Share

56 Foreplay

Author: Eliyen Author
last update publish date: 2026-08-18 12:10:15

Lala meraih tangan Arvin dan meletakkannya di dadanya. Pandangan mereka bertemu. Selama beberapa detik yang terasa sangat lama, keduanya hanya saling bicara lewat mata.

“Ini terlalu cepat, Lala,” bisik Arvin.

“25 tahun nunggu kamu, imbalanku juga harus cepat, kan, Vin?”

Arvin bertarung dengan pikirannya. Sementara, tangannya secara spontan meremas-remas payudara Lala.

Erangan lirih wanita itulah yang membuat Arvin mengambil keputusan. Dia bergerak menarik Lala berdiri.

“Nidurin kamu, ya,”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   213 Goes to Beijing

    “Arlo, apa Lala menghubungimu?”Suara di seberang panggilan telepon terdengar berisik. “Nggak, Mas. Bukannya Lala sama kamu?”Arvin mencelos. “Nomornya nggak bisa dihubungi. Tadi dia bilang mau pergi sebentar ke butik parfum. Tapi ini sudah hampir satu jam.”“Mas Arvin sekarang di mana?”Arvin yang hendak menjawab pertanyaan adiknya seketika berhenti bicara. Ekor matanya menangkap sosok Lala yang berjalan santai ke arahnya. Tangannya tampak memutar-mutar tas kertas berlogo butik parfum ternama.“Oh, sudah ketemu. Bye, Arlo.”“Mas Arvin! Tunggu dulu! Aku mau ngomong–”Klik!Telepon dimatikan sepihak oleh Arvin. Dia sudah bisa menebak adiknya pasti akan memprotes keputusannya yang tak segera kembali ke kantor, dan malah pergi jalan-jalan ke luar negeri.“Dari mana saja?” Arvin langsung memeluk istrinya dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Lala.“Beli parfum,” jawab istrinya. “Kan, tadi udah bilang.”“Kenapa lama? Ponselmu nggak bisa dihubungi.”Lala tersenyum di pelukan suaminya. “Lo

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   212 No Sex Today

    “Maaf. No sex today.” Lala, dengan perutnya yang mulai buncit, sangat lincah melompat turun dari tempat tidur. Dia meniupkan ciuman ke arah suaminya. “Tahan diri, Sayang. Kemarin sudah empat ronde. Sekarang aku perlu menangani klien VVIP kita dengan baik.” “Lala–” “Performa kerjaku tergantung dari kepuasan konsumen.” Lala tertawa pelan lalu segera menghilang ke kamar mandi. Saat akhirnya turun ke lobi, Lala hampir menghabiskan waktu dua puluh menit. Dia berhasil menemui Mew yang sedang duduk menikmati secangkir kopi di bistro hotel. “Jadi, kamu berhasil meyakinkan suamimu buat pakai jasa kami?” tanya Lala tanpa basa-basi. Mew menggeleng. “Itu keputusan dia sendiri. Temannya juga orang Dirgantara Group sepertinya mengancam Rio. Menjaga hubungan baik dengan perusahaan kalian jauh lebih menguntungkan ketimbang membuat masalah dengan Dirgantara Group.” Lala tersenyum manis. “Keputusan yang bagus. Jadi, sudah siap dengan konsep baru?” Mew menatap dengan pandangan setengah melamun.

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   211 Provokator vs Pemantik

    “Lala. Sayang. Berhenti dulu …. Aku … capek. Kita … kita sudah main tiga kali.”Lala menarik bahu telanjang Arvin. “Satu kali lagi, please?”Arvin menggigit bibir. Dia menunduk melihat dirinya sendiri. Belum sempat berucap, Lala tiba-tiba beringsut turun dari tempat tidur dan berlutut di depannya.Arvin yang duduk di tepi tempat tidur langsung mengerang. Kepalanya mendongak ke belakang. Di bawah sana, dirinya kembali mengeras setiap Lala menunduk mengulumnya.“Lala,” panggilnya dalam desahan panjang.Dia menarik wanitanya berdiri. Dengan lembut, Arvin membaringkan istrinya lalu memasu

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   210 Ikut Campur

    Lala pusing tujuh keliling. Kepalanya pening. Dia berdiri di lobi dengan hentakan rasa mual yang semakin kuat dan pandangan yang mulai berkunang-kunang.Dan Lala sempoyongan. Badannya terhuyung ke samping. Hampir saja dia jatuh menghantam pilar lobi. Untungnya sepasang lengan kokoh menariknya masuk pelukan.“Akhirnya aku menemukanmu.”Lala mendongak. Bahkan sebelum melihat siapa yang menolongnya, dia sudah tahu orang itu. Aroma musk yang sangat dirindukannya sudah memenuhi ruang penciumannya.“Arvin,” bisik Lala.Pria itu tersenyum tipis. “Ayo, pulang.”Lala sempat menengok ke belakang beberapa detik. Pada akhirnya dia mengangguk. Namun, wanita itu mendapat kejutan yang manis. Arvin tidak membiarkannya berjalan kaki. Pria itu membungkuk, meletakkan satu tangan di belakang lutut Lala dan satu tangan lain di bahu wanita itu, kemudian dengan sangat mudah membopong istrinya keluar dari lobi.“Astaga, Vin. Malu dilihat banyak orang.” Lala menyembunyikan wajahnya yang membara di dada Arvi

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   209 Menikah karena Utang

    “Gimana? Kamu minta aku bantu kamu buat cerai? Yang bener aja! Emang aku pengacara perceraian?”Lala langsung merapat ke pintu mobil. Kepalanya menggeleng-geleng. “Jangan gila gitu, Mew. Kalau kamu ada masalah sama pernikahanmu, cari orang yang emang bisa bantu.”“Kamu bisa.”“Nggak.” Lala menggeleng kuat-kuat. “Sejak kapan aku bisa bantu orang cerai? Kemahiranku itu desain interior rumah orang, bukan ngurusin perceraian orang.”Mew menghembuskan napas panjang. Percakapan mereka terhenti sejenak karena mobil sudah memasuki halaman hotel. Mew keluar diikuti Lala.Wanita itu sempat melirik ke belakang. Motor milik bodyguard kiriman Arvin berhenti di tepi jalan. Arah pandangan si pengemudi tertuju lurus ke arahnya.Hembusan napas Lala berat. Kekesalannya makin memuncak setelah melihat bodyguard itu. Dia berjalan cepat mengikuti Mew yang juga langsung menuju ke arah lift.“Kita makan siang di kamarku saja. Tak nyaman bicara di restoran hotel.”“Setuju.” Lala mengangguk cepat. “Banyak mata

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   208 Bertemu dengan Calon Pembunuh

    “Aku tak membunuh janinmu, kan?”Pertanyaan sederhana itu menohok batin Lala dengan kuat. Senyumannya canggung. Kata ‘membunuh’ terdengar terlalu mengerikan untuk menggambarkan situasi kemarin.“Baik-baik saja.” Lala mengelus perutnya. Di depannya Mew mengangguk. Wanita itu tidak menyembunyikan kecantikannya dengan penyamaran khas artis besar.Dia tidak menutupi wajahnya dengan masker. Dia juga tidak memakai topi separuh muka. Bahkan, Mew terang-terangan tampil luar biasa cantik di hadapan Lala yang … buluk.“Bagus kalau begitu.” Mew mengangguk. “Maafkan aku. Kemarin aku terlalu emosional.”Lala hanya mengangguk perlahan. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu mau ketemuan sama aku?”Pesan dari Mew datang pagi itu setelah Lala selesai sarapan. Karena Arvin mengatakan akan bekerja di kantornya selama beberapa jam, Lala memutuskan untuk pergi seorang diri menemui Mew.“Ingin melihat keadaanmu,” jawab Mew tegas. “Kemarin sepertinya aku terlalu keras mendorongmu.”Lala meringis canggung. Sikapnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status