Beranda / Romansa / Pesona Istri Muda Ayahku / Apa Kau tidak Becus Memasak?

Share

Apa Kau tidak Becus Memasak?

Penulis: Syifa Safaah
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-12 12:18:57

Naina menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Arka. 

“Apa maksudmu? Aku ibu tirimu. Bukankah sudah seharusnya kita berada di satu meja makan yang sama?” tanya Naina dengan polosnya. Sepertinya dia lupa kalau Arka adalah seorang lelaki berhati iblis.

Arka tersenyum sinis. “Saat ayahku masih hidup, kau bebas mendapatkan kemewahan dan kenyamanan di rumah ini. Kau bisa duduk di kursi mana pun sesukamu ketika makan. Bahkan kau bisa duduk santai seharian dan menghabiskan waktumu dengan hanya ongkang-ongkang kaki saja. Aku yakin, dulu ayahku pasti sangat memanjakanmu,” ucap Arka sambil memasang raut mengejek.

“Tapi sayangnya yang ada di hadapanmu saat ini bukan lah Guntur Sebastian, melainkan putranya yang akan menjadi pemimpin baru di keluarga ini. Kita baru beberapa hari bertemu, tapi kurasa kau cukup tahu seperti apa sifat anak tirimu. Aku tidak sebaik ayahku dan aku tidak akan memanjakanmu seperti yang dilakukannya. Dan ada satu hal penting yang harus kau catat, aku tidak sudi duduk di meja yang sama denganmu. Jadi sekarang bangkitlah dari kursimu!” Arka menunjuk kursi yang masih diduduki oleh Naina, lalu mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di udara, mengisyaratkan agar Naina segera berdiri dari duduknya.

Naina dibuat terperangah dengan perkataan Arka. Kedua tangannya sudah meremas di atas paha, menumpahkan kekesalannya. Mendengar kata tidak sudi yang diucapkan lelaki itu, membuat Naina menahan napas. Tapi kemudian dia memutuskan untuk mengalah dari Arka. Karena Naina tahu kalau Arka lah yang akan membiayai pengobatan adiknya.

Mendorong kursinya ke belakang, Naina pun bangkit berdiri. Dia membalikan badannya, hendak pergi meninggalkan ruang makan. Namun suara baritone milik Arka lebih dulu terdengar memanggil di telinganya hingga membuat langkahnya terhenti.

“Tunggu! Siapa yang menyuruhmu pergi?” 

Naina menghembuskan napasnya kasar, berdecak dalam hati. 

“Tuhan! Sebenarnya apa mau lelaki ini?” jeritnya dalam hati. Tapi Naina tak urung berbalik dan menoleh pada Arka. 

“Apa lagi? Bukankah tadi kau bilang tidak sudi berada di meja yang sama denganku?” tanya Naina yang tidak habis pikir dengan Arka.

“Benar. Tapi aku tidak pernah menyuruhmu pergi meninggalkan ruang makan,” bantah Arka.

“Lalu apa yang harus kulakukan sebenarnya?” Naina semakin kesal. Sayangnya dia tidak bisa meluapkan kekesalannya kepada lelaki itu.

“Aku ingin kau berdiri di dekat kursi itu dan menungguku sampai selesai sarapan,” suruh Arka sambil mengarahkan telunjuknya pada kursi yang berada di depannya.

Bola mata Naina melebar mendengar perintah lelaki itu. “Untuk apa aku menunggumu sampai selesai sarapan?” Naina menatap Arka dengan menyipitkan matanya.

Melihat kerutan di kening wanita itu, Arka mengangkat sebelah ujung bibirnya, kemudian bersidekat di tepi meja, matanya lurus menatap ke arah Naina dengan wajah tanpa dosa.

“Apa kau lupa, kalau aku ingin kau tinggal di rumah ini bukan hanya untuk merawatku sebagai seorang ibu, tetapi juga untuk melayaniku seperti pembantu. Jika aku menyuruh sesuatu, maka kau harus melakukannya tanpa bantahan apapun. Dan sekarang aku menginginkan kau berdiri di dekat meja makan, lalu menungguiku sarapan. Setelah aku selesai, baru kau boleh duduk dan menyentuh sarapanmu,” cetus Arka, batinnya merasa sangat puas melihat raut terkejut di wajah Naina.

