Mag-log inBaru saja pintu ruangan itu hendak dibuka oleh Bejo, tiba-tiba saja sebuah ledakan cahaya (flashbang) menghantam jendela atas gudang, disusul dengan gas air mata yang memenuhi ruangan itu dalam sekejap.“POLISI! JANGAN BERGERAK!” teriak Yudha dari arah luar. “Po–polisi?” tanya Marco panik. “Polisi? Aduh, bagaimana ini?” Andini dan Selena mulai ketakutan. Mendadak suasana menjadi kacau balau. Melihat itu, Langit pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, lalu menerjang kaki Bejo hingga pria itu terjatuh dan merebut senjatanya. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat, ia raih tangan Arumi dan menariknya keluar dari ruangan itu. “Om!” Arumi terbatuk-batuk karena asap, namun ia merasakan genggaman tangan Langit cukup erat di tangannya. Ia percaya, selama suaminya ada bersamanya, maka semua akan baik-baik saja. “Tetap bersama saya!” perintah Langit tegas.Di tengah kepulan asap tebal, suara tembakan peringatan terdengar berkali-kali. M
“... ini semua rencanamu, Andini? Kamu yang mengatur semua ini? Jangan bilang kalau kecelakaan yang dialami oleh Arumi juga karena kamu.”Andini tertawa nyaring, persis seperti kuntilanak di film-film horor. “Tepat sekali, Mas Langit! Namun sayangnya, kamu merusak semuanya dengan jatuh cinta pada perempuan bodoh ini. Kupikir, kamu akan lebih memilih Selena yang dewasa, cantik dan kaya raya. Namun ternyata aku salah.”Langit menggeleng pelan, masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Andini bilang. Sementara di sisi lain, Arumi masih berdiri dengan air mata yang kian mengalir deras. Marco mendekat, mengapit wajah Arumi dengan kedua tangannya. “Kamu milik saya, Arumi. Kenapa kamu pergi dari saya?” tanya Marco dengan raut wajah sangar. “Jangan sentuh dia!” teriak Langit, suaranya menggelegar. Dia lalu bangkit dan melangkah cepat ke arah pria itu. Bajo bersiap menembak. Namun gerakan tangan Marco menyuruhnya untuk menurunkan senjata. “Biarkan dia.”Langit mendorong Marco dan lang
BUGH! Satu pukulan mentah mendarat telak di ulu hati Langit, membuat pria itu terjerembab ke lantai beton yang berdebu. Langit terbatuk hebat, namun matanya sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari Arumi yang kini meronta-ronta histeris melihatnya dihajar tanpa belas kasihan. “Istrimu, katamu?” Marco tertawa sinis. “Dia itu barang rongsokan yang aku poles agar laku mahal saat dijual, Langit! Dia itu p3lacur!” Hinanya dengan tawa yang semakin keras. Marco lalu berjongkok di depan Langit, menjambak rambut pria itu agar mendongak menatapnya. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari sebuah pengkhianatan, Langit? Bukan saat kamu pergi, tapi saat kamu merasa menang. Dan hari ini, aku akan menunjukkan padamu siapa di antara kita yang menang sebenarnya.” Marco berdiri, lalu berjalan santai mendekati Arumi. Ia menarik paksa lakban yang menutup mulut Arumi hingga perempuan itu meringis perih. “Om Langit! Pergi, Om! Jangan peduliin Arum! Pergi Om!” teriak Arumi parau denga
Pintu geser mobil van itu terbuka dengan suara berderit yang memekakkan telinga. Arumi diseret paksa keluar dari mobil, kakinya lemas dan terseret di atas lantai beton gudang yang berdebu. Matanya yang memerah menatap nanar ke sekeliling. Bangunan tua ini lembap, gelap, dan hanya diterangi oleh beberapa celah cahaya matahari yang masuk lewat atap seng yang bocor.“Bawa dia masuk ke ruang tengah!” perintah seorang pria dengan tato di lehernya.Arumi dilempar begitu saja ke sebuah kursi kayu di tengah ruangan yang dikelilingi oleh pria-pria berwajah sangar. Air matanya terus mengalir, membasahi lakban yang menutup mulutnya. Rasa sesak di dadanya kian menjadi saat ia mendengar suara langkah sepatu pantofel yang beradu dengan lantai semen—langkah kaki yang membangkitkan memorinya dan sangat ia kenali polanya. Angkuh dan tenang.Dari balik bayang-bayang pilar besar, muncul sosok Marco. Pria itu mengenakan kemeja sutra berwarna merah marun, jemarinya yang dihiasi cincin batu besar tampa
