapi harus ada kerelaan antar kedua belah pihak.

"Eum ... mau nonton lagi, maksudnya."

Langit tergelak. Ternyata apa yang ia pikirkan salah telak. Arumi bukan meminta mereka untuk kembali beradegan ranjang, melainkan kembali ke ruang nonton.

"Kok Om ketawa, sih? Mang ada yang lucu ya sama permintaan Arum?"

"Tidak. Saya pikir tadi kamu minta apa. Saya salah paham ternyata," jelas Langit. Sisa tawa tadi masih terlihat di wajah tampannya.

"Emangnya, Om mikir apa?" tanya Arumi. Kedua tangannya sudah mulai menjelajah ke mana-mana. Jemarinya yang lembut mulai memainkan garis rahang yang tegas dan simetris itu. Lalu turun ke bahu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Om Langit Keluar Masuk

    Tanpa sepatah katapun lagi, Arumi segera mengalungkan kedua tangannya di leher Langit dan langsung mengecup sekali bibir pria itu. Sentakan keberaniannya yang mendadak itu seolah menghentikan waktu di dalam kamar mereka. Langit sempat tertegun selama satu detik—tidak menyangka istri kecilnya yang tadi sempat menangis pilu akan mengambil inisiatif secepat itu. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan respons yang jauh lebih intens.“Kamu mau mencoba menggoda saya?” tanya Langit dengan senyum khasnya.“Nggak kok, Om. Arum mana pintar menggoda,” ucap Arumi.“Kamu memang tidak pintar menggoda, tapi kamu cukup pintar membuat saya tergoda.” Langit segera merapatkan pelukannya pada pinggang Arumi. Menarik tubuh mungil itu hingga benar-benar menempel pada tubuhnya. Ciuman Arumi yang awalnya terasa ragu dan polos, kini disambut oleh Langit dengan lumatan yang dalam dan penuh otoritas. Seolah ia akan menelan tubuh kecil itu hidup-hidup.“Hhmmpp—” Desahan keduanya mulai terdengar.Di baw

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Pelukan Pria Dewasa

    Seperti biasa, selesai mandi, Arumi segera mengeringkan rambutnya. Kemudian memakai lotion malam agar kulitnya tetap lembab selama tidur hingga pagi menjelang. Setelah selesai, ia pun lanjut merapikan tempat tidur agar bersih dan nyaman untuk ditempati.“Kamu udah ngantuk?” tanya Langit saat melihat istrinya merapikan ranjang tidur. Ia berdiri di dekat jendela dengan kondisi yang sudah berganti pakaian santai. Terus mengarahkan matanya, menatap Arumi dengan intensitas yang bisa membuat siapa pun jadi salah tingkah.“Belum, Om,” jawab Arumi. “Kenapa, Om?” tanya Arumi balik.“Gaun tadi ….” Langit menggantung kata-katanya. Ia harap, istrinya tidak lupa dengan permintaannya sebelum mereka membersihkan diri tadi.Arumi menghentikan gerakan tangannya. Menatap Langit dengan ekspresi yang sulit untuk dideskripsikan oleh suaminya itu. Apakah ia benar-benar lupa? Atau sebenarnya hanya pura-pura lupa?“Maksud, Om?” tanya Arumi.“Jadi … kamu benar-benar lupa? Atau sengaja ingin saya yang menginga

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Apa Aku Pantas?

    Fanny sudah pergi, tapi sisa-sisa ketegangan yang ia bawa masih tertinggal di meja reservasi Langit. Pria itu terlihat membuang napas kasar, seolah merasa lega masa lalunya sudah tak lagi berada di dekatnya.“Ayo makan lagi?” ucap Viola berusaha mencairkan suasana.Ajakan Viola terdengar sangat hambar di tengah udara yang kian terasa menipis. Arumi masih bergeming, matanya terpaku pada sisa steak di piringnya yang kini terlihat seperti gumpalan daging yak tak punya cita rasa.Langit meraih gelas air putihnya, meneguknya hingga tandas dengan gerakan kasar. Meski Fanny sudah berlalu, tetap saja, atmosfer di meja mereka itu sudah terlanjur terkontaminasi.“Arumi, ayo makan. Itu dagingnya masih ada. Steak-nya enak kan? Ini restoran kesukaan Langit, sayang kalau tidak dinikmati,” bujuk Viola lagi, suaranya terdengar sangat memelas, seolah ia merasa bertanggung jawab atas kekacauan ini.“Iya, Bunda,” angguk Arumi patuh.Namun, sebelum Arumi kembali menyendok daging steak-nya, ia pun mengang