“Aku tidak mau. Aku lebih memilih sarapan di dapur. Aku tidak setuju dengan peraturan aneh yang kau buat,” tolak Naina menggelengkan kepalanya. 

“Jangan berani membantahku! Kau lupa kalau hidup dan mati adikmu bergantung padaku? Jika aku mengusirmu dari sini tanpa uang sepeser pun, bagaimana adikmu akan tetap hidup?”  seketika Naina tergugu mendengar perkataan Arka.

Ancaman Arka berhasil membuat Naina mengalah. Dia berdiri di tempat yang tadi ditunjuk oleh lelaki itu. Naina tidak percaya kalau Arka akan mempermalukannya seperti ini. Dia ingin marah, tetapi harus menahannya demi adiknya.     

Tersenyum sinis, Arka pun memulai sarapannya. Dia mengambil sendok dan mencicipi nasi goreng yang dibuat oleh Naina. Akan tetapi, baru saja satu sendok nasi goreng masuk tiga detik ke dalam mulutnya, tiba-tiba Arka menghentikan gerakan mengunyahnya. 

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah memuntahkannya?” tanya Naina dengan heran.

Arka mengambil beberapa lembar tissue, lalu mengelap mulutnya. Setelah itu, matanya naik membalas tatapan Naina dengan sorot marah.

“Apa kau tidak becus memasak? Rasa masakanmu aneh sekali.” Arka malah balik bertanya dan melemparkan ejekan pedasnya.

“Apanya yang aneh? Aku sudah mencicipi nasi goreng itu sebelum menghidangkannya di atas meja. Dan menurutku tidak ada yang salah dengan rasanya.” Naina membantah.

“Aku tidak suka dengan makanan indonesia buatanmu. Aku biasa makan makanan Amerika. Lain kali belajarlah membuat masakan yang cocok dengan lidahku!” perintah Arka lalu menyambar tas kerjanya yang ada di kursi sebelahnya.

“Karena kau, aku jadi sudah tidak berselera untuk sarapan pagi ini. Terserah kau mau melakukan apapun pada nasi goreng itu. Mau kau menghabiskannya sendirian, memberikannya pada kucing, atau pun membuangnya ke tong sampah, aku tidak peduli! Yang jelas, aku tidak ingin lagi melihatnya ada di atas mejaku,” cetus Arka yang sepertinya tak pernah puas melontarkan kata-kata pedasnya pada Naina.

Naina menahan napasnya yang terasa berat, ucapan Arka begitu menyakiti hatinya. Tetapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengalah terhadap lelaki itu. Kesembuhan Raffan adalah yang paling utama dibanding penderitaan yang dibuat oleh Arka.

*** 

“Selamat pagi, Tuan Arka!” dua orang security yang berdiri di samping pintu masuk, langsung menyapa sosok pemimpin baru mereka. 

Arka hanya mengangguk. Meski dianugerahi wajah tampan, Arka cenderung jarang tersenyum. Mungkin karena dia sudah terlalu banyak mendapat didikan keras dari ayahnya saat kecil, hingga membuatnya tumbuh menjadi seorang lelaki yang tegas. 

Arka memasuki kantornya dengan langkahnya yang lebar. Sementara itu, Ambar—sekretarisnya terlihat mengekori dari belakang.

Seperti yang biasa dilakukan saat Guntur masih memimpin sebagai CEO di perusahaan, saat Arka lewat di hadapan mereka, semua karyawan akan bangkit berdiri dan setengah membungkukan badan kepada Arka lalu menyapanya.

Maurin sampai menggigit bibir bawahnya, pesona Arka berhasil membuatnya terjerat.

Setelahnya tubuh Arka menghilang di balik pintu lift, Maurin beserta semua karyawan langsung kembali duduk di kubikel mereka masing-masing. Tetapi tidak ada satu pun yang menyadari bahwa Maurin masih tak bisa melepaskan matanya dari pintu lift itu.