Di dalam mobil, Arumi masih belum sadarkan diri. Empat orang pria tampak duduk di kiri dan kanannya seraya sesekali tertawa penuh kemenangan. Usaha mereka untuk membawa Arumi kepada Marco akhirnya membuahkan hasil. ‘Barang’ berharga milik pria itu sudah kembali kepada tuannya. “Halo, Bos. Kami sudah berhasil membawanya,” ucap salah seorang dari anak buah Marco di telepon. “Bagus. Segera bawa dia pada saya,” ucap pemilik suara berat penuh otoritas dari seberang sana. “Baik, Bos.” Mobil van berwarna perak itu melesat membelah jalanan Ibu Kota dengan mengambil rute-rute tikus untuk menghindari kejaran Langit yang mungkin sudah menyadari hilangnya Arumi. Di dalam kabin yang pengap, aroma obat bius masih tercium samar, bercampur dengan tawa jahat dari empat pria yang merasa misi mereka hampir tuntas. Arumi terkulai lemah, kepalanya miring ke samping dengan sisa air mata yang mengering di pipinya. Ia tidak tahu bahwa rasa cintanya yang begitu besar pada Langit justru menjad
Di mata Arumi, dunia seolah berputar dengan begitu cepat. Langit-langit apartemen yang mewah itu perlahan mengabur, bersamaan dengan suara detak jantungnya yang kian melemah tertutup deru napas kasar sang penyekap.Arumi sempat berusaha menggapai gagang pintu yang ada di dekatnya, mencoba mencari tumpuan, tapi sisa-sisa. Kekuatannya seolah menguap begitu saja. Tubuhnya merosot lemas dalam dekapan pria bertubuh kekar yang mengenakan pakaian serba hitam itu.“Kerja bagus. Sekarang masukkan dia ke dalam troli. Tutup dengan kain agar tidak terekam CCTV lobi,” perintah sebuah suara dingin dari balik masker hitam.Pria satunya mengangguk dan langsung menggendong tubuh Arumi yang terkulai layu seperti boneka kain dan memasukkannya ke dalam troli berukuran besar. Tak lama, dengan langkah cepat dan terorganisir, mereka pun sudah menghilang di balik lorong apartemen yang sunyi. Pintu unit milik Langit kembali tertutup otomatis, meninggalkan potongan ayam yang masih terendam di wastafel dan be
Arumi bangkit, lalu mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher langit. Dan tanpa aba-aba, ia pun langsung menabrakkan bibirnya pada bibir tipis Langit yang seksi itu.“Hhmmpp—” Arumi mulai menggila, bibirnya terus mendorong Langit hingga punggung pria dewasa itu menabrak kursi meja makan dan me
Langit mendekatkan wajahnya kepada Arumi, mengecup bibir perempuan itu seraya memejamkan kedua matanya. Netra Arumi ikut tertutup, merasa dan meresapi setiap sentuhan dari suaminya itu. Ciuman itu terasa begitu lembut, seolah Langit sedang menyalurkan seluruh rasa terima kasih dan kasih sayang yan
Arumi terdiam sejenak. Setelah menyadari keceplosannya dalam berkata-kata, ia pun menggigit geraham dan menutup mata rapat-rapat. Setelah merasa cukup siap untuk melanjutkan, ia pun membukanya kembali.“Eh, maksud Arum, waktu itu kan … Arum belum kenal Om, keluarga Om. Yang selalu ajak Arumi ngobro
Arumi terkesiap, namun dengan cepat ia ubah raut wajahnya agar tidak terlihat seperti orang yang sedang menyimpan rahasia. “ Eh, nggak, Om. Nggak ada apa-apa, kok. Ya kan Mbok Jum?” tanya Arumi seraya mencolek jari tangan Mbok Jum.“Eh, i—iya, Mas Langit. Nggak ada apa-apa.” Mbok Jum ikut meyakinka







