MasukBra Grace terbuka, seiring dengan air matanya yang ikut mengalir. Ia tahu, sangat tahu, jika ini tidak benar. Tapi ia juga tidak bisa menolak. Tubuhnya seperti bereaksi otomatis dalam membalas setiap sentuhan sang mantan dosen. “Aahhh ….”Grace mendesah pelan, saat Ray mulai menyentuh dua area sintal miliknya yang putih mulus dan tampak mengencang itu. Gerakan lembut pria itu mampu membuat seluruh saraf di tubuhnya terbakar oleh kenikmatan terlarang yang kini ia rasakan. Tangan Ray lalu perlahan, menyelusuri area paling sensitif dari tubuh perempuan yang ia panggil dengan nama “Gracia” itu, membuat Grace kembali mengejang karena geli. “Pak! Udah, berhenti. A–aku nggak tahan lagi,” ucap Grace yang sudah panas dingin karena perbuatan Ray. Namun, bukannya berhenti, tangan Ray justru semakin liar di bawah sana. Ia memainkan milik Grace seperti sudah terbiasa melakukannya. “Saya sudah bilang kan, kalau saya tidak suka dibantah. Malam ini, saya akan tunjukkan padamu, bagaimana caranya
Tubuh Grace menegang, kedua kakinya tak lagi menyentuh lantai. Ia refleks mencengkeram bahu tegap Raymond, bukan karena ingin memeluk, melainkan demi menjaga keseimbangannya yang mendadak hilang.Bau harum pewangi ruangan berpadu pekat dengan wangi parfum maskulin Raymond, mengurung seluruh inderanya saat pria itu membawanya masuk semakin dalam menerobos kegelapan apartemen.Langkah kaki Raymond terdengar mantap dan tanpa ragu. Pintu kamar utama yang terbuat dari kayu jati tebal itu terbuka lebar, menyambut mereka dengan cahaya lampu tidur yang temaram. Dengan hati-hati, Ray menjatuhkan tubuh Grace secara perlahan ke atas ranjang berukuran king size yang dilapisi oleh seprei sutra hitam. Mata Grace kembali membola. Belum sempat ia bergerak untuk bangkit, Raymond sudah lebih dulu mengikis jarak. Pria itu menumpu kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Grace, mengurung tubuh gadis itu sepenuhnya dalam naungan bayang-bayangnya yang tinggi besar.Grace terkesiap. Napasnya mulai
“P–pak Airon?!” seru Grace tidak percaya. Bukannya memberi jawaban atas pertanyaan gadis di depannya, Ray justru menarik cepat tangan Grace dan membawanya masuk ke dalam unit apartemennya. “Pak! Apa-apaan ini?! Aku mau pulang.” Grace sudah maju dan bersiap membuka pintu. Namun, belum juga ia melangkah, tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh pria itu. “Mau ke mana kamu?” tanya pemilik suara berat itu. “Aku … aku mau pulang, Pak.” Grace kembali maju. “Kamu tidak bisa pergi begitu saja,” cegat Ray lagi. Kedua tangannya mencengkeram kuat kedua lengan Grace. Seketika darah Grace naik ke ubun-ubun. “Lepasin aku, Pak Airon!” bentaknya. Amarah yang ditahannya seharian tadi akhirnya meledak begitu. Grace meronta sekuat tenaga, memukul-mukul cengkeraman tangan Raymond di lengannya. “Bapak benar-benar iblis! Bapak bohongin Tante Selena cuma buat ngejebak aku ke sini?!”Raymond tak bergeming sedikit pun. Cengkeramannya justru semakin menguat hingga Grace meringis kesakitan. Dengan mudah
Mendengar suara Selena, jantung Grace rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Tubuhnya membeku kaku di ambang pintu, sementara peluh dingin mulai membasahi telapak tangannya. Namun, berbeda dengan Grace yang hampir kehilangan kewarasannya, Raymond justru berbalik arah dengan gerakan yang teramat tenang. Tidak ada riak kecemasan sedikit pun di wajah tampannya. Senyum hangat yang menawan—topeng yang selalu ia pakai di depan Selena—terkembang sempurna di bibirnya.“Ah, Selena …,” sahut Raymond dengan suara baritonnya yang tenang dan penuh wibawa. Pria itu lalu menepuk dahi dengan jemarinya, menampilkan gestur penuh penyesalan yang sangat meyakinkan.“Maafkan saya, Sayang. Saya pikir ini kamar kamu. Saya tadi berniat langsung menghampirimu, tapi sepertinya saya salah mengetuk kamar.”Selena yang semula sempat mengernyit bingung, seketika tertawa pelan mendengarnya. Sikap polos dan rasa percayanya yang begitu besar pada sang calon suami meluluhkan kecurigaan yang sempat muncul di ke
Grace membeku, untuk beberapa saat ia seperti kehilangan roh. Kata-kata Selena barusan, bagaimana pukulan telak yang langsung mengenai bagian paling riskan dari dirinya, yaitu perasaan. “Mak–maksud, Tante?” tanya Grace terbata. Untuk beberapa saat Selena hanya diam. Ia kembali melanjutkan aktivitas sarapannya yang semakin membuat sang keponakan kian tak tenang. Namun, tak berselang lama kemudian, tiba-tiba saja Selena kembali menoleh. Dan, saat melihat raut wajah kaget keponakannya, tawanya pun langsung meledak. Selena tertawa geli. Wajah bahagianya sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan atau prasangka, melainkan kejahilan murni seorang ibu kepada putrinya. “Tante bercanda, Sayang. Kok wajahmu langsung tegang gitu,” tutur Selena dengan sisa-sisa tawa di bibirnya yang belum sepenuhnya hilang.“Lagian, mana mungkin kamu mau ambil Om Ray dari Tente, ya kan?” tanya Selena lagi. “Tan–Tante ini ada-ada aja,” cicit Grace, berusaha keras mengembalikan nada suaranya agar tidak bergetar
Semenjak kejadian di butik, hari-hari Grace menjadi tidak tenang. Bayang-bayang Ray terus melintas di pikirannya seperti hantu. Meski ia sudah mencoba untuk melupakannya, namun visual pria itu terlalu sempurna untuk otaknya abaikan begitu saja. Wajah Ray selalu muncul setiap kali ia bercermin. Bahkan tak hanya itu, sentuhan panas sang mantan dosen juga membuat Grace insomnia dan mulai membayangkan hal-hal di luar keinginannya. “Agh, sialan! Aku bisa gila kalau terus begini,” umpat Grace yang kesal pada diri sendiri. Ia mengacak rambutnya frustasi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menutupi seluruh wajahnya dengan bantal.Rasa benci dan marah pada Raymond memang bergejolak hebat di dadanya. Namun, kenyataan jika tubuhnya memberikan reaksi yang bertolak belakang terhadap sentuhan pria itu membuat Grace kian merasa bersalah dan jijik pada dirinya sendiri.Bagaimana bisa otaknya berulang kali memutar memori saat bibir Raymond melumat bibirnya di sudut butik yang remang waktu itu?