“Dia benar-benar pria paling sempurna yang pernah aku temui. Tampan dan kaya.” Maurin menatap wajah Arka di layar ponselnya sambil tersenyum.

“Aku wanita paling cantik di kantor. Aku pasti akan mendapatkan Arka.”

Tapi bagaimana cara mendekati Arka?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Istri Muda Ayahku   Ending-Jadi Terbaik

    Naina terkekeh lagi. Arka sengaja menggesek-gesekan janggut tipisnya di pipi Naina. Hingga Naina kegelian dan mendorong dada Arka.“Arka, tapi malam ini kita tidak bisa melakukan itu,” ucap Naina tiba-tiba yang lantas membuat kening Arka berkerut dalam.“ Kenapa?” tanya Arka.“ Karena … aku sedang datang bulan,” jawab Naina, menggigit bibir bawahnya.“Are you sure?” pekik Arka. Naina mengangguk. Membulatkan matanya. Arka menarik napas panjang setelah tahu bahwa istri yang baru ia nikahi itu ternyata sedang didatangi tamu bulanan.Tentu saja mereka tidak akan bisa melakukannya di malam pertama yang seharusnya berkesan bagi mereka. “Apa kau kecewa?” tanya Naina. Menangkupkan kedua tangannya di pipi Arka.Namun Arka menggelengkan kepala, tersenyum dan mengecup kening Naina.“Tidak. Aku tidak kecewa, sayang. Tidak apa-apa. Meskipun kau sedang datang bulan, tapi bagian atasmu masih bisa kucicipi kan?” kata Arka sambil menyeringai senang. Kemudian segera melakukan aksinya.Naina hanya terse

  • Pesona Istri Muda Ayahku   Malam Pertama

    Naina pun mengangguk dan berterima kasih. Ia dirangkul oleh Raffan yang berdiri di sampingnya.Naina menatap pada Maurin yang kini dibawa oleh polisi untuk kembali ke dalam sel wanita. Naina menatap nanar pada punggung Maurin.“Dia benar-benar sudah menjadi Maurin yang berbeda. Bahkan aku seperti tidak mengenalnya,” gumam Naina, dengan lirih.Raffan mengusap lengan Naina dengan erat. “Sudahlah, Kak. Sekarang Maurin sudah ditangkap. Dia tidak akan bisa menggangu dan mencelakai kakak lagi,” ucap Raffan.Naina tak menjawab.Naina hanya terdiam. Di dalam hatinya, Naina merasa kasihan terhadap Maurin. Karena bagaimana pun, ia juga menyayangi Maurin yang dulu sangat dekat dengannya. Bahkan Naina selalu menjadikan Maurin sebagai teman bertukar pikiran.Tapi sekarang, semuanya sudah berubah.Arka dan Liana pun sudah tahu tentang Maurin yang sudah masuk penjara. Arka sempat marah dan ingin menyewa pengacara agar Maurin bisa mendapatkan hukuman yang sangat berat karena wanita itu telah berencan

  • Pesona Istri Muda Ayahku   Maurin Lagi

    Naina mendengar suara rintihan, ia mengubah posisinya menjadi duduk di trotoar dan menoleh ke arah sumber suara.Selanjutnya Naina membela kan matanya lebar-lebar.Rasanya detak jantungnya seperti berhenti saat itu juga ketika melihat siapa yang sudah tergeletak dengan penuh darah di atas jalanan itu.“Arkaaaa!!!”Naina berteriak, segera menghampiri Arka dan menaruh kepala Arka di atas pangkuan, lantas memeluknya sambil menangis.“Arka!” Naina kembali berteriak. Memeluk Arka makin erat. Ternyata tadi Naina hampir saja ditabrak oleh mobil merah itu, namun Arka lebih dulu mendorongnya hingga malah lelaki itu yang tertabrak.Naina meminta tolong agar seseorang segera membawa Arka ke rumah sakit. Untungnya ada beberapa orang baik yang mengangkat tubuh Arka dan memasukkannya ke dalam mobil mereka. Naina pun ikut ke dalam mobil itu. Ia duduk di kursi belakang dan meletakkan kepala Arka di atas pangkuannya.Naina terus menangis tanpa henti. Perasaannya panik bercampur takut.“Arka, bertahanl