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Masa Lalu Langit

    “Fanny?” tanya Viola dengan raut wajah tak percaya. Sedang di depannya, Arumi tampak duduk dengan tatapan bingung. “Iya Tan, ini aku. Belum lupa kan sama mantan calon menantu?” tanya perempuan berambut cokelat itu balik. Mendengarnya, Arumi merasa dunia seolah berhenti berputar. Sendok yang ia pegang berdenting pelan saat bersentuhan dengan piring, menciptakan suara yang memekakkan telinga di tengah keheningan meja yang mendadak beku. Ketakutan Arumi tentang Andini memang besar, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa malam ini ia justru akan berhadapan dengan “fosil” dari masa lalu Langit yang bahkan sudah lebih dalam tertimbun. Namanya Fanny Atmasanjaya. Sosok yang dulu sangat dekat dengan Langit dan mereka hampir saja menikah. Sayangnya, saat itu Fanny justru ketahuan berselingkuh dengan laki-laki lain. Kini, kehadiran perempuan tiga puluh tahun itu seolah menjadi mantra yang sanggup melunturkan ketenangan di wajah Erlangga dan keceriaan di wajah Viola. Serta membuat Arumi k

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Sosok Tak Diundang

    Dengan gerakan reflek dan tak terduga oleh Arumi, Langit pun langsung menarik tangan Arumi dan membawa perempuan itu lebih dekat dengan dirinya. Sentakan itu begitu tiba-tiba hingga Arumi memekik pelan. Es krim yang tinggal sedikit di tangannya hampir saja terjatuh jika tak segera ia pertahankan. Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap. Sehingga Arumi bisa mencium aroma parfum maskulin Langit yang bercampur dengan aroma hutan pinus yang segar. Dan tanpa permisi, pria dewasa itu langsung mengarahkan tangan Arumi yang tengah memegang es krim ke dekat mulutnya dan melayapnya. “Hmm, enak,” ujarnya. Kemudian kembali menyantapnya hingga habis. Arumi terpaku dengan mulut yang sedikit ternganga. Ia hanya bisa menatap tangannya yang kini sudah kosong—hanya menyisakan tisu pembungkus. Gerakan Langit yang begitu natural, seakan-akan mereka adalah pasangan normal yang tadi tidak baru saja bertengkar hebat. Menjadikan perasaan Arumi kembali berbunga seperti sebelum-sebelumny

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Satu Sama

    Langit tidak langsung menjawab pertanyaan Arumi. Ia hanya menyandarkan punggung, melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di pangkal hidung, lalu menoleh sepenuhnya ke arah perempuan itu. “Udara di sini bagus. Saya rasa … kita berdua butuh oksigen segar setelah tadi hampir kehabisan napas di mobil,” ujar Langit dengan nada suara yang kini sudah sepenuhnya tenang, tanpa ada sisa ketajaman di dalamnya. ​Arumi menunduk, memainkan sisa es krimnya. Aroma khas pohon pinus yang segar mulai menyusup lewat celah ventilasi mobil. Membawa rasa damai yang asing ke dalam batinnya yang tadi sempat porak-poranda karena suara keras sang suami. “Maafin Arum ya, Om? Soal … yang tadi,” bisik Arumi lirih. Ia merasa inilah saatnya untuk benar-benar bicara, mumpung suasana sedang mendukung. “Arum cuma ... cuma takut aja, Om,” sambungnya. ​Langit terdiam sejenak, memandangi wajah istrinya yang tampak sangat kontras dengan latar belakang hutan yang liar. “Takut? Takut apa? Takut saya pergi?

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status