MasukSebelum Guntur kecelakaan, perusahaan Retro sedang berada diambang kebangkrutan. Karena menumpuknya barang hasil produksi di gudang, sementara target penjualan mereka kian menurun.
Hari ini seluruh karyawan diperintahkan untuk berkumpul di aula kantor. Mereka berbaris dengan rapi. Menurut kabar yang berhembus, kantor ini akan kedatangan CEO baru. Yang tak lain adalah putra tunggal dari Guntur Sebastian.
“Bukankah putra presiden ada di Amerika?”
“Aku tidak peduli siapa CEO berikutnya, aku hanya peduli jika gajiku akan naik!"
“Aku pikir Rustam akan menggantikan kakaknya sebagai CEO baru.”
Segelintir dari mereka saling berbisik-bisik, penasaran dengan sosok pemimpin baru di perusahaan mereka.
Termasuk dengan Maurin yang juga ikut berbaris di antara ratusan karyawan itu.
Saat itu pintu aula terbuka, semua mata langsung tertuju ke sana. Semua orang yang berdiri di aula terkesiap melihat sosok tampan yang saat ini berjalan tegas dan berwibawa.
Sosok tampan itu adalah Arka. Di samping kirinya ada Rustam—pamannya yang menjabat sebagai wakil CEO. Sedangkan di samping kanannya ada Teddy—manager di perusahaan itu.
Ini pertama kalinya Arka menginjakkan kaki lagi di perusahaan milik keluarganya setelah sepuluh tahun tinggal di Amerika.
Para karyawan wanita menelan ludah, bertanya-tanya dalam hati. Benarkah lelaki tampan itu adalah CEO baru mereka?
Maurin bahkan membuka mulutnya, terperangah melihat sosok Arka yang begitu memesona.
Langkah Arka baru berhenti tepat di hadapan semua karyawan yang masih menatapnya dengan raut penuh kekaguman.
Sesaat Arka mengedarkan pandangannya, melihat wajah-wajah karyawannya. Kemudian ia berkata dengan suara yang lantang.
“Perkenalkan, namaku Arka Sebastian. Mulai hari ini aku akan menggantikan ayahku sebagai CEO di RETRO Company. Aku harap kita semua bisa membangun kerja sama yang baik untuk tidak membiarkan perusahaan ini karam.”
Semua karyawan tersenyum menatap Arka. Meraka berharap, Arka bisa menjadi pemimpin yang dapat diandalkan seperti halnya Guntur.
Maurin tersenyum lebih lebar, ia tak bisa melepaskan matanya dari Arka.
“Jadi ini yang namanya Arka putranya Pak Guntur? Ya Tuhan. Aku tidak tahu kalau dia setampan ini. Aku bisa betah di kantor jika CEO-nya adalah dia,” jerit Maurin dalam hati.
Padahal saat di rumah sakit, Liana mengatakan kalau Arka seperti iblis. Maurin sangat tidak percaya setelah melihat sosok Arka secara nyata. Mana ada iblis setampan dia.
Di aula kantor yang megah itu, semua orang mendengarkan Arka yang sedang berbicara di depan mereka.
“Aku akan mengatur kembali alur kerja perusahaan. Agar kredibilitas Retro kembali bagus. Dengan begitu, perusahaan mitra akan memiliki rasa kepercayaan bahwa Retro mampu menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan, juga kembali menguntungkan untuk mereka,” ucap Arka di hadapan semua karyawannya.
Tutur katanya terdengar lugas, menunjukan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin. Arka ingin membangun kepercayaan para karyawan atas dirinya.
Tak berselang lama, pintu aula kantor dibuka. Semua mata menoleh, Arka mengira bahwa yang datang adalah sekretarisnya. Namun dia terkejut saat melihat Naina lah yang datang. Wanita itu memaksa masuk ke dalam aula untuk menemui Arka, sementara seorang security berusaha menahannya.
“Lepaskan aku! Aku ingin bertemu dengan iblis itu!” teriak Naina, mencoba melepaskan tangannya yang dicekal oleh security berbadan tegap itu.
Naina berteriak seperti orang gila. Arka menyipitkan mata melihat Naina yang membuat kegaduhan di aula kantornya. Untuk apa wanita itu datang menemuinya?
“Nona. Jangan membuat kekacauan! Pak Arka sedang sibuk. Sebaiknya Anda pulang.” security itu menarik tangan Naina. Tapi dengan cepat Naina menggigitnya, membuatnya memekik terkejut dan kesakitan memegangi tangannya sendiri.