  • Pesona Istri Muda Ayahku   Kecelakaan

    “Ini ruangan barumu. Kau akan bekerja di sini,” ucap Arka sambil membuka pintu ruang wakil direktur yang sebelumnya adalah ruangan milik Rustam.Karena Rustam sudah dipenjara dan dipastikan Arka tidak akan pernah memberikan kesempatan bagi Rustam untuk menjejakkan kaki di perusahaannya lagi, maka Arka mantap untuk memberikan tanggung jawab sebagai wakil direktur ini pada Raffan.“Terima kasih, Arka. Sebenarnya kau tidak perlu sampai mengantarku segala ke sini.” Raffan merasa tidak enak. Setelah mengumumkan jabatannya dan kedatangannya di hadapan para karyawan, Arka malah mengantar Raffan ke ruang wakil direktur.Mereka sudah berada di dalam ruangan itu dan Arka mempersilakan Raffan untuk duduk di kursinya.“Bukan masalah. Aku senang melakukannya,” jawab Arka, tersenyum tipis.“Oh ya, Raffan.”Raffan kembali menoleh ke arah Arka ketika Arka kembali memanggilnya. “Iya?”“Jika masih ada barang-barang Rustam yang tersisa di ruangan ini, buang saja!”Mendengar itu, Raffan pun menganggukkan

  • Pesona Istri Muda Ayahku   Memperkenalkan Wakil Dirut Baru

    Mendengar itu, sontak Arka menghentikan gerakannya membuka tali sepatu. Ia pun tercenung dan baru sadar kalau Naina memang sudah pergi dari rumah ini. Bagaimana Arka bisa lupa akan hal itu? “Pindah?” ulang Arka, ucapannya amat pelan. Namun Bik Atin masih bisa mendengarnya. “Benar, Tuan. Tadi Tuan Arka minta diambilkan air minum? Biar saya yang ambilkan, Tuan.” Bik Atin kemudian menarik diri dari hadapan Arka untuk mengambilkan air minum di dapur. Sementara Arka baru saja melepaskan kedua sepatu mahalnya dan membiarkannya teronggok di atas karpet tebal.Arka menepikan punggung kekarnya pada sandaran kursi. Kedua bola matanya menatap nanar ke depan sana. Kemudian ia menarik napas dalam, dan menghembuskannya dengan kasar. “Hhh… kenapa aku bisa lupa kalau Naina sudah pergi dari rumah ini? Jadi… dia benar-benar meninggalkanku? Naina.” Arka menggeleng-gelengkan kepala.Raut wajahnya menyiratkan rasa kecewa yang amat dalam. Kemudian tanpa menunggu minuman yang sedang diambilkan oleh Bik Atin

  • Pesona Istri Muda Ayahku   Telah Pergi

    berarti, hari-harinya ke depan akan berlangsung tanpa kehadiran wanita itu."Apa kalian tak bisa mempertimbangkannya lagi?" Arka bertanya. Matanya sempurna menatap ke arah wajah Naina. Arka berharap Naina akan menjawab bahwa ia berubah pikiran dan tidak akan jadi pindah dari rumah ini.Namun tampaknya harapan Arka itu sangat keliru. Karena kenyataannya Naina malah menggelengkan kepala dengan sangat tegas."Kami sudah matang memikirkan hal ini. Mungkin lusa kami akan pindah ke rumah sewa yang letaknya cukup jauh dari sini. Aku yakin, tabunganku akan cukup untuk membiayai sewa rumah dan biaya hidup kami sementara waktu sampai aku dapat pekerjaan," ucap Naina.Arka menyunggingkan senyum miris mendengar itu. Ternyata keputusan Naina memang benar-benar sudah bulat. Dan sepertinya sudah tak bisa diganggu gugat lagi. Dan yang paling membuat hati Arka sakit adalah ketika mendengar ucapan Raffan yang menyinggung soal pasangan hidup.Katanya suatu saat nanti Naina juga akan menemukan pasangan h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status