เข้าสู่ระบบKata-kata Grace menggantung di udara malam yang dingin. Lidahnya mendadak kelu, sementara pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis dalam sekejap.Pria di hadapannya—yang tengah memegang seikat buket bunga lili putih dan mengenakan kemeja formal abu-abu gelap yang sangat pas di tubuh tegapnya itu—ikut terpaku.Senyum ramah yang semula terukir di wajah matangnya perlahan memudar, digantikan oleh kilatan keterkejutan yang sama besarnya di balik netra tajam itu.“Grace?” suara bariton itu terdengar bergetar rendah. Nada bicaranya tidak lagi seformal seorang tamu, melainkan persis seperti suara yang selalu Grace dengar di dalam ruang aula universitas di Melbourne setahun yang lalu.Suara yang dulu sanggup membuat jantungnya berdegap tak keruan, sekaligus suara yang memicu badai terbesar dalam hidup perkuliahannya.Airon. Nama asli pria itu adalah Raymond Airon Siregar. Di Australia, dia lebih dikenal sebagai Profesor Airon, dosen muda brilian berdarah Indonesia yang menjadi idola sek
“Malam ini tante akan kedatangan tamu istimewa, Grace.” Suara Selena mengalihkan atensi Grace, seorang gadis muda cantik yang merupakan keponakan dari saudara tirinya. Grace yang tengah menatap sarapannya langsung mengangkat kepala. “Ta–tamu istimewa, Tan? Siapa?” tanyanya penasaran. “Eum. Namanya Raymond. Tapi kamu bisa panggil dia Om Ray. Dia orang Indonesia, tapi udah lama tinggal di Australia. Dia itu … calon suami tante.” “Hah?! Serius?” tanya Grace tak percaya. Bagaimana tidak, selama ini, ia melihat Selena tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Kehidupan wanita dewasa itu hanya dihabiskan di rumah, kantor, rumah, kantor. Selena tidak punya waktu untuk masalah percintaan. Dulu dia pernah dekat dengan seseorang. Namun, baru saja Selena berniat menjalin hubungan yang lebih serius, pria itu justru ketahuan selingkuh dengan wanita lain. “Tante serius, Sayang. Soal beginian mana pernah tante main-main.” Mendengar penuturan Selena, sendok di tangan Grace mendadak
“Jadi apa, Mas?” tanya Arumi dengan senyum jengahnya. “Kamu bersyukur atas semua itu?” tanya Langit. Arumi kembali menundukkan kepala. Tak lama, pesanan mereka tiba dan pelayan langsung menghidangkannya. “Selamat menikmati Bapak, Ibu.” “Makasih, Mbak,” sahut Arumi. Sang pelayan mengangguk sopan dan berlalu pergi. Fokus Arumi langsung tertuju pada makanan yang ada di depannya.Langit menarik mangkuk besar sup ayam yang masih mengepulkan uap hangat itu ke dekat Arumi. Dengan gerakan cekatan dan penuh perhatian, ia menyendokkan kuah kaldu yang gurih beserta potongan daging ayam dan sayuran ke dalam mangkuk kecil milik Arumi.“Diaduk dulu, saya juga ada pesan sambal terpisah kalau kamu mau agak sedikit terasa pedas di lidah. Tapi ingat, jangan terlalu pedas ya,” ujar Langit memecah keheningan, menggeser mangkuk yang sudah terisi penuh itu ke hadapan istrinya.Arumi mendongak, matanya berbinar cerah menatap kepulan asap sup yang aromanya begitu menggugah selera itu. Rasa jengah yang
Selesai bertemu dengan Andini, Langit dan Arumi kembali ke dalam mobil. Langit membukakan pintu untuk istrinya, yang langsung dibalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih oleh Arumi. Setelah mereka masuk dan duduk di kursi masing-masing, tiba-tiba Langit menoleh ke arah Arumi. Ia bahkan sampai menggeser posisi duduknya menjadi lebih menghadap kepada perempuan muda itu. “Kamu baik-baik saja?” tanya Langit. Arumi menoleh lalu tersenyum pelan. “Baik, Mas. Emangnya Arum keliatan nggak baik ya, Mas?” Langit balas tersenyum. “Saya cuma khawatir saja. Apalagi sekarang kamu lagi hamil, saya tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa,” ucap Langit seraya mengelus lembut perut Arumi. Arumi menatap tangan kekar Langit yang tengah bergerak memutar di atas perutnya yang masih rata. Sentuhan itu terasa begitu hangat, menyalurkan rasa aman yang seketika menepis sisa-sisa ketegangan yang sempat mampir di hatinya setelah pertemuan di dalam tadi. Perlahan, Arumi meletakkan tel
