LOGINLangkah mantap Langit dan Arumi membawa mereka keluar menembus pintu darurat yang mengarah ke area parkir VIP yang tampak sepi itu. Udara malam yang berembus pelan seketika menerpa wajah Arumi, perlahan menyeka sisa-sisa rasa sesak yang sempat mengungkungnya di lorong tadi.Langit membukakan pintu mobil crossover hitamnya dengan cekatan. “Masuklah,” ucapnya lembut sembari memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum kembali menutup pintu.Namun, baru saja ia akan memutari kap mobilnya dan mendudukkan diri di balik kemudi, ponsel di balik saku jasnya berpendar hebat. Alis tebal pria dewasa itu bertaut saat melihat nama yang tertera di layar.AYAH. Perasaan Langit yang sempat tenang mendadak kembali bergejolak. Ia baru saja akan mengetik pesan izin pulang seperti yang direncanakannya tadi, namun belum juga niatnya terealisasikan, Erlangga sudah lebih dulu menghubunginya.Dengan dahi berkerut, Langit menggeser tombol hijau di layarnya. “Halo, iya, Ayah? Maaf, ini Langit baru saja
Arumi membalas pelukan Langit dan mendekapnya dengan erat. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, membiarkan air matanya membasahi kain tuksedo mahal yang dikenakan suaminya.Bahunya terguncang hebat. Sisa trauma dari kejadian di Nauru dua tahun yang lalu, ditambah ancaman telak dari Mr. Jason, benar-benar meruntuhkan pertahanan batinnya yang memang masih sangat rapuh.“Arum takut banget, Om ….”“Sudah, ya? Semua akan baik-baik saja.” Langit mencoba masih mencoba menenangkan jiwa Arumi. Arumi merenggangkan sedikit pelukannya dan mendongak melihat Langit. “Tapi Arum takut pria tadi nekat, Om. Gimana kalau dia ngasih tahu semua orang kalau Arumi ini …?” Arumi menjeda kata-katanya sejenak. “Gimana kalau semua orang tahu tentang masa lalu Arum?” bisik Arumi di sela isak tangisnya yang tertahan, air matanya masih mengalir deras. Langit kembali mempererat dekapannya, seolah ingin menyembunyikan tubuh kecil Arumi sepenuhnya dari dunia luar yang kejam ini. Ia mengecup puncak kepa
Sementara itu, di ujung koridor yang remang, tangis Arumi sudah pecah tanpa suara. Tubuhnya bergetar hebat menghadapi tatapan lapar nan mengancam dari Mr. Jason. Pria asing itu perlahan mengangkat tangan kanannya, hendak menyentuh pipi Arumi yang basah oleh air mata.“Perempuan secantik kamu, kenapa hanya menikah dengan anak seorang dubes? Harusnya kamu bisa dapat CEO yang jauh lebih kaya raya dan berkelas. Sayang sekali. Tapi tidak masalah, saya tetap ingin merasakan bercinta denganmu walau kamu sudah menjadi istri orang.”“Nggak! Jangan sentuh aku! Lepasin! Om … Om Langit tolongin Arum, Om! Om … Om Langit!” pekik Arumi. “Teriak, teriak yang keras. Tidak akan ada orang yang mendengarmu. Sekarang, ikut saya!” Mr. Jason meraih tangan Arumi dan mencengkeramnya dengan sangat kuat. Ia kemudian menarik paksa Arumi hingga tangan perempuan itu sakit dan seperti akan patah. “Enggak! Aku nggak mau ikut! Aku nggak mau! Lepasin! Lepasin aku, Mister!”Namun, seperti apapun Arumi memberontak,
Arumi terkejut setengah mati. Seluruh persendiannya mendadak kaku, pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap dalam sekejap. Di bawah temaram lampu dinding lorong VIP yang mewah, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas mahalnya. Senyumnya yang tersungging tipis justru mengirimkan gelombang dingin yang menusuk hingga ke tulang belakang Arumi.Mr. Jason.Pria hidung belang kelas kakap yang tinggal di luar negeri—yang dulu hampir saja "membelinya" dengan harga fantastis saat ia dibawa pergi oleh ibunya ke negara Nauru. Pria yang malam itu menatapnya seperti seonggok daging buruan yang siap disantap mentah-mentah. “Mis–mister Jason?” Lidah Arumi kelu. Rasa takut yang menggelegar membuat kedua tangannya yang memegang tas kecil bergetar hebat. Seketika memori otaknya flashback ke dua tahun yang lalu. Aroma garam, minuman, asap rokok itu. Semua masih begitu melekat di ingatan Arumi. Jason melangkah maju dua kali, ketukan pantofel kulitnya terdengar begitu meng