Naina memanfaatkan itu untuk berlari menghampiri Arka, lalu menatapnya dengan wajah marah.
“Dasar iblis! Tidak punya hati! Kau memang iblis berdarah dingin! Aku tidak percaya, ternyata di dunia ini ada orang yang kejam sepertimu!” Naina memaki sambil menunjuk-nunjuk wajah Arka.
Semua eksekutif perusahaan saling menatap dengan bingung. Tak terkecuali dengan para karyawan yang ada di sana. Dalam hati mereka bertanya-tanya, entah apa yang sudah dilakukan oleh boss mereka hingga Naina tiba-tiba memaksa masuk dan memakinya dengan sebutan iblis.
Maurin sampai mengerutkan keningnya melihat Naina yang menatap Arka dengan raut marah. Dia terkejut, ini pertama kalinya dia melihat Naina membentak seseorang dengan penuh emosi. Dia pun merasa penasaran dengan apa yang sudah Arka lakukan terhadap Naina.
Karena tidak ingin Naina membuat kegaduhan dan terus memakinya di hadapan seluruh karyawannya, Arka pun menarik tangan Naina tanpa kata, membawanya keluar dari aula itu. Rustam yang sangat tidak suka pada Naina pun mengikuti langkah mereka dari belakang.
Naina mencoba melepaskan diri, ia marah pada Arka. Tetapi Arka baru berhenti menarik tangannya setelah mereka sampai di depan pintu ruang rapat.
“Masuk!” perintah Arka dengan suara baritone miliknya, sambil membukakan pintu itu dengan sedikit kasar.
Meski kesal, Naina menurut dan masuk ke dalam ruang rapat itu dan Arka menyusul setelahnya.
“Apa yang kau katakan?” tanya Arka begitu ia menutup pintu, kedua alisnya bertaut menatap Naina.
“Jangan berpura-pura bodoh! Seakan kau tidak tahu apa-apa. Adikku sedang koma, tapi kau tega menyuruh pihak rumah sakit untuk mengusirnya!” sentak Naina keras, nadanya penuh emosi.
Wajah Naina sudah memerah, kedua tangannya yang mengepal di sisi tubuh menandakan kemarahan yang meluap-luap. Dan Arka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Naina.
Mengusir Raffan? Arka tak pernah merasa melakukan itu. Matanya menatap Naina dengan datar.
Saat itu, Rustam membuka pintu ruang rapat yang memang tidak dikunci oleh Arka. Lantas dengan wajah kesal, dia berkata pada Naina.
“Pelankan bicaramu di depan Arka! Kau tidak pantas berkata kasar padanya. Asal kau tahu, aku lah yang sudah menyuruh pihak rumah sakit untuk mengusir adikmu. Pak Guntur sudah meninggal, jadi kau dan adikmu sudah tidak ada lagi hubungannya dengan keluarga kami!” Rustam balas menyentak Naina.
Terlihat dari raut wajahnya, Rustam memang tidak pernah menyukai Naina.
Naina terkejut mendengar perkataan Rustam, begitu pun dengan Arka.
“Sekarang juga kau harus pergi dari sini. Aku akan memanggil security untuk mengusirmu!” Rustam tidak main-main dengan ucapannya. Setelah mengatakan itu, dia langsung berteriak memanggil security.
Melihat dua orang security masuk melewati pintu dan mendekatinya, Naina langsung menggelengkan kepalanya panik, langkahnya mundur ke belakang. Naina tidak mau pulang sebelum dia memastikan adiknya tidak akan diusir dari rumah sakit keluarga Arka.
“Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak mau pulang!” jerit Naina mencoba melepaskan cekalan tangan kedua security itu dari kedua lengannya.
“Tunggu! Lepaskan dia!”
Perintah Arka membuat kedua security itu melepaskan tangan mereka dari Naina.
“Kalian pergi saja, biar aku yang mengurus wanita ini,” ucap Arka pada kedua security itu, lalu matanya berakhir pada wajah Naina.
“Baik, Tuan.”
Rustam melebarkan mata, ia menatap Arka dengan tak habis pikir.
