Share

Kekacaun

Semua yang ada diangkot itu turun satu persatu dengan rasa was was, ada lima orang pria berpakaian hitam dan masker menodongkan senjata. 'Ada apa ini' Gumam Rasti dalam hati.

"Serahkan semua barang berharga kalian!" Teriak preman serba hitam itu pada sekelompok penumpang angkutan umum yang dinaiki Rasti.

Satu dari kelima orang itu menghampiri Rasti menodong pisau lipat tepat di depan wajah Rasti

"Keluarkan barang berhargamu!" Teriaknya pada Rasti, wanita itu hanya menggeleng, mempertahankan tas yang berisi barang berharga menurut dirinya.

"Tidak ada apa-apa di dalam tasku" Sekuat tenaga Rasti menpertahankan tas nya yang berisi ponsel milik mendiang suaminya, karena belum sepenuhnya Rasti tau apa yang ada di ponsel itu.

"Kau mau mati hah?!" Teriaknya dengan menarik tas selempang yang Rasti gunakan.

"Toloong! Lepas! Aku tidak punya apapun untuk diberikan padamu!" Teriak Rasti sekuat tenaga. Tak ada yang berniat menolong Rasti, suasananya sangat menegangkan sepertinya mereka juga menjaga harta benda mereka masing-masing.

Bugh! Bugh!

Entah darimana datangnya pria itu, memukul preman dengan membabi buta di depan Rasti, Rasi kemudian berlari menuju keramain dimana semua penumpang angkutan itu berkumpul.

"Teh tidak apa-apa?" Tanya Ella pada Rasti, gadis itu sama piasnya dengan Rasti, Rasti hanya mengangguk dan menggandeng tangan Ella.

"Aku akan berterima kasih pada pria itu Ella, karena telah menolong kami" Ucap Rasti pada Ella yang kini berpegangan satu sama lain.

Preman itu pergi dengan penuh luka di sekujur tubuhnya. Rasti berlari menghampiri pria yang telah menyelamatkan dia dan yang lainnya.

"Kang, terimakasih atas bantuannya" Ucap Rasti tertunduk, melihat ujung sepatu yang mengkilap dibawah sana, bahkan sepatu itu bisa membuat Rasti bercermin saking mengkilapnya.

"Sama-sama" Pria itu pergi bersama mobilnya, tanpa melihat kearah Rasti lagi, Rasti yang penasaran dengan sosok pria itu kembali mengejar, tapi pria itu sudah melaju dengan mobil hitamnya.

Angkut yang Rasti tumpangi berjalan kembali dengan normal kearah desa mereka.

"Untung tadi ada pria tampan kalau tidak bisa habis kita, uang yang tidak seberapa ini bisa diambil sama preman sialan itu" Ucap seseibu yang berada di samping Rasti.

"Iyaa, siapa ya dia, tidak kelihatan tampangnya dia pakai masker dan kacamata hitam" Jawab bapak tua yang membawa ayam jago di tangannya.

"Neng, tidak apa-apa kan? Tadi kami semua juga takut, makanya tidak membantu" Ucap ibu itu lagi entah siapa namanya menyapa Rasti yang masih terlihat pucat.

"Tidak Apa-apa aku baik-baik saja, hanya syok saja" Jawab Rasti dengan tersenyum.

Setelah sampai di desa tujuan, Rasti dan Ella turun dari angkutan umum ini, berjalan kaki melewati sedikit hutan juga jalan bebatuan, setelah melewati hutan sekitar 10 Menit Rasti dan Ella naik gojek pangkalan secara terpisah.

"Hati-hati ya Ella" Ucap Rasti kala mereka berpisah di pangkalan ojek.

Setibanya dirumah Rasti langsung membuka ponsel milik mendiang suaminya, ada beberapa sms masuk dari nomor-nomor yang berbeda.

(Kau pilih nyawamu atau kau kirimkan Rasti padaku)

'Ya allah siapa ini sebenernya? Yang diincar ternyata adalah diriku, aku harus bagaimana' Gumam Rasti kala membaca pesan itu. Tiba-tiba ponselnya berdering Rasti mencoba meng klik tombol berwarna hijau

(Dimana kau? Kenapa lama sekali? Kau jangan berbohong padaku ya!)

Rasti hanya diam, melanjutkan apa yang ingin orang ini katakan pada suaminya, bahkan suaminya juga tak pernah bercerita mengenai ponsel yang kini berada di genggaman Rasti.

(Kenapa kau diam aja Sena?! Apa yang terjadi? Ah sial!)

Orang di sebrang sana kembali mematikan sambungan telpon secara sepihak, tidak ada nama yang tertera hanya deretan angka yang tadi menghubungi ponsel itu.

'Sungguh kali ini entah aku harus bercerita pada siapa, orang yang aku percaya disini hanya Kang sena, tapi Kang sena juga menyembunyikan sesuatu dariku' Rasti berbicara sendiri sambil memutar-mutar ponsel milik mendiang suaminya itu.

Ting!

Satu pesan masuk lagi dari nomor yang sama.

(Apa kau mati Sena?! Benar kau sudah mati?! Kalau tidak jawab pesanku ini)

Apa aku harus berpura-pura menjadi Kang Sena? Sepertinya orang ini belum tau kalau Kang Sena sudah meninggal, mungkin dengan dia berpura-pura dia jadi tau apa yang sedang suaminya itu rencanakanakan, begitu pikir Rasti.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status