Saat langkah kaki Arumi dan Langit memasuki area ballroom, mereka langsung disambut oleh denting piano klasik yang mengalun mewah. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya keemasan, menyinari ratusan tamu undangan yang berbalut pakaian formal terbaik mereka. Beberapa kolega bisnis Erlangga langsung melambaikan tangan, menyambut kehadiran putra mantan duta besar tersebut.Langit merapatkan lengan Arumi ke tubuhnya, berbisik sangat rendah di sela senyum formalnya. “Tetap di samping saya, ya?” ucap pria itu. “Iya, Om,” jawab Arumi. Tak lama, Erlangga dan Viola menghampiri mereka. Viola langsung menggandeng tangan Arumi dengan wajah berseri-seri. “Ya ampun, menantu Bunda cantik sekali malam ini! Gaunnya pas banget di kamu, Arumi. Kandungan kamu aman, kan? Tidak kesempitan kan bajunya?” tanya wanita itu setengah berbisik dengan nada penuh perhatian. Arumi tersenyum manis, meski ada sejumput rasa bersalah yang kembali mencubit hatinya karena kebohongan yang dibuat su
Keesokan harinya, malam yang dinanti pun tiba. Kamar utama di kediaman Langit dan Arumi tampak sedikit lebih sibuk dari biasanya. Di atas ranjang besar mereka, sudah terbentang sebuah setelan tuksedo hitam klasik milik Langit dan sebuah kotak besar kiriman dari Bunda Viola yang berisi gaun rancangan desainer ternama untuk Arumi. Arumi berdiri di depan cermin meja rias, menatap pantulan dirinya yang sudah selesai dirias dengan tema bernuansa natural glow namun tetap memancarkan kesan elegan. Gaun malam berwarna navy blue dengan potongan A-line berbahan satin premium melekat sempurna di tubuh indahnya. Detail payet halus di bagian dada berkilauan lembut setiap kali ia bergerak, menyamarkan fakta bahwa batinnya saat ini sedang bergemuruh hebat karena gugup. “Om ....” panggil Arumi lirih, menatap pantulan Langit melalui cermin besar di depannya. Langit yang baru saja selesai merapikan dasi kupu-kupunya di dekat lemari langsung menoleh. Pria dewasa itu terpaku selama beberapa detik.
“Kamu bantuin saya periksa kertas soal mahasiswa sehabis jam kuliah nanti. Di perpustakaan, lantai tiga. Kalau kamu setuju, saya akan jamin berkas skripsimu selesai sebelum habis bulan ini. Bagaimana?” tanya Pak Dewa, memberikan sebuah penawaran kepada Arumi.Arumi diam sesaat. Kemudian kembali men
Pak Dewa tertawa hingga terbahak-bahak. Seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah permainan yang telah disusun rapi sejak lama. Tawanya menggema di ruang perpustakaan yang sunyi, menciptakan suasana yang semakin mencekam hingga membuat bulu kuduk Arumi berdiri lagi.“Ha-ha-ha, Anda ini lucu. Anda
Police line mulai dipasang di area kecelakaan taksi yang membawa Arumi sore tadi. Tim SAR dan polisi bergerak cepat menuruni tebing guna mencari tahu keadaan dua penumpang tersebut.Lampu sorot dari mobil tim SAR membelah kegelapan malam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding
Langit menunjuk tajam ke arah Pak Dewa. “Urusan kita belum selesai,” ucapnya, yang kemudian berbalik dan berlari cepat mengejar Arumi.Sedang di tangga, Arumi terus melangkah dengan air mata yang masih setia menemani. Langkah kakinya terasa berat, seolah pundaknya membawa beban ribuan ton pada seti