“Arka! Kenapa kau menahan mereka? Kenapa tidak membiarkan mereka mengusir Naina? Apa kau lupa, dia sudah membuat kekacauan dan memakimu di hadapan banyak orang. Dia ingin mempermalukanmu. Harusnya biarkan saja dua security itu menyeret Naina dan melemparnya keluar dari sini! Mungkin dulu Naina bisa masuk ke perusahaan ini sesuka hati saat ayahmu masih ada. Sekarang ayahmu sudah meninggal, jadi dia tidak pantas lagi menginjakkan kakinya di perusahaan ini!” tak setuju, Rustam pun protes dengan sikap Arka.
“Ayahku memang sudah meninggal. Tapi aku belum, jadi Paman tidak perlu ikut campur dalam masalah keluargaku!” tegas Arka memberikan tatapan tajamnya pada Rustam.
Rustam tidak menyangka kalau Arka akan berani membantahnya. Rustam lupa, Arka bukan lah keponakannya yang dulu. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan pendiriannya yang tegas. Arka akan memutuskan segala sesuatu dengan kehendaknya sendiri.
Merasa dipermalukan, Rustam memandang Arka dengan sorot mata dingin. Sebelum kemudian ia pergi meninggalkan aula itu sambil membanting pintu.
Sekarang Naina memandang Arka dengan tatapan yang melembut, ia merasa tidak enak hati dengan Arka karena sudah menuduhnya yang bukan-bukan.
Naina menelan ludahnya kasar, lalu matanya kembali naik menatap wajah tegas Arka yang balas menatap Naina dengan mata dinginnya.
“Terima kasih karena kau sudah mencegah mereka mengusirku,” ucap Naina, lalu menunduk.
Sesaat Arka memperhatikan Naina. Tapi kemudian Arka tersenyum dan bertanya. “Bukankah saat di aula tadi kau menyebutku iblis di depan semua orang? Lalu kenapa sekarang kau malah berterima kasih kepada iblis ini?” alisnya terangkat sebelah pada Naina.
Naina menggigit bibir bawahnya. Dia merasa malu pada Arka. Rustam lah yang sudah mengusir adiknya dari rumah sakit, tetapi dia malah memarahi Arka yang tidak tahu apa-apa.
“Aku minta maaf. Tadinya aku pikir kau yang sudah mengusir adikku dari rumah sakit karena kau membenciku. Tapi ternyata pamanmu yang melakukannya,” ucap Naina dengan raut bersalah yang tidak dibuat-buat.
Mendengar permintaan maaf Naina, Arka menyunggingkan senyum miring.
“Kau tidak perlu meminta maaf. Karena sebenarnya aku memang ingin mengusir adikmu dari rumah sakit. Dia yang sudah menyetiri mobil ayahku dan menyebabkan kecelakaan itu. Sudah lama aku berniat melakukannya, tapi ternyata pamanku bertindak lebih cepat dariku,” ungkap Arka yang seketika membuat mata Naina membola. Kepalanya menggeleng cepat, takut jika Arka akan benar-benar mengusir adiknya dari rumah sakit itu.
“Jangan! Jangan lakukan itu! Adikku sedang koma. Apa kau tidak memiliki sedikit saja rasa kemanusiaan dalam hatimu untuk membiarkan Raffan tetap mendapatkan perawatan di sana? Saat ini hidupnya bergantung pada peralatan medis, bagaimana dia akan hidup jika kau mengusirnya dan menghentikan perawatannya?”
Arka menarik sebelah ujung bibirnya, tersenyum puas melihat ketakutan di wajah Naina.
Naina takut kondisi Raffan akan semakin parah atau bahkan tidak akan tertolong jika Arka mengusirnya dari rumah sakit.
Untuk itu, Naina pun memohon di depan Arka.
Arka berpangku tangan di depan Naina. “Aku akan membiarkan adikmu tetap dirawat di rumah sakit, tapi—“ dengan sengaja Arka menggantung ucapannya. Membuat Naina tidak sabar mendengar kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Arka.
“Tapi apa?” tanya Naina dengan cemas.
Arka menikmati pemandangan wajah Naina yang memelas kepadanya. Senang sekali rasanya mempermainkan wanita itu.
“Kau harus tetap tinggal di rumah peninggalan ayahku dan menjadi ibu tiriku,” lanjut Arka.
Mendengar itu, Naina sedikit terkejut, wajahnya terlihat malu. Ternyata Arka hanya menginginkannya untuk tetap menjadi ibu tirinya.
Awalnya Naina merasa ragu karena Guntur sudah meninggal. Dia tak merasa memiliki hak untuk tinggal di sana. Terlebih Arka adalah lelaki dewasa, bagaimana Naina akan berperan sebagai ibu dari anak tiri yang bahkan usianya lebih tua darinya?
Tapi demi Raffan tetap mendapat perawatan di rumah sakit itu, Naina pun mengangguk setuju.
“Baiklah. Aku akan tetap tinggal di rumah itu dan menjadi ibu tiri yang baik seperti yang kau inginkan,” putus Naina akhirnya.
Tapi sepertinya Arka tidak puas mempermainkan Naina. Dia belum menuntaskan ucapannya. Arka kemudian berkata lagi.
“Aku tidak ingin ibu tiri yang bisanya hanya menyia-nyiakan harta keluarga, tetapi aku ingin ibu tiri yang bisa mengurus pekerjaan rumah dan berkontribusi pada keluarga,” tegas Arka. Naina menatap Arka dengan menautkan kedua alisnya.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”
Naina bingung, Arka bilang dia ingin Naina ikut berkontribusi pada keluarga. Kontribusi apa yang dia maksud?
“Dengan kata lain, aku ingin kau merawatku dan menyiapkan semua keperluanku seperti pembantu. Bisakah kau melakukannya, ibu tiriku yang baik?” sindir Arka sembari melemparkan senyum meledek ke arah Naina.
Kali ini Naina benar-benar terkejut mendengar ucapan lelaki itu. Naina merasa ada yang janggal dengan ucapan Arka. Apakah Arka akan memanfaatkan statusnya sebagai ibu tiri untuk memperlakukannya seperti pembantu? Seketika Naina merasa lemas.
Naina terkekeh lagi. Arka sengaja menggesek-gesekan janggut tipisnya di pipi Naina. Hingga Naina kegelian dan mendorong dada Arka.“Arka, tapi malam ini kita tidak bisa melakukan itu,” ucap Naina tiba-tiba yang lantas membuat kening Arka berkerut dalam.“ Kenapa?” tanya Arka.“ Karena … aku sedang datang bulan,” jawab Naina, menggigit bibir bawahnya.“Are you sure?” pekik Arka. Naina mengangguk. Membulatkan matanya. Arka menarik napas panjang setelah tahu bahwa istri yang baru ia nikahi itu ternyata sedang didatangi tamu bulanan.Tentu saja mereka tidak akan bisa melakukannya di malam pertama yang seharusnya berkesan bagi mereka. “Apa kau kecewa?” tanya Naina. Menangkupkan kedua tangannya di pipi Arka.Namun Arka menggelengkan kepala, tersenyum dan mengecup kening Naina.“Tidak. Aku tidak kecewa, sayang. Tidak apa-apa. Meskipun kau sedang datang bulan, tapi bagian atasmu masih bisa kucicipi kan?” kata Arka sambil menyeringai senang. Kemudian segera melakukan aksinya.Naina hanya terse
Naina pun mengangguk dan berterima kasih. Ia dirangkul oleh Raffan yang berdiri di sampingnya.Naina menatap pada Maurin yang kini dibawa oleh polisi untuk kembali ke dalam sel wanita. Naina menatap nanar pada punggung Maurin.“Dia benar-benar sudah menjadi Maurin yang berbeda. Bahkan aku seperti tidak mengenalnya,” gumam Naina, dengan lirih.Raffan mengusap lengan Naina dengan erat. “Sudahlah, Kak. Sekarang Maurin sudah ditangkap. Dia tidak akan bisa menggangu dan mencelakai kakak lagi,” ucap Raffan.Naina tak menjawab.Naina hanya terdiam. Di dalam hatinya, Naina merasa kasihan terhadap Maurin. Karena bagaimana pun, ia juga menyayangi Maurin yang dulu sangat dekat dengannya. Bahkan Naina selalu menjadikan Maurin sebagai teman bertukar pikiran.Tapi sekarang, semuanya sudah berubah.Arka dan Liana pun sudah tahu tentang Maurin yang sudah masuk penjara. Arka sempat marah dan ingin menyewa pengacara agar Maurin bisa mendapatkan hukuman yang sangat berat karena wanita itu telah berencan
Naina mendengar suara rintihan, ia mengubah posisinya menjadi duduk di trotoar dan menoleh ke arah sumber suara.Selanjutnya Naina membela kan matanya lebar-lebar.Rasanya detak jantungnya seperti berhenti saat itu juga ketika melihat siapa yang sudah tergeletak dengan penuh darah di atas jalanan itu.“Arkaaaa!!!”Naina berteriak, segera menghampiri Arka dan menaruh kepala Arka di atas pangkuan, lantas memeluknya sambil menangis.“Arka!” Naina kembali berteriak. Memeluk Arka makin erat. Ternyata tadi Naina hampir saja ditabrak oleh mobil merah itu, namun Arka lebih dulu mendorongnya hingga malah lelaki itu yang tertabrak.Naina meminta tolong agar seseorang segera membawa Arka ke rumah sakit. Untungnya ada beberapa orang baik yang mengangkat tubuh Arka dan memasukkannya ke dalam mobil mereka. Naina pun ikut ke dalam mobil itu. Ia duduk di kursi belakang dan meletakkan kepala Arka di atas pangkuannya.Naina terus menangis tanpa henti. Perasaannya panik bercampur takut.“Arka, bertahanl
“Ini ruangan barumu. Kau akan bekerja di sini,” ucap Arka sambil membuka pintu ruang wakil direktur yang sebelumnya adalah ruangan milik Rustam.Karena Rustam sudah dipenjara dan dipastikan Arka tidak akan pernah memberikan kesempatan bagi Rustam untuk menjejakkan kaki di perusahaannya lagi, maka Arka mantap untuk memberikan tanggung jawab sebagai wakil direktur ini pada Raffan.“Terima kasih, Arka. Sebenarnya kau tidak perlu sampai mengantarku segala ke sini.” Raffan merasa tidak enak. Setelah mengumumkan jabatannya dan kedatangannya di hadapan para karyawan, Arka malah mengantar Raffan ke ruang wakil direktur.Mereka sudah berada di dalam ruangan itu dan Arka mempersilakan Raffan untuk duduk di kursinya.“Bukan masalah. Aku senang melakukannya,” jawab Arka, tersenyum tipis.“Oh ya, Raffan.”Raffan kembali menoleh ke arah Arka ketika Arka kembali memanggilnya. “Iya?”“Jika masih ada barang-barang Rustam yang tersisa di ruangan ini, buang saja!”Mendengar itu, Raffan pun menganggukkan
Mendengar itu, sontak Arka menghentikan gerakannya membuka tali sepatu. Ia pun tercenung dan baru sadar kalau Naina memang sudah pergi dari rumah ini. Bagaimana Arka bisa lupa akan hal itu? “Pindah?” ulang Arka, ucapannya amat pelan. Namun Bik Atin masih bisa mendengarnya. “Benar, Tuan. Tadi Tuan Arka minta diambilkan air minum? Biar saya yang ambilkan, Tuan.” Bik Atin kemudian menarik diri dari hadapan Arka untuk mengambilkan air minum di dapur. Sementara Arka baru saja melepaskan kedua sepatu mahalnya dan membiarkannya teronggok di atas karpet tebal.Arka menepikan punggung kekarnya pada sandaran kursi. Kedua bola matanya menatap nanar ke depan sana. Kemudian ia menarik napas dalam, dan menghembuskannya dengan kasar. “Hhh… kenapa aku bisa lupa kalau Naina sudah pergi dari rumah ini? Jadi… dia benar-benar meninggalkanku? Naina.” Arka menggeleng-gelengkan kepala.Raut wajahnya menyiratkan rasa kecewa yang amat dalam. Kemudian tanpa menunggu minuman yang sedang diambilkan oleh Bik Atin
berarti, hari-harinya ke depan akan berlangsung tanpa kehadiran wanita itu."Apa kalian tak bisa mempertimbangkannya lagi?" Arka bertanya. Matanya sempurna menatap ke arah wajah Naina. Arka berharap Naina akan menjawab bahwa ia berubah pikiran dan tidak akan jadi pindah dari rumah ini.Namun tampaknya harapan Arka itu sangat keliru. Karena kenyataannya Naina malah menggelengkan kepala dengan sangat tegas."Kami sudah matang memikirkan hal ini. Mungkin lusa kami akan pindah ke rumah sewa yang letaknya cukup jauh dari sini. Aku yakin, tabunganku akan cukup untuk membiayai sewa rumah dan biaya hidup kami sementara waktu sampai aku dapat pekerjaan," ucap Naina.Arka menyunggingkan senyum miris mendengar itu. Ternyata keputusan Naina memang benar-benar sudah bulat. Dan sepertinya sudah tak bisa diganggu gugat lagi. Dan yang paling membuat hati Arka sakit adalah ketika mendengar ucapan Raffan yang menyinggung soal pasangan hidup.Katanya suatu saat nanti Naina juga akan menemukan pasangan h







