登入Grace membeku, untuk beberapa saat ia seperti kehilangan roh. Kata-kata Selena barusan, bagaimana pukulan telak yang langsung mengenai bagian paling riskan dari dirinya, yaitu perasaan. “Mak–maksud, Tante?” tanya Grace terbata. Untuk beberapa saat Selena hanya diam. Ia kembali melanjutkan aktivitas sarapannya yang semakin membuat sang keponakan kian tak tenang. Namun, tak berselang lama kemudian, tiba-tiba saja Selena kembali menoleh. Dan, saat melihat raut wajah kaget keponakannya, tawanya pun langsung meledak. Selena tertawa geli. Wajah bahagianya sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan atau prasangka, melainkan kejahilan murni seorang ibu kepada putrinya. “Tante bercanda, Sayang. Kok wajahmu langsung tegang gitu,” tutur Selena dengan sisa-sisa tawa di bibirnya yang belum sepenuhnya hilang.“Lagian, mana mungkin kamu mau ambil Om Ray dari Tente, ya kan?” tanya Selena lagi. “Tan–Tante ini ada-ada aja,” cicit Grace, berusaha keras mengembalikan nada suaranya agar tidak bergetar
Semenjak kejadian di butik, hari-hari Grace menjadi tidak tenang. Bayang-bayang Ray terus melintas di pikirannya seperti hantu. Meski ia sudah mencoba untuk melupakannya, namun visual pria itu terlalu sempurna untuk otaknya abaikan begitu saja. Wajah Ray selalu muncul setiap kali ia bercermin. Bahkan tak hanya itu, sentuhan panas sang mantan dosen juga membuat Grace insomnia dan mulai membayangkan hal-hal di luar keinginannya. “Agh, sialan! Aku bisa gila kalau terus begini,” umpat Grace yang kesal pada diri sendiri. Ia mengacak rambutnya frustasi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menutupi seluruh wajahnya dengan bantal.Rasa benci dan marah pada Raymond memang bergejolak hebat di dadanya. Namun, kenyataan jika tubuhnya memberikan reaksi yang bertolak belakang terhadap sentuhan pria itu membuat Grace kian merasa bersalah dan jijik pada dirinya sendiri.Bagaimana bisa otaknya berulang kali memutar memori saat bibir Raymond melumat bibirnya di sudut butik yang remang waktu itu?
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Grace pun mendorong tubuh Ray agar menjauh darinya. Beruntung ia berhasil melakukannya sebelum Selena melihat apa yang sedang mereka lakukan. “Gila Bapak!” desis Grace seraya menunjuk tajam wajah Raymond. Ia lalu keluar dari tempat persembunyiannya agar sang tante tidak curiga. “Tante ….” Grace menghampiri Selena seolah ciumannya bersama Raymond tadi tidak pernah terjadi. “Kamu dari mana, Sayang?” tanya Selena yang menyadari jika Grace tidak duduk menunggunya. “A–aku habis dari toilet, Tan. Gimana, apa Tante suka dengan gaunnya?” tanya Grace mengalihkan pembicaraan. Selena tersenyum pelan, jemarinya membelai lembut kain brokat gaun pengantinnya. Pancaran kebahagiaan di matanya begitu murni, membuat dada Grace kian dihantam rasa bersalah yang teramat perih.“Suka banget, Grace. Kamu lihat deh, potongannya pas banget di pinggang Tante. Bener kata kamu, model ball gown ini bikin Tante jadi kelihatan lebih anggun,” ujar Selena seraya berputar pel
Raymond tidak langsung menjawab, ia justru menghempaskan punggung Grace ke dinding pembatas. Kedua tangannya masih cengkeraman kuat kedua pergelangan tangan gadis itu.Sudut butik yang remang dan terhalang oleh deretan manekin gaun malam berpayet tebal menjadi tempat persembunyian yang sempurna bagi pria itu untuk melepas topengnya.“Saya mau menagih kepatuhanmu, Grace,” bisik Raymond, wajahnya menunduk melihat kepada Grace, begitu dekat hingga ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan pelipis gadis itu. Aroma parfum maskulin yang pekat langsung mengurung indra penciuman Grace, memicu sesak yang terasa teramat sangat.“Bapak gila! Ini tempat umum! Lepasin aku!” Grace meronta pelan, berusaha menjaga volume suaranya agar tidak memancing perhatian pelayan butik atau, yang lebih buruknya lagi, didengar oleh Selena dari dalam ruang ganti.“Tempat umum justru membuat permainan menjadi lebih menarik, Gracia?" Ray menyeringai tipis, sepasang netra tajamnya mengunci tatapan ketakutan Grace de