Satu bulan kemudian. Arumi duduk di kursi ruang tunggu penjara. Ia ingin bertemu seseorang yang mendekap di balik jeruji besi rumah tahanan itu karena kasus perdagangan orang dan penganiayaan. Kedua tangannya saling menggenggam dan bertumpu di atas pahanya. Kepalanya sedikit menunduk, persis seperti orang yang sedang ketakutan. Tak lama, terdengar bunyi suara pintu ruangan dibuka. Arumi mengangkat kepala dan melihat pada sosok putih tinggi yang memakai baju tahanan berwarna abu-abu tua. Pandangan Arumi terkunci pada wanita itu, begitu juga sebaliknya. Wanita paruh baya itu lalu melangkah pelan dengan kedua tangan yang saling bertautan di depan perut.Seragam tahanan berwarna abu-abu tua yang longgar itu tampak sangat kontras dengan warna kulitnya. Bahkan wajahnya yang dulu selalu dipenuhi polesan kosmetik mahal kini terlihat kusam, pucat, dan menyiratkan keletihan yang amat sangat setelah mendekam selama satu bulan di balik sel.Dia adalah Andini, ibu tiri Arumi—wanita yang demi
Arumi menahan napas sejenak. Jarak mereka yang begitu dekat membuat ia bisa merasakan hembusan napas hangat Langit yang menerpa keningnya. Aroma parfum maskulin bercampur citrus dari tubuh suaminya itu perlahan memenuhi indra penciumannya, menciptakan debaran halus yang kian menggila di dalam dada.Ke–kenapa harus diganti sekarang, Om?” cicit Arumi lirih, mencoba mencari celah untuk menghindar. Namun, alih-alih melepaskannya, Langit justru semakin mengikis jarak, menumpu salah satu tangan kekarnya pada dinding lift tepat di samping kepala Arumi.“Jadi kamu masih mau panggil saya “Om”?” Langit menaikkan satu alisnya. Tatapan matanya menggelap dengan binar jenaka yang begitu memikat. “Kamu mau dikomplain Bunda lagi besok pagi, hm? Lagipula, panggilan itu sudah tidak cocok untuk hubungan kita sekarang, Arumi.”Arumi menggigit bibir bawahnya, menatap ke arah dasi tuksedo Langit karena tak sanggup beradu pandang dengan sorot mata elang suaminya yang begitu mengintimidasi. “I–iya sih, tap
Deg!Pulpen di tangan Arumi mendadak tergelincir dan jatuh. Mencoret panjang lembar jawaban mahasiswa yang tengah diperiksanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bukan karena debaran cinta, melainkan karena rasa aneh campur takut yang luar biasa.Setelah menelan ludah dengan susah payah, ia pu
Dengan langkah santai dan wajah anggun yang dibuat-buat, Andini menaiki anak tangga dan berhenti tepat di depan Arumi juga Langit. Sorot matanya menyimpan begitu banyak rahasia dan kelicikan. Terlihat dari senyum tipis yang ia tunjukkan kepada pasangan suami-istri tersebut. “Mau apa kamu?! Mau apa
Tangan Langit mencengkeram kuat kemudi hingga buku-buku jarinya memutih semua. Matanya fokus menembus kepadatan lalu lintas sore itu, tak membiarkan taksi kuning di depannya lepas dari pandangannya walau sesaat saja. Ia bahkan mengabaikan dering ponselnya yang terus bergetar sejak tadi—kemungkinan
Pak Dewa tertawa hingga terbahak-bahak. Seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah permainan yang telah disusun rapi sejak lama. Tawanya menggema di ruang perpustakaan yang sunyi, menciptakan suasana yang semakin mencekam hingga membuat bulu kuduk Arumi berdiri lagi.“Ha-ha-ha, Anda ini lucu. Anda