Mobil hitam mengkilap milik Ray sudah tiba di depan sebuah butik mewah dan terkenal paling mahal di Ibu Kota. Meski Ray berprofesi sebagai dosen, tapi pria itu adalah seorang pebisnis properti yang cukup sukses. Konon ia menjadi seorang dosen karena permintaan sang ibu yang dulu ingin sekali menjadi seorang tenaga pendidik, namun tidak kesampaian. Ray sendiri sebenarnya ingin menjadi seorang pengacara. “Kita sudah sampai.” Ray langsung membuka pintu, begitu juga dengan Selena dan Grace. “Buruknya bagus banget, Sayang,” ucap Selena seraya memeluk lengan Ray. “Kamu suka?” tanya Ray seraya membalas pelukan Selena dengan mengusap punggung tangan wanita itu. Namun, sekilas matanya melirik ke arah gadis yang ada di samping calon istrinya. “Suka banget, Mas. Maksih ya?” “Ayo kita masuk,” ajak Ray. Ia lalu melangkah bersamaan dengan Selena. Sementara Grace hanya mengikuti dari arah belakang. Langkah kaki Grace terasa begitu berat, seolah sepasang sepatunya terbuat dari logam besi yang
“Pak?! Mau apa ke sini?” tanya Grace dengan dua bola mata yang melotot. Raymond tersenyum tipis. Bahkan sangat-sangat tipis. Namun, hal itu justru terlihat begitu menyebalkan di pandangan Grace. “Pergi, Pak. Nanti Tante Selena bisa liat!” usir Grace panik. Namun, bukannya menurut, Ray justru melangkah maju, memaksa Grace mundur selangkah ke dalam kamarnya sendiri. Tangan kekar pria itu bergerak cepat meraih tepi pintu kamar, lalu menutupnya hingga menyisakan celah sempit, mengisolasi mereka dari pandangan luar. “Kamu mengusir saya?” tanya Ray, matanya menatap intens ke arah bibir Grace yang kini terpoles lipstik harum berwarna peach. “Jangan macam-macam, Pak! Ini kamar aku! Keluar nggak?! Kalau nggak, aku bakalan teriak,” desis Grace dengan volume suara yang ditekan habis-habisan, takut jika suaranya menembus hingga ke lantai bawah. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. “Teriak? Kamu yakin?” tanya Ray meremehkan. “Ya sudah, teriak saja. Memang itu yang saya mau
Di balik keheningan dinding kamar yang kedap, hanya ada desau halus pendingin dan aroma pewangi ruangan. Langit menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang, menatap lekat belahan jiwa yang berdiri di hadapannya dengan binar mata yang meluluhkan. Kelelahan dari perjalanan panjang seolah menguap
Langit berdiri di depan pintu dengan perasaan bingung. Ia menemukan Arumi terduduk kaku di depan meja rias. Tubuh wanita itu bergetar hebat, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darah baru saja tersedot habis dari tubuhnya. Sementara itu di atas lantai, sebuah lipstik yang sudah patah meninggalkan
Viola bangkit dari kursinya. Matanya menyipit mencoba menembus bayang-bayang di balik tubuh gagah putra sulungnya. Ada getaran aneh yang tiba-tiba saja menyelinap ke dalam dadanya, sebuah perasaan familiar yang sudah lama mati suri, kini seolah tersengat listrik dan memaksa jantungnya berdegup lebi
Pagi menjelang, Arumi terjaga dan mendapati Langit sudah tak lagi ada di sampingnya. Ia sempat mengerjapkan mata sesaat, lalu bangkit dan keluar dari dalam kamar. “Om …? Om Langit?” panggilnya seraya mencari sosok tinggi tegap itu. Ia melihat ke seluruh ruangan, tapi Langit tak ada.“Om … Om Langi